"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.
Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.
Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.
Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31 - Putusan
Ruang sidang Pengadilan Agama Jakarta Selatan tidak pernah terlihat seperti akhir sebuah pernikahan.
Tidak ada musik.
Tidak ada foto keluarga.
Tidak ada orang yang menangis sambil memegang bunga.
Yang ada hanya bangku kayu, kipas angin yang berputar pelan, map berisi salinan dokumen, dan suara panitera memanggil nama para pihak dengan nada yang sama untuk semua perkara.
Alina duduk di sebelah Nadia. Di meja seberang, Adrian duduk dengan Hendra.
Ia datang tepat waktu.
Alina tidak lagi merasa itu penting.
Ibu Salma, hakim mediator yang dulu mencatat keterlambatan Adrian, tidak duduk di depan mereka hari itu. Majelis hakim masuk beberapa menit kemudian. Semua orang berdiri.
Saat duduk kembali, Alina merapikan lengan blus putihnya. Blus itu sederhana, dibeli dari uang pesanan pertama setelah ia keluar dari rumah Wicaksono. Tidak mahal. Tidak bermerek besar. Tapi ia membayar sendiri.
Adrian melihat gerakan kecil itu.
Dulu, ia tidak pernah memperhatikan hal-hal seperti ini. Ia hanya tahu Alina selalu rapi saat mendampinginya. Ia tidak pernah bertanya dari mana baju itu dibeli, siapa yang menjahit bagian pinggangnya, berapa kali Alina mengulang setrika agar lipatannya terlihat pantas di samping keluarga Wicaksono.
Sekarang, semua hal kecil terasa terlambat untuk dilihat.
Hakim membaca ringkasan perkara. Cerai gugat. Mediasi tidak berhasil. Para pihak telah menyepakati sebagian akibat perceraian, termasuk jadwal pertemuan anak, nafkah anak, dan pengalihan dana kompensasi atas harta bersama yang tidak dibagi dalam bentuk barang.
Suara hakim tenang.
Alina mendengarkan tanpa menunduk.
Saat namanya disebut, ia menjawab, "Hadir."
Saat nama Adrian disebut, ia menjawab lebih pelan, "Hadir."
Tidak ada Ratna di ruang sidang. Tidak ada Vania. Tidak ada Bimo. Untuk pertama kalinya, pernikahan mereka diurus oleh dua orang yang benar-benar pernah menikah di dalamnya.
Majelis memberi kesempatan terakhir.
"Penggugat, apakah tetap pada permohonan?"
Nadia menoleh sedikit, tetapi tidak bicara.
Alina menjawab, "Tetap, Yang Mulia."
Hakim memandang Adrian. "Tergugat?"
Adrian menatap Alina.
Ia ingin mengatakan sesuatu. Dalam kepalanya, ada banyak kalimat yang baru ia susun setelah semuanya rusak. Ia ingin bilang bahwa ia menyesal. Ia ingin bilang bahwa ia baru mengerti. Ia ingin bilang bahwa ia tidak tahu bagaimana rumahnya bisa berubah menjadi tempat yang membuat Alina sulit bernapas.
Tapi ruang sidang bukan tempat untuk memaksa orang yang sudah lelah mendengar penjelasan.
Adrian menelan suara itu.
"Saya menerima proses ini, Yang Mulia."
Alina tidak menoleh.
Hakim melanjutkan pembacaan. Kalimat-kalimat hukum berjalan seperti air dingin. Tidak cepat, tetapi pasti. Pada bagian pertimbangan tentang rumah tangga yang sulit dipertahankan, Alina merasakan telapak tangannya sedikit dingin.
Bukan karena sedih.
Karena tubuhnya mengingat terlalu banyak malam.
Malam ketika Adrian tidak pulang karena Vania masuk IGD.
Malam ketika Arka menolak makan karena Tante Vania menangis.
Malam ketika Ratna berkata istri baik tidak membuat suami merasa bersalah.
Malam ketika Alina berhenti membela dirinya sendiri karena tidak ada yang mendengarkan.
Semua malam itu tidak masuk satu per satu ke dalam putusan. Di kertas, semuanya diringkas menjadi "perselisihan yang terus menerus".
Lucu.
Hidup seorang perempuan bisa dipatahkan berkali-kali, lalu di pengadilan menjadi satu frasa rapi.
"Mengabulkan gugatan penggugat," kata hakim.
Nadia menyentuh siku Alina sebentar.
Alina tetap duduk tegak.
Adrian menutup mata.
Ia tahu secara administrasi akta cerai masih menunggu tahapan berikutnya. Ia tahu Hendra akan mengurus salinan putusan, masa inkracht, dan semua istilah yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian dari namanya.
Tetapi pada saat kalimat itu dibacakan, sesuatu selesai.
Tidak di kantor catatan sipil.
Tidak di hadapan keluarga.
Selesai di mata Alina.
Setelah sidang ditutup, mereka keluar bersama arus orang lain. Ada pasangan yang bertengkar pelan. Ada seorang ibu muda yang menangis di telepon. Ada pria tua yang bertanya ke petugas loket. Hidup orang lain tetap berjalan di sekitar mereka.
Di koridor, Adrian akhirnya memanggil, "Alina."
Alina berhenti.
Nadia ikut berhenti, tapi memberi jarak beberapa langkah.
