Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat dari Raja
Matahari pagi baru saja mengintip dari balik pepohonan, membawa embun yang masih basah di dedaunan. Di depan gubuk, Cakra sedang membasuh wajahnya saat Riu mendekat dengan langkah yang tidak seceria biasanya. Wajah konyolnya berganti dengan guratan serius yang kaku.
"Pangeran" bisik Riu, tangannya menyodorkan gulungan surat dengan segel merah yang sudah pecah. "Ini datang tadi malam. Dari yang Mulia Raja ."
Cakra menerima surat itu, membukanya perlahan, dan mulai membaca baris demi baris pesan dari ayahnya, Raja Indra.
isi surat :
Cakra. Tadinya aku ingin memberitahumu langsung saat kau kembali ke istana. Tapi karena aku harus pergi ke Kerajaan Utara untuk penghormatan mendiang Raja Seno, aku akan memberitahumu di sini. Sedra yang selama ini kau cari... wanita iblis itu sebenarnya adalah mantan prajurit di Kerajaan Utara. Dia adalah pengkhianat yang membuat kekacauan besar. Bahkan saat ini, terornya sudah memasuki wilayah selatan kerajaan kita. Untuk sementara aku membiarkan Pangeran Julian untuk mengurusnya, tapi aku berharap banyak padamu, Cakra. Segera selesaikan urusanmu di desa itu dan cepatlah kembali ke istana .
BRAK!
Cakra menghantamkan tinjunya ke tiang gubuk hingga kayu itu berderit. Kertas di tangannya diremas hingga hancur dalam kepalan tangannya. Matanya berkilat penuh amarah yang membara.
"Sedra!" desis Cakra, suaranya terdengar seperti geraman serigala. "Wanita itu benar-benar tidak kenal ampun. Beraninya dia menginjakkan kaki di tanah Selatan setelah semua noda darah yang dia tinggalkan di Utara!"
Riu berjengit melihat kemarahan tuannya.
"Ampun Pangeran. Tapi dalam situasi genting seperti ini, sepertinya kerajaan benar-benar membutuhkan Anda. Apa tidak sebaiknya kita segera kembali ke istana? Pangeran Julian bukan orang yang bisa dipercaya untuk menangani monster seperti Sedra."
Cakra terdiam. Rahangnya mengeras. Ia menoleh ke arah gubuk, di mana melalui jendela yang terbuka, ia bisa melihat Nayan sedang tertawa kecil sambil menyisir rambut Ana dengan penuh kasih. Pemandangan itu begitu kontras dengan isi surat berdarah di tangannya.
"Siapkan semuanya Riu !" perintah Cakra tanpa melepaskan pandangannya dari Nayan. "Kita kembali ke istana sekarang juga !"
Riu baru saja akan berbalik untuk melaksanakan perintah, namun langkahnya terhenti. Sebuah pikiran mendadak menyumbat otaknya. Ia berbalik lagi dengan wajah penuh keraguan.
"Lalu... bagaimana dengan Nayan dan Ana, Pangeran?" tanya Riu hati-hati. "Apa mereka akan kita tinggalkan di sini demi keamanan mereka?"
Cakra menoleh tajam, matanya seolah ingin menembus jantung Riu. "Apa kau bodoh?! Tentu saja mereka ikut denganku! Aku tidak akan membiarkan mereka sejengkal pun dari jangkauanku, apalagi saat Sedra sedang berkeliaran di wilayah ini."
Riu menggaruk tengkuknya, wajahnya terlihat makin cemas. "Tapi Pangeran... tolong pikirkanlah lagi . Bagaimana Anda akan menjelaskan keberadaan mereka pada seisi istana? Anda pulang membawa istri tanpa izin Raja? Dan jangan lupakan saudaramu, si Pangeran Julian itu. Dia pasti akan sangat kegirangan memanfaatkan situasi ini untuk menjatuhkan martabat Anda!"
Cakra melangkah maju, auranya begitu menekan hingga Riu harus menahan napas. "Biarkan itu jadi urusanku Riu! Nayan adalah istriku sekarang. Aku telah bersumpah di hadapan dewa untuk tetap bersamanya dalam keadaan apa pun. Jika istana keberatan, maka mereka berurusan denganku, bukan dengan Nayan."
Riu melihat tekad yang tak tergoyahkan di mata Cakra. Ia tahu, jika Cakra sudah bersumpah, bahkan badai paling hebat pun takkan bisa membelokkan langkahnya.
"Baik, Pangeran. Hamba mengerti ." Riu membungkuk hormat, kepalanya merunduk dalam. "Aku akan menyiapkan pengawalan rahasia. Kita berangkat sebelum matahari terbenam."
Riu segera berlari menuju tenda, sementara Cakra masih mematung di tempatnya. Ia menatap Nayan lagi, ada rasa sakit yang terselip di hatinya.
" Nayan, maafkan aku. Kedamaianmu harus berakhir hari ini. Aku akan membawamu ke istana, tempat yang mungkin jauh lebih berbahaya daripada gubuk ini, tapi setidaknya di sana aku bisa mendekapmu di balik pedangku."
