NovelToon NovelToon
Di Balik Tirai Luka

Di Balik Tirai Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: wyzy

Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10. Sembilu

Pagi menyapa dengan suasana yang lebih berat dari biasanya. Mansion mewah itu seolah kehilangan ruhnya; tidak ada suara langkah kaki yang mantap, tidak ada perintah yang diteriakkan dengan angkuh. Hanya ada keheningan yang menyesakkan, seolah dinding-dinding marmer itu sendiri sedang ikut berkabung atas kejadian di gudang bawah tanah semalam.

Alya terbangun dengan tubuh yang menggigil. Ia tertidur di lantai kamar mandi dengan pakaian yang masih basah kuyup. Saat ia mencoba bangkit, rasa sakit yang tajam menyerang pipi kiri dan sudut bibirnya. Ia merangkak menuju cermin wastafel. Pantulan di depannya membuat Alya ingin memejamkan mata selamanya. Pipi kirinya membiru, bengkak yang cukup parah, dan darah yang sudah mengering di sudut bibirnya memberikan rupa yang menyedihkan.

Ia telah hancur. Bukan hanya fisiknya, tapi juga harga dirinya sebagai seorang manusia.

Dengan tangan gemetar, Alya mencoba membersihkan luka-lukanya. Ia membasuh wajahnya dengan air hangat, meringis setiap kali air itu menyentuh kulit yang lecet. Ia harus menutupi ini. Jika Nyonya Ratna melihatnya, wanita itu hanya akan tertawa. Jika pelayan melihatnya, mereka akan semakin memandang rendah dirinya. Dan jika Arka melihatnya... Alya tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan pria itu.

Alya mengganti seragam abu-abunya yang kotor dengan yang baru. Ia menggunakan rambut panjangnya untuk menutupi sebagian wajah kirinya yang bengkak. Ia harus tetap bekerja. Di rumah ini, sakit bukanlah alasan untuk berhenti menjadi pelayan.

Saat Alya menuruni tangga menuju dapur, ia berpapasan dengan Arka di lorong tengah. Pria itu tampak berantakan. Mata hitamnya cekung dan merah, kemejanya kusut, dan ia tampak belum tidur semenit pun. Langkah Arka terhenti saat melihat Alya.

Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Ada kilatan horor dan penyesalan yang melintas di wajah Arka saat ia menatap memar di pipi Alya—buah dari kemarahannya semalam. Arka membuka mulutnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun egonya yang setinggi langit segera menutupnya kembali. Ia mengalihkan pandangan dengan kasar dan berjalan melewati Alya begitu saja tanpa sepatah kata pun.

Alya hanya bisa menarik napas pendek. Bahkan maaf pun terlalu mahal untukmu, Arka, batinnya pahit.

Di dapur, suasana terasa mencekam. Nyonya Ratna sedang duduk di meja makan kecil sambil menyesap teh earl grey-nya. Begitu melihat Alya masuk, matanya langsung tertuju pada wajah Alya yang ditutupi rambut.

"Singkirkan rambutmu itu, Alya. Jangan berlagak seperti hantu di rumahku," tegur Ratna dingin.

Alya terdiam, ia tidak bergerak.

"Aku bilang singkirkan!" Ratna bangkit dan dengan kasar menyibakkan rambut Alya ke belakang telinga.

Wanita paruh baya itu tertegun sejenak melihat lebam biru yang kontras di kulit putih Alya. Namun, bukannya merasa kasihan, Ratna justru tersenyum tipis. "Oh, jadi Arka akhirnya memberikan 'hadiah' yang pantas untukmu? Baguslah. Setidaknya dia mulai sadar bahwa kelembutan hanya akan membuat pencuri seperti keluargamu semakin melunjak."

"Nyonya... saya ingin izin ke apotek sebentar," suara Alya terdengar serak.

"Apotek? Untuk apa? Luka seperti itu akan sembuh sendiri dengan air dingin. Jangan manja. Hari ini kau harus membersihkan kolam renang dan menyikat seluruh pinggirannya. Air kaporit akan membantu mensterilkan lukamu," ujar Ratna tanpa belas kasihan.

Alya hanya bisa menunduk. Ia berjalan menuju area kolam renang di halaman belakang. Matahari mulai terik, dan uap kaporit yang tajam mulai menusuk hidungnya. Dengan lutut yang gemetar, ia mulai berlutut di pinggiran kolam, menyikat lumut-lumut tipis dengan sikat kasar.

Dua jam berlalu. Kepala Alya mulai berputar. Panas matahari yang menyengat dan perutnya yang kosong sejak kemarin membuat kesadarannya perlahan menipis. Namun, suara sepatu hak tinggi yang mendekat memaksanya untuk tetap terjaga.

Sisil berdiri di sana, mengenakan kacamata hitam besar dan membawa segelas jus jeruk dingin. Ia menatap Alya yang sedang kepanasan dengan tatapan puas.

"Kasihan sekali, Nyonya Dirgantara yang terhormat sedang menyikat lantai," ejek Sisil. Ia sengaja menumpahkan sedikit jus jeruknya ke lantai yang baru saja disikat Alya. "Ups, tumpah lagi. Bersihkan ya."

Alya tidak menjawab. Ia terus menyikat, mencoba mengabaikan kehadiran wanita itu.

