NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 : Fiiting Baju

Nayra tersenyum pahit, hatinya seperti diremas.

“Baik…” bisiknya pelan.

Ruangan itu kembali hening. Tidak ada suara selain detak jam di dinding yang terasa semakin keras di telinga Nayra.

Arsen memperhatikannya beberapa detik. Tatapannya sulit dibaca. Lalu, tanpa banyak bicara, ia berbalik menuju mejanya.

Tangannya membuka laci perlahan dan mengeluarkan sebuah map berwarna hitam.

“Kalau begitu,” ucapnya datar, sambil kembali menghadap Nayra, “kita perjelas dari sekarang.”

Nayra mengernyit pelan. “Perjelas?”

Arsen tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depan Nayra. Map itu dipegangnya dengan tenang, lalu disodorkan ke arah Nayra.

“Buka.” Satu kata. Tegas.

Nayra ragu sesaat. Tapi tangannya tetap terulur. Ia menerima map itu dengan perlahan. Tangannya mulai membuka..Di dalamnya ada beberapa lembar kertas baru.

Bukan kontrak yang tadi. Matanya mulai membaca cepat. Baris demi baris. Dan detik berikutnya, napasnya tercekat.

“Ini…” suaranya nyaris tidak terdengar.

Isi kontrak itu berbeda. Masih tentang pernikahan kontrak, tentang batas waktu. Tapi ada perubahan. Syaratnya lebih jelas, dan yang paling membuat jantung Nayra berdebar. Ia tetap harus pergi setelah semuanya selesai.

Namun kali ini… ada satu tambahan. Selama masa kontrak, ia harus menjalankan peran sebagai istri Arsen sepenuhnya. Tanpa penolakan dan pengecualian.

Nayra menelan ludah. Tangannya mulai gemetar. “Kenapa… ada kontrak baru?” tanyanya pelan.

Arsen menatapnya lurus. “Karena saya tidak suka hal yang setengah-setengah.” Nada suaranya rendah. Tegas. Tidak memberi ruang untuk ditawar.

“Kalau kamu tetap di sini… maka jalani peranmu dengan benar.”

Nayra menggenggam kertas itu sedikit lebih erat. “Dan kalau saya tidak mau?”

Arsen tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Nayra lama. "Kamu bisa pergi sekarang.”

Kalimat itu sederhana. Tapi seperti menjatuhkan Nayra ke dalam jurang.

Pergi? Ke mana? Kembali ke Angga? Kembali ke kehidupan lamanya yang penuh luka?

Tangannya makin gemetar. Napasnya mulai tidak teratur. Pikirannya kacau. Anak-anaknya, masa depan mereka. Semua berputar di kepalanya.

Arsen tidak mendesak. Ia hanya berdiri di sana, menunggu. Seolah ia sudah tahu jawabannya. Dan itu yang membuat Nayra semakin tertekan.

Beberapa detik berlalu. Lalu perlahan, Nayra menunduk. Tangannya bergerak membuka halaman terakhir. Di sana, sudah ada tempat tanda tangan. Dan sebuah pulpen, tiba-tiba disodorkan ke arahnya.

Nayra menatap pulpen itu. Tangannya tidak langsung bergerak. Jemarinya bergetar halus.

“Ini pilihanmu, Nayra,” ucap Arsen pelan, tapi tajam. “Tidak ada yang memaksa.”

Justru karena itu, terasa semakin berat. Nayra menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya perlahan. Matanya terpejam sesaat dan ketika terbuka kembali… ada sesuatu yang berubah di sana. Keputusan.

Dengan tangan yang masih gemetar, Nayra mengambil pulpen itu. Jarinya menggenggamnya erat, seperti takut kehilangan keberanian yang tersisa.

Ia menatap kertas itu sekali lagi. Lalu, dengan satu tarikan napas... tangannya bergerak. Tinta mulai mengalir di atas kertas. Satu goresan, dan akhirnya... tanda tangan itu selesai.

Nayra terdiam.

Tangannya masih menggenggam pulpen, tapi kini terasa kosong. Karena Nayra tahu, dengan satu tanda tangan itu, hidupnya benar-benar telah berubah.

Arsen mengambil kembali map tersebut tanpa terburu-buru. Matanya sekilas melirik tanda tangan itu.

Lalu sudut bibirnya terangkat tipis. “Bagus,” ucapnya pelan.

Nayra tidak menjawab. Karena di dalam hatinya… ia tahu. Ia baru saja memasuki sesuatu yang tidak akan mudah untuk keluar darinya.

Nayra tidak menjawab. Ia masih berdiri di tempatnya, seolah kakinya menolak bergerak. Tangannya perlahan turun dari meja, sementara pikirannya masih tertinggal pada kertas yang barusan ia tandatangani.

Arsen memperhatikannya sesaat, lalu menghela napas tipis.

“Kamu mau diam saja di sini?” ucapnya akhirnya, nada suaranya datar seperti biasa.

Nayra tersentak kecil.

“Anak-anakmu sudah menunggu di ruang makan.”

