NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Obsesi / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah AllRey..

Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.

Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku membiarkannya pergi

Satu minggu kemudian.

Joyce tampak menunggu sesuatu. Tiba-tiba email balasan masuk. Dengan tidak sabar, Joyce membuka email itu dengan tangan gemetar. Lalu membeku. Namun di luar dugaan..

Congratulations.

You have been selected for the final interview stage.

Matanya perlahan berkaca-kaca. Ia tidak menyangka, satu proses tahapan sudah dia lewati. Karena ini nyata. Sangat nyata. Dan untuk pertama kalinya..., ia merasa memiliki jalan keluar untuk melupakan masalahnya.

Namun ada satu hal yang tidak diketahui siapa pun.Bahkan Rike. Bahkan Tania. Bahkan Pak Damar. Dan terutama... Ardian. Joyce tidak pernah menceritakan tentang aplikasi tersebut. Tidak pernah. Karena jika ia lolos... ia akan pergi. Diam-diam. Meninggalkan mereka semua. Dan perlahan akan berusaha untuk melupakannya sejenak.

“Semoga aku lolos.”

“Selamat tinggal semuanya.”

“Selamat menyambut dunia baru Joyce..”

Dengan suara bergetar, Joyce mencoba menyelamati dirinya. Dia tersenyum miris, dan tanpa dia sadari malah berakhir dengan tetesan air mata.

********************

Sementara itu, di kantor Aethera. Ardian sedang menghadiri rapat ketika Raka masuk membawa sebuah dokumen.

"Tuan.., bisa mengganggu sebentar."

"Ada apa?"

"Saya menemukan sesuatu."

Raka terlihat ragu. Dan itu jarang terjadi. Namun dia berpikir harus menyampaikannya.

"Apa?"

"Asal informasi ini dari sistem rekrutmen internasional yang bekerja sama dengan salah satu klien kita."

Ardian mengernyit. Dia tidak tahu maksud pembicaraan Raka.

"Langsung ke intinya."

Raka menarik napas. Lalu berkata pelan,

"Joyce sedang melamar program kerja di Singapura."

Sunyi. Total. Ardian tidak bergerak selama beberapa detik. Seolah otaknya menolak memproses informasi itu.

"Apa?"

"Dia sudah lolos sampai tahap administrasi. Itu info terakhir yang kami dapat"

Raka menyerahkan dokumen. Ardian melihatnya sesaat. Tidak diduga, wajahnya memerah.

"Dan kemungkinan besar akan masuk tahap akhir."

Perlahan wajah Ardian berubah menjadi lebih tegang. Bukan marah. Bukan kecewa. Tetapi takut, ketakutan yang teramat sangat. Karena untuk pertama kalinya sejak bertemu Joyce... ia menyadari kemungkinan yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Bahwa suatu hari..., Joyce mungkin memilih pergi. Dan kali ini... ia mungkin tidak bisa mengejarnya.

“Tuan.. jika tuan mau.”

Ardian melihat ke arah Raka. Asistennya itu melihat dengan tatapan khawatir

“Saya bisa menghubungi collega kita, untuk menghambat Ms Joyce.”

“Aku tidak akan melakukan cara kotor itu Raka..”

„Jika memang dia ingin tinggal, itu karena kemauannya sendiri.”

“Bukan karena sabotase dari ku.”

*****************

Malam itu Joyce sengaja mengajak Tania dan Rike kongkow bersama. Dia mengosongkan semua agenda, dan janjian ketemu di Sudoet Tjerita. Dia sengaja ingin mengakhiri dan memberikan kenangan manis pada teman-teman terdekatnya, tanpa berpamitan secara langsung.

“Kok mas Damar dateng.. aku kan tidak mengundang.”

Melihat pak Damar yang ikut bergabung dengan teman laki-laki bernama Aditya, Joyce menggodanya.

“Enak saja.. kalian asyik asyik kumpul, aku sendirian cari project. Ya mending ikutan refresh lah..”

“Kan aku juga iri melihat pak Damar pergi. Aku ikutin lah, dan akhirnya sampai disini.” Bermaksud bercanda, Aditya menyahut perkataan Damar.

“Ha.. ha.. ha.. betul betul. Okay bergabunglah dengan kami.” Timpal Rike.

Tania melambaikan tangan memanggil waiters untuk memesan menu.

“Lemon tea panas saja aku Tan..” ucap Joyce.

„Wow.. tumben tumbenan nih minumnya..” Rike menyindirnya

“Pingin cepat tidur sampai apartemen..”

“Bagus.. jempol empat.”

