Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan
Saat Azalia membuka mata, matahari sudah terik di luar. Tapi sinarnya terhalang oleh beberapa kain yang sengaja disampirkan di atas gorden. Cukup lama Azalia melihat tumpukan kain itu, mencoba mengingat, kenapa dia menaruh banyak penutup jendela di kamarnya?
Seingatnya, dia tidak pernah menutup jendela dengan kain tebal itu. Atau dia melupakannya?
Padahal memang bukan dia yang melakukannya, tapi Gavin. Gavin tidak ingin Azalia terganggu oleh sinar matahari dan bisa mengganggu tidur nyenyak nya.
Azalia perlahan bangun, meletakkan kakinya di atas lantai dingin. Di sisinya ada sendal rumah, tapi dia juga lupa itu miliknya atau bukan?
Setiap kali Azalia bangun dari tidurnya, perasaan kosong selalu saja memenuhi dadanya. Azalia mengusap wajahnya pelan dan berpikir apa yang harus ia lakukan setelah ini.
Dan satu-satunya yang bisa Azalia ingat, hanya perceraiannya dengan Gavin.
Buru-buru dia bangkit, mencari buku catatannya. Tapi benda itu tidak terlihat di manapun. Tasnya pun juga tidak ada, bahkan lemari bajunya kosong lompong.
Azalia lupa bahwa dia sudah membawa semua barang-barangnya pindah sebelumnya.
Ekspresi kebingungan itu berubah menjadi kepanikan. Azalia berpikir rumahnya kemasukan maling.
Buru-buru Azalia membuka pintu kamar, berlari keluar. Namun karena keseimbangannya tidak bagus lagi, gerakannya yang terlalu cepat membuatnya jatuh tersungkur.
"Hati-hati!" Gavin dan Alvin berseru bersamaan.
Kakak beradik itu sedang menyeduh kopi di dapur. Saat melihat pintu kamar Azalia terbuka dengan keras, reflek mereka menoleh ke sana. Tapi yang mereka lihat, lutut Azalia yang menghantam lantai cukup keras.
"Kenapa buru-buru? Tidak bisakah kau lebih hati-hati?" Gavin membantunya berdiri perlahan, tatapannya menjadi kesal.
Apa yang dilakukan Gavin justru membuat Azalia bingung. Seperti ada yang salah.
Sentuhan pria itu... Rasanya terlalu asing. Bukankah Gavin tidak mau menyentuhnya bahkan walau hanya seujung kuku?
"Kenapa kau terburu-buru?"
Azalia bahkan lupa kenapa dia sampai berlarian tadi.
Oh, akhirnya dia mulai ingat, Azalia menatap Gavin ragu-ragu.
"Gavin, bisakah kau membantuku? Semua barangku hilang. Tidak ada satupun yang tersisa... Sepertinya aku baru saja kemalingan. Bisakah kau meminjamkan uang padaku sedikit saja? Aku akan memanggil taksi dan pergi ke kantor polisi sekarang. Ada sesuatu yang sangat penting di lemariku."
Alvin dan Gavin tidak tahu mereka harus tertawa atau justru bersedih. Wajah Azalia sangat polos ketika dia mengatakan semua itu. Kecemasan dan kepanikannya muncul secara alami.
Namun di saat yang sama, hati kakak beradik itu terasa nyeri bagai disayat-sayat pisau berkarat.
Azalia melupakan hari kemarin. Tidak ingat jika dia sudah pindah ke rumah Gavin dan pergi lagi ke rumahnya dengan tangan kosong.
Karena tidak mendapat jawaban, Azalia merasa apa yang dia ucapkan salah. Gavin memang suaminya, tapi hubungan mereka jauh lebih dingin dari apa pun. Itu adalah kenyataan, dan untuk hal itu Azalia selalu mengingatnya.
Lalu pandangannya tertuju pada Alvin yang masih duduk di meja makan. Pria itu juga menatap ke arahnya.
Azalia masih ingat siapa pria itu, tapi kehadirannya di sini membuat perasaan Azalia tiba-tiba memburuk.
"Jika aku boleh tahu... Tanggal berapa sekarang? Apa ini sudah saatnya kita bercerai? Maaf, Gavin. Akhir-akhir ini aku kesulitan mengingat sesuatu. Aku harap aku tidak membuatnya berantakan. Dan membuatmu semakin membenciku."
"Siapa yang mengatakan kita akan bercerai? Apa kau lupa? Perceraian kita sudah batal sejak lama. Bukankah kita sepakat untuk hidup bersama dan memulai dari awal?"
Azalia linglung.
Benarkah?
