Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tidak di ajak
Waktu terus berlalu.
Gerimis turun tipis, membasahi halaman rumah dan menyisakan hawa dingin yang merayap pelan.
Setelah hampir dua jam menyiapkan segala keperluan liburan—pakaian Raka, bajunya sendiri, perlengkapan Nanda, vitamin, hingga obat-obatan Yuni—Nadia keluar dari kamar.
Matanya menatap jam dinding.
Pukul sembilan malam.
Ia melangkah ke teras.
Berdiri di bawah lampu yang memantulkan butiran hujan seperti benang-benang perak.
Namun Raka belum juga pulang.
“Kenapa, Mas?” bisiknya.
Kegelisahan kembali mengusik hati.
Namun Nadia segera menepis pikiran buruk.
Mungkin Raka sedang menyiapkan kejutan.
Bukankah besok hari jadi pernikahan mereka?
Mungkin suaminya sedang menata sebuah momen romantis di tempat yang indah.
Membayangkannya saja membuat sudut bibir Nadia terangkat tipis.
Ia mencoba menelepon Raka sekali lagi.
Tetap tidak ada jawaban.
Ketika jam di layar ponsel menunjukkan pukul sepuluh malam, Nadia akhirnya mengembuskan napas panjang.
Besok akan menjadi hari yang panjang.
Ia harus beristirahat.
Nadia masuk ke rumah.
Langkahnya menuju kamar Nanda.
Anak itu sudah terlelap.
Seperti biasa, posisi tidurnya berantakan. Selimut terlempar ke bawah, guling terjepit di kaki.
Nadia tersenyum.
Dengan penuh kasih, ia membetulkan posisi tubuh Nanda dan menyelimuti anak itu hingga ke dada.
Ia mengecup keningnya lama.
“Selamat tidur, Sayang.”
Dari sana, Nadia menuju kamar Yuni.
Lampu utama sudah padam, tetapi cahaya ponsel masih menyala samar.
“Ibu, tidurlah. Sudah malam.”
“Berisik,” jawab Yuni pendek.
Nadia tidak menanggapi.
Ia kembali ke kamar.
Memeriksa sekali lagi semua koper yang telah ia siapkan.
Lalu menatap ponselnya.
Tak ada panggilan.
Tak ada pesan.
“Seserius ini, ya, Mas, menyiapkan kejutan untukku?” gumamnya dengan senyum kecil yang dipaksakan.
Nadia membaringkan tubuhnya.
Dan malam berlalu bersama harapan-harapan yang ia peluk erat.
Pagi datang.
Ketika Nadia meraba sisi ranjang di sebelahnya, tempat itu masih dingin.
Raka benar-benar tidak pulang.
Ada sedikit nyeri yang menusuk hatinya, tetapi Nadia memilih mengabaikannya.
Ia segera mengirim pesan kepada Mbak Tari agar tidak datang hari itu karena mereka akan pergi.
Tak seperti biasanya, Yuni sudah rapi sejak pagi.
Nanda pun bangun tanpa banyak dibujuk.
Setelah mandi, Nadia memilihkan gaun kecil berwarna pastel untuk anak itu.
Ia menyisir rambut Nanda, mengepang dua, lalu memasangkan pita.
Cantik.
Selalu cantik.
Nadia menatap wajah mungil itu dengan perasaan hangat.
Siapa pun orang tua kandungmu, mereka pasti akan menyesal telah kehilangan anak seindah kamu.
Namun kalimat itu hanya tersimpan di dalam hati.
Tak akan pernah Nadia ucapkan.
“Kamu sarapan dulu, ya, Sayang.”
“Ya, Bunda.”
Nanda duduk di meja makan dan menyantap sarapan dengan tenang.
Melihat anak itu, hati Nadia sedikit damai.
Di tengah keruwetan pikirannya, setidaknya kasih sayang Nanda masih menjadi pelipur.
Nadia lalu masuk ke kamar Yuni.
Ibu mertuanya sedang berdandan di depan cermin.
“Mah, obat-obatannya sudah dimasukkan ke koper?”
“Coba kamu cek sendiri,” jawab Yuni tanpa menoleh.
Nadia menurut.
Ia membuka koper dan menata obat-obatan dengan rapi.
Namun matanya menangkap sesuatu yang membuat dahinya berkerut.
Satu set kebaya lengkap.
“Bu, kita mau liburan ke mana? Kok bawa kebaya?”
Yuni terdiam sejenak.
Lalu berdeham.
“Sudah, bereskan saja. Jangan banyak tanya.”
Nadia tidak bertanya lagi.
Ia memilih diam.
Setelah semuanya selesai, Nadia mandi dan bersiap.
Ia mengenakan pakaian santai favoritnya.
Celana katun longgar.
Tunik sederhana.
Jilbab bergo warna krem.
Riasan tipis.
Natural.
Saat memoles sedikit lipstik, Nadia membayangkan momen romantis di tepi pegunungan.
Raka memberikan cincin.
Mengucapkan kata-kata manis.
Mengulang janji yang pernah mereka ikrarkan tujuh tahun lalu.
Membayangkannya saja membuat wajahnya memerah.
Nadia keluar dari kamar.
Yuni dan Nanda sudah duduk di ruang tamu, masing-masing sibuk dengan ponsel.
Hari itu, Nadia memilih tidak menegur Nanda.
Biarlah.
Sesekali tak apa.
Tak lama kemudian, suara mobil terdengar memasuki halaman.
Jantung Nadia berdebar.
Raka akhirnya pulang.
Pria itu turun dari mobil.
Sudah rapi dan wangi, seolah baru selesai bersiap.
Nadia segera mendekat dan mencium tangannya.
Raka hanya menatap sekilas.
“Aku ada meeting di Puncak. Kamu sudah siapkan keperluanku, kan?”
Nadia mengedip.
“Meeting?”
“Iya.” Raka menatapnya tak sabar. “Cepat ambilkan koperku.”
Nadia masih mencoba mencerna.
Meeting?
Tetapi ia tetap berlari mengambil koper.
Mungkin ini kejutan.
Mungkin perusahaan Raka mengadakan gathering.
Mungkin perayaan ulang tahun pernikahan mereka akan berlangsung di sana.
Dengan hati berdebar, Nadia membawa koper-koper ke depan.
Namun langkahnya terhenti.
Koper Yuni dan koper Nanda sudah lebih dulu dimasukkan ke bagasi.
Yuni dan Nanda pun telah duduk di dalam mobil.
Raka merebut koper dari tangan Nadia, lalu meletakkannya di bagasi.
Namun hanya koper miliknya.
Bukan koper Nadia.
Nadia terpaku.
“Mas… sebenarnya kita mau ke mana?”
“Sudah dibilang. Meeting di Puncak.”
“Tapi Ibu dan Nanda ikut.”
“Ada gathering dan menginap. Jadi aku ajak mereka.”
Nadia menatap Raka.
“Terus aku?”
Raka menjawab datar.
“Kamu jaga rumah.”
Kalimat itu menghantam telak.
“Mas…” suara Nadia bergetar. “Hari ini ulang tahun pernikahan kita.”
Raka mengembuskan napas kasar.
“Astagfirullah, Nadia. Kita ini sudah bukan anak remaja. Nggak semua hal harus dirayakan.”
Perih.
Begitu perih.
“Mas, kalau aku tidak ikut, Nanda jangan ikut.”
“Kenapa?”
“Bulan lalu setelah ikut perjalanan, Nanda sakit sampai dirawat di rumah sakit. Aku khawatir. ga yang ngontrol makanannnya”
Raka terdiam sesaat.
Namun jawabannya tetap sama.
“Nanda harus ikut.”
Nadia mengangkat wajah.
“Kalau begitu, aku juga ikut.”
Nada suaranya tegas.
Untuk pertama kalinya.
Raka menatapnya tajam.
“Please, Nadia Salsabila. Jangan seperti anak kecil. Aku ke Puncak untuk kerja, bukan untuk senang-senang. Dari kemarin kamu terus curiga. Tolong, dewasa.”
“Aku hanya khawatir pada Nanda.”
“Raka, sudah siang!”
Suara Yuni terdengar dari dalam mobil.
Nadia berdiri mematung.
Udara pagi terasa dingin, tetapi hatinya jauh lebih dingin.
Dan untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari…
mungkin ia memang tidak pernah benar-benar diajak dalam perjalanan hidup mereka lagi.
Raka mendengus tajam.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia membalikkan badan dan melangkah menuju mobil.
Sementara Nadia masih berdiri mematung.
Hari ini.
Hari yang seharusnya menjadi perayaan tujuh tahun pernikahan mereka.
Hari yang semalam ia tunggu dengan begitu banyak harapan.
Namun yang ia terima justru luka yang datang tanpa aba-aba.
Nadia menggigit bibirnya kuat-kuat.
Berusaha menahan air mata yang sudah menggantung di pelupuk mata.
Ia tidak ingin menangis.
Tidak di depan Raka.
Tidak di depan Yuni.
Tidak di depan Nanda.
“Teeet!”
Suara klakson mobil memecah lamunannya.
Nadia tersentak.
Dari balik jendela, Raka menatapnya dengan wajah tak sabar.
“Tutup pintunya, Nadia!”
Nada suara itu terdengar keras.
Dingin.
Tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Dengan langkah gontai, Nadia mendorong gerbang hingga tertutup rapat.
Mobil Raka bergerak mundur.
Lalu melaju meninggalkan halaman rumah.
Nadia berdiri diam.
Menatap mobil itu sampai benar-benar hilang di tikungan jalan.
Seolah bersama kepergian mobil itu, seluruh harapannya ikut menjauh.
Gerimis turun tipis.
Membasahi halaman.
Membasahi ujung jilbabnya.
Namun Nadia tak beranjak.
Dadanya terasa sesak.
Perih.
Begitu perih.
Perlahan, ia menunduk.
Di dekat pintu, koper miliknya masih berdiri tegak.
Rapi.
Penuh dengan pakaian yang ia siapkan dengan hati berbunga.
Pakaian untuk liburan yang tak pernah terjadi.
Nadia menatap koper itu lama.
Lalu tersenyum tipis.
Senyum getir yang lebih menyakitkan daripada tangisan.
“Inikah kejutan di hari ulang tahun pernikahanku?”
Bisiknya lirih.
Tujuh tahun.
Tujuh tahun ia berusaha menjadi istri terbaik.
Mengurus rumah.
Mengasuh Nanda.
Merawat ibu mertua.
Menahan luka.
Memaafkan perubahan sikap Raka.
Namun di hari yang seharusnya menjadi pengingat cinta mereka, ia justru ditinggalkan sendirian di rumah.
Ah.
Sungguh menyakitkan.
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