Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Karena sampai pukul 10 lebih Dewan belum pulang, Alena bermaksud ingin ke pabrik sambil membawakan menu makan siang untuk suaminya tercinta. Pikir Alena, pasti suaminya sangat sibuk sampai tak sempat pulang.
Beberapa menu sudah Alena siapkan di dalam kotak makan. Sembari memasukan ke dalam tas bekal, Alena menghampiri Mbok Minah terlebih dulu.
"Mbok... Titip putra saya sebentar, ya! Bik Laras baru pulang bentar."
"Baik, Non...." Mbok Minah segera menyudahi aktivitasnya mencuci, dan langsung bergegas menuju kamar bayi Alena.
Tinggal dibawah kaki pegunungan, Alena rasa meskipun siang, matahari tak sepenuhnya menyengat. Ibu muda itu hanya mengenakan payung, lebih memilih berjalan melewati jalanan dalam, agar tidak terlalau jauh.
Sepanjang jalan itu, Alena yang terkenal dengan sikap hangatnya, tak pernah sekalipun cemberut saat di tegur sapa warga sekitar. Apalagi parasnya yang ayu, semakin menambah nilai plus tersendiri baginya seorang Istri Juragan.
"Loh, Mbak Alena... Mau kemana?" tegur salah satu warga sekitar. Seorang Ibu-Ibu yang baru saja pulang dari ladang, masih lengkap memakai caping sambil menggendong karung berisikan rumput.
Alena berhenti sejenak. "Ini, Bu... Saya mau ke Pabrik. Bu Wati baru pulang? Emangnya sudah selesai ya panen cengkehnya?"
Bu Wati adalah salah satu buruh pemetik cengkeh, dan kadang juga ikut kerja di pabrik untuk mensortir. Pertanyaan Istri Juragannya ternyata membuat Bu Wati merasa aneh.
Padahal, sejak pagi tidak ada barang masuk ke pabrik, karena masih dalam pemetikan.
"Loh... Kan pagi ini pabrik hanya mengemasi saja, Mbak! Palingan udah di kirimkan sejak pagi. Saya saja habis metik terus cari pakan ternak."
"Mas Dewan ada di pabrik 'kan, Bu?" Alena hanya memastikan. Perasaanya berangsur tak nyaman.
"Juragan sejak pagi nggak ada datang, Mbak! Juragan datang kalau ada barang masuk pabrik saja. Kalau pun di ladang, tapi sejak tadi saya nggak melihat, ya?! Coba saja di telfon, Mbak?"
Alena hampir melupakan fungsi gawai di dalam tasnya kini. Setelah obrolan singkat itu, Bu Wati pamit, dan Alena berdiam dulu mencoba menghubungi.
"Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan!"
Berkali-kali pun jawabanya sama. Di tengah jalanan kecil berkerikil itu, dari depan ada suara motor yang mendekat. Mukti berhenti. Tangan kanan Dewantara itu mematikan motornya mendapati Istri Bosnya ada di tengah ladang.
"Mbak Alena mau kemana?"
"Saya mau kirim makan siang buat Mas Dewan. Dia ada di pabrik 'kan?" Alena masih mencoba mengenyahkan semuanya, seolah menutup mata hatinya terhadap ucapan siapa pun.
Mukti mengerutkan dahi tipis. "Juragan sejak pagi nggak ke Pabrik, Mbak Lena! Ini saja saya mau ambil makan siang buat pekerja pabrik."
Deg!
Sudah dua kali seseorang memberikan keterangan yang sama. Mencoba tak percaya, tapi kenyataan itu menusuk hatinya.
Daripada kecewa, siang itu Alena memberikan makan siang yang tadi ia bawa kepada Mukti. Dan meminta pekerjanya untuk mengantarkan pulang saja.
Setibanya di rumah, gawai Alena berdering kuat.
Drttt!!!
Di tengah gundahnya hati, Alena berhenti di halaman rumah. Merogoh gawainya, dan ternyata Iparnya yang menghubungi.
Fauzan?
"Iya, ada apa, Mas Fauzan?"
Di sebrang, Fauzan baru saja menghentikan mobilnya di depan lobi Hotel ternama di Kabupaten Gunung Kidul.
"Alena... Nanti tolong beritahu Mas Dewan, kalau berangkatku jadinya besok. Siang ini masih menghadiri seminar di Hotel dulu. Soalnya Mas Dewan aku hubungi Hpnya nggak aktif."
Alena cukup berpikir, entah kemana suaminya saat ini.
"Oh, iya... Nanti kalau pulang aku kasih tahu."
