Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 30
"Nadhira! Kamu apa kamu membuat masalah baru? Kenapa kamu sampai di panggil oleh Pimpinan perusahaan ini? Aku dengar terkait laporan kamu terakhir kali!" tanya Pak Rahmat.
"Sudah aku bilang, sebaiknya kamu pura-pura merem saja! Kita ini hanya bawahan! Kenapa kamu bandel banget sih! Kamu cari perkara! Aku yakin sebentar lagi karir kamu akan hancur karena sudah berani melawan mereka!" bisik Bu Siska.
"Saya hanya melakukan tugas dan pekerjaan saya saja, Bu!" jawab Nadhira kemudian pamit.
Sejujurnya dia juga takut bertemu dan bertatap muka kembali dengan Pak Ardi yang sekarang mau tak mau selain sebagai atasan tertinggi di kantor, dia juga adalah mertuanya sendiri.
"Anda memanggil saya, Pak?" tanya Dhira saat masuk ke dalam ruangan Pak Ardi, di sana juga sudah ada Andra dan juga asisten pribadi Pak Ardi.
"Duduk! Dan saya bukanlah orang yang berbasa-basi. Sekarang jelaskan apa maksud dari laporan kamu ini. Bahkan laporan ini ternyata di simpan oleh anakku dan tidak di proses lebih lanjut! Memangnya ada apa? Dan aku dengar kamu yang sudah membuat laporan ini!"
Dhira menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Di bawah tatapan tajam Papa Ardi, sorot mata penuh intimidasi dari Andra, serta pandangan ingin tahu dari asisten pribadi, dia tetap berusaha bersikap profesional.
"Terima kasih atas kesempatannya, Pak Ardi," ujar Dhira dengan suara yang mulai tenang namun tegas.
"Saya tidak bermaksud mencari perkara, apalagi mencari masalah dengan pihak mana pun. Saya hanya menjalankan fungsi pengawasan dan audit internal sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepada saya."
Dhira membuka map biru yang dibawanya, lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan meletakkannya di atas meja besar di hadapannya.
"Saya menemukan ketidaksesuaian yang cukup signifikan dalam laporan operasional dan arus kas di divisi pengadaan selama enam bulan terakhir," lanjutnya sambil menunjuk pada beberapa poin yang telah ia beri tanda stabilo.
"Ada selisih nominal yang berulang dalam pengajuan vendor rutin. Jika Bapak perhatikan di lampiran halaman empat, terdapat tagihan dari vendor yang alamatnya sama persis dengan alamat kantor cabang kita di daerah, namun menggunakan atas nama perorangan yang tidak terdaftar di database karyawan resmi."
Andra sempat mencoba memotong,
"Itu hanya kesalahan administrasi biasa, Dhira. Jangan melebih-lebihkan masalah teknis seperti ini."
Dhira tidak gentar. Dia menoleh sekilas ke arah suaminya itu, lalu kembali menatap Papa Ardi.
"Itu bukan sekadar kesalahan teknis, Pak Andra. Saya telah melakukan kroscek dengan bagian keuangan. Pembayaran tersebut disetujui tanpa melampirkan Purchase Order (PO) yang sah. Selain itu, ada penggelembungan harga hingga dua puluh persen dari harga pasar untuk barang-barang yang sebenarnya tidak memerlukan spesifikasi khusus."
Dhira menyerahkan satu dokumen terakhir, sebuah rekapan data.
"Ini adalah bukti transaksi yang saya ambil langsung dari sistem backend. Saya menemukan bahwa pola ini lolos selama berbulan-bulan karena sistem otorisasi tingkat kedua selalu dilewati. Ada tanda tangan digital Bapak yang tertera di sana, Pak Ardan, namun berdasarkan catatan waktu akses. Bapak sedang melakukan perjalanan dinas di luar kota pada saat dokumen itu diproses."
Suasana ruangan seketika menjadi sunyi. Papa Ardi memicingkan mata, mengambil berkas itu dan memeriksanya dengan teliti. Jemarinya gemetar saat melihat deretan angka dan jejak digital yang dipaparkan Dhira.
