"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 28
Bus yang dinaiki Mila tiba di terminal ibukota provinsi pukul 7 pagi. Mila dijemput adik kandungnya dan kakak sepupunya menggunakan mobil. Butuh waktu 1 jam sampai di kampung halamannya.
Tepat pukul 8 lewat 15 menit, akhirnya Mila berada di rumah orang tuanya. Ia disambut tangisan kerinduan oleh kedua orang tuanya.
"Maafkan kami, Nak!" Rahman memeluk putrinya dan mengecup keningnya.
"Aku juga minta maaf, Pak!" air mata Mila pun tak tertahan.
"Pasti kamu capek banget, ya!" kata Maya kini gantian memeluk putrinya. "Perjalanan dari sana sangat jauh!" Maya tahu Mila belum pernah melakukan perjalanan jauh.
"Enggak juga, Bu." Mila tersenyum bahagia, rasa lelah ditubuhnya hilang setelah bertemu dan memeluk kedua orang tuanya.
"Makanlah, habis itu kamu beristirahatlah." Maya melepaskan pelukannya.
"Iya, Bu. Aku rindu masakan Ibu!" ucap Mila.
"Duduklah, Ibu ambilkan makanan untukmu!" kata Maya biar dia yang melayani putrinya.
"Biar aku aja, Bu!" Mila bergegas ke ruang makan dan membuka tudung saji.
Mila tersenyum senang, ibunya masak makanan kesukaannya bebek sambal ijo dan tumis pare. Tanpa berlama-lama, menarik kursi, duduk dan mengambil nasi serta lauk dan sayur yang ada. Ia lalu menyantapnya, masakan khas ibunya yang dirindukannya.
Maya dan Rahman duduk dihadapan putrinya yang sangat lahap menikmati makanannya.
"Kamu, kok, agak kurusan?" tanya Rahman memperhatikan bentuk tubuh putrinya berbeda.
"Apa kerja di sana sangat capek, ya?" Maya gantian bertanya, ia juga merasa ada yang beda dengan anaknya.
"Enggak juga, Bu. Malah, di sana aku makan yang enak-enak," kata Mila, hampir tiap malam Hasbi membelikan makanan untuknya. Tapi, besok paginya ia harus membakar semua kalori itu.
"Terus kenapa tubuhmu mengecil?" tanya Maya lagi.
"Tiap hari aku olahraga, Bu." Jawab Mila sambil menggigit daging bebek.
"Kamu diet?" tanya Rahman.
Mila tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Lalu menjawab, "Olahraga bukan hanya untuk diet. Olahraga biar tubuh tetap segar dan sehat."
"Oh," Maya dan Rahman manggut-manggut paham.
"Sumpah, Bu. Masakan Ibu memang enggak pernah ada tandingannya. Aku mau tiap hari memakannya!" kata Mila seraya mengambil nasi lagi dari mangkok berukuran sedang dihadapannya. Jika dia seminggu di rumah orang tuanya mungkin berat badannya naik lagi.
"Balik dan menetap di sini!" kata Maya.
Mila menghentikan mengunyah makanannya.
"Kenapa? Kamu malu bila tinggal di sini karena sudah menjadi janda?" tanya Rahman.
"Aku enggak malu, memang takdirku begini. Pekerjaanku di sana sangat enak. Gajiku cukup besar juga dan....." jawaban Mila terhenti.
"Dan apa?" Rahman dan Maya penasaran.
"Aku mau mengumpulkan uang yang banyak!" kata Mila melanjutkan jawabannya.
"Di sini kamu bisa mencari pekerjaan," kata Rahman.
"Pak, Bu, kalian jangan khawatir. Insya Allah tiap tahun aku pulang dan mampu jaga diri. Kapan-kapan Bapak dan Ibu bisa datang mengunjungi aku. Anggap aja liburan," ucap Mila menjelaskan padahal ia ingin lebih dekat dengan Hasbi dan berharap pria itu memiliki perasaan yang sama kepadanya.
"Oh, Bapak pikir kamu ingin menjauhi mantan suamimu," tebak Rahman.
"Salah satunya, Pak."
Selesai makan, Mila bergegas membersihkan diri lalu lanjut beristirahat. Hari ini Mila memilih tak keluar rumah, ia menghindari pertanyaan yang dapat memancing emosinya. Ia akan menyapa saudara dan para tetangga keesokan harinya, tepat di acara pernikahan adik sepupunya.
Sore harinya, Mila duduk ditemani kedua adiknya dan 2 orang sepupu perempuannya yang sudah lama tak mengobrol dengannya. Sembari berbincang, Mila mengirimkan pesan kepada Hasbi. Ia berharap suatu hari Hasbi membaca pesannya.
***
Pagi harinya, suasana di sekitar tempat tinggalnya Mila mulai ramai. Pernikahan Laila hari ini segera dilaksanakan, tamu dari pihak calon pengantin pria telah hadir. Diantara para tamu tampak juga keluarga mantan suaminya Mila.