"Baik, makasih! Aku tutup dulu, soalnya buru-buru nih," putus Fauzan sambil berjalan masuk tergesa.
Pria berusia 35 tahun itu menyerahkan undangan digital kepada Staff, dan langsung di arahkan untuk masuk ke dalam.
Fauzan masuk, Tiyas baru saja keluar dengan seorang pria tampan untuk masuk menuju resto Hotel di samping ruangan.
Pengantaran pesanan bahu haram itu, hanya bentuk Tiyas menutupi sikap bobroknya dari sang Kakak. Sejak tadi pagi, Wanita cantik itu berdiam di kamar Hotel tengah memadu kasih dengan kekasih gelapnya.
"Saya suka dengan gayamu tadi, Tiyas!" ucap pria cukup matang yang kini duduk di depannya. Tatapan matanya sangat kuat, senyumnya penuh gairah yang tertahan.
Tiyas tersipu malu. Ia membelai wajah kekasihnya sekilas, menjawab ungkapan itu tak kalah sensual. "Istrimu belum mampu memuaskanmu, Mas! Untuk semetara... Kamu dapat mengandalkan aku dalam hal apapun. Termasuk urusan ranjang."
Pria matang tadi hanya tersenyum. Menyudahi perbincangan vulgarnya, ketika pelayan datang mebawakan menu makan siang.
*
*
Seminar yang di adakan dalam pertemuan antar Dokter se Kabupaten Gunung Kidul -- tidak terlalu memakan waktu berjam-jam. Mungkin sekitar 40 menit sudah berakhir.
Mengingat Fauzan juga belum makan siang, jadi dirinya melangkah menuju resto Hotel, sekedar mengisi tenaga terlebih dulu.
Sambil menunggu pesanan jadi, Fauzan mengedarkan mata kesekitar, menatap kagum dengan interior yang di suguhkan Hotel tersebut. Akan tetapi, di sekian detik, tiba-tiba matanya menyipit. Fauzan tak asing lagi dengan wanita cantik memakai pakaian seksi. Dan setelah wanita tadi mendongak, mata Fauzan mendelik tajam.
"Tiyas? Dia ada di Hotel ini? Dengan siapa?"
Fauzan bahkan sampai bangkit, menghatamkan; siapa pria yang duduk di depan Tiyas saat ini.
"Kemeja itu? Aku kaya nggak asing deh sama kemeja itu?"
Sementara di sebrang, Tiyas tersadar jika saat ini ia dan sang pujaan tengah berada di Resto yang sama dengan Fauzan. Wajah cantik itu berbuah bias. Tatapanya berusaha menutupi, tertunduk sambil mengangkat buku menu tadi.
"Ada apa?"
"Mas... Kita harus keluar sekarang! Ada ancaman besar yang sedang mengintai kita."
Tiyas bergegas bangkit, begitu juga sang Kekasih yang mengikuti keluar begitu saja.
Fauzan berniat mengejar, namun pesanan makanannya datang. "Sial... Dia sudah pergi. Tiyas sama siapa itu? Kenapa ketakutan gitu lihat Aku?!"
*
Sementara di dalam kamar itu, jantung Tiyas hampir saja lepas karena keberadaan Fauzan tadi. Wajahnya ketar ketir, hingga berpikir pun rasanya susah untuk saat ini.
"Bagaimana bisa Fauzan ada disana? Duh... Semoga saja pria itu nggak ember."
Pria matang tadi keluar dari kamar mandi. Ia mendekat kearah Tiyas, memeluk tubuh sintal itu dari belakang. "Untuk apa secemas ini?"
"Bagaimana nggak cemas?! Aku takut Fauzan memberitahu Mbak Alena."
"Daripada memikirkan yang nggak penting, bagaimana kalau kamu pakai lagi Lingerienya. Saya ingin kamu menari di atas ranjang," pinta Pria tadi. Bebrisik sambil mengecupi leher jenjang Tiyas.
Shhh!!!
"Hentikan! Apa Istrimu juga melakukan hal yang sama denganku? Kenapa kamu nggak tinggal meminta?" Tiyas membalikan badan, bibirnya sedikit mengerucut.
Pria matang tadi terkekeh. Lalu berjalan ke sembarang arah. "Dia adalah wanita yang kaku, Tiyas! Dia tidak pernah mengekspresikan gairahnya di depan saya. Saya sudah membelikanya berbagai Lingerie, namun tak satu pun yang dia sentuh!"
Tiyas tersenyum penuh arti. Rasanya puas dapat memenangkan hati pujaannya.
"Kamu mau lagi, Mas?" tanya Tiyas sangat sensual.
emang mulutnya lemes banget
maka kamu harus melepaskan alena
aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