"Kenapa diam saja? Oh, aku lihat pipimu bengkak. Arka memukulmu? Kasihan. Kau tahu, Arka semalam meneleponku. Dia bilang dia sangat menyesal telah menikahimu. Dia bilang dia merindukanku," dusta Sisil dengan nada yang sangat meyakinkan.

Alya menghentikan gerakannya. Ia mendongak menatap Sisil. "Jika dia merindukanmu, kenapa dia masih menahanku di sini? Kenapa dia tidak menceraikanku saja?"

Sisil tertawa renyah. "Karena menyiksamu adalah hiburan baginya, Alya. Kau adalah mainan. Setelah kau rusak total, dia akan membuangmu ke tempat sampah, dan aku akan mengambil kembali posisiku yang seharusnya."

Sisil kemudian mendekat, membungkuk sedikit untuk berbisik di telinga Alya. "Jangan berharap banyak pada operasi ibumu. Arka bisa saja membatalkannya di menit terakhir hanya untuk melihatmu menangis darah."

"Dia tidak akan melakukannya..." suara Alya bergetar.

"Coba saja kalau berani." Sisil tertawa lalu beranjak pergi, meninggalkan Alya dalam ketakutan yang luar biasa.

Sore harinya, Arka kembali dari kantor lebih awal. Ia masuk ke dalam rumah dan langsung menuju bar pribadi di ruang tengah. Ia menuangkan wiski ke dalam gelas, meneguknya dalam sekali telan. Bayangan wajah Alya yang lebam terus menghantuinya sepanjang hari di kantor. Ia tidak bisa fokus pada dokumen apa pun.

Ia melirik ke arah taman belakang melalui jendela besar. Ia melihat Alya masih di sana, duduk lemas di pinggir kolam renang dengan kepala tertunduk. Gadis itu tampak sangat kecil dan rapuh di tengah kemegahan mansionnya.

Tiba-tiba, Arka melihat Alya ambruk. Tubuh gadis itu jatuh ke samping, nyaris masuk ke dalam air kolam.

Tanpa berpikir panjang, Arka melemparkan gelas wiskinya hingga pecah dan berlari menuju halaman belakang. Jantungnya berdegup kencang—rasa takut yang asing menghantam dadanya.

"Alya!" teriak Arka.

Ia sampai di sisi kolam dan segera mengangkat tubuh Alya. Kulit gadis itu terasa membara. Alya demam tinggi. Memar di pipinya tampak semakin jelas di bawah sinar matahari sore yang kemerahan.

"Alya, bangun! Sialan, bangun!" Arka menepuk-nepuk pipi Alya yang tidak terluka.

Alya membuka matanya sedikit, namun tatapannya kosong. Ia menatap Arka dengan ketakutan yang sangat murni, seolah pria itu adalah malaikat maut yang datang untuk menjemputnya.

"Jangan... jangan pukul lagi... maaf..." igau Alya dengan suara yang sangat lemah sebelum kembali kehilangan kesadaran.

Kata-kata itu menghujam jantung Arka lebih tajam dari sembilu. Jangan pukul lagi. Arka tertegun. Ia melihat tangannya yang tadi pagi ia gunakan untuk menyakiti wanita ini. Rasa bersalah yang selama ini ia tekan dengan alasan dendam, kini meledak keluar, memenuhi setiap sudut batinnya.

Arka menggendong Alya masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Di ruang tengah, ia berpapasan dengan ibunya, Ratna.

"Arka, ada apa? Kenapa kau membawa sampah itu masuk ke ruang tengah?" tanya Ratna heran.

"Diam, Bu!" bentak Arka dengan suara yang menggelegar, membuat Ratna tersentak kaget. "Panggil dokter sekarang juga! Jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan memaafkan siapa pun di rumah ini!"

Arka membawa Alya ke kamar utama—ranjang besar yang beberapa hari lalu ia katakan tidak sudi ia bagi dengan Alya. Ia membaringkan Alya dengan sangat hati-hati, seolah-olah gadis itu terbuat dari porselen yang mudah hancur.

Ia mengambil handuk kecil dan air hangat, lalu mulai mengompres dahi Alya sendiri. Tangannya yang besar kini bergerak dengan kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia menatap luka di bibir Alya, lalu jemarinya mengusap memar di pipi itu dengan sangat perlahan.

"Maaf..." bisik Arka, suaranya nyaris tak terdengar. "Maafkan aku, Alya."

Di balik pintu yang sedikit terbuka, Sisil berdiri dengan wajah merah padam karena amarah. Ia melihat Arka yang begitu perhatian, Arka yang tampak sangat hancur melihat kondisi Alya. Rencananya untuk menyingkirkan Alya tampaknya justru menjadi bumerang yang mulai membangkitkan perasaan terpendam Arka.

Malam itu, Arka tidak beranjak dari sisi tempat tidur. Ia menggenggam tangan Alya yang kasar dan memar, menjaganya di tengah igauan demam yang panjang. Dendam yang selama ini menjadi kompas hidupnya mulai kehilangan arah, tergantikan oleh rasa ingin melindungi yang ia sendiri belum sanggup akui.

Sementara Alya, di tengah kegelapan tidurnya, terus memimpikan selendang biru milik ibu Arka—sebuah simbol luka yang kini menjerat mereka berdua dalam lingkaran air mata yang tak berkesudahan. Ini adalah malam ke-10 pernikahan mereka, malam di mana tembok kebencian Arka mulai menunjukkan retakan pertamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!