Melihat kehadiran mantan suami, Mila memilih bersikap acuh dan cuek. Ia duduk sebagai tamu undangan menghadiri acara akad. Ya, karena dia memang tak dilibatkan sebagai panitia acara.
Dari kejauhan, Hasbi memandangi mantan istrinya yang kini sangat berbeda. Lebih cantik dan bersinar. Tampak seperti wanita-wanita yang selalu dikejarnya.
Acara akad selesai dilaksanakan, para tamu undangan mulai bersalaman dan berfoto dengan kedua pengantin.
"Kak Mila, ayo kita foto!" ajak Laila memegang tangan kakak sepupunya agar tak menjauh.
"Kakak malu, Laila!" bisik Mila saat diatas panggung pelaminan.
"Ayolah, Kak!" bujuk Laila.
"Baiklah!" kata Mila yang setuju.
Laila lalu meminta fotografer pernikahannya mengabadikan momen bahagianya bersama Mila.
"Bibi Mila enggak mau foto dengan Paman Hardi?" suaminya Laila ikut bersuara.
Sebelum Mila menjawab, Laila menyikut perut suaminya dengan tangan kanannya. Ia kemudian berkata kepada Mila. "Enggak usah dengarkan dia, Kak!"
"Kalau begitu, Kakak mau gabung dengan lainnya!" pamit Mila. Turun dari panggung pelaminan dan melangkah menuju meja prasmanan.
Melihat kesempatan, Hardi lantas mendekat. Ia berdiri di samping Mila yang sedang memilih makanan yang mau disantapnya.
"Makin kurus aja!" sindir Hardi.
Mila menoleh, ia menghela napas panjang. Pria yang ingin dihindarinya malah muncul dihadapannya.
"Apa sekarang karena enggak ada yang memberikanmu uang belanja makanya jadi kurus begini?" sindir Hardi lagi memperhatikan tubuh mantan istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kita udah enggak memiliki hubungan lagi, jadi jangan pernah mengganggu kehidupanku lagi!" tegas Mila dengan nada dingin dan wajah datar.
Hardi cukup terkejut dengan perubahan sikap mantan istrinya yang dulunya lembut. Sekarang menjadi sosok pemberani dan tegas.
Mila kemudian berlalu, ia tak mau berbasa-basi dengan mantan suaminya itu.
Mila duduk sendirian menikmati makanannya, ia tak peduli dengan tatapan dan bisik-bisik tetangga yang menceritakan dirinya.
Dhea dan Wati memberanikan diri menghampirinya. Mila melihat kehadiran mantan ibu mertua dan mantan adik iparnya lantas memberikan senyuman, ia juga mengecup punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Boleh kami duduk di sini!" kata Wati melihat bangku kosong di kanan kirinya.
"Oh, silahkan, Bu!" ucap Mila.
Dhea menarik kursi, duduk dihadapan Mila dan ibunya disebelah kanannya Mila.
"Apa kabar kamu?" tanya Wati.
"Alhamdulillah, baik, Bu!" jawab Mila tersenyum meskipun mulut masih mengunyah kue.
"Kamu kerja di mana?" tanya Wati lagi.
Mila lalu memberitahu kota tempatnya bekerja.
"Mila, Ibu minta maaf karena enggak mampu menasehati Hardi untuk menjadi suami yang baik," kata Wati merasa bersalah dan menyesal.
"Semua udah usai, Bu. Enggak usah dibahas lagi!" ucap Mila dengan suara lembut.
"Memang benar, sih. Tapi, Ibu benar-benar kehilangan sosok menantu yang baik seperti kamu," kata Wati dengan mata berkaca-kaca.
"Suatu hari nanti Mas Hardi juga bakal mendapatkan pengganti ku yang lebih baik," ucap Mila yang menguatkan.
Namun, dalam hatinya Mila, "Enggak akan dapat. Mungkin gak ada perempuan yang mau menikah dengannya."
"Ibu berharapnya begitu dan Hardi mau merubah," kata Wati.
"Tapi, ngomong-ngomong Kak Mila makin cantik aja!" puji Dhea melihat penampilan Mila yang lebih hidup.
Mila hanya tertawa kecil.
"Bodoh sekali Kak Hardi itu melepaskan Kak Mila!" rutuk Dhea yang juga menyesal.
"Semua telah berlalu!" kata Mila tersenyum.
Mila memang mengalami penurunan berat badan hingga 10 kilogram. Tubuhnya juga berbentuk dan padat, karena sejak berpisah ia selalu menjaga asupan makanan dan rutin berolahraga. Semua karena bantuan Hanny dan Mayang yang memberikan dukungan untuknya.
...----------------...
Apa Balikkan Lagi Dengan Mantan?
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
atw sang mantan. 🤔🤔🤔