NovelToon NovelToon
Lagu Yang Tenggelam

Lagu Yang Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Seiring Waktu / Dark Romance
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Keivanya Huang

Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.

Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.

Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Janji pada Batu

Dua hari setelah Nana kembali dari daratan, Aequoria berbenah.

Bukan untuk membangun kembali kota — itu sudah berjalan. Tapi untuk mengirim ratu mereka berperang. Bukan perang melawan musuh dengan pedang dan trisula, tapi perang melawan kutukan yang telah membungkam saudara-saudari mereka selama sepuluh tahun.

Di ruang singgasana — yang kini mulai dibersihkan dari puing-puing, meski kubah mutiaranya masih retak — Nana duduk di atas batu karang yang dilapisi rumput laut lembut. Singgasana sejati belum selesai diperbaiki. Tapi Nana tidak keberatan. Baginya, singgasana bukan tentang tempat duduk yang mewah. Tapi tentang hati yang siap memimpin.

Jeno berdiri di sampingnya, sudah kembali ke wujud Siren sepenuhnya. Ekornya yang biru gelap berkilau di bawah cahaya ubur-ubur raksasa yang melayang di langit-langit ruangan. Lukanya sudah sembuh total, hanya menyisakan bekas tipis di lengannya — dan satu bekas di pipi kirinya, tepat di bawah mata, yang membuatnya terlihat lebih garang daripada sebelumnya.

"Kau yakin akan ini?" tanya Jeno untuk kesekian kalinya. "Lembah Bisu bukan tempat bermain. Bahkan aku, yang sudah berkelana ke seluruh penjuru tujuh samudra, belum pernah berani mendekatinya."

Nana menatap Jeno dengan mata tenang.

"Kau ingat patung Lira di gerbang?"

Jeno mengangguk.

"Kau ingat air matanya? Yang mengalir setiap hari, selama sepuluh tahun, tanpa bisa berhenti?"

Jeno tidak menjawab. Tapi matanya meredup.

"Lira menangis," kata Nana. "Bukan karena dia bisa merasakan. Tapi karena tubuhnya ingat — ingat bahwa ia punya janji, punya keluarga, punya nyawa yang diambil paksa darinya. Dan selama dia masih membatu... selama itu pula dia mati setiap hari."

Nana berdiri.

"Aku sudah berjanji padanya. Dan ratu tidak boleh mengingkari janji."

Jeno terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum — senyum kecil yang membuat bekas luka di pipinya terangkat sedikit.

"Baik, Putriku. Kalau begitu, aku akan menyiapkan perlengkapan."

 

Sebelum berangkat, Nana meminta waktu sendirian.

Ia berenang ke taman laut di belakang istana — tempat dulu ibunya, Ratu Ruenna, menanam bunga laut favoritnya. Kini taman itu mati. Bunga-bunga pucat yang dulu mekar biru kini layu dan hitam. Tapi di sudut taman, di bawah naungan karang besar, ada satu bunga yang masih hidup.

Bunga itu kecil. Kelopaknya putih pucat dengan ujung biru. Dan bunga itu berdenyut — sama seperti Jantung Aequoria.

Nana duduk di samping bunga itu, ekornya melingkar di pasir putih.

"Kau satu-satunya yang tersisa," bisik Nana pada bunga itu. "Seperti aku."

Ia tidak menyadari bahwa Jeno mengikutinya dari kejauhan.

Pemuda itu berenang mendekat pelan-pelan, tidak ingin mengganggu. Tapi Nana merasakan kehadirannya — mungkin karena Jantung Aequoria di dadanya selalu merespon setiap kali Jeno dekat.

"Kau boleh duduk," kata Nana tanpa menoleh.

Jeno duduk di sampingnya. Jarak mereka hanya sejengkal.

"Mawar biru," kata Jeno, menunjuk bunga kecil itu. "Bunga favorit Ratu Ruenna. Dulu taman ini penuh dengan bunga seperti itu. Tapi setelah ia mati... bunganya ikut mati. Satu per satu. Hanya ini yang tersisa."

