THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: IMPIAN RESTORAN 'BIMO'S CORNER'
Malam semakin larut setelah pesta makan besar di Panti Asuhan Mentari Baru berakhir. Anak-anak akhirnya tertidur pulas, perut mereka kenyang untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, wajah-wajah kecil itu dihiasi senyum manis dalam mimpi mereka. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma sisa kaldu yang masih tersamar di udara, bercampur dengan debu dingin sektor bawah.
Squadron Aurora tidak langsung pulang ke markas. Atas izin Komandan Varen, mereka diperbolehkan berkemah sebentar di halaman belakang panti, menjaga area tersebut semalam sebelum konvoi penjemputan datang pagi hari. Api unggun kecil menyala di tengah halaman, menerangi wajah-wajah mereka yang lelah namun puas.
Bimo duduk agak terpisah dari yang lain, di atas sebuah batang kayu bekas. Di tangannya, dia memegang selembar serbet kertas bekas pembungkus roti tadi sore. Dengan ujung pensil tumpul yang dipinjamnya dari Kai, dia sedang menggoreskan garis-garis kasar di atas kertas itu. Cahaya api memantul di matanya yang fokus, seolah dia sedang merancang strategi perang paling rumit, bukan sekadar coretan iseng.
Raka, yang sedang memanggang marshmallow (stok darurat dari ransum), memperhatikan gerakan tangan besar itu. "Lo nggambar apa, Bim? Rencana pertahanan baru?" tanya Raka penasaran, mendekati sahabatnya itu.
Bimo menoleh, tersenyum malu-malu. Dia membalik serbet itu agar Raka bisa melihatnya.
"Bukan rencana perang, Rak. Ini... rencana masa depan," bisik Bimo.
Di atas serbet yang kusut dan bernoda minyak itu, tergambar sketsa sederhana sebuah bangunan kecil. Ada atap miring yang lucu, sebuah jendela besar berbentuk hati, dan papan nama di depan pintu yang ditulis dengan huruf balok tebal: "BIMO'S CORNER".
"Bimo's Corner?" baca Raka pelan, merasakan kehangatan yang menjalar dari kata-kata itu.
"Iya," jawab Bimo, suaranya terdengar jauh, seolah dia sudah berada di masa depan itu. "Nanti kalau kita udah pensiun... kalau perang udah selesai, dan dunia udah nggak butuh prajurit lagi... aku bakal bangun tempat ini."
Jari telunjuk Bimo yang tebal menelusuri garis-garis gambar itu dengan lembut.
"Lokasinya nggak perlu di pusat kota yang megah. Cukup di sudut jalan, mungkin di sektor menengah aja. Tempatnya nggak usah besar, cukup muat dua puluh meja. Dapurnya harus luas, biar aku bisa masak leluasa."
Matanya berbinar saat dia mulai menjelaskan detailnya. "Menunya berubah-ubah tiap hari, tergantung musim. Tapi ada satu menu wajib yang selalu ada: Sup Hangat Gratis. Aturannya simpel, Rak. Siapa saja boleh masuk. Mau dia pahlawan, mau dia pengemis, mau dia mantan preman kayak aku dulu... semua duduk bareng. Nggak perlu bayar. Nggak perlu tunjukin ID kartu atau status sosial. Kalau lo lapar, lo makan. Titik."
Raka terdiam mendengarkan. Bayangan itu begitu nyata di kepalanya. Sebuah tempat di mana tidak ada diskriminasi, di mana makanan adalah bahasa pemersatu, persis seperti yang diajarkan Pak Harun pada Bimo kecil.
"Wah, gila..." gumam Raka, hatinya terasa penuh. "Pasti rame banget tempat itu, Bim. Orang bakal antre dari pagi cuma buat nyobain masakan lo."
Bimo tertawa kecil, gelagapan. "Ah, nggak juga kali. Aku cuma pengen punya tempat di mana orang-orang bisa ngerasa aman. Ngerasa diterima. Kayak... kayak rumah."
Tiba-tiba, Elara dan Kai yang mendengar percakapan itu ikut mendekat, duduk melingkar di sekitar api unggun bersama mereka.
"Aku mau bantu dekorasinya," kata Elara tiba-tiba, matanya berbinar serius. "Aku bakal pastiin pencahayaannya hangat, kursinya empuk, dan ada sudut baca buat anak-anak. Biar mereka betah berlama-lama."
Kai mengangguk antusias, jarinya sudah mengetuk-ngetuk udara seolah membuat hologram desain. "Aku urus sistem efisiensi dapurnya! Bikin alat pencuci piring otomatis dan manajemen stok bahan baku biar nggak ada yang terbuang sia-sia. Plus, aku bakal bikinin menu digital yang bisa disesuaikan sama kebutuhan gizi tiap pelanggan. Menu sehat tapi tetap enak!"
Bimo menatap teman-temannya satu per satu, mulutnya sedikit terbuka karena terharu. "Kalian... kalian serius mau bantu?"
