NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Pernikahan Rahasia Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Selenium Alchemy

Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.

​Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.

​Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Hening di dalam mobil malam ini terasa berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan seperti saat berangkat tadi. Aroma parfum Charles yang menempel di jas yang tersampir di bahuku memberikan rasa hangat yang aneh, seolah-olah aku sedang berada dalam perlindungannya yang paling privat.

Charles menyandarkan punggungnya di jok kulit mobil, matanya terpejam sejenak. Guratan lelah terlihat jelas di wajahnya yang biasanya tanpa cela. Lampu-lampu jalanan Jakarta yang kuning keemasan menari-nari di wajahnya setiap kali mobil melewati lampu merkuri.

"Andini," panggilnya tiba-tiba tanpa membuka mata.

"Iya?"

"Kenapa kau tidak pernah bertanya tentang orang tuaku?"

Pertanyaan itu membuatku tersentak. Selama enam bulan ini, kami hanya bicara soal jadwal, aturan apartemen, atau laporan sekolah. Kami tidak pernah menyentuh wilayah pribadi. "Aku... aku pikir kau tidak suka jika ada orang yang mencampuri urusan pribadimu. Kau sendiri yang bilang kalau emosi adalah kelemahan."

Charles membuka matanya, menatap kosong ke arah sekat sopir di depan. "Mereka meninggal dalam kecelakaan saat aku baru saja menyelesaikan kuliah. Hari itu seharusnya menjadi hari perayaanku, tapi justru menjadi hari di mana aku harus belajar memakai setelan jas ini untuk pertama kalinya—untuk pemakaman mereka."

Aku terdiam, lidahku kelu. Aku menoleh padanya, melihat pria perkasa ini tampak begitu rapuh untuk sesaat. "Aku minta maaf, Charles. Aku tidak tahu."

"Jangan meminta maaf," potongnya cepat, kembali ke nada datarnya. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa alasan kakekmu dan kakekku membuat perjanjian ini adalah karena mereka takut aku akan menjadi pria yang sepenuhnya kehilangan kemanusiaannya. Mereka pikir, dengan mengikatku pada seseorang yang masih memiliki 'hidup' sepertimu, aku tidak akan benar-benar berubah menjadi mesin."

"Dan apakah itu berhasil?" tanyaku pelan.

Charles menoleh, menatap mataku dengan intensitas yang membuat napas seolah berhenti. "Aku belum tahu. Tapi malam ini, saat melihatmu menghadapi Vivian... aku merasa ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai kalkulasiku."

Mobil perlahan memasuki area *basement* apartemen. Begitu mesin mati, keheningan kembali menyergap. Charles tidak segera turun. Ia justru merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru berwarna merah marun.

"Ini untukmu," katanya sambil menyodorkan kotak itu.

Aku menerimanya dengan ragu. Saat kubuka, sebuah gelang perak simpel dengan gantungan berbentuk pena kecil berkilauan di bawah lampu kabin mobil. "Ini... untuk apa?"

"Tanda terima kasih karena sudah menjadi 'keponakan' yang baik malam ini," jawabnya, menghindari tatapanku. "Dan aku tahu kau suka menulis. Gunawan bilang kau sering menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah."

Jantungku mencelos. Dia memperhatikanku. Dia benar-benar tahu apa yang kusuka. "Terima kasih, Charles. Ini indah sekali."

"Masuklah duluan. Aku masih ada telepon internasional yang harus diurus," katanya, kembali ke mode sibuknya.

Aku turun dari mobil, membawa jasnya dan kotak perhiasan itu dengan perasaan yang campur aduk. Saat aku melangkah menuju lift, aku sempat menoleh ke belakang. Charles masih di dalam mobil, menatap layar ponselnya, tapi aku bisa melihat pantulan wajahnya di kaca spion—dia sedang memperhatikanku hingga aku masuk ke dalam lift.

Keesokan paginya, duniaku kembali berputar 180 derajat.