"Kenapa yang ini tidak mati?"

Jeno terdiam sejenak.

"Karena setiap hari aku menyiramnya," katanya pelan. "Sepuluh tahun. Setiap kali aku kembali dari desamu, aku datang ke sini. Bukan karena aku menyukai bunga. Tapi karena... ini satu-satunya bagian dari Ratu Ruenna yang masih hidup. Aku tidak tega melihatnya mati."

Nana menatap Jeno. Matanya yang gelap kini berbinar — bukan karena cahaya, tapi karena haru.

"Kau melakukan itu? Untuk ibuku?"

"Untuk kenangan," kata Jeno. "Dan untuk janji. Aku berjanji pada Ratu Ruenna di saat-saat terakhirnya, bahwa aku akan menjagamu. Tapi menjaga bayimu tidak cukup. Aku juga harus menjaga sesuatu dari dirinya. Agar kau suatu hari, ketika kembali, tidak merasa bahwa ibumu sudah benar-benar lenyap."

Nana tidak bisa menahan air matanya.

Ia memeluk Jeno — erat, di tengah taman laut yang sunyi, dengan satu-satunya mawar biru yang masih hidup sebagai saksi.

"Jeno," bisiknya di dada Jeno.

"Ya?"

"Terima kasih. Untuk semuanya. Untuk sepuluh tahun. Untuk bunga ini. Untuk kau."

Jeno tidak menjawab. Ia hanya membelai rambut Nana dengan lembut — jari-jarinya menyisir helai demi helai, seperti yang selalu ia lakukan dari kejauhan selama sepuluh tahun, tapi kini bisa ia lakukan nyata.

Mawar biru di samping mereka berdenyut lebih terang. Seolah-olah Ratu Ruenna, dari alam lain, tersenyum melihat mereka.

 

Kembali di ruang singgasana, Jeno membuka peta kuno yang ia simpan di dalam gua rahasianya.

Peta itu terbuat dari kulit ikan paus, ditulisi dengan tinta dari cumi-cumi raksasa. Warnanya sudah pudar, tapi garis-garisnya masih jelas: menggambarkan tujuh samudra, kerajaan-kerajaan Siren, dan di pojok kanan bawah, sebuah lingkaran hitam bertuliskan:

"Lembah Bisu — Tempat Suara Mati"

"Lembah Bisu terletak di selatan Aequoria," jelas Jeno, jarinya menelusuri garis di peta. "Sekitar tiga hari berenang dengan kecepatan normal. Tapi jalannya berbahaya. Kita harus melewati Hutan Karang Beracun — tempat di mana karang-karang mengeluarkan racun yang bisa melumpuhkan Siren dalam hitungan detik."

Nana mengernyit. "Ada jalan lain?"

"Ada. Tapi lebih panjang. Lima hari, melewati Palung Gelap — tempat tinggal monster-monster laut yang tidak pernah tidur."

Nana menarik napas. "Jadi kita pilih yang mana?"

Jeno menatapnya lama.

"Aku lebih suka Hutan Karang Beracun. Karena di sana, ancamannya bisa kita antisipasi dengan penangkal racun. Tapi di Palung Gelap... kita tidak tahu apa yang menunggu."

"Penangkal racun? Kita punya?"

Jeno mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik sisik ekornya — botol dari batu kaca berisi cairan hijau keemasan yang berkilau.

"Ini. Racun karang bereaksi dengan cepat. Kalau terkena, kau punya waktu sekitar sepuluh detik sebelum seluruh tubuhmu lumpuh. Tapi kalau kau meminum ini sebelum masuk hutan... racunnya hanya akan terasa seperti sengatan ubur-ubur kecil."

Nana mengambil botol itu, meneliti cairan di dalamnya. "Kau buat sendiri?"

"Aramis yang membuatnya," kata Jeno datar. "Dulu, saat ia masih menganggapku berguna."

Nana terdiam. "Kau menyimpan ini selama sepuluh tahun?"

