Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Penyelidikan di tengah malam
Ketika malam kembali membungkus kota yang muram, Detektif Rasyid melangkah masuk ke dalam ruang taktis dan menemui Kolonel Mirza. Wajah sang kolonel nampak letih di bawah sorotan lampu meja, menatap peta digital yang menunjukkan titik-titik penyebaran kekacauan.
"Bagaimana perkembangan di luar sana, Pak?" tanya Rasyid tanpa basa-basi.
Mirza menghela napas berat. "Ini sudah menjadi bencana nasional, Rasyid. Militer negara telah diterjunkan secara penuh untuk mengamankan wilayah perbatasan kota agar infeksi ini tidak meluas ke daerah lain. Penyebarannya sangat cepat. Saat ini pasukan kita masih menyisir area luar untuk mencari korban selamat yang mungkin masih terjebak di tengah kota."
Rasyid bersandar pada dinding, ikut merasakan beban yang sama. "Semoga saja cukup sampai di kota ini kejadian mengerikannya." Ia kemudian menyodorkan sebuah papan jalan. "Ini laporan terbaru data pengungsi di dalam shelter. Jumlahnya sekitar dua ratus jiwa."
"Terima kasih. Besok pagi tim ahli patologi dari pusat akan tiba di sini untuk menganalisis karakteristik makhluk-makhluk itu, semoga mereka memiliki sampel nya." kata Mirza. Ia kemudian berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela, lalu melirik ke arah aula pengungsian. "Lalu, bagaimana dengan Walikota Yunus? Apa sebenarnya kaitan dia dengan semua ini?"
Rasyid menggeleng. "Saya belum tahu pasti, Kolonel. Tapi saya akan mencoba mencari tahu apakah walikota itu terlibat atau tidak."
"Aku setuju. Cari informasi itu, dan langsung laporkan ke saya." perintah Mirza tegas.
Sementara itu, di lantai atas gedung parlemen, Aris sedang berdiri diam di dekat sekat pembatas lantai, menatap kosong ke arah kerumunan warga di aula bawah. Pikirannya mengembang jauh. Langkah kaki yang lembut mendekat, dan Liora sudah berdiri di sampingnya.
"Kenapa berdiri di sini, Ris? Kenapa belum tidur?" tanya Liora pelan.
"Aku tidak bisa tidur," jawab Aris singkat. Ia melempar pandangannya ke luar jendela yang berkabut. "Aku jadi ingat waktu pertama kali pindah ke kota ini. Benar-benar tidak punya siapa-siapa. aku hanya ingat waktu itu di sebuah panti asuhan, lalu setelah dewasa, pergi ke sini tidak tahu tujuannya apa."
Mendengar cerita itu, Liora mengembuskan napas panjang, mencoba memberikan dukungan emosional lewat tatapannya. "Aku mengerti, Ris. Apa yang kamu rasakan sebenarnya tidak berbeda jauh dengan kondisiku. Aku juga tinggal sendiri di kota ini. Orang tuaku ada di luar kota. Dulu sesekali mereka masih menghubungi, tapi sejak aku pindah ke sini, hubungan kami jadi renggang dan mereka jarang sekali menelepon apalagi setelah orang tuaku berpisah."
Di tengah obrolan itu, Detektif Rasyid tiba-tiba menghampiri mereka berdua. Raut wajahnya menunjukkan rasa sungkan.
"Maaf kalau saya mengganggu waktu kalian," buka Rasyid. "Rasanya tidak adil jika saya harus melibatkan kalian lagi dalam urusan ini. Tapi jujur, saya sangat membutuhkan informasi tentang Walikota Yunus."
Mendengar nama walikota disebut, Aris dan Liora langsung mengubah posisi tubuh mereka, mendengarkan dengan serius.
"Secara logika, Walikota Yunus selalu terlihat sebagai pemimpin yang baik dan bersih sejak pertama kali dilantik," lanjut Rasyid ragu. "Agak sulit mempercayai kalau dia terlibat dalam kekacauan ini."
"Tapi nyatanya seperti itu, Pak," sela Aris meyakinkan. "Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri dia datang ke bunker dan malam itu dia membawa Dokter Ferdi dalam kondisi babak belur."