"Ya iyalah!" seru Raka semangat, menepuk paha Bimo keras-keras hingga bunyi plak terdengar. "Ini bukan cuma impian lo, Bim. Ini impian kita semua! Aku janji, Bim. Begitu perang ini selesai, aku bakal jadi manajer pemasarannya! Aku bakal promosiin 'Bimo's Corner' sampai seluruh Neo-Solara tau. Aku bakal pastiin antreannya sampai keliling blok!"
Raka menatap mata Bimo dalam-dalam, wajahnya bersinar penuh keyakinan. "Kita bakal bangun restoran itu bareng-bareng. Lo masak, Elara atur suasana, Kai urus teknis, dan aku bawa orang-orang datang. Kita bakal wujudkan ini. Janji."
Bimo menelan ludah, tenggorokannya tercekat emosi. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, tapi kali ini dia membiarkannya jatuh. Dia mengangguk kuat-kuat. "Janji, Rak. Janji kita semua."
"Mari kita buat perjanjian resmi," usul Kai sambil tersenyum. Mereka semua mengulurkan tangan, menumpukkannya di atas serbet kertas berisi sketsa restoran itu yang dipegang erat oleh Bimo.
"Untuk Bimo's Corner," ucap Elara lembut.
"Untuk masa depan," tambah Kai.
"Dan untuk persahabatan kita," tutup Raka.
Mereka tertawa, tawa yang ringan dan penuh harap. Di bawah langit kubah yang berbintang, di tengah reruntuhan sektor bawah, empat pemuda itu mengikat janji suci mereka. Bahwa setelah badai berlalu, akan ada tempat hangat yang menunggu mereka. Tempat di mana mereka bisa melepas seragam prajurit, duduk santai, dan menikmati masakan terbaik di alam semesta tanpa rasa takut.
Tidak ada yang menyadari betapa ironisnya janji itu.
Raka, yang duduk paling dekat dengan api, merasakan getaran halus di dadanya. Partikel emas di dalam tubuhnya berdenyut lebih cepat malam ini, seolah merespons harapan besar yang baru saja diucapkan. Rasanya seperti ada jam pasir di dalam jiwanya yang tiba-tiba dibalik, mempercepat hitungan mundur.
Aku janji, batin Raka, menatap wajah-wajah bahagia teman-temannya. Aku bakal pastiin restoran ini berdiri. Bahkan jika... bahkan jika aku nggak bisa ada di sana saat pita peresmiannya digunting.
Dia menyembunyikan rasa sakit itu di balik senyum lebarnya. Dia tidak ingin merusak momen ini. Biarkan mereka percaya bahwa masa depan itu pasti. Biarkan mereka bermimpi tentang restoran di sudut jalan, tentang tawa pelanggan, dan tentang kehidupan normal yang indah.
"Besok kita pulang ya," kata Bimo, melipat serbet itu dengan sangat hati-hati, seolah itu adalah harta karun paling berharga di dunia, lalu memasukkannya ke saku dada seragamnya, tepat di atas jantungnya. "Aku nggak sabar mau mulai nabung buat modal awal."
"Nabung? Lo kan dapat gaji utuh terus lho, Bim. Habis buat beli bahan eksperimen doang kan?" goda Elara sambil tertawa.
"Hei! Itu riset kuliner!" bela Bimo canda, membuat mereka semua tertawa lagi.
Api unggun mulai meredup, menyisakan bara merah yang berpendar hangat. Angin malam berhembus lebih kencang, menerbangkan beberapa helai daun kering. Di kejauhan, suara sirene samar terdengar, tanda bahwa patroli malam sedang berlangsung. Dunia di luar lingkaran cahaya mereka masih keras, masih berbahaya, dan masih dipenuhi ketidakpastian.
Tapi di sini, di antara mereka, kehangatan janji itu cukup untuk mengusir dinginnya malam. Mereka tidur dengan mimpi yang sama malam itu: aroma sup yang mengepul, suara tawa yang riuh, dan papan nama "Bimo's Corner" yang bersinar terang di sudut jalan, menjadi mercusuar harapan di tengah dunia yang retak.
Mereka tidak tahu bahwa takdir sedang menyiapkan badai yang akan menguji setiap kata dalam janji mereka. Mereka tidak tahu bahwa salah satu dari mereka mungkin tidak akan pernah sempat mencicipi masakan pertama di restoran impian itu.
Tapi bagi Raka, melihat Bimo tidur dengan senyum damai sambil menggenggam saku tempat serbet itu berada, semuanya terasa layak. Jika dia harus hancur menjadi debu cahaya agar mimpi ini terwujud bagi teman-temannya, maka itu adalah harga yang rela dia bayar.
Tidurlah, kawan, bisik Raka dalam hati, menatap langit yang mulai berubah warna di ufuk timur, tanda fajar akan segera tiba. Mimpikan restoran itu. Aku akan menjaganya untukmu. Sampai napas terakhirku.
Bersambung...