"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"
Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum di balik tirai putih
Suasana tegang yang menyelimuti lorong rumah sakit seketika mencair saat pintu ruang tindakan terbuka. Dokter melepas maskernya dan tersenyum tipis ke arah Baskara yang sudah berdiri dengan wajah penuh kecemasan.
"Kondisinya sudah stabil, Mas. Hanya syok ringan dan kekurangan oksigen. Beruntung segera dibawa ke sini. Dia sudah sadar sepenuhnya," ujar Dokter tersebut.
Tanpa menunggu lama, Baskara segera melangkah masuk. Di sana, di atas tempat tidur putih, Lara sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal. Wajahnya masih sedikit pucat, namun matanya langsung berbinar saat melihat sosok yang menyelamatkannya masuk ke ruangan.
Lara tidak berkata apa-apa, ia hanya memberikan senyum khasnya—senyum tulus yang sedikit malu-malu namun menenangkan, yang membuat semua kemarahan dan kelelahan Baskara hilang dalam sekejap.
"Kak Baskara..." suara Lara terdengar sedikit serak.
Baskara menarik kursi dan duduk tepat di samping tempat tidur. Ia menghela napas panjang, menatap Lara dengan pandangan yang dalam. "Kamu benar-benar hobi bikin saya jantungan ya?"
Lara tertawa kecil, meskipun masih terasa sedikit lemas. "Maaf, Kak. Aku juga nggak nyangka Kak Manda bakal setega itu. Makasih ya sudah cari aku."
"Jangan dipikirkan lagi. Yang penting kamu selamat," ucap Baskara. Ia ragu sejenak, lalu perlahan mengulurkan tangannya untuk merapikan beberapa helai rambut Lara yang menutupi dahinya. "Saya sudah bilang ke Papa kamu kalau kamu sedang ada tugas tambahan. Jadi, kita punya waktu sampai kamu benar-benar kuat untuk pulang."
Lara menatap tangan Baskara yang masih berada dekat wajahnya, lalu kembali tersenyum. "Berarti besok aku tetap harus dampingi Kakak di podium?"
"Tentu saja. Dan kali ini, saya nggak akan biarkan kamu lepas dari pandangan saya satu detik pun," jawab Baskara tegas namun lembut.
Kehangatan menyelimuti ruangan itu. Di antara aroma obat-obatan dan bunyi mesin monitor, sebuah ikatan baru mulai menguat di antara mereka. Lara menyadari bahwa di balik sikap dingin Baskara, pria itu adalah pelindung yang paling bisa ia andalkan.
Baskara berdiri dari kursinya, merapikan jaketnya sambil menatap Lara dengan pandangan yang jauh lebih tenang sekarang. Ia tidak ingin Lara pulang ke rumah dalam keadaan perut kosong setelah kejadian yang menguras energi tadi.
"Lara, kamu tunggu di sini sebentar ya? Saya mau keluar cari makanan dulu. Kamu belum makan malam sejak tadi, kan?" tanya Baskara lembut.
Lara mendongak, matanya mengikuti gerak-gerik Baskara. "Eh, nggak usah repot-repot Kak. Aku bisa makan di rumah nanti."
Baskara menggeleng tegas. "Nanti kalau sampai rumah kamu malah langsung tidur karena capek, malah makin lemas. Saya cuma sebentar, di depan ada kedai bubur ayam atau sup hangat yang enak. Kamu mau titip apa?"
Melihat keras kepala Baskara yang penuh perhatian, Lara akhirnya luluh. "Sup hangat saja kalau ada, Kak. Makasih ya."
"Tunggu di sini. Jangan turun dari bed sebelum saya kembali," pesan Baskara sebelum melangkah keluar kamar.
Baskara berjalan menuju area parkir. Udara malam kampus terasa dingin, namun hatinya terasa hangat. Ia segera menuju sebuah kedai langganan mahasiwa di dekat gerbang rumah sakit yang terkenal dengan sup ayam kampungnya yang segar.
Sambil menunggu pesanan disiapkan, Baskara merogoh ponselnya. Senyumnya menghilang saat melihat nama Manda di daftar panggilan masuknya. Tanpa ragu, ia memblokir nomor tersebut. Baginya, urusan dengan Manda belum selesai, namun malam ini, prioritas utamanya hanyalah memastikan Lara kenyang dan sampai di rumah dengan selamat.
Tak lama kemudian, Baskara kembali ke kamar perawatan membawa kantong plastik beraroma harum rempah sup. Ia melihat Lara sedang duduk sambil melihat ke arah jendela, tampak jauh lebih segar.
"Wanginya enak banget, Kak," puji Lara saat Baskara mulai membuka bungkus makanan dan meletakkannya di atas meja lipat di depan Lara.
"Makan yang banyak. Setelah ini kita pulang, dan saya pastikan Papa kamu nggak akan curiga sedikit pun," ucap Baskara sambil menarik kursi, duduk di hadapan Lara untuk menemaninya makan.