Di Daejeon, dua polisi dengan masa lalu rumit dipertemukan kembali sebagai partner kerja. Kim Da Eun yang dingin dan tegas harus bekerja sama dengan Lee Hyejin yang ceroboh namun cerdas.
Di tengah hubungan mereka yang penuh pertengkaran dan rahasia masa lalu, muncul kasus pembunuhan berantai misterius dengan jejak sepatu pendaki bertanda api sebagai petunjuk utama. Saat penyelidikan semakin berbahaya, keduanya mulai kembali dekat dan menyadari bahwa perasaan lama belum benar-benar hilang.
PARTNER OF JUSTICE adalah novel kriminal romantis tentang misteri, kepercayaan, dan dua polisi yang harus menghadapi penjahat sekaligus perasaan mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eun_Byeol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK YANG MULAI TERBUKA
Malam semakin larut.
Di ruang tamu rumah Lee Hyejin, suasana mendadak menjadi canggung setelah pengakuan Kim Da Eun.
Hyejin masih memegang kaleng minumannya sambil menatap pria di depannya dengan tatapan tidak percaya.
"Sunbae... apakah anda benar-benar serius?" tanyanya sekali lagi.
Da Eun menghela napas panjang.
"Aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?"
"Terkadang iya."
"Kya!"
Hyejin langsung tertawa kecil melihat ekspresi kesal Da Eun.
Namun beberapa detik kemudian tawanya menghilang.
Karena untuk pertama kalinya, Kim Da Eun terlihat sangat serius.
Tidak ada candaan.
Tidak ada ejekan.
Tidak ada sikap dingin yang biasa ia tunjukkan.
"Aku menyukaimu sejak lama, Hyejin-ah."
Ucapan itu membuat Hyejin kembali membeku.
Da Eun menatap ke arah jendela.
"Aku menyukaimu sejak masa akademi."
"Saat semua orang menghindariku karena aku terlalu kaku."
"Saat semua orang hanya melihatku sebagai anak komisaris."
"Tapi kau berbeda."
Hyejin hanya diam.
"Dan ketika aku mendengar rumor bahwa kau bersama Hwang Yeong Cheol, aku memilih mundur."
Da Eun tertawa kecil.
"Padahal ternyata aku salah paham selama bertahun-tahun."
Hyejin menggigit bibir bawahnya.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena selama ini ia memang menghindari pembicaraan seperti ini.
Hubungan.
Perasaan.
Atau sesuatu yang lebih dari sekadar rekan kerja.
"Sunbae..."
"Eng?"
"Saya tidak tahu harus menjawab apa sekarang."
Da Eun tersenyum tipis.
"Kalau begitu jangan jawab."
"Ya?"
"Aku bisa menunggu."
Hyejin menatapnya.
"Anda aneh."
"Dan kau baru menyadarinya sekarang?"
"Aneh sekali."
Mereka berdua akhirnya tertawa bersamaan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada lagi tembok besar yang memisahkan mereka.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Ponsel Da Eun tiba-tiba bergetar.
Bzzttt...
Nama Kang Dae Hyun muncul di layar.
Da Eun langsung mengangkat teleponnya.
"Ya?"
Suara Dae Hyun terdengar panik.
"Sunbae! Saya menemukan sesuatu!"
"Apa?"
"Jam tangan milik Kim Beom Seok!"
Da Eun langsung berdiri.
Hyejin yang melihat ekspresinya ikut berdiri.
"Ada apa?"
Da Eun memberi isyarat agar Hyejin diam terlebih dahulu.
"Dae Hyun, jelaskan."
"Saya berhasil memulihkan data dari kamera tersembunyi di dalam jam tangan itu."
Mata Da Eun membelalak.
"Benarkah?"
"Ya."
"Lalu?"
"Tapi ada sesuatu yang aneh."
"Apa?"
"Video terakhir menunjukkan Kim Beom Seok sedang bertemu seseorang."
"Siapa?"
"Itulah masalahnya."
Dae Hyun menarik napas.
"Wajah pria itu tidak terlihat."
"Dia memakai topi hitam."
Tubuh Hyejin langsung menegang.
Topi hitam.
Pria misterius.
Sepatu pendaki dengan simbol api.
Semua mulai terhubung.
"Apakah ada ciri lain?" tanya Da Eun.
"Ada."
"Apa?"
"Pria itu memiliki bekas luka panjang di leher sebelah kiri."
Da Eun dan Hyejin saling menatap.
Bekas luka.
Simbol api.
Sepatu pendaki.
Pria misterius itu mulai memiliki identitas.
"Dae Hyun."
"Ya Sunbae?"
"Kirim semua datanya sekarang."
"Baik!"
Telepon terputus.
Ruangan kembali sunyi.
Hyejin langsung mengambil jaketnya.
"Kita harus ke kantor."
Da Eun mengangguk.
"Ya."
"Tunggu."
"Apa?"
"Kaki anda masih sakit."
"Kya!"
"Saya serius."
Da Eun menghela napas.
"Kalau begitu kau yang menyetir."
"Baik."
Mereka segera berangkat menuju kantor kepolisian Daejeon.
Tiga puluh menit kemudian.
Ruang rapat kantor kepolisian Daejeon kembali ramai.
Wakil Kepala Nam, Petugas Park, dan Petugas Choi yang sedang bersantai langsung terkejut melihat kedatangan mereka.
"Kya!"
Petugas Park hampir menjatuhkan minumannya.
"Kenapa kalian datang malam-malam begini?"
Da Eun langsung melempar sebuah flashdisk ke atas meja.
"Rapat darurat."
Semua langsung serius.
Hyejin menyalakan monitor.
Video hasil pemulihan data mulai diputar.
Terlihat Kim Beom Seok sedang berbicara dengan seorang pria berpakaian hitam.
Wajahnya tertutup.
Namun saat pria itu berbalik sedikit...
Tampak bekas luka panjang di lehernya.
"Wah..." gumam Wakil Kepala Nam.
"Menyeramkan."
Petugas Choi menelan ludah.
"Jangan-jangan dia benar-benar pembunuh berantai."
Video terus berjalan.
Lalu terdengar suara samar.
Sangat pelan.
Namun cukup jelas.
"...dia berikutnya."
Semua membeku.
"Dia berikutnya?"
"Siapa yang berikutnya?" tanya Petugas Park.
Hyejin mengernyitkan dahinya.
Lalu video berhenti.
Da Eun memperbesar gambar terakhir.
Dan saat itulah semua orang terdiam.
Karena di belakang pria misterius itu...
Terlihat sebuah papan kayu tua.
Di sana terdapat tulisan nama sebuah tempat.
"Gunung..."
"Daedunsan?"
Wakil Kepala Nam membacanya perlahan.
Da Eun langsung berdiri.
"Kita berangkat besok pagi."
"Ya?"
"Pelaku mungkin sedang menuju sana."
Hyejin menatap layar dengan tajam.
Perasaannya tidak enak.
Sangat tidak enak.
Karena untuk pertama kalinya...
Mereka bukan hanya mengejar pembunuh.
Tetapi pembunuh itu seolah sedang memancing mereka untuk datang.
Dan itu berarti...
Permainan sebenarnya baru saja dimulai.