"Untuk berjaga-jaga. Ternyata gunanya sekarang."

 

Sebelum berangkat, Nana berdiri di depan para Siren Aequoria yang berkumpul di alun-alun kota.

Mereka semua menatapnya dengan campuran harap dan khawatir. Ada yang sudah menangis. Ada yang berlutut. Ada yang membawa persembahan — mutiara, bunga laut, bahkan sisik mereka sendiri sebagai tanda kesetiaan.

Nana tidak tahu harus berkata apa. Ia bukan orator ulung. Ia hanya seorang gadis desa yang kebetulan punya darah ratu.

Tapi Jeno berbisik di sampingnya: "Katakan saja apa yang ada di hatimu. Mereka akan mendengarkan."

Nana menarik napas.

"Rakyatku," katanya, suaranya menggema di air berkat bantuan Jantung Aequoria. "Aku bukan ratu yang kalian harapkan. Aku tidak tahu cara memerintah. Aku tidak tahu cara berperang. Aku bahkan tidak tahu cara bernyanyi dengan benar."

Beberapa Siren tersenyum kecil.

"Tapi satu hal yang aku tahu," lanjut Nana. "Aku benci melihat saudara-saudariku menderita. Aku benci melihat patung Lira menangis setiap hari. Dan aku benci bahwa selama sepuluh tahun, tidak ada yang berani berbuat apa-apa."

Diam.

"Sekarang, aku akan pergi ke Lembah Bisu. Aku akan mengambil air dari Sumur Kenangan. Dan aku akan kembali — dengan kebebasan untuk mereka yang membatu."

Seorang Siren tua — perempuan dengan rambut putih dan ekor penuh bekas luka — berenang maju.

"Yang Mulia," katanya, suaranya bergetar. "Ijinkan aku ikut. Aku tidak takut mati."

Siren lain ikut maju. "Aku juga!"

"Aku!"

"Aku!"

Nana mengangkat tangannya, dan mereka semua diam.

"Aku tidak bisa membawa kalian semua," katanya. "Perjalanan ini berbahaya. Aku hanya bisa membawa satu orang — dan orang itu sudah aku pilih."

Ia menatap Jeno.

"Kepala Penjagaku, Jeno, akan ikut denganku. Sisanya, kalian tetap di sini. Jaga Aequoria. Jaga satu sama lain. Dan jika aku tidak kembali dalam dua minggu..."

Nana berhenti.

"...maka pilihlah ratu baru di antara kalian. Tapi jangan pernah menyerah pada Aramis. Jangan pernah."

Para Siren terdiam. Kemudian, seorang demi seorang, mereka berlutut.

"Selamat jalan, Yang Mulia."

"Dewi Laut menyertaimu."

"Bawakan kami kabar baik."

Nana mengangguk, menahan air matanya. Lalu ia berbalik, berenang berdampingan dengan Jeno, meninggalkan Aequoria di belakang mereka.

 

Hutan Karang Beracun tepat seperti namanya.

Karangkarnya tidak berwarna cerah seperti terumbu karang biasa. Warnanya hitam pekat, dengan urat-urat hijau terang yang berdenyut perlahan — seperti sistem peredaran darah dari makhluk raksasa yang tertidur.

Nana dan Jeno meminum penangkal racun sebelum masuk. Cairan hijau keemasan itu rasanya pahit dan panas di tenggorokan, membuat insang mereka terasa terbakar sebentar sebelum mendingin.

"Sekarang," kata Jeno, "jangan menyentuh apa pun. Racunnya tidak hanya masuk melalui air — tapi juga melalui kulit. Satu sentuhan, dan kau akan merasakannya."

Mereka berenang pelan di antara karang-karang hitam yang menjulang tinggi seperti pohon di hutan mati. Air di sekitarnya berdengung — bukan suara, tapi getaran yang terasa di tulang. Getaran yang membuat Nana ingin segera keluar.

"Jauhkan pikiranku," bisik Nana. "Ceritakan sesuatu."