"Andini! Gila ya, gelang baru nih? Dari siapa? Jangan bilang dari paman lo lagi!" Siska langsung menyambar tanganku begitu aku meletakkan tas di meja kelas.

Aku tersentak, berusaha menarik tanganku, tapi Siska sudah terlanjur melihat gantungan pena kecil itu. "Eh, ini... iya, hadiah dari Paman karena nilai Sejarahku bagus kemarin."

"Ih, Paman lo perhatian banget sih! Gue mau dong punya paman kayak gitu," celoteh Siska tanpa curiga.

Aku hanya tersenyum canggung. Di pergelangan tanganku, gelang itu terasa berat—bukan karena logamnya, tapi karena rahasia yang dikandungnya. Sepanjang pelajaran Fisika, aku tidak bisa fokus. Pikiranku terus kembali pada ucapan Charles di mobil. *Dia tidak ingin aku menjadi mesin.*

Tiba-tiba, pengumuman dari pengeras suara sekolah menggema.

*"Diberitahukan kepada seluruh siswa kelas sebelas, bahwa perwakilan dari Utama Group akan datang siang ini untuk memberikan sosialisasi mengenai beasiswa prestasi. Mohon persiapan di aula utama jam satu siang."*

Pena di tanganku terjatuh. *Utama Group?* Itu perusahaan Charles.

"Wah, Din! Itu kan perusahaan raksasa itu! Katanya CEO-nya ganteng banget tapi galak," bisik Maya dari bangku belakang. "Siapa tahu dia ikut datang!"

Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisku. Jika Charles benar-benar datang ke sekolahku, sandiwara ini akan berada di ujung tanduk. Aku menatap gelang di tanganku, lalu menatap pintu kelas. Rasanya aku ingin lari sekarang juga, tapi kakiku terasa lemas.

Duniaku yang terbelah kini seolah sedang dipaksa untuk bertabrakan di satu titik. Dan aku tidak tahu, apakah aku cukup kuat untuk menahan ledakannya.

"Din? Lo kenapa pucat banget? Sakit?" Siska menyentuh dahiku.

"Gue... gue nggak apa-apa, Sis. Cuma agak pusing aja," jawabku lirih.

Jam satu siang tinggal beberapa menit lagi. Dan di luar sana, aku mendengar deru mobil-mobil mewah yang memasuki halaman sekolah. Jantungku berpacu, seirama dengan langkah kaki yang mendekat menuju aula. Apakah ini saatnya rahasia di balik seragam ini terungkap?

Aku menarik napas panjang, merapikan kerah seragamku, dan berjalan menuju aula dengan perasaan seolah sedang menuju medan perang. Di sana, di depan pintu aula, aku melihat Gunawan, asisten Charles, sedang berdiri rapi. Saat matanya bertemu denganku, ia memberikan anggukan sangat tipis yang hampir tidak terlihat.

Lalu, sebuah mobil sedan hitam yang sangat kukenal berhenti tepat di depan lobi. Pintu terbuka, dan sesosok pria dengan setelan jas abu-abu gelap keluar. Charles.

Dia ada di sini. Di duniaku.

Charles melangkah masuk dengan wibawa yang sama seperti saat ia berada di pesta semalam. Namun kali ini, ia berada di tengah-tengah ratusan siswa yang menatapnya dengan penuh kekaguman. Matanya menyapu ruangan, dingin dan tajam, sampai akhirnya... tatapannya berhenti tepat di mataku yang berdiri di antara kerumunan siswi.

Duniaku berhenti berputar. Hanya ada aku dan dia di tengah keramaian itu. Charles tidak tersenyum, tapi ada kilatan di matanya yang seolah berkata, *"Mari kita lihat seberapa baik kau bisa bermain di kandangmu sendiri, Andini."*

1
Eni Wati
sll menunggu
R.A Naimah
nggak faham alur ya selalu berputar
Eni Wati
Lanjut
Eni Wati
sll menuggu
Eni Wati
Lanjut
Wawan
Semangat... ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!