NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan Tengah Malam

BAB 6 — Pesan Tengah Malam

Malam semakin larut. Hujan di luar jendela apartemen kecil Alena turun dengan deras, membasahi kaca dan menciptakan suasana yang sunyi serta dingin yang khas kota London.

Alena duduk bersandar di kepala ranjang, selimut tebal menutupi sebagian kakinya. Laptop terbuka di pangkuannya, tapi matanya yang tadinya fokus menatap layar, kini mulai melamun. Pikirannya tidak bisa lepas dari sosok tertentu. Sejak kejadian di ruangan dosen kemarin, rasanya ada benang tak kasat mata yang mengikat mereka berdua semakin erat, sebuah koneksi rahasia yang hanya mereka berdua yang mengerti.

Jam dinding menunjukkan pukul 23:15.

Tiba-tiba, suara notifikasi ponselnya berbunyi pelan. Ting.

Alena meraih ponselnya dengan malas, mengira itu hanya notifikasi biasa atau pesan dari teman sekelas. Namun, saat melihat nama yang muncul di layar kunci ponselnya, darahnya seakan berhenti mengalir sejenak.

Dr. Adrian Vale

Dia... menghubungiku?

Jantung Alena berdegup kencang mendadak. Dengan tangan yang sedikit gemetar—entah karena dingin atau karena gugup—dia segera membuka layar dan masuk ke aplikasi chat.

 

💬 Dr. Adrian Vale

23:15

"Selamat malam, Alena. Maaf mengganggu waktumu istirahat."

Alena mengerutkan kening sedikit. Bahasanya formal sekali, kaku, dan sangat sopan. Padahal mereka sudah berciuman, sudah berpelukan, dan sudah berbicara hal-hal pribadi di ruangan tertutup. Tapi pesan ini terdengar sangat profesional, seperti dosen berbicara pada muridnya.

Tapi Alena tersenyum tipis. Dia paham. Ini bukan soal formalitas. Pria itu jelas hanya mencari alasan untuk bisa mengobrol dengannya. Dia malu mungkin, atau memang caranya mendekat memang seperti itu.

Alena cepat-cepat membalas, jari-jarinya menari di atas keyboard.

💬 Alena

"Selamat malam, Pak. Tidak kok, saya masih belum tidur kok. Ada yang bisa dibantu?"

Tidak butuh waktu lama, balasan langsung masuk. Kurang dari satu menit.

💬 Dr. Adrian Vale

"Tidak ada hal yang mendesak sebenarnya. Hanya ingin memastikan materi yang kuberikan kemarin tidak terlalu sulit untuk kamu pahami. Dan juga... memastikan kamu sudah makan dan istirahat dengan baik."

Membaca kalimat itu, pipi Alena langsung terasa hangat. Senyumnya mengembang lebar. Ya ampun... ternyata di balik sikap dingin, galak, dan juteknya di kampus, dia seperhatian ini ya? Rasanya aneh, tapi sangat manis. Sangat kontras dengan sosok Dr. Vale yang menakutkan di depan kelas.

💬 Alena

"Oh... materinya mudah dipahami kok, Pak. Bapak jelasin dengan jelas kok. Dan saya sudah makan tadi, jangan khawatir 😊"

Kali ini balasannya agak lama sedikit, membuat Alena menahan napas menunggu di depan layar. Rasanya seperti menunggu giliran ujian.

💬 Dr. Adrian Vale

"Syukurlah. Tapi... panggil saja aku Adrian kalau kita chat begini ya. Terlalu banyak 'Bapak' dan 'Pak' rasanya membuat jarak di antara kita, bukan?"

Alena tertegun. Adrian?

Hanya menyebut namanya saja, hanya mendengar namanya ditulis begitu saja di layar, sudah membuat perutnya terasa penuh dengan kupu-kupu yang terbang berantakan. Rasanya intim, rasanya pribadi, rasanya... benar.

💬 Alena

"O...oke. Baik... Adrian."

💬 Dr. Adrian Vale

"Begitu saja. Lebih enak didengar. Kamu sedang apa sekarang? Masih sibuk?"

💬 Alena

"Lagi ngerjain tugas dikit doang kok. Nanti juga selesai. Adrian sendiri? Masih di kampus?"

💬 Dr. Adrian Vale

"Baru sampai di apartemen. Masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan, tapi rasanya kepalaku terlalu penuh kalau harus melihat angka dan grafik terus. Jadi... lebih baik mengobrol denganmu."