Kalimat itu seperti menarik Nayra kembali ke kenyataan. Matanya berkedip pelan, lalu ia menunduk sebentar.

“Iya…” jawabnya lirih.

Tanpa menambah kata, Nayra berbalik. Langkahnya pelan menuju pintu. Namun sebelum tangannya sempat menyentuh gagang...

“Setelah makan siang.”

Langkah Nayra langsung terhenti. Suara Arsen terdengar lebih rendah dari biasanya. Nayra tidak menoleh.

“Kamu ikut denganku,” lanjutnya.

Jantung Nayra berdegup sedikit lebih cepat. Entah kenapa, ia sudah merasa tidak tenang.

“Kita fitting baju pengantin.”

Deg.

Dunia Nayra seperti berhenti sesaat. Ia membeku di tempat. “Baju… pengantin?” ulangnya pelan, hampir tidak terdengar.

Pikirannya langsung kosong. Baju pengantin. Kata itu terasa asing… sekaligus menyakitkan.Tanpa sadar, bayangan masa lalunya muncul. 

Pernikahannya dengan Angga, tidak ada gaun indah. Tidak ada dekorasi mewah, tidak ada resepsi dan hanya ijab qobul sederhana. Tanpa kenangan yang bisa dikenang dengan bahagia.

“Astaga…” bisiknya dalam hati. “Aku bahkan tidak pernah…”

Kalimat itu tidak selesai, dadanya terasa sesak. Namun sebelum pikirannya semakin jauh... suara tawa kecil Alea dari luar ruangan terdengar samar.

Nayra tersentak.

Ia menutup matanya sejenak. Lalu menarik napas panjang. Perlahan… ia membuka kembali matanya. Tidak ada waktu untuk larut dalam masa lalu.

Sekarang… yang terpenting adalah anak-anaknya. Tanpa menoleh lagi ke arah Arsen, Nayra membuka pintu dan melangkah keluar.

Langkahnya kali ini lebih cepat. Ia menyusuri lorong mansion yang panjang, turun melewati tangga besar, hingga akhirnya sampai di ruang makan.

Begitu masuk...

“Ma!” Alea langsung melambai semangat dari kursinya.

Raya menoleh, tatapannya langsung mengamati wajah Nayra. Seperti biasa… penuh perhatian.

“Mama ko lama,” ucap Raya pelan.

Nayra tersenyum tipis. “Maaf, ya.”

Ia berjalan mendekat, lalu duduk di kursi yang sudah disiapkan untuknya. Meja makan itu besar, dipenuhi berbagai hidangan yang terlihat mewah dan rapi.

Namun perhatian Nayra hanya tertuju pada dua anaknya. Alea sudah mulai makan dengan lahap. Raya masih diam, tapi matanya sesekali melirik Nayra, seolah memastikan ibunya benar-benar baik-baik saja.

Nayra mengambil sendok perlahan. Tangannya masih sedikit gemetar. Fitting baju pengantin… kata-kata itu terus terngiang di kepalanya.

Dan tanpa ia sadari, hidupnya benar-benar sedang berjalan ke arah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Suasana makan siang itu terasa lebih sunyi dari seharusnya. Padahal meja dipenuhi hidangan mewah. Alea sesekali masih berbicara kecil tentang makanan yang ia suka, tapi Nayra hanya tersenyum tipis sebagai jawaban. Sementara Raya… lebih banyak diam, memperhatikan ibunya.

Nayra sendiri hampir tidak benar-benar merasakan apa yang ia makan. Pikirannya masih penuh. Sendok di tangannya sempat terhenti beberapa kali tanpa ia sadari.

“Mama…” panggil Raya pelan.

Nayra tersentak, lalu menoleh. “Ya?”

“Mama nggak apa-apa?” tanya Raya langsung.

Pertanyaan itu sederhana, tapi tepat mengenai. Nayra terdiam sesaat. Lalu ia tersenyum lembut, meski matanya tidak sepenuhnya bisa menyembunyikan kegelisahan.

“Mama nggak apa-apa, sayang,” jawabnya pelan.

Raya tidak langsung percaya, tapi ia tidak memaksa.

Sementara itu, dari kejauhan, seorang pelayan berdiri memperhatikan dengan sopan. Ia menunggu hingga mereka selesai makan.

Beberapa menit kemudian…

“Sudah selesai?” tanya Nayra lembut.

Alea langsung mengangguk semangat. “Sudah!”

Raya mengangguk pelan. 

Nayra menarik napas panjang, lalu berdiri. “Kalau begitu, kita...”

“Nona.” Suara pelayan itu memotong ucapannya dengan sopan.

Nayra menoleh.

Pelayan itu menunduk sedikit sebelum berkata, “Tuan Arsen sudah menunggu Anda di dalam mobil.”

Langkah Nayra langsung terhenti. Jantungnya kembali berdegup tidak nyaman. Sekarang? Secepat ini?

Ia terdiam beberapa detik. Raya langsung menatap ke arah ibunya. Tatapannya tajam, penuh pertanyaan yang tidak terucap.

“Mama mau ke mana?” tanyanya.

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!