"Saya percaya. Tapi sejauh apa perannya di sana? Itu yang belum kita ketahui," ujar Rasyid sambil memijat pelipisnya.
Liora tampak mengingat sesuatu. "Pak Rasyid, saya ingat. Malam itu Stela sempat meminta sebuah sampel kepada dokter Ferdi. Tapi Ferdi bersumpah kalau sampel itu belum selesai dites atau diuji di laboratorium rumah sakit."
Aris langsung menyambar kalimat Liora. "Bagaimana kalau malam ini kita periksa rumah Dokter Ferdi? Pak Rasyid pasti punya akses untuk melacak alamat tempat tinggalnya, kan? Saya punya firasat kalau Ferdi menyembunyikan sampel itu di rumahnya. Terlebih lagi, sampel yang dulu saya berikan kepada Ferdi, belum sempat dia jelaskan hasilnya sampai dia meninggal."
Rasyid terdiam sejenak, menimbang usulan Aris yang cukup nekat namun masuk akal. Ia akhirnya mengangguk. "Tunggu di sini. Saya harus meminta izin dan berkoordinasi dulu dengan Kolonel."
Beberapa menit kemudian, Rasyid kembali dengan langkah cepat. "Alamat rumah Ferdi berjarak beberapa kilometer dari sini. Kita semua tahu di luar sana sangat berbahaya, tapi kita harus bergerak malam ini juga. Karena kalau sampel itu memang penting, pasti bukan cuma kita yang sedang mencarinya sekarang."
Aris menoleh ke arah Liora, lalu memegang pundaknya. "Liora, kamu di sini saja. Biar aku dan Pak Rasyid yang keluar."
Rasyid menyetujui keputusan Aris. "Benar, Liora. Tugasmu di sini memantau dan mencari Walikota Yunus di dalam shelter ini sebelum besok pagi. Karena sudah bisa dipastikan, besok pagi dia akan dijemput oleh helikopter pemerintah pusat untuk dievakuasi terlebih dahulu."
Liora mengangguk paham, menyadari pentingnya tugas tersebut. "Hati-hati, Ris," bisiknya.
Aris dan Rasyid segera bergerak menuju gudang logistik kepolisian. Mereka mulai memeriksa senjata, memasang rompi antipeluru, dan mempersiapkan beberapa senter serta peralatan darurat yang akan mereka bawa untuk menembus kegelapan kota yang kini telah berubah menjadi wilayah perburuan.
Di dalam gudang logistik, suasana terasa sunyi dan tegang saat Aris dan Rasyid mulai mempersiapkan peralatan. Rasyid dengan cekatan memakai rompi antipeluru, lalu mengunci magasin senapan otomatisnya. Ia menoleh ke arah Aris yang sedang memasang rompi antipeluru di tubuhnya dengan agak canggung. Aris memang sama sekali tidak paham dengan dunia senjata api.
Rasyid mengambil sebuah pistol cadangan dari atas meja, lalu menyodorkannya. "Bawa ini, Aris. Untuk jaga-jaga kalau situasi di luar benar-benar mendesak."
Aris menatap benda itu sejenak, lalu menggelengkan kepala dan mendorong tangan Rasyid pelan. "Tidak, Pak. Saya tidak bisa memakainya. Daripada malah salah tembak atau macet saat panik, lebih baik saya tidak usah bawa senjata api."
"Lalu kamu mau menghadapi makhluk-makhluk itu dengan tangan kosong?" tanya Rasyid menaikkan alisnya.
"Lebih baik saya memakai besi, balok kayu, atau apa saja yang bisa dijadikan alat pukul. Saya lebih terbiasa dengan itu," jawab Aris jujur.
Rasyid tersenyum tipis, memaklumi pilihan realistis anak muda di depannya. Ia menunjuk ke arah sudut gudang yang dipenuhi tumpukan barang sitaan dan peralatan lama. "Cari di pojokan sana. Mungkin ada sesuatu yang bisa kamu gunakan."
