NovelToon NovelToon
Istri Bayaran Ceo Tampan

Istri Bayaran Ceo Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."

Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.

Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.

Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Ketukan sepatu hak tinggi Calista di atas lantai marmer saat ia menuju kamarnya tadi masih menyisakan gema yang seolah menolak hilang. Di balik pintu kayu jati yang kokoh, Calista berdiri mematung. Napasnya masih menderu, pendek dan panas. Dadanya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan. Amarah yang meledak di ruang tengah tadi belum sepenuhnya padam, ia justru merasa seperti sebuah bejana yang baru saja retak karena tekanan uap yang terlalu tinggi.

Ia menatap telapak tangan kanannya. Masih ada rasa panas yang tertinggal di sana jejak fisik dari tamparan yang ia berikan pada Puput. Calista tidak pernah mengira bahwa ia memiliki sisi liar seperti itu. Namun, setiap kali bayangan wajah meremehkan Puput dan kalimat kotornya tentang orang tuanya muncul kembali, rasa panas itu kembali membakar.

"Tak tahu malu?" bisik Calista pada kesunyian kamar. Matanya memanas, namun ia menolak untuk menangis. "Mereka tidak tahu apa-apa tentang perjuangan Bapak. Mereka tidak tahu betapa hancurnya perasaan Ibu setiap kali harus menahan sakit demi melihatku baik-baik saja."

Calista mengepalkan tangannya kuat-kuat. Baginya, Puput telah melakukan dosa yang tak termaafkan. Menghina dirinya adalah satu hal, tapi menyeret martabat orang tuanya ke dalam lumpur adalah deklarasi perang. Kemarahannya kini bukan lagi sekadar reaksi impulsif, melainkan sebuah benteng yang ia bangun untuk melindungi sisa-sisa harga diri keluarganya.

Di lantai bawah, suasana rumah berubah drastis. Jika biasanya rumah besar itu memiliki kebisingan yang teratur suara pelayan yang bekerja, denting porselen, atau gumaman televisi kini semuanya lenyap. Keheningan yang tercipta terasa sangat mencekam, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah disedot keluar.

Susi dan Puput telah menghilang ke dalam sayap lain dari rumah itu. Puput mungkin sedang meratapi pipinya yang membengkak, sementara Susi sibuk menyusun strategi untuk membalas dendam. Para pelayan bekerja dalam diam yang ekstrem; mereka tidak berani saling berbisik, bahkan tidak berani menatap satu sama lain. Mereka semua menjadi saksi atas tindakan tegas yang baru saja terjadi di ruang tengah.

Keheningan ini terus berlanjut hingga matahari mulai condong ke barat. Tidak ada makan siang yang riuh. Tidak ada perdebatan kecil di ruang tengah. Rumah Satrya hari itu bagaikan sebuah museum yang ditinggalkan penghuninya, meninggalkan jejak ketegangan yang masih pekat di udara.

Pukul lima sore tepat, mobil sedan hitam milik Denis Satrya memasuki halaman. Seperti biasa, kepulangan Denis selalu disambut dengan kesigapan para pelayan yang membukakan pintu dan membawakan tas kerjanya. Namun, begitu kakinya melangkah melewati pintu utama, Denis langsung merasakan ada sesuatu yang salah.

Denis adalah pria yang sangat peka terhadap perubahan atmosfer. Baginya, rumah adalah tempat yang stabil, tempat di mana setiap orang memiliki peran dan emosi yang terukur. Tapi hari ini, udara di sekitarnya terasa berat. Ada bau kemarahan yang tertinggal, bercampur dengan rasa takut yang menggantung di wajah para pelayan.

Ia menyerahkan jasnya kepada seorang pelayan tanpa melepaskan pandangannya dari ruang tengah yang kosong.

"Mana semua orang?" tanya Denis singkat. Suaranya yang berat membelah keheningan, membuat pelayan yang menerima jasnya sedikit tersentak.

"Anu... Nyonya Susi dan Non Puput ada di kamar, Tuan. Sementara Nyonya Calista... beliau belum keluar dari kamarnya sejak tadi siang," jawab pelayan itu dengan suara bergetar.

Denis mengernyitkan dahi. Biasanya, Puput akan langsung berlari menyambutnya dengan keluhan manja atau permintaan belanja. Kehadiran Susi juga biasanya memenuhi ruangan dengan obrolan yang riuh. Namun hari ini, rumah itu sepi seolah-olah sedang ada masa berkabung.

Denis melangkah menuju sofa, namun ia tidak duduk. Ia memandangi sekeliling. Ia melihat sebuah cangkir teh yang masih tersisa di meja marmer, seolah-olah ditinggalkan begitu saja dalam keadaan terburu-buru. Insting bisnisnya yang tajam mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu yang besar di bawah atapnya.

"Mama," panggil Denis dengan nada datar namun tegas, memanggil ibu tirinya.

Tak lama kemudian, Susi muncul dari koridor dengan wajah yang tampak mendung, diikuti oleh Puput yang menutupi separuh wajahnya dengan rambut panjangnya. Begitu melihat Denis, Puput seolah mendapatkan panggungnya kembali. Matanya langsung berkaca-kaca.

"Mas Denis..." isak Puput, suaranya dibuat seiba mungkin.

Denis menatap adiknya dengan tatapan menyelidik. "Ada apa dengan wajahmu?"

Susi langsung menimpali dengan nada dramatis. "Denis, kau harus melakukan sesuatu! Istrimu itu... dia sudah benar-benar hilang kendali. Dia menampar Puput di depan semua orang! Hanya karena hal sepele, dia berani main tangan di rumah ini!"

Denis terdiam. Matanya beralih ke Puput, yang kini memperlihatkan bekas kemerahan yang mulai membiru di pipinya. Namun, bukannya kemarahan yang muncul di wajah Denis, justru ada kilatan ketertarikan yang langka di matanya. Dalam kepalanya, Denis mencoba memproses informasi ini. Calista yang ia kenal wanita yang tenang dan terukur menampar adik kandungnya?

"Kenapa dia melakukannya?" tanya Denis dingin. Alih-alih membela adiknya di hadapan Mama tirinya, ia justru merasa ingin tahu. Apa yang bisa membuat seorang Calista bisa meledak sehebat itu?

Denis meninggalkan Mama dan adiknya di ruang tengah tanpa memberikan keputusan apa pun, sebuah tindakan yang membuat Susi melongo tak percaya. Denis melangkah menuju kamar Calista. Alih-alih merasa kesal karena istrinya membuat keributan, ada seulas senyum tipis yang tersungging di sudut bibirnya.

Sejujurnya, Denis sudah lama muak dengan tabiat Puput yang semena-mena. Ia tahu betul betapa tajam lidah adiknya itu. Melihat Calista akhirnya berani "menggigit" balik justru memberikan kