NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Trauma masa lalu
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: HaluBerkarya

Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.

Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.

Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Diam-diam

Hanya itu? batin Aurin tidak menyangka. Kemudian ia mulai mengetik nomor ponsel suaminya itu.

"Saya simpannya bagaimana, Tuan?"

"Ya terserah kamu, tapi pastikan simpan dengan nama kontak yang bagus!" tukasnya sembari berdiri di samping Aurin, menatap layar ponsel untuk melihat bagaimana gadis itu hendak menyimpan namanya.

Sejak kapan saya jadi bapak kamu, saya tanya?!" protesnya dengan suara dingin saat tangan Aurin mengetik nama Pak Gallelio.

Gadis itu segera menghapusnya, lalu menulis lagi dengan awalan Tuan.

"Emang saya majikan kamu?!"

"Loh, bukannya begitu? Kan saya babu!" jawab Aurin spontan.

Mendengar itu, rahang Gallelio langsung mengeras. Ia tidak terima saat Aurin menyebut dirinya sendiri sebagai babu di rumah itu, padahal jelas-jelas awalnya panggilan kasar itu memang Gallelio sendiri yang menyematkannya pada Aurin.

"Iya, sekarang bukan babu lagi tapi jalang ke—" cicit Aurin pelan. Namun ia langsung terdiam saat berikutnya suara Gallelio menggelegar penuh amarah.

"AURIN!!"

"Kan memang benar, Tuan. Anda sendiri yang bilang begitu kemarin!!" Rasa kesal yang membuncah membuat gadis itu akhirnya berani menjawab.

"Makin berani kamu sekarang!" ujar Gallelio ganti menatapnya tajam. Ia langsung meraih ponsel gadis itu lalu mengetik sendiri nama kontaknya di sana.

"Sudah, jangan diubah!" ujarnya ketus kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Aurin.

.

.

.

Jam sebelas malam, Gallelio diam-diam membuka pintu kamar lalu melangkah masuk ke dalam kamar Aurin dan Geanetta. Terlihat dua perempuan itu sudah tertidur lelap. Pria itu menghela napas lega sebentar sebelum kemudian menggelengkan kepala heran pada dirinya sendiri.

"Kenapa juga saya harus masuk ke sini?!" tanyanya bingung pada kaki yang membawanya ke kamar ini. "Tidak... ini tidak benar, mereka akan besar kepala nanti!" ujar Gallelio dalam hati.

Ia berniat untuk berbalik dan keluar kembali, namun sebuah suara serak tiba-tiba terdengar memecah keheningan.

"Tuan..."

Suara Aurin terdengar pelan. Gadis itu memicingkan matanya yang setengah terbuka, menatap Gallelio yang kini tertangkap basah di kegelapan kamar.

Shit! Ketahuan?! batin Gallelio mengumpat. Ia menoleh kaku ke arah ranjang di mana Aurin sudah terduduk sembari menatap ke arahnya dengan kening berkerut heran.

"Tuan ngapain?" tanya Aurin.

"Saya?!" Gallelio menunjuk dirinya sendiri, berusaha bersikap tenang.

Aurin mengangguk pelan.

"Oh, itu... tadi saya dengar ada suara menangis dari sini. Saya kira kamu menganiaya putri saya, jadi saya datang memastikan," jawab Gallelio asal, mencari alasan paling logis yang terlintas di kepalanya.

Aurin membelalakkan mata tidak percaya. Rasa kantuk gadis itu seketika sirna mendengar tuduhan tersebut.

"Tuan... saya tidak sekejam itu. Saya bukan Anda yang biasa menghu—eh, maksudnya saya tidak akan begitu. Saya sayang banget sama Anet, mana mungkin saya menganiaya gadis kecil ini," jawab Aurin membela diri.

"Hm, bagus kalau begitu. Mungkinkah tadi itu suara hantu?!" ujar Gallelio datar, lalu melangkah mendekati ranjang.

"Apa mungkin rumah besar ini punya hantunya?!" gumam Aurin bergidik pada dirinya sendiri.

"Sekarang geser!" perintah Gallelio tiba-tiba.

"Tuan ngapain ikut naik?!" tanya Aurin panik, namun ia tetap menggeserkan tubuhnya meski diselimuti rasa bingung yang amat sangat.

"Saya tidur di sini. Menjaga kalian!" lanjutnya tanpa beban.

Pria itu langsung menempatkan diri di sisi ranjang yang kosong di samping Aurin. Ia merebahkan tubuhnya begitu saja, membiarkan gadis di sebelahnya didera rasa tidak nyaman dan heran sekaligus.

"Tuan... kenapa Anda tidur di sini? Saya tidak takut hantu, by the way. Tidak perlu dijagain kayaknya..." cicit Aurin pelan.

Gallelio hanya mendesah panjang. "Suka-suka saya tidur di mana, rumah ini rumah saya!" jawabnya mutlak.

Aurin pada akhirnya mengalah. Ia ikut berbaring kembali meski seluruh tubuhnya terasa kaku karena keberadaan pria itu di dekatnya. Kembali tidur dengan posisi yang sama seperti semalam rasanya mendadak membuat suasana menjadi panas, apalagi kali ini ia menjalaninya dalam keadaan sadar sepenuhnya. Untuk bergerak satu senti saja rasanya Aurin tidak sanggup.

