NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Matahari

Sistem Dewa Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Dua Pertarungan

Kabut beku Kala menebal. Aditya tidak bisa melihat lebih dari satu meter ke depan. Tapi panel All-Seeing Eye terus memperbarui posisi musuh, menampilkan koordinat yang bergerak cepat di antara pepohonan.

Target: Kala. Posisi: 3 meter ke kanan. Mempersiapkan Medan Beku.

"Medan Beku?" Aditya tidak tahu skill itu. Tapi ia tidak mau mencari tahu.

Ia melompat ke atas batu besar, tepat saat tanah di bawahnya berubah menjadi hamparan es seluas lima meter. Batu yang ia pijak ikut membeku, permukaannya licin seperti kaca.

"Kau cepat," suara Kala dari dalam kabut. "Tapi Medan Beku tidak hanya membekukan tanah. Ia membekukan... udara."

Aditya merasakan paru-parunya sesak. Udara di sekitarnya berubah menjadi kristal-kristal kecil yang menusuk setiap kali ia bernapas. Napas Es—skill yang ia baca di deskripsi sistem.

Stamina: 72%. Oksigen berkurang. Mencari sumber panas.

Panas. Api. Itu kelemahannya.

Aditya mengaktifkan Jurus Surya level 3. Energi matahari yang tersimpan di liontin dialirkan ke seluruh tubuh, menciptakan kehangatan yang melawan hawa dingin. Tapi itu tidak cukup. Ia butuh sesuatu yang lebih besar.

Pedang Kayu Matahari. Bilah menyala jingga. Jika diisi energi tambahan...

Aditya menusukkan pedang ke batu es di bawahnya, lalu mengalirkan seluruh energi Jurus Surya ke bilah kayu itu. Pedang itu menyala terang—bukan jingga lagi, tapi putih menyilaukan. Es di sekitarnya meleleh dalam radius dua meter. Kabut menipis.

"APA ITU?!" Kala terkejut.

"Namanya kreativitas," Aditya mencabut pedangnya, lalu mengayunkannya ke arah suara.

Bilah panas itu membelah kabut seperti pisau membelah kain. Kala terlihat—berdiri dengan tangan terentang, es di sekujur tubuhnya mulai mencair.

Kesempatan.

Aditya melesat. Tinju kirinya—bukan pedangnya—menghantam perut Kala.

Tinju Surya (Level 1) diaktifkan.

Energi matahari murni disalurkan langsung ke tubuh lawan. Kala terbelalak. Es di tubuhnya retak di puluhan tempat, seperti kaca yang dipukul palu. Ia terhuyung mundur, napasnya memburu.

"Itu... energi matahari murni...!"

"Kultivasimu berbasis es dan kegelapan," Aditya berdiri tegak, pedang di tangan kanan, tinju kiri masih berpendar. "Aku adalah musuh alami terburukmu."

Kala meraung marah. Seluruh tubuhnya mengeluarkan kabut tebal, lebih dingin dari sebelumnya—serangan putus asa.

Tapi Aditya sudah membaca polanya.

Target menyerang dengan Pukulan Gletser. Kecepatan menurun. Energi tersisa: 31%.

Aditya mengaktifkan Silent Step. 85% peredaman suara. Ia menghilang dari pendengaran Kala, muncul di sisi butanya. Pedang kayu diayunkan ke arah rusuk.

Duk!

Serangan tidak menembus—otot Kala terlalu keras. Tapi panas dari pedang membakar kulitnya.

"AAARGH!"

Kala berlutut. Levelnya masih 12, tapi energinya terkuras. Medan Beku mulai mencair. Kabut menipis.

"Aku... tidak akan..."

"Kau kalah," potong Aditya. "Menyerahlah. Aku tidak perlu membunuhmu."

Kala mendongak, matanya yang tadinya putih kebiruan kini memudar. "Kenapa?"

"Karena aku bukan pembunuh. Aku hanya butuh Tameng Bumi."

---

Di sisi lain taman, pertarungan Maya dan Kali mencapai klimaksnya.

Tinju Api Maya membakar tiga bayangan Kali sekaligus—bayangan-bayangan yang tadinya solid kini menciut, menjerit dengan suara yang tidak bisa didengar telinga biasa. Kali sendiri terhuyung, tangannya memegangi dada seolah bayangan yang terbakar melukai dirinya sendiri.

"Apa yang kau lakukan pada bayanganku?!"

"Membakar," Maya menjawab singkat, tinjunya masih menyala. "Rupanya bayanganmu terhubung dengan jiwamu. Makin banyak yang terbakar, makin kau kesakitan."

Kali mundur selangkah. Lalu tiba-tiba tersenyum. "Kalau begitu... aku tinggal membunuhmu sebelum kau membakar semuanya."

