Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.
Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.
Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.
Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.
Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 29. Kamar hotel
Suara musik ini terasa semakin menggila, berdenyut selaras dengan darahku yang mendidih. Di bawah kilatan lampu strobo yang berputar liar, Mas Barraq mulai mabuk.
Namun, alih-alih kehilangan pesonanya, efek alkohol justru membuatnya berkali-kali lipat lebih menggoda. Matanya yang sayu menatapku dengan intensitas yang membakar, melucuti seluruh pertahananku.
Aura dominannya kini bercampur dengan ***rah yang tak lagi ditahan. Gerakan tubuhnya di tengah lantai dansa mulai berani, menuntut, dan mengarah ke hal yang semakin mes*m.
Tanpa memperdulikan sekeliling, ia menarik pinggangku posesif, memepetkan miliknya dengan erat ke bagian belakang tubuhku. Sentuhan keras yang bergesek seiring irama musik itu membuat napas runtuh, mengirimkan sengatan panas yang instan ke sekujur tubuh.
Aku mencengkram lengannya yang kekar, membiarkan diriku sepenuhnya dikendalikan oleh ritme sen**al yang ia ciptakan. Mas Barraq berbisik rendah, entah apa, karena sedetik kemudian bibi*nya sudah membungkam bibi*ku. Kami menikmati musik malam ini lewat cum***n yang semakin memabukkan.
Pagu*** bibi*nya terasa li**, bas**, dan menuntut. Seolah ia ingin melupakan seluruh tekanan keluarganya dan menjadikanku satu-satunya dunianya malam ini. Di dalam dekapan inti* dan panas ini, ketakutan tentang hari esok menguap sepenuhnya, menyisakan aku dan Mas Barraq yang saling menghabiskan dalam **rah.
Napas kami masih memburu, menyisakan sisa-sisa cum***n panas yang baru saja mereda di tepi lantai dansa. Mas Barraq menunduk, matanya yang sayu akibat alkohol menatapku dengan tatapan lapar yang begitu kentara.
Jari-jarinya yang kokoh masih mengunci pinggangku, menarikku begitu rapat hingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat.
"Kita ambil kamar sekarang, De," bisiknya, suaranya serak dan berat tepat di telingaku.
Aku meremang, kedua tanganku melingkar di lehernya, menikmati sentuhan sen**al yang mulai kami jalin.
Namun, tepat saat Mas Barraq menge**p rahangku, sebuah kilatan cahaya putih yang terang benderang menyengat pandangan kami.
Sebuah lampu flash kamera sengaja disorot tepat ke arah wajah kami berdua.
Sentuhan Mas Barraq seketika menegang. Sontak, kami berdua menoleh dengan cepat ke arah sumber cahaya, mencoba menembus keremangan club dan kilatan lampu strobo yang berputar.
Jantungku mencelos, teringat kembali pada peringatan ketatnya di dalam mobil tadi.
Kami mengedarkan pandangan ke sekeliling lantai dansa yang padat. Orang-orang melompat, meneguk minuman, dan berdansa dengan li**.
Namun, tidak ada satupun wajah yang kami kenali di sini. Semua orang asing. Siapa yang baru saja mengambil foto kami? Rasa pusing akibat alkohol mendadak menguap, digantikan oleh rasa was-was yang dingin yang merayap di tengkukku.
Cahaya flash misterius tadi meruntuhkan seluruh atmosfer sen**al yang sempat mengikat kami. Mas Barraq bergerak cepat, mencengkram pergelangan tanganku dengan begitu erat hingga terasa sedikit menyakitkan.
Ia buru-buru menarikku membelah kerumunan orang di lantai dansa, membawaku keluar dari area club malam dengan langkah yang sangat tergesa-gesa.
Aku bisa melihat ketegangan yang luar biasa dari rahangnya yang mengeras. Jalannya begitu terburu-buru, panik, seolah-olah ia baru saja tertangkap basah melakukan sebuah kesalahan besar. Peringatannya di mobil tentang tekanan keluarganya langsung terngiang kembali di kepalaku.
Apakah ada orang utusan keluarganya yang memata-matai kami?
"Mas, pelan-pelan, Mas. Kita mau ke mana?" tanyaku setengah tersengal, mencoba mengimbangi langkah lebarnya.
Namun, belum ada kata persetujuan yang keluar dari mulutku, Mas Barraq sudah membawaku menuju area lift khusus. Ia menekankan tombol dan langsung mengajakku naik ke lantai atas, tempat di mana area hotel berada.