"Besok saya ke Bali," bisik Gallelio tiba-tiba. Embusan napasnya menyapu lembut daun telinga Aurin yang sejak tadi sedang berusaha keras memejamkan mata.

"Dua minggu di sana untuk urusan pekerjaan," lanjut pria itu sebelum akhirnya keheningan malam kembali menguasai kamar mereka.

"Ayuna akan menginap di sini menemani kalian. Kalau ada apa-apa yang terjadi, beritahu saya!" lanjutnya.

"Kalau mau pergi belanja seperti kemarin boleh, tapi tetap hati-hati!" lanjut Gallelio lagi.

"Aurin!"

"Ck, tidur?!" Gallelio mengguncang kecil bahu gadis itu yang tampak kaku. Napas Aurin terdengar teratur, matanya pun sudah terpejam begitu cepat.

Gallelio menghela napas, kemudian ikut memejamkan matanya. Tangan besarnya kembali melingkar di pinggang Aurin, mencari kenyamanan di sana. Sementara itu, matanya yang biasanya tidak cepat mengantuk mendadak mulai terasa berat hingga akhirnya terpejam, menyusul napasnya yang ikut teratur.

Apaan ini? batin Aurin yang sebenarnya tidak benar-benar tertidur. Tangannya mendadak terasa panas dingin. Ia ragu untuk melepaskan tangan pria itu dari tubuhnya.

Jangan begini, Tuan... saya takut salah mengartikannya! batin Aurin sembari memejamkan mata erat-erat, berusaha keras untuk segera menyusul ke alam mimpi.

*********

"Ingat, saya sudah menyimpan nomor saya di ponsel kamu. Kalau ada apa-apa, hubungi saya!" pesan Gallelio untuk kesekian kalinya sejak ia terbangun. Aurin sampai bosan mendengarnya.

"Iya, Tuan," jawab gadis itu sembari mengantar Gallelio ke depan rumah dan membantu menyeret koper pria itu.

Revan yang sudah berdiri di depan mobil langsung membantu meletakkan koper bosnya ke dalam bagasi, lalu masuk ke dalam untuk mengambil alih kemudi.

"Oh ya, sama satu lagi..." ujar Gallelio sebelum membuka pintu mobil. "Kalau kangen saya, boleh telepon!" lanjutnya, masih dengan wajah datar andalannya.

"Eh..." Aurin mengernyitkan kening, bingung antara heran dan tidak percaya pria itu bisa mengatakan hal seperti itu.

"Saya pergi ya," pamitnya, tapi tidak kunjung masuk ke mobil, masih berdiri sambil menatap Aurin seolah menunggu sesuatu.

"Iya," jawab Aurin singkat.

Gallelio menoleh kembali. "Iya doang?" tanyanya datar tapi sarat akan protes.

"Iya, hati-hati di jalan, Tuan. Semoga sampai di Bali dengan selamat," ujar Aurin akhirnya sembari tersenyum. Ia sengaja segera menyudahi drama pria itu yang sejak semalam terasa agak aneh dan mengesalkan baginya.

Gallelio menghela nafas tipis, baru setelah itu masuk ke dalam mobil.

"Sudah, Tuan?" tanya Revan menoleh sebentar dari balik kemudi.

"Sudah, ayo!" jawab Gallelio singkat.

Mobil itu perlahan melaju meninggalkan halaman rumah, membelah jalanan pagi yang masih lengang. Sedangkan Aurin masih berdiri di depan rumah, memperhatikan mobil hitam itu sampai benar-benar menghilang dari pandangannya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Ila Wati
thour lumutan nunggu up nya jangan lama²😭😭😭😭😭
Anne Soraya
lanjut
chbyy
ada yang gengsian😂
Ila Wati
thour semangat up dat nya😍
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
ughhh bawelnyaa🫠
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
mendusel dusel yaa🫠🫠 medok banget🤣
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
hahahaha rasakannn🤣🤣🤣
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
aink ngakak
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Sekali-kali ngasih efek jera🤣
total 1 replies
Adinda
Aurin lanjutkan sekolahmu
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Iya kak, sekarang lagi belajar dari rumah dia🤭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
sialan dasar duda mecum🫠
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
awas loh pas liat langsung ngga bisa nahan
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mana mau ngaku si Gel itu kalau dia cemburu
Ila Wati
thor semangat abdet nya
Adinda
lanjut thor
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
Hilih sayang sayang🤣
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
anjayyyy sayang ngga tuh🤣 mulai kemakan omongan mu sendiri kau Gel
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Emang omongan pria gak bisa di percaya/Facepalm/
total 1 replies
Ariany Sudjana
kalau cinta bilang bos, nanti menyesal lho, kalau Aurin di ambil laki-laki lain 😄😄🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Gallel: Saya belum moveon
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
lah memang cantik kok😑
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Masukkkkkkkk
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
emang santik... kenapa loe
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Ya jangan tebar pesona begitu kan bisa.. /Facepalm//CoolGuy/
total 1 replies
Ariany Sudjana
ada yang jealous tapi ga mau ngaku 😄😄
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: 🤣🤣gengsi kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!