Rike mengacungkan dua ibu jarinya. Yang lain tertawa melihatnya. Mereka asyik ngobrol lepas, tanpa sedikitpun menyinggung tentang pekerjaan.

“By the way… mas Damar kenapa nih. Di usia menuju senja, belum ada niat gandeng cewek..” sambil gigit pastry, Tania meledek Damar.

„Memang kamu mau Tan.. Jika kamu mau, ga perlu ada lamaran, besok langsung ke KUA gimana..”

Di luar dugaan, pak Damar malah menyerang balik.

“Kena tuh Tania.. ha.. ha.. ha..”

Suasana malam itu betul-betul rame. Semua saling bercanda, sampai beberapa pengunjung yang mendengar candaan mereka ikut tersenyum. Tidak ada yang sadar, jika candaan rame malam ini akan menjadi pertemuan terakhir mereka dengan Joyce.

 ************************

Sejak menerima laporan dari Raka, Ardian tidak bisa fokus. Tiga kali ia meminta asistennya mengulang hasil rapat. Dua kali salah menandatangani dokumen. Bahkan suasana di kantor terasa ekstrim. Beberapa karyawan yang melakukan kesalahan, tanpa ampun terkena omelan darinya.

Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, CEO Aethera Corporation kehilangan konsentrasi karena satu orang.

Joyce.

Perempuan itu sedang bersiap meninggalkannya. Namun tidak ada yang bisa dilakukan Ardian, hanya dia tidak menyadari jika Joyce sudah terpatri dalam hatinya. Beberapa kali, dia berusaha menerima kenyataan jika Joyce adalah saudara sepupunya. Namun beberapa kali pula dia berpikir untuk tidak mengindahkannya.

*************

Malam itu Ardian berdiri di balkon penthouse miliknya. Jalanan kota Jakarta membentang di bawah sana. Lampu gemerlap di bawah tidak mengganggu pandangan. Namun pikirannya jauh berada di tempat lain. Jauh mengingat apa yang terjadi dengan Joyce. Gadis muda yang sudah mengganggu fokusnya, dan menjadi semangatnya akhir-akhir ini.

Singapura. Bisa jadi satu tahun. Atau mungkin lebih. Dan yang paling mengganggunya bukan jarak. Dengan jet pribadinya Jakarta Singapura hanya butuh waktu satu jam.

Melainkan alasan di balik keputusan itu. Ardian tahu. Joyce tidak sedang mengejar mimpi. Joyce sedang melarikan diri. Dia butuh pengalihan, dia butuh pandangan lain. Namun dia tidak mau, kesalah pahaman atau kesalahan yang tidak pernah dilakukan, apalagi diketahuinya menjadi alasan perpisahan itu.

"Tuan."

Raka ternyata sudah berdiri di belakanganya tanpa permisi. Ardian tidak menoleh.

"Kapan wawancaranya?"

Raka langsung tahu pertanyaan itu merujuk pada siapa. Kedatangannya kesini memang ingin memberikan informasi tentang hal itu. Mengenal Ardian beberapa tahun, tanpa menunggu perintah, Raka selalu mencari informasi.

"Tiga hari lagi."

Ardian terdiam dan memejamkan mata. Tiga hari. Berarti Joyce sudah memikirkan ini cukup lama. Dan tidak pernah menceritakannya. Seperti sebuah kesengajaan, dimana dia memang berencana untuk meninggalkan semuanya.

"Kamu tahu bagian mana yang paling menyebalkan Raka?"

Ardian tiba-tiba bertanya. Raka tidak menjawab, karena tuannya memang tidak membutuhkan jawaban. Raka hanya mengangkat alis.

"Aku selalu tahu saat dia sedih."

"Aku tahu saat dia marah."

"Aku tahu saat dia pura-pura kuat."

"Tapi aku tidak tahu dia sedang bersiap pergi."

„Aku seperti bukan siapa-siapa baginya.”

Untuk pertama kalinya Raka melihat sesuatu yang jarang muncul pada diri bosnya. Terluka. Dan hanya Joyce yang bisa membuatnya seperti itu. Bahkan kekasihnya di masa lalu, tidak pernah membuat bos nya seperti itu.

“Jika tuan mau, tuan masih bisa menghentikan kepergian Ms Joyce..”

Ardian menoleh, dan melihat asistennya itu beberapa saat.

“Dari laporan informan, besok Ms Joyce akan membuat rekaman di studio.”

“Kebetulan saya dapat informasi mengenai jam yang dipesannya.”

Ardian tetap terdiam, tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia tetap melihat jalanan ibukota di bawah sana.

1
Mundri Astuti
Adrian kebangetan lembek, berarti sama" cucunya Oma Ratih kah ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!