Alena terkikik pelan menutup mulutnya. Dia tidak menyangka Adrian bisa sehangat dan semanis ini saat tidak sedang memakai topeng 'Dosen Killer'-nya. Di dunia nyata dia dingin, serius, dan membuat orang takut. Tapi lewat layar ponsel ini, di tengah malam yang sunyi, dia terlihat jauh lebih manusiawi, jauh lebih lembut, dan... sangat menggoda.

Obrolan mereka mulai mengalir begitu saja, lancar seperti air.

Mulai dari soal kuliah yang rumit, berlanjut ke selera makanan—di mana Adrian mengaku dia sebenarnya suka makanan pedas tapi jarang punya waktu cari—sampai membahas cuaca London yang selalu mendung dan menyebalkan.

Alena merasa sangat nyaman. Rasa canggung yang tadinya ada, perlahan hilang terbawa oleh kata-kata Adrian yang bijak tapi kadang juga sedikit bercanda dan meledek. Dia merasa bisa menjadi dirinya sendiri saat mengobrol dengan pria ini, bahkan lewat teks.

Hingga topik pembicaraan berubah menjadi sedikit lebih personal dan dalam.

💬 Dr. Adrian Vale

"Kamu sendirian di sana?"

Pertanyaan itu singkat, sederhana, tapi ada nada berbeda di sana. Ada rasa penasaran yang mendalam, ada rasa posesif yang tersirat, dan ada kekhawatiran yang tak terucap.

Alena sedikit terkejut tapi segera membalas.

💬 Alena

"Iya sendirian dong. Kan emang tinggal sendiri di sini. Kenapa? Takut saya diganggu hantu ya? hehe"

💬 Dr. Adrian Vale

"Bukan soal itu. Hanya saja... aku tidak suka membayangkan kamu sendirian di kamar sebesar itu di tengah malam. Terasa sepi, bukan? Terasa... kosong."

💬 Alena

"Biasalah, udah terbiasa kok dari dulu. Apaan sih, lebay 😜"

💬 Dr. Adrian Vale

"Kamu tidak boleh terbiasa kesepian, Alena. Kamu terlalu cantik dan terlalu berharga untuk merasa sendirian. Seharusnya ada orang yang jagain kamu, yang dengerin cerita kamu tiap malem."

Alena menutup mulutnya dengan tangan, menahan teriakkan kecil yang ingin keluar karena kegirangan. Wajahnya memanas luar biasa, sampai ke telinga.

Ya ampun... ini beneran Adrian Vale yang galak itu ngomong gini? Bicaranya bisa bikin meleleh gini ya?

Sejak malam itu, rutinitas hidup Alena berubah total.

Setiap hari, hal yang paling ditunggu-tunggu bukanlah jam kuliah selesai, bukan juga jam makan malam. Tapi adalah saat malam tiba, lampu dimatikan, dan ponselnya akan berbunyi. Menjadi hal yang paling dinanti-nantikan sepanjang hari.

Alena belajar menunggu.

Menunggu notifikasi itu muncul di layar. Menunggu suara berat itu hadir dalam bentuk tulisan. Menunggu rasa diperhatikan, rasa digoda, dan rasa dimiliki yang membuat malam-malam panjang dan dingin di London terasa jauh lebih hangat, jauh lebih berwarna.

Mereka menjadi seperti dua orang sahabat sekaligus kekasih rahasia. Chat-an mereka semakin intens, semakin berani, dan semakin tidak bisa lepas. Terkadang mereka mengobrol sampai pagi, sampai mata Alena berat dan Adrian menyuruhnya tidur dengan nada melarang yang manis.

"Jangan begadang terus, nanti sakit. Tidur ya, cantik."

"Iya iya... selamat malam, Adrian."

"Mimpi indah. Jangan mimpi orang lain ya."

Hal-hal kecil seperti itu yang membuat hati Alena berbunga-bunga.

Hingga pada suatu malam tertentu, di mana obrolan sudah berlangsung selama berjam-jam, suasana chat menjadi lebih hening dan lebih intens dari biasanya. Adrian mengirimkan pesan yang singkat, padat, namun mengubah segalanya selamanya.

💬 Dr. Adrian Vale

"Datang besok malam."

Pesan itu tidak ada tanda tanya. Tidak ada basa-basi. Tidak ada alasan panjang lebar. Hanya kalimat tegas, penuh otoritas, namun terdengar sangat manis dan memanggil.

Alena menatap layar itu lama sekali, jantungnya berdegup kencang tidak beraturan.

Dia tahu. Dia tahu apa arti pesan itu. Besok malam... segalanya akan berubah.

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!