Jeno menoleh. "Cerita apa?"

"Apa pun. Tentang masa lalumu. Tentang ibuku. Tentang... kapan pertama kali kau sadar bahwa kau menyukaiku."

Jeno hampir menabrak karang.

Ia berhenti, memerah — semerah yang bisa dilakukan Siren. "Itu... pertanyaan yang tidak adil."

"Kau yang bilang aku boleh bertanya apa pun."

Jeno mendesah. Ia berenang lebih lambat, di samping Nana, jarak mereka cukup dekat untuk saling mendengar bisikan.

"Aku sudah bilang," katanya pelan. "Saat kau berusia lima belas tahun. Jatuh dari pohon kelapa."

"Itu pertama kali kau sadar? Bukan pertama kali kau merasa?"

Jeno terdiam.

"Kau pintar," katanya akhirnya. "Baik. Aku akan jujur."

Ia menarik napas.

"Pertama kali aku merasa sesuatu... kau masih berusia dua belas tahun. Kau sedang mandi di sumur. Kau bernyanyi — lagu yang kau buat sendiri, tentang bintang dan ikan dan mimpi jadi putri duyung. Kau tidak tahu waktu itu, bahwa kau benar-benar putri duyung."

Jeno tersenyum pada ingatannya.

"Aku mendengarkan dari bawah sumur. Dan di tengah nyanyianmu... jantungku berhenti berdetak. Tidak benar-benar berhenti, tapi rasanya seperti itu. Seperti waktu berhenti, dan hanya kau yang ada."

Nana tidak bisa berkata apa-apa. Pipinya memerah — dan di dalam air, warna merah di pipinya terlihat jelas.

"Jeno..."

"Aku tahu, aku aneh," potong Jeno cepat, sedikit gugup. "Tapi kau yang minta—"

"Aku tidak bilang kau aneh."

Nana meraih tangan Jeno.

"Aku hanya... tidak tahu harus berkata apa. Rasanya seperti... seperti aku baru benar-benar mendengar dirimu untuk pertama kalinya."

Jeno menatap tangan mereka yang bertaut.

"Maka cukup dengar," bisiknya. "Kau tidak perlu berkata apa-apa."

Mereka berenang bergandengan tangan di antara karang-karang hitam yang beracun, dan untuk sesaat, dunia terasa aman.

 

Ketenangan itu pecah ketika Nana melihat sesuatu bergerak di antara karang.

Bukan ikan. Bukan Siren. Tapi bentuk — gelap, besar, dan tidak berwujud, seperti asap yang memadat.

"Jeno..." bisik Nana.

"Aku lihat." Jeno melepaskan tangan Nana dan mengambil posisi bertahan. Trisulanya muncul dari balik punggungnya — siap digunakan.

Bentuk gelap itu berenang mendekat. Perlahan. Semakin dekat, semakin jelas.

Dan ketika jaraknya hanya beberapa meter, Nana bisa melihat wajahnya.

Wajah itu mirip dengan dirinya.

Bukan kembaran. Tapi distorsi — versi gelap dari dirinya, dengan mata merah menyala dan senyum yang terlalu lebar.

"Ratu cilik," bisik bentuk gelap itu. Suaranya seperti suara Nana yang direkam dan diputar terbalik. "Kau mau ke Lembah Bisu? Kau mau mengambil Sumur Kenangan? Kau pikir kau pantas?"

Nana mundur selangkah. "Apa kau... karangnya? Racunnya?"

"Aku ketakutanmu," jawab bentuk gelap itu. "Aku wujud dari keraguanmu. Selama kau ragu... aku akan ada di sini."

Nana mengepalkan tangannya.

"Aku tidak ragu."

"Kau ragu. Setiap hari. Setiap detik. 'Apakah aku cukup baik? Apakah aku pantas menjadi ratu? Apakah Jeno benar-benar mencintaiku atau hanya karena tugas?'"

Nana terguncang.