Ia menghilang.

Bukan dengan kecepatan—tapi dengan kegelapan. Seluruh area di sekitar Maya tiba-tiba tertutup oleh kabut hitam pekat. Bukan kabut biasa—kegelapan yang terasa seperti lumpur, lengket, mencekik.

Kegelapan Pekat diaktifkan. Efek: Membutakan semua indra kecuali peraba. Durasi: 30 detik.

Maya tidak bisa melihat apa-apa. Bahkan api di tinjunya hanya terlihat seperti titik merah samar di kejauhan. Ia mengangkat senapannya—tapi ke mana harus menembak?

"Di sini..." bisikan Kali dari kiri.

Maya menembak. Suara peluru mengenai pohon.

"Bukan. Di sini..." bisikan dari kanan.

Tembakan kedua. Mengenai batu.

"Terus tebak. Kau hanya punya 20 detik sebelum Cambuk Bayanganku menemukan lehermu."

Maya menarik napas panjang. Ia menutup matanya—tidak ada gunanya terbuka dalam kegelapan seperti ini.

Cincin Api. Kakek Wijaya bilang cincin ini punya kepribadian. Dia memilihku karena aku berani. Aku harus percaya padanya.

Ia mengepalkan tinjunya yang menyala lebih terang. Lalu melakukan satu-satunya hal yang tidak diduga Kali: ia berlari ke depan.

Bukan menghindar. Menyerang.

Cambuk bayangan menyambar dari samping, mengenai bahunya. Maya meringis, tapi tidak berhenti. Satu cambuk lagi dari atas, mengenai punggungnya. Ia tersandung, bangkit lagi. Matanya terfokus pada satu titik—tempat di mana kegelapan terasa paling pekat, paling dingin, paling hidup.

KAU DI SANA.

Tinju Api menghantam pusat kegelapan.

BOOM!

Ledakan api kecil—tapi cukup. Kegelapan pecah seperti kaca. Kali terpental tiga meter, punggungnya menghantam pohon. Tubuhnya berasap. Matanya tidak percaya.

"Bagaimana... kau bisa..."

Maya berdiri di atasnya, berlumuran darah dan memar, tapi tinjunya masih menyala. "Aku tidak bisa melihatmu. Tapi aku bisa merasakan di mana ketakutanmu paling kental."

Kali tersenyum pahit. Lalu pingsan.

---

Kedua pertarungan selesai.

Aditya berjalan keluar dari sisa-sisa kabut Kala, pedang kayunya masih berpendar pelan. Di hadapannya, Maya terengah-engah di samping tubuh Kali yang pingsan. Taman vila yang tadinya indah kini hancur—rerumputan membeku di separuh sisi, terbakar di sisi lain.

"Kau terluka," kata Aditya.

"Kau juga."

"Tapi kita masih hidup."

"Masih." Maya menyimpan senapannya, lalu menatap ke arah vila. "Brankas bawah tanah. Tameng Bumi."

Mereka masuk ke vila. Ruang tengah bergaya minimalis—sofa putih, meja kaca, lukisan abstrak di dinding. Tapi di bawah permadani Persia, sebuah pintu baja tersembunyi. Aditya mengeluarkan kunci duplikat dari Kolektor.

Klik!

Pintu rahasia di samping brankas utama terbuka. Sebuah lorong sempit menurun ke bawah tanah. Di ujungnya, sebuah ruangan kecil dengan brankas kaca transparan. Di dalamnya, sebuah tameng perunggu bulat dengan ukiran matahari—sinarnya tujuh, menyebar dari pusat.

Tameng Bumi—Pusaka Dewa Matahari keempat.

Kemampuan: Menciptakan perisai energi yang bisa menahan serangan fisik dan spiritual hingga level 15.

Status: Tidak aktif. Membutuhkan darah Pradipa untuk aktivasi.

"Ini dia," Aditya membuka brankas kaca itu. Begitu tangannya menyentuh tameng, liontin di dadanya bergetar. Tameng itu berkilau seolah menyambut.

Progres Misi: 4/7 pusaka ditemukan.

Hadiah: 3000 Koin.

Total Koin: 3810.

Di atas speedboat, Alesha melihat kilatan oranye dari pulau—api terakhir dari Tinju Maya. Jantungnya berdebar kencang.

Lalu kalung pelacak di lehernya bergetar. Titik Aditya bergerak keluar dari pulau. Titik Maya juga bergerak. Keduanya kembali ke pantai.

Alesha menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.

"Mereka berhasil."

1
Sebut Saja Chikal
hmmm dipikir" ada yg ilang. hadiah terima tawaran si alesha ko ga dapet. 500 koin + pil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
Kak, Bisa Follow kembali, ada hal penting🙏
alexander
bagus ceritqnya
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!