Adrian mengeluarkan map kecil dari tas Hendra. "Ini salinan jadwal Arka yang sudah aku tandatangani. Tidak ada perubahan sepihak. Tidak ada kunjungan mendadak dari siapa pun. Kalau Arka sakit, kamu diberi tahu pertama setelah dokter."
Alina menerima map itu.
"Terima kasih."
"Aku juga sudah meminta sekolah mengubah kontak darurat kedua menjadi nomormu. Sebelumnya..."
Ia berhenti.
Sebelumnya, kontak darurat kedua adalah Vania.
Alina membaca satu baris di halaman depan. Nama Vania sudah tidak ada.
"Baik," katanya.
Adrian menunggu lebih banyak reaksi. Marah, mungkin. Sindiran, mungkin. Apa pun yang menunjukkan masih ada bagian dari Alina yang ingin menagih.
Tidak ada.
Alina memasukkan map ke tas.
"Aku akan menjemput Arka hari Sabtu sesuai jadwal."
"Aku antar?"
"Tidak perlu. Sopir sekolah bisa mengantar ke titik temu. Nadia akan ikut."
Adrian mengangguk pelan. "Aku mengerti."
Alina menatapnya sebentar. "Semoga kali ini benar."
Kalimat itu tidak keras.
Justru karena tidak keras, Adrian merasa lebih sakit.
Di luar gedung pengadilan, matahari Jakarta sudah naik. Udara panas menempel di kulit. Nadia membuka payung kecil.
"Kamu baik?" tanya Nadia.
Alina melihat halaman pengadilan. Orang-orang datang dan pergi membawa map, membawa marah, membawa sisa harapan yang belum berani dibuang.
"Aku tidak tahu harus merasa apa."
"Tidak apa-apa."
"Kupikir aku akan lega sekali."
"Mungkin lega itu datang pelan-pelan."
Alina mengangguk.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Lia masuk.
Sudah?
Alina mengetik:
Sudah.
Tidak ada tanda seru. Tidak ada air mata. Tidak ada kalimat panjang.
Hanya satu kata.
Di belakangnya, Adrian masih berdiri di tangga pengadilan. Hendra mengatakan sesuatu tentang jadwal bank dan pengalihan dana. Adrian mendengar, tetapi matanya masih mengikuti Alina sampai perempuan itu masuk mobil Nadia.
Pintu mobil tertutup.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Alina pergi dari sebuah tempat tanpa membawa nama Wicaksono di belakang namanya.
Di dalam mobil, Nadia menyalakan mesin.
"Makan dulu?"
Alina memandang keluar jendela.
Di seberang jalan, penjual es kelapa muda sedang menata gelas plastik.
"Boleh."
Nadia tertawa kecil. "Pilihan pertama sebagai perempuan merdeka: es kelapa?"
Alina ikut tersenyum.
"Yang penting aku yang bayar."
Mobil bergerak keluar dari halaman pengadilan.
Di lampu merah pertama, Alina membuka dompet dan melihat kartu identitasnya. Status di dokumen itu belum berubah. Dunia administrasi selalu lebih lambat daripada keputusan hati.
Namun ia tidak merasa terganggu.
Dulu, ia ingin semuanya selesai dalam satu hari karena takut dirinya berubah pikiran. Sekarang ia tahu tidak ada yang bisa ditarik lagi. Sekalipun akta cerai baru bisa diambil setelah tahapan hukum selesai, pernikahan itu sudah tidak punya tempat untuk kembali.
Nadia berhenti di depan penjual es kelapa.
"Aku yang turun."
"Aku ikut."
"Kamu baru bercerai."
"Justru karena itu aku perlu belajar membeli es kelapa sendiri sebagai perempuan tanpa drama."
Nadia memutar bola mata, tetapi membuka kunci pintu.
Mereka berdiri di pinggir jalan, di antara suara klakson dan asap kendaraan. Penjual itu tidak tahu siapa mereka. Tidak tahu nama Wicaksono. Ia hanya bertanya, "Pakai gula, Bu?"
Alina menjawab, "Sedikit saja."
Pertanyaan biasa itu terasa menenangkan.
Nadia membayar lebih dulu, lalu Alina langsung mengganti dengan uang kecil dari dompetnya.
"Aku serius soal bayar sendiri," kata Alina.
"Aku lihat."
"Mulai dari yang murah dulu."
"Besok naik tingkat. Bayar tukang cat."
Alina tertawa.
Di kursi belakang, map putusan berada di samping tas kain berisi pola jahitan. Dua benda itu tidak cocok diletakkan bersama. Satu menutup hidup lama. Satu membuka hidup yang belum jelas bentuknya.
Alina menyentuh tas kain itu.
Ia tidak tahu hari-hari setelah ini akan mudah atau tidak.
Ia hanya tahu satu hal.
Mulai hari itu, jika ada yang menyakitinya, mereka tidak lagi bisa memanggilnya istri yang harus sabar.
Dan itu sudah cukup untuk membuat napasnya terasa sedikit lebih panjang.
Baca Maraton tapi takut kehilangan makna
psikopat sinting tolololllll down normal otak nya massa kurang satu kwintal 🔪🔪🔪🔪🖕🖕
pelakor Jahannam semoga tersemogakan cepat mampossss🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🔪🔪