.......
Cakra menarik napas panjang, lalu menggenggam kedua tangan Nayan dan membimbingnya masuk ke dalam kamar membiarkan Ana menunggu di luar . Ia menutup pintu rapat-rapat, menciptakan ruang kedap bagi kejujuran yang selama ini ia kunci.
Wajah Cakra tampak tegang, ada keraguan yang berkilat di matanya . Sebuah ketakutan bahwa kejujuran ini mungkin akan menghancurkan binar cinta yang baru saja menyala di mata Nayan.
"Nayan, tatap aku. Ada sesuatu yang harus kukatakan... sesuatu yang selama ini menjadi dinding di antara kita."
Nayan mengerutkan kening, ia bisa merasakan jemari Cakra sedikit bergetar. "Ada apa, Cakra? Surat itu... apa isinya begitu buruk?"
Cakra menghela berat napasnya ."Surat itu adalah perintah yang tidak bisa kubantah Nayan . Tapi sebelum kita melangkah keluar dari pintu ini , kau harus tau dulu siapa pria yang telah kau nikahi semalam. Aku... aku bukan sekedar pengembara yang kebetulan lewat di hutan Nayan ."
Nayan terdiam, jantungnya mulai berdegup kencang. Ia sudah menduga ada yang tidak biasa dari Cakra .
"Namaku adalah Cakra Wardhana. Aku adalah seorang pangeran dari Kerajaan Selatan."
Deg...
Jantung Nayan seakan berhenti berdetak saat mendengar kebenaran itu .
" Ayahku, Raja Indra mengirimku ke wilayah ini dalam penyamaran untuk menyelidiki mengapa rakyat di desa-desa perbatasan menderita kelaparan sementara upeti terus mengalir ke istana."
Nayan tersentak. Ia melepaskan genggaman tangan Cakra perlahan, matanya membelalak sempurna. Ia mundur selangkah, menatap Cakra seolah-olah pria di depannya tiba-tiba berubah menjadi orang asing.
"Pangeran? Kau... seorang Pangeran?"
Suara Nayan nyaris berbisik, namun penuh dengan guncangan. Di kepalanya, segala kepingan puzzle mulai menyatu . Kuda yang gagah, prajurit yang tunduk, dan wibawa yang tak bisa disembunyikan.
"Jadi selama ini... semuanya hanya sandiwara? Perhatianmu, bantuanmu pada Ana, bahkan pernikahan semalam... apakah itu juga bagian dari tugas penyamaranmu agar kau terlihat normal di mata warga?"
Cakra mendekat dengan cepat, kembali meraih bahu Nayan "Tidak! Demi langit dan bumi, jangan pernah berpikir begitu Nayan . Aku tahu ini melukaimu. Aku tahu aku pengecut karena tidak jujur sejak awal. Tapi penyamaran ini adalah masalah hidup dan mati bagi misiku."
Cakra menatap Nayan dengan tatapan yang sangat memohon.
"Nayan, cintaku padamu adalah satu-satunya hal yang paling nyata dalam hidupku saat ini. Tugasku di perbatasan ini sudah selesai, dan surat itu memanggilku pulang ke istana. Aku tidak bisa meninggalkanmu di sini. Aku ingin kau ikut bersamaku, Nayan. Bukan sebagai gadis hutan, tapi sebagai istriku... sebagai permaisuri di sisiku."
Nayan masih dengan wajah syok nya . Dia menggelengkan kepala "Ke istana? Cakra, kau memintaku masuk ke dalam sarang serigala? Aku hanya gadis biasa... kau tahu betapa jauhnya jarak antara kita?"
Nayan mematung. Di dalam batinnya, ia menjerit lebih keras. Jika Cakra adalah pangeran kerajaan yang sedang memburu penjahat, maka secara teknis, suaminya adalah orang yang ditugaskan untuk memenggal kepalanya jika identitasnya sebagai Sedra terungkap.
"Aku tidak peduli soal jarak itu! Aku akan melindungimu dari setiap lidah tajam di istana. Aku hanya butuh kau percaya padaku sekali lagi. Bisakah kau melakukannya? Bisakah kau ikut bersamaku?"
Nayan menatap mata Cakra yang penuh kejujuran. Ironis memang seorang buronan yang menyamar sebagai gadis desa, kini diminta oleh seorang pangeran yang menyamar sebagai pengembara untuk tinggal di istana.
"Kau memberikan kejutan yang luar biasa, Pangeran Cakra..." ucap Nayan getir, namun perlahan ia mengangguk. "Jika ini takdirnya, aku akan ikut. Tapi jangan pernah lupakan satu hal... kau yang menarikku ke duniamu. Jadi, jangan pernah lepaskan tanganku saat badai istana menerjang kita nanti."
Cakra menarik Nayan ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya dengan lega. Ia tidak tahu bahwa dengan membawa Nayan ke istana, ia baru saja membawa "badai" itu masuk ke pusat kekuasaannya sendiri.
Bersambung...
🍭🍭🍭🍭