Club malam tempat kami menghabiskan malam ini memang menyatu langsung dengan sebuah hotel bintang empat, membuat akses menuju kamar terasa begitu singkat namun terasa mencekam.
Di dalam lift yang bergerak naik, keheningan mendadak terasa begitu pekat. Mas Barraq berdiri di depanku, napasnya memburu bukan lagi karena ***rah, melainkan karena kecemasan yang berusaha ia sembunyikan di balik topeng dominasinya.
Di bawah pendar lampu lift yang terang, aku hanya bisa menatap punggungnya, menyadari bahwa malam yang harusnya penuh kebebasan ini kini telah berubah menjadi pelarian yang menegangkan.
“Apa kamu tadi liat seseorang yang kamu kenali di sana?" tanya mas Barraq sesaat setelah kami sampai di sebuah kamar hotel.
Ia hanya mengambil satu kamar.
Ini baru jam setengah dua belas malam, bahkan kami baru keluar dari coffee shop pukul sepuluh malam. Di mana jam kerjaku sudah selesai. Tapi sekarang kami sudah berada di dalam kamar lagi.
Pening, itulah yang aku rasakan. Efek alkohol mulai terasa, aku melihat mata mas Barraq pun sudah memerah.
Ia selalu begitu ketika mabuk, matanya kentara sekali.
"De?” Ia duduk di tepian ranjang amat mepet denganku.
Mau tidak mau, aku menggeser posisiku lebih ke tengah.
"Aku nggak kenal siapapun di bawah tadi, Mas,” jawabku kemudian.
"Ya ampun…" Ia memunggungiku, dengan mengacak-acak rambutnya. Kakinya masih menapak ke lantai, berbeda denganku yang sudah meluruskan kaki mempertontonkan betis dan lututku dengan warna yang pucat.
Begitu obsesinya aku menjadi putih.
“Mas, keadaannya tuh gimana? Mas nggak pernah bilang apapun ke aku. Aku nggak ngerti dengan situasi sekarang." Aku mengusap punggungnya, ia segera berbalik arah mendapat usapan dariku tersebut.
“Mas bukan laki-laki yang banyak basa-basi. Mas lagi dirundung masalah dan Mas nggak biasa cerita tentang masalah Mas. Lagipula, Mas pikir memangnya kamu bisa apa? Karena bukan sekali Mas ngomong biar kamu urus perceraian kamu. Sampai hari itu Mas pernah kebawa emosi gara-gara kamu ngeyel terus Mas kasih saran tuh. Karena menurut Mas, cuma itu jalan keluarnya. Mas tak bisa datangi kamu dengan cara sembunyi-sembunyi gini," ungkapnya memecahkan misteri hilang dan datangnya dirinya.
Ternyata benar apa yang ia katakan di dalam mobil, keluarganya memberinya tekanan.
"Gini, Mas.” Aku menarik bahunya, agar sama-sama bersandar pada kepala ranjang sepertiku.
Ya ampun, peningnya. Aku melihat mas Barraq pun memijat kepalanya sekilas. Pasti ia merasakan efek yang sama juga.
“Memangnya, yang dipermasalahkan itu hanya status aku kah? Terus, memang kedepannya Mas mau gimana sama aku? Sampai-sampai aku harus ngurus perceraian aku," ujarku perlahan.
Suaraku serak tidak stabil.
Ia memperhatikan wajahku, lalu melihat ke arah leherku sekilas. Entah apa yang ia dapati di sana, tapi ia tidak banyak menyentuhku seperti di lantai bawah tadi.
Padahal aku suka disentuhnya seperti tadi. Sepanjang aku berteman dengannya, sentuhannya tadi yang menurutku paling intens dan paling dominan.
Ya memang seperti itu semua jika di lantai dansa, tapi aku tak pernah mendapatkan ***buan sen**l darinya seperti tadi. Baru kali ini, setelah tiga bulan dari kejadian aku ditalak mas Galih.
"Kamu nggak berniat berkomitmen sama Mas kah, De?” Alisnya menyatu, ia mengunci pandangan mataku.
Nah, itu yang aku permasalahkan.
Aku menggeleng samar, kemudian menundukkan kepalaku. Aku memperhatikan kakiku yang mulus.
“Aku belum bisa berkomitmen, Mas. Tiga kali pernikahan, ketiganya gagal semua," akuku miris.
“Tiga kali? Serius???" tanyanya sampai ia membawa rahangku agar menoleh ke arah wajahnya.
Ia menggoda sekali, aku takut aku naik-naik ke atasnya.
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