Dia masih ingat jika dia akan bercerai dengan Gavin.
Atau... Lagi-lagi dia yang melantur? Selalu saja mengira dia akan bercerai dengan Gavin?
Semua terasa membingungkan. Azalia tidak bisa menggali ingatannya lebih dalam. Semakin dia mencoba mengingat, semakin jauh kenangan itu meninggalkannya.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Akhir-akhir ini ingatanmu memang buruk."
Jadi..benar?
Azalia masih berdiri linglung. "Bagaimana dengan semua barang-barangku yang hilang?"
"Bukan hilang Azalia! Aku sudah memindahkannya di rumah baru kita. Sebelum ini kita sudah memindahkan barang-barang ke rumah baru, tapi karena kita kelelahan akhirnya kita memutuskan untuk tinggal beristirahat sejenak. Kau juga tidak mengingatnya?"
Tiba-tiba saja semua menjadi sangat aneh. Bukan hanya Gavin, tapi Alvin pria bermulut tajam seingatnya juga menjadi lebih lembut.
Perubahan tiba-tiba ini membuat Azalia tidak bisa membedakan mana yang ia lupakan dan mana yang terjadi sesungguhnya.
Azalia bahkan tidak bisa mengingat sejak kapan hubungannya dengan Gavin menjadi lebih dekat seperti ini. Duduk berdampingan di dalam mobil, sementara Alvin mengemudi untuk mereka.
"Tiba di apartemen Gavin, Azalia melangkah pelan, melihat sekeliling jika dia tinggal di rumah sebesar ini, apa dia bisa kembali ke kamarnya?
"Ini rumah baru kita?"
Gavin mengangguk. "Kau suka?"
Suka. Tapi kenapa selalu saja dia merasakan ada yang salah? Tapi dia sendiri tidak tahu di mana letak kesalahan itu.
Abu, kepala pelayan keluar dari arah belakang. Melihat Azalia telah kembali tanpa kekurangan, dia mengulas senyum lega. "Selamat datang kembali, Nyonya. Saya senang bisa melihat Anda lagi. Maaf atas keteledoran saya saat menjaga Anda."
Dia membungkuk rendah di hadapan Azalia.
Dan lagi-lagi Azalia melupakan pria paruh baya di hadapannya itu.
Azalia menoleh Gavin, meminta jawaban dari pria itu.
"Dia Pak Abu. Mungkin kau sudah melupakannya, karena dia kepala pelayan kita di masa lalu. Aku sempat memberhentikannya, dan sekarang aku mau minta dia kembali bekerja untuk kita."
Pak Abu?
Nama yang asing.
Kening Azalia terlipat lebih dalam.
Sedangkan Abu, keriput di wajahnya semakin bertambah dengan ekspresinya yang tidak mengerti itu.
Sampai akhirnya, Gavin berkedip padanya, memberi isyarat seolah dia hanya perlu menggangguk dan mengiyakan perkataannya saja.
Abu mengangguk atas perintah itu. "Benar. Saya Abu.. kepala pelayan."
Pada akhirnya Gavin harus mengulang semuanya dari awal. Menunjukkan kamarnya, juga menunjukkan di mana semua barangnya yang dia pikir kemalingan tadi.
"Kamarku ada di sebelah. Karena kita baru memulai hubungan dari awal, kita sepakat..." Gavin kesulitan menyambung kalimat selanjutnya.
Namun Azalia tersenyum lembut padanya. "Aku mengerti. Rasanya memang aneh jika kau tiba-tiba di sini."
"Jika kau membutuhkan sesuatu, aku tidak jauh darimu."
Sekali lagi, perasaan asing itu menerpa.... Namun Azalia mengangguk.
"Dimana ponselku?"
"Ponselmu rusak. Kau tidak ingat? Aku akan membawanya ke tukang service dan akan menggantinya dengan yang baru. Bersihkan dirimu dan keluar untuk sarapan. Aku menunggu di luar."
Sementara di luar, Alvin menjelaskan keadaan Azalia secara singkat. Abu mendengarnya dengan baik. Mata tuanya yang dipenuhi keriput menatap bekas kepergian Azalia dengan wajah muram.
Jadi selama ini Azalia menanggung rasa sakit sendiri, sedangkan Gavin selalu pulang ke sini setiap malam?
Kenapa wanita itu begitu kuat menanggungnya seorang diri? Tidakkah dia juga butuh tempat mengeluh?
"Dia begini karena aku, Abu. Aku berjanji akan sering menjenguknya di sini dan melakukan apa pun yang bisa kulakukan untuk memulihkan kondisi Azalia. Aku juga berharap, jika dia melupakan sesuatu lagi, kalian bisa mengimbangi ucapannya dan tidak memaksanya mengingat." Ucapan Alvin penuh sesal.