"Kau tahu jawabannya, Nana. Kau tidak pantas. Kau hanya gadis desa yang beruntung."

"Nana!" teriak Jeno dari samping. "Jangan dengar dia! Itu racun yang bermain dengan pikiranmu!"

Tapi Nana tidak bisa bergerak. Matanya terpaku pada bentuk gelap itu — pada dirinya yang jahat, pada ketakutannya yang paling dalam.

"Lihat Jeno," bisik bentuk gelap itu. "Dia hanya di sini karena tugas. Karena janjinya pada ibumu. Bukan karena cinta. Kau pikir dia mau menghabiskan sisa hidupnya dengan ratu yang tidak bisa apa-apa?"

Nana merasakan matanya panas. Air mata — di dalam air — terasa aneh.

"Jeno..." bisiknya. "Apa... apa yang dikatakannya benar?"

Jeno tidak menjawab.

Ia berenang mendekat — bukan ke arah bentuk gelap itu, tapi ke arah Nana. Ia meraih wajah Nana dengan kedua tangannya, memaksanya menatap matanya.

"Apa yang kau lihat di mataku?" tanya Jeno.

Nana menatap mata biru pucat itu. Di dalamnya, ia melihat ketakutan — bukan ketakutan pada musuh, tapi ketakutan kehilangan Nana.

"Aku melihat... rasa takut," bisik Nana.

"Takut kehilanganmu," kata Jeno. "Bukan karena tugas. Bukan karena janji. Tapi karena aku tidak bisa hidup tanpamu."

Bentuk gelap itu mendesis.

"Bohong—"

"Diam," kata Jeno tanpa menoleh. "Kau hanya bisikan dari racun. Kau tidak punya kuasa atas kami."

Ia mengecup dahi Nana — lembut, singkat, tapi penuh makna.

"Percayalah padaku, Nana. Bukan pada bisikan itu. Bukan pada ketakutanmu. Tapi pada aku."

Nana menutup mata.

Ia menarik napas dalam-dalam — atau sebanyak yang bisa dilakukan Siren di dalam air. Dan ketika ia membuka mata lagi, bentuk gelap itu mulai memudar.

"Tidak... tidak mungkin..."

"Pergi," kata Nana. Suaranya tidak keras. Tapi ada bobot di dalamnya — bobot seorang ratu yang tidak mau diganggu.

Bentuk gelap itu berteriak — jeritan yang memecah air — lalu meledak menjadi gelembung-gelembung hitam yang lenyap ditelan arus.

Hutan Karang Beracun menjadi sunyi lagi.

Nana terhuyung, lelah. Jeno menangkapnya.

"Aku... baik-baik saja," bisik Nana.

"Kau hebat," kata Jeno. "Sekarang istirahatlah. Sebentar lagi kita keluar dari hutan ini."

Nana mengangguk lemah. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Jeno — dan untuk pertama kalinya, ia merasakan damai di tengah bahaya.

 

Dua jam kemudian, mereka keluar dari Hutan Karang Beracun.

Di depan mereka, terbentang sebuah jurang yang sangat lebar dan dalam. Di dasar jurang itu — jauh di bawah, di mana cahaya tidak bisa menembus — Nana bisa melihat sesuatu yang berdenyut.

Bukan benda. Tapi kekosongan.

"Lembah Bisu," kata Jeno. "Di situlah Sumur Kenangan berada."

Nana menatap ke bawah. Jantung Aequoranya berdetak — tidak takut, tapi waspada.

"Apa yang akan kita hadapi di sana?"

Jeno menggeleng. "Tidak ada yang tahu. Karena tidak ada yang pernah kembali."

Ia meraih tangan Nana.

"Tapi kita akan kembali, Nana. Aku janji."

Nana menggenggam balik tangan Jeno.

"Aku percaya padamu."

Mereka menyelam ke dalam jurang — ke dalam kegelapan, ke dalam keheningan, ke dalam Lembah Bisu.

1
hrarou
seruuu!! Lanjut yaaa 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!