Di hari ulang tahun nyonya yang ke 35, kedatangan jenderal menjadi kabar yang sangat membahagiakan.
Siapa sangka, bukan hadiah yang dia dapatkan. Namun kedatangan seorang wanita muda seusia putra sulungnya. Dan bukan ucapan ulang tahun yang jenderal katakan pada nyonya, tapi keinginannya menjadikan wanita itu sebagai istri keduanya.
Tanpa jenderal sadari, nyonya yang selama ini menciptakan hal-hal luar biasa untuk membantunya naik pangkat dan disegani itu, sama sekali tidak berasal dari tempat ini. Dia datang dari masa depan, dan karena jenderal telah berkhianat, sesuai janji mereka ketika menikah dulu, nyonya akan pergi meninggalkan jenderal.
Nama besar yang diperoleh atas dukungan nyonya, tidak mungkin akan bertahan ketika sang nyonya meninggalkannya bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Tidak Tulus Menyesal
Sementara orang-orang di kediaman jenderal sedang sibuk mencari dimana keberadaan Lu Yansheng. Yao Yao yang baru membuka pintu samping malah di kejutkan dengan keberadaan jenderal yang tertidur di salah satu anak tangga pintu samping kediaman Jinxi.
Tak berani membangunkan, Yao Yao segera pergi memanggil Lu Yanzhi.
"Putri, putri Anping!"
Lu Yanzhi yang sedang sarapan di ruangan tengah kediaman Jinxi segera menoleh.
"Yao Yao, kenapa berteriak begitu?"
"Mohon ampun putri, tapi itu... di pintu samping...!"
Ucapan Yao Yao juga terbata-bata, karena memang dia juga masih berusaha menetralkan pernafasannya yang tersengal-sengal, karena dia berlari dari pintu samping kediaman Jinxi ke ruang tengah. Sementara jaraknya, cukup lumayan. Hampir 200 meteran.
Xueyao memberikan secangkir teh untuk diminum oleh Yao Yao. Setelah minum air, akhirnya Yao Yao terlihat lebih tenang.
"Nah, seorang bicaralah yang benar!" kata Xueyao sambil menepuk punggung Yao Yao pelan-pelan.
"Putri, di pintu samping. Tuan jenderal tertidur di pintu samping. Entah dia pingsan atau tertidur, tapi dia tidak bergerak!"
Lu Yanzhi yang mendengar itu tentu saja sangat terkejut. Bagaimana pun, Lu Yansheng juga adalah ayahnya. Meski dia sudah kehilangan rasa hormat itu. Tapi membiarkan Lu Yansheng tidur di pintu samping, itu juga bukan tindakan yang bisa di benarkan.
Begitu Lu Yanzhi berdiri dan berjalan ke arah pintu samping. Xueyao dan Yao Yao juga mengikutinya. Kalau Zhao Dong dan penjaga lain, itu hanya akan muncul jika di panggil oleh Lu Yanzhi. Supaya tidak menimbulkan kehebohan juga.
Dan begitu Lu Yanzhi tiba di pintu samping. Benar saja, dia melihat sang ayah yang tergeletak, masih menggunakan hanfu merah, hantu pengantinnya kemarin. Wajahnya lesu, dan penampilannya sangat berantakan.
"Zhao Dong!" Seru Lu Yanzhi.
Shutt
Dan dengan cepat, seorang pria dengan seragam pengawal khusus yang memegang pedang besar di tangannya muncul di belakang Lu Yanzhi.
Pria itu segera memberi salam. Ya, layaknya para penjaga dan pengawal pada umumnya bila bertemu dengan tuan mereka.
"Zhao Dong memberi hormat pada putri Anping!"
"Panggil Du Guanzhi, suruh pengawal itu membawa pergi majikannya dari tempat ini!" kata Lu Yanzhi yang bahkan tidak berusaha mengecek kondisi ayahnya sama sekali.
"Baik putri!"
Shutt
Dan dalam sekejap, Zhao Dong pun segera pergi dari tempat itu. Tentu saja seperti yang diperintahkan oleh Putri Anping. Dia akan memanggil Du Guanzhi.
Lu Yanzhi melihat botol arak di samping ayahnya. Dia tahu mungkin ayahnya sedang mabuk semalam, berjalan tak tentu arah. Hingga akhirnya berakhir di depan pintu samping.
Lu Yanzhi pikir, sebaiknya dia pergi sebelum ayahnya bangun. Toh, dia sudah perintahkan Zhao Dong untuk memanggil anak buah ayahnya. Tak lama lagi, pasti Du Guanzhi datang dan membawa ayahnya pergi.
Namun, ketika Lu Yanzhi berbalik dan berjalan satu langkah maju. Dia mendengar ayahnya bergumam,
"Huarin..."
Langkah Lu Yanzhi berhenti. Ayahnya menyebut nama ibunya. Mungkinkah ayahnya menyesal?
"Huarin..."
Sekali lagi Lu Yanzhi mendengar Lu Yansheng mengucapkan nama Mei Huarin. Lu Yanzhi berbalik, dia ingin melihat seperti apa wajah ayahnya saat menyebut nama ibunya.
Alis mata berkerut, dan wajah yang terlihat rapuh.
"Kenapa kamu meninggalkan aku, nyonya... aku hanya lakukan satu kesalahan. Hanya satu..."
Lu Yansheng terlihat seperti pingsan, atau tertidur lagi, yang kelas dia kembali meletakkan kepalanya di lantai dari batu yang di ukir itu, dan terdiam lagi.
Lu Yanzhi awalnya merasa simpati. Ayahnya menyebut nama ibunya sebanyak dua kali. Tapi dia tidak menyangka. Bahkan ayahnya masih melakukan pembelaan diri.
Jika ayahnya mengaku salah, menyesal, mungkin Lu Yanzhi akan minta penjaga kediaman Jinxi membawanya masuk ke salah satu kamar di kediaman Jinxi dan menjamunya dengan baik.
Namun, seperti kata ibunya. Seseorang yang sudah jatuh ke dalam lumpur. Meski dia menunjukkan jalan yang bersih, akan sulit bagi orang itu menerima, apalah lumpur itu lebih baik atau jalan yang bersih yang lebih baik.
Lu Yanzhi menghela nafas yang sangat panjang. Bahkan ayahnya tidak merasa bersalah. Dia memang hanya melakukan satu kali kesalahan. Tapi itu adalah kesalahan paling fatal. Kesalahan apapun, mungkin ibunya masih bisa terima. Tapi pengkhianatan, sampai membawa pulang wanita yang hamil. Yang artinya hubungan itu sudah berlangsung lama, pengkhianatan yang dilakukan secara sadar. Bagaimana mungkin ibunya akan memaafkan ayahnya.
Simpati Lu Yanzhi langsung musnah seketika. Ayahnya benar-benar tidak pantas untuk ibunya.
"Putri..."
Xueyao melihat mata Lu Yanzhi berkaca-kaca. Dan itu membuatnya khawatir.
"Kembali ke kediaman! lain kali kalau menemukan hal semacam ini. Siapapun, langsung saja panggil penjaga dan antar langsung ke kediaman jenderal!"
Setelah mengatakan itu, Lu Yanzhi segera masuk ke dalam kediaman Jinxi.
'Ayah, aku kira ayah menyesal, tapi ternyata aku salah. Maka jangan salahkan aku, jika aku juga tidak perduli lagi pada ayah!' batin Lu Yanzhi yang merasa terluka.
Ibunya di khianati, tentu saja dia juga sangat membenci orang yang mengkhianati ibunya. Bukan hanya Lu Yansheng, tapi semua yang terlibat dalam rasa sakit yang dirasakan ibunya sampai memilih pergi itu.
Tak lama kemudian, Du Guanzhi datang. Dan segera membawa pulang Lu Yansheng ke kediaman jenderal. Nyonya tua yang pertama melihat itu segera minta Du Guanzhi memanggil tabib.
"Panggil tabib, cepat!" kata nyonya tua Wang.
Shen Meiren yang mendengar suaminya sudah kembali juga segera pergi ke kamar Lu Yansheng.
Tabib yang datang mengatakan kalau jenderal hanya terlalu banyak minum sampai tidak sadarkan diri.
"Sup pereda mabuukk bisa di berikan saat dia terbangun nanti. Jenderal sudah tidak muda lagi, sebaiknya lain kali jangan sampai mabukk seperti itu lagi!" kata tabib itu pada nyonya tua Wang.
"Baiklah tabib. Paman Tang, antar tabib!"
"Baik nyonya!"
Sementara Shen Meiren terlihat kesal. Karena dia mendengar dari Du Guanzhi, kalau jenderal di temukan di depan pintu samping kediaman Jinxi.
"Nyonya, apa kita jadi pergi ke penginapan?" tanya Chuying pada Shen Meiren.
"Lihat bagaimana nenek tua itu khawatir, anaknya cuma mabuuk. Bukan mati! yang ada kalau kita pergi. Dia akan ceramah, atau lebih parah minta aku menyalin kitab mawas diri. Puihh, menyebalkan sekali. Bayanganku menjadi istri jenderal, benar-benar jauh berbeda dari kenyataan yang aku dapatkan!"
"Lalu, kita harus bagaimana nyonya?" tanya Chuying berbisik pada Shen Meiren.
"Apalagi? kita tunggu jenderal tidak berguna itu sadar. Setelah itu aku akan pergi ke penginapan, minta saran pada ayah bagaimana caranya menyingkirkan Lu Yanzhi. Kalau dia tidak ada, kediaman Jinxi akan jadi milik Jendral kan?" ujar Shen Meiren dengan senyuman menyeringai yang sangat tidak enak di pandang.
***
Bersambung...
Lalat² seperti Perdana Menteri Xie emang harus di bersihkan dari istana..
Dan Lu Yansheng.. Jadi mantan perwira, itulah yg pantas untuk mu.. 😏
ttp semangat kak,,,💪
aku kira cerita ibu nya yanzi... tapi gak PP bagus ko ini.. asalkan tegas aja si lu yanzi nya kak😍😍😍😍