"Saya berani menjamin bahwa apa yang saya sampaikan ini adalah fakta administratif yang terjadi di lapangan," ucap Dhira dengan nada yang lebih melunak, namun tetap teguh.
"Saya menyimpan laporan ini bukan untuk menyerang siapa pun, Pak. Saya menyimpannya karena saat itu saya bingung harus melaporkan hal ini kepada siapa. Apalagi saya hanyalah staff administrasi biasa di sini. Namun saya bekerja sesuai dengan jobdes saya! Dan hal ini juga sudah saya laporkan kepada Pak Andra. Namun semuanya terhenti tiba-tiba.
Papa Ardi kali ini menatap tajam ke arah Andra yang sepertinya menutupi kasus ini. Entah apa tujuannya. Dan kalau sampai anaknya terlibat maka dia tak segan akan mendepaknya dari perusahaan.
"Baiklah! Katakan padaku siapa saja yang kamu tahu terlibat?" tanya Papa Ardi dengan tatapan tajamnya.
"Yang saya curigai ada Pak Reno, Pak Mochtar dan Bu Sabrina. Selebihnya saya tak bisa mencari tahu karena keterbatasan posisi saya. Silahkan anda bisa periksa kembali untuk memperjelas semuanya. Anda dan Pak Andra memiliki kekuasaan dan kekuatan yang jauh lebih besar untuk mengauditnya lebih dalam!" jawab Nadhira.
Urusan pekerjaan memang Nadhira tak pernah main-main. Andra yang berada di sebelahnya memejamkan mata dengan kedua tangan terkepal. Sejujurnya dia memang sedang menyelidiki Reno. Hanya saja fokusnya terganggu karena masalah anak ini. Sehingga dia melupakan hal itu.
"Jadi," suara Papa Ardi memecah keheningan, dingin dan penuh ancaman.
"Selama ini, di bawah hidungku, ada permainan kotor yang melibatkan orang-orang kepercayaanku, sementara anakku sendiri justru tampak seperti orang yang tidak tahu apa-apa atau justru sengaja membiarkannya karena pria itu adalah sahabat sejati istri kamu?"
"Pa, jangan salah paham. Aku memang sedang menyelidiki Reno, tapi aku perlu bukti yang benar-benar kuat sebelum mengambil tindakan. Aku tidak mau perusahaan ini geger hanya karena tuduhan yang belum teruji!"
"Panggil Reno, Mochtar, dan Sabrina ke ruangan ini sekarang juga. Jangan beri tahu mereka soal apa yang terjadi. Katakan saja ada rapat koordinasi mendadak. Kamu Dhira pergi dan kembali bekerja seperti biasa."
Asisten pribadi itu segera mengangguk patuh dan bergegas keluar. Ruangan kembali senyap. Andra menatap Nadhira dengan tatapan yang sulit diartikan ada kemarahan, tapi juga kilatan rasa tidak percaya melihat keberanian istrinya.
"Pak Reno mengajukan cuti tiga hari dengan alasan istrinya sakit, Pak. Terhitung sejak kemarin cutinya!" ujar sang asisten membuat Papa Ardi menatap ke arah sang anak.
"Jangan bilang kalau kamu tidak tahu akan masalah ini. Dan pada akhirnya pria itu malah bersama dengan istrimu!" kesal Papa Ardi.
"Pah... jangan buat aku overthinking! Aku sangat percaya kepada Diana dan Reno!"
"Iya kah? Apakah ada persahabatan sejati antara laki-laki dan perempuan? Kalau terlalu dekat dan setiap waktu bersama pada akhirnya akan tumbuh cinta terlarang di antara mereka. Kau saja yang terlalu bo-doh,! Jangan nangis kalau aku berhasil mendapatkan semua buktinya!" jawab Papa Ardi kesal bukan main dengan cinta anak lelakinya.
gx sadar diri ,,
dr awal pernikahan atau mungkin dr sebelum menikah situ juga udh berzina ,,
sedangkan nadhira msh suci ,,
siti sehat Diana😒😒😒😒😒😏😏😏😏