"Aku mengerti."
Gavin terlihat keluar. Dia berjalan mendekat sambil menyerahkan sebuah ponsel pada Abu. "Ini milik Azalia. Simpan dan jangan pernah mengaktifkannya lagi. Aku tidak ingin keluarganya menghubunginya lagi."
Abu mengangguk, menerima itu dan mengantonginya.
"Siapkan sarapan untuknya. Pastikan dia mendapat cukup kalori tanpa membuatnya mual. Buat sesuatu yang lembut, mudah dicerna. Bubur atau sup hangat dengan potongan daging kecil. Jangan terlalu banyak bumbu atau garam. Sediakan jus buah yang manis alami, jangan beri buah yang asam. Aku juga ingin kopi hitam tanpa gula."
Tiba-tiba Gavin menjadi begitu perhatian. Abu dan Alvin sedikit tertegun melihatnya. Bukannya tidak suka, mereka hanya baru tahu saja kalau Gavin bisa menjadi lebih cerewet.
Abu tersenyum samar dan mengangguk. Dia menyukai perubahan ini. "Apa ada sesuatu yang perlu dihindari, Tuan. Apa Nyonya punya alergi sesuatu?"
Gavin tidak tahu. Tapi dia akan berusaha mencari tahu nanti.
"Yang penting jangan kasih dia banyak makanan berminyak atau pedas. Dan jangan beri dia makanan instan." Tambah Gavin lagi.
Sudah cukup Azalia makan mie instan selama ini. Setiap dia datang memberi bekal, wanita itu selalu mengatakan agar dirinya makan makanan sehat, tapi mempertaruhkan kesehatannya sendiri dengan menumpuk bungkus mie instan di tong sampah.
Gavin tidak akan membiarkan wanita itu makan makanan instan lagi. Kali ini, dia yang akan mengatakan itu padanya.
Alvin di sisinya juga tersenyum, seperti mengejek. "Aku baru tahu jika kau bisa menunjukkan perhatianmu pada seseorang."
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan."
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Alvin baru akan masuk ke mobilnya saat dia melihat wajah Renata yang sedang menuju ke arahnya. Sejujurnya dia tidak ingin membuat Renata kecewa. Namun,.. perasaan bersalah dan rasa tanggung jawabnya membuat dia memilih bertahan di rumah Azalia kemarin.
Sekarang wanita itu sudah ada di hadapannya, dan dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya.
Tapi sebelum dia berhasil mengatakan apa-apa, Renata lebih dulu bersuara.
"Ternyata benar, kau di sini?" Renata mengulas senyum manis, tidak terlihat kemarahan atau kekecewaan di wajah wanita itu.
"Maaf jika tidak bisa datang kemarin. Apa pestanya menyenangkan?" Alvin mendekat, memasang wajah se menyenangkan mungkin.
Renata mengangguk kecil, kemudian menatap Alvin. "Jika ada kau dan Gavin, pasti lebih menyenangkan."
"Mungkin lain waktu. Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu kecewa. Tapi..."
"Azalia?" Renata menyela lebih dulu.
Alvin menggeleng tegas.
"Tidak ada hubungannya dengan Azalia, itu keputusanku sendiri. Ada sesuatu yang membuat ku tidak bisa datang. Kau boleh melampiaskan kekesalan mu padaku."
"Sebetulnya, iya. Aku kesal karena kau yang membuat pesta itu, tapi kau sendiri yang mengingkarinya."
"Lain kali tidak akan lagi. Kau harus tahu aku benar-benar senang melihatmu kembali ke kota ini."
Renata kembali tersenyum padanya.
"Gavin ada di dalam, kan?"
"Dia...."
Tidak. Alvin tidak bisa membiarkan Renata melihat Gavin dan Azalia duduk dalam satu meja. Apalagi jika tahu kalau Gavin batal bercerai dengan Azalia. Renata pasti akan sangat kecewa nanti.
Namun sekarang, Azalia juga menjadi pertimbangannya. Maka yang bisa Alvin lakukan, dia buru-buru membawa Renata masuk ke dalam mobilnya meninggal apartemen Gavin secepatnya.
kalaupun azalia tinggal kenangan,please thor..tinggal kn lh kenangan Azalia bersama Gavin berupa sosok seorang bayi mungil. anak mereka.
kalau pun ad kerajaan, sembuhkan lh azalia. nth dgn pencangkokan ginjal atau bangun lgi setelah koma..