Aris berjalan ke area yang ditunjuk. Setelah membongkar beberapa kotak besi, matanya berbinar saat menemukan sebuah stik baseball berbahan logam aluminium yang lumayan berat dan kokoh. Aris mengambilnya, lalu mencoba memukul-mukul ujung stik itu ke telapak tangan kirinya untuk merasakan bobotnya.
"Mungkin ini cukup, Pak," kata Aris sambil mengayunkan stik baseball tersebut ke udara.
"Baiklah kalau begitu," ucap Rasyid yang kini sudah benar-benar siap dengan senapan otomatis di dada, pistol di pinggang, serta sebuah pisau taktis yang terselip di sepatu botnya.
Mereka berdua kemudian bergerak keluar dari ruang logistik. Di koridor luar, mereka kembali berpapasan dengan Liora yang sudah menunggu dengan cemas.
Rasyid berhenti sejenak di depan Liora, memberikan instruksi terakhir dengan suara rendah. "Ingat tugasmu, Liora. Awasi walikota secara diam-diam. Dan yang paling penting, jangan sampai dia tahu atau menaruh curiga pada apa yang sedang kamu lakukan."
"Saya mengerti, Pak. Kalian juga harus kembali dengan selamat," jawab Liora mantap, meskipun matanya tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir saat menatap Aris. Aris hanya mengangguk kecil, memberikan senyuman menenangkan sebelum mereka benar-benar berpisah.
Aris dan Rasyid melangkah cepat menuju gerbang pertahanan paling depan. Dua orang prajurit militer yang berjaga di balik barikade kawat berduri langsung menghentikan mereka dan meminta konfirmasi. Rasyid segera menunjukkan lencana detektifnya dan menjelaskan bahwa mereka mendapat tugas langsung dari Kolonel Mirza untuk keluar dari shelter.
Mendengar nama Kolonel Mirza disebut, para penjaga langsung bersikap sigap. Salah satu penjaga maju dan meminta Rasyid serta Aris untuk menunjukkan pergelangan tangan mereka.
"Kita samakan waktu sekarang. Jam satu malam lewat sepuluh menit," ujar penjaga itu sambil menyamakan angka digital di jam tangannya dengan jam tangan milik Rasyid.
Rasyid mengangguk setelah jam mereka sinkron. "Beri kami waktu. Dalam tiga jam, kami akan kembali." tambah Rasyid tegas.
Penjaga itu mengangguk paham, lalu perlahan membuka celah barikade kawat berduri yang kokoh tersebut. Angin malam yang dingin dan mencekam langsung berembus menerpa wajah Aris dan Rasyid. Tanpa membuang waktu lagi, mereka berdua melangkah keluar, menembus barikade, dan langsung hilang ditelan kegelapan pekat jalanan kota.
...----------------...
Malam yang buta mencengkeram kota, menyisakan keheningan saat Aris dan Rasyid mengendap-endap dengan tingkat kewaspadaan penuh. Rasyid bergerak di depan sebagai penunjuk arah, matanya tajam memindai kegelapan, sementara fokusnya tertuju pada rute menuju kediaman Dokter Ferdi.
Di belakangnya, Aris memegang erat stik baseball logamnya. Ia jauh lebih waspada, matanya terus bergerak menyisir area sekitar. Langkah kaki mereka mendadak terhenti di sebuah persimpangan jalan besar. Kondisi kota di depan mereka benar-benar hancur. Mobil-mobil terparkir berantakan, beberapa di antaranya menabrak tiang listrik dengan pintu terbuka lebar. Rumah-rumah warga nampak gelap gulita dan kosong melompong, seperti kota hantu yang ditinggalkan dalam semalam. Serpihan pecahan kaca dari jendela toko dan lampu mobil berserakan di atas aspal, berkilau samar memantulkan cahaya bulan yang redup.
Rasyid merogoh ponselnya, memeriksa koordinat GPS yang menyala remang. "Rutenya mengarah ke kiri dari persimpangan ini," bisik Rasyid. "Ayo, Ris."
Aris mengikuti dari belakang dengan langkah seringan mungkin. Tak lama kemudian, Rasyid kembali berhenti dan mengambil posisi jongkok di samping sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan. Ia menatap layar ponselnya lagi lalu menoleh ke arah Aris dengan raut wajah cemas.
"Jarak ke rumah Ferdi ternyata lumayan jauh kalau jalan kaki. Kita tidak bisa melewati jalur utama yang ditampilkan GPS ini, terlalu beresiko. Pilihannya kita cari jalan pintas yang memutar, atau kita nekat pakai mobil," kata Rasyid.
Aris menimbang sejenak, mengingat waktu mereka yang hanya tiga jam. "Lebih cepat lebih baik, Pak. Mobil-mobil di sini mungkin masih ada yang kondisinya bagus."
"Kalau kita pakai mobil, suara mesinnya berisiko memancing perhatian makhluk-makhluk itu," balas Rasyid ragu.
Aris tidak langsung menjawab. Matanya menyisir seberang jalan hingga menangkap sosok mobil sedan hitam yang terlihat masih utuh. "Pak, tunggu di sini," bisik Aris.
Tanpa menunggu persetujuan, Aris menyeberang jalan dengan cepat namun senyap. Ia mendekati sedan itu, memeriksa pintunya dan beruntung, tidak terkunci. Aris segera masuk ke kursi kemudi, membungkuk ke bawah dasbor, lalu merogoh rangkaian kabel starter. Berbekal pengetahuannya yang ia dapatkan ketika menjadi montir, ia mencoba menghubungkan kabel-kabel tersebut. Setelah beberapa kali percobaan yang menegangkan, mesin mobil itu akhirnya terbatuk lalu hidup dengan suara menderu.
"Pak Rasyid, masuk!" panggil Aris setengah berteriak.
Rasyid langsung berlari dan melompat ke kursi penumpang. Namun, suara raungan mesin sedan itu rupanya menjadi magnet di tengah malam yang sunyi. Tak berselang lama, dari balik kegelapan gang dan bayangan toko-toko kosong, beberapa makhluk bermunculan entah dari mana. Mereka mengerang nyaring dan langsung berlari cepat memburu sumber suara, mengarah tepat ke mobil mereka.
"Ris, tancap gas!" seru Rasyid.
Tanpa pikir panjang, Aris menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil sedan itu melesat maju, menghantam keras beberapa makhluk yang mencoba menghadang di depan hingga tubuh mereka terpental ke atas kap dan terlempar ke aspal. Aris memutar setir dengan liar, membelah malam menuju alamat rumah Dokter Ferdi.
...----------------...
Sementara itu, di dalam kehangatan shelter gedung parlemen, Liora sedang berjalan perlahan di koridor dalam, memutar otak untuk mencari keberadaan Walikota Yunus. Langkahnya terhenti saat melihat beberapa orang pria berbadan tegap dengan pakaian sipil berjaga ketat di depan sebuah pintu ruangan. Instingnya mengatakan bahwa itu adalah ruangan tempat walikota beristirahat.
Liora berpura-pura berjalan santai ke arah sana. Namun, baru beberapa langkah hendak mendekat, salah satu penjaga berbadan tegap langsung melangkah maju menghadangnya.
"Berhenti. Ini ruangan pribadi. Ada keperluan apa anda ke sini?" tanya penjaga itu dengan nada dingin dan menyelidik.
Liora sempat nampak bingung sejenak, namun ia segera menguasai diri. "Saya... saya sedang mencari kamar mandi, Pak," alasan Liora.
Penjaga itu meliriknya, lalu menunjuk sebuah pintu di sisi kanan ruangan yang mereka jaga. "Ini sebenarnya kamar mandi pribadi. Pakai saja dulu, tapi setelah selesai segera kembali ke aula. Ada kamar mandi khusus untuk pengungsi di luar sana."
Merasa dibedakan, Liora sengaja memancing keributan kecil. "Kalian ini siapa sih? Ini tempat umum, gedung ini bukan tempat pribadi kalian. Kita sama-sama sedang berlindung di sini seperti pengungsi lainnya!"
Mendengar perdebatan yang mulai bising di luar pintu, dugaan Liora terbukti benar. Pintu ruangan itu terbuka, dan Walikota Yunus muncul dari dalam dengan wajah gusar. "Ada apa ini? Berisik sekali," cetus Yunus.
Penjaga segera menjelaskan situasi singkat, sementara Liora memilih diam mematung. Walikota Yunus menatap wajah Liora dengan dahi berkerut. Matanya menyipit. "Tunggu... wajahmu sepertinya saya pernah lihat. Tapi di mana, ya?" gumam Yunus mencoba mengingat.
Jantung Liora berdegup kencang. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan ekspresi panik. Sebelum ingatan walikota itu kembali, Liora langsung memotong perkataannya dengan nada ketus. "Pak Walikota, kita semua di sini sama-sama berlindung. Jadi, boleh dong saya memakai kamar mandi ini kapan pun saya mau tanpa harus ribut dulu?"
Yunus yang sedang banyak pikiran akhirnya mengibaskan tangan, merasa malas berdebat dengan pengungsi biasa.
"Ya, ya, silakan pakai saja. Dan tolong jangan berisik, saya sedang menerima telepon penting," ujarnya sebelum berbalik masuk kembali ke ruangannya.
Liora segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya. Ia menempelkan telinganya ke dinding pembatas, mencoba menguping pembicaraan telepon Walikota Yunus. Namun sial, suaranya terlalu samar karena walikota itu bergerak lebih masuk ke dalam ruangannya.
Liora tidak menyerah. Ia mendongak dan melihat sebuah jeruji ventilasi udara di langit-langit kamar mandi dalam keadaan sedikit terbuka. Tanpa membuang waktu, Liora menaiki kloset, lalu dengan sekuat tenaga menggapai tepian lubang dan menarik tubuhnya masuk ke dalam saluran seng tersebut. Ia merangkak perlahan, menahan napas agar tidak menimbulkan suara gema, hingga jalurnya mengarah tepat di atas ruangan tempat walikota berada.
Melalui celah kisi-kisi ventilasi di atas ruangan Yunus, suara sang walikota kini terdengar samar namun jelas sedang berbicara dengan seseorang di seberang telepon.
"Segera temukan sampel itu! Cari di laboratorium rumah sakit dan juga di rumah Ferdi! Geledah semuanya sampai ketemu, jangan sampai ada yang mendahului kita!" perintah Yunus dengan nada mendesak dan penuh amarah.
Mendengar instruksi rahasia itu, Liora tersentak. Sesuai dugaan Aris, walikota memang mengincar sampel yang sama. Sadar situasinya gawat, Liora segera berbalik arah dan merangkak kembali dengan tergesa-gesa menuju kamar mandi.
Namun karena terburu-buru, saat mencoba turun dari lubang ventilasi, kaki Liora sempat salah berpijak hingga menimbulkan suara yang cukup keras di dalam kamar mandi.
Di ruang sebelah, Walikota Yunus yang sedang bertelepon mendengarkan suara berisik yang aneh dari arah atas plafon kamar mandinya. Ia menatap langit-langit dengan curiga, lalu seketika mengakhiri percakapan teleponnya.
Yunus langsung melangkah keluar dari ruangan. Penjaga yang melihatnya langsung bertanya, "Ada apa, Pak?"
Yunus tidak menggubris pertanyaan anak buahnya. Dengan wajah tegang, ia langsung melangkah maju dan membuka paksa pintu kamar mandi yang digunakan Liora tadi.
Cklek. Pintu terbuka. Namun, kondisi kamar mandi tersebut sudah kosong melompong. Hanya ada sisa tetesan air di lantai.
Wajah Walikota Yunus berubah dan nampak tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia menoleh dengan tajam kepada para penjaganya. "Ke mana wanita tadi?!" bentaknya.
Penjaga itu tampak bingung. "Eh... wanita yang tadi? Dia sudah keluar dari kamar mandi sejak tadi, Pak, ia berjalan kembali ke arah aula pengungsian."
Walikota Yunus terdiam sejenak, matanya menatap sekeliling koridor yang sepi dengan perasaan tidak tenang. Meskipun ragu dengan jawaban penjaganya, ia akhirnya memilih untuk berbalik dan berjalan kembali menuju ruangannya, menyadari bahwa waktu dan rahasianya kini sedang berkejaran dengan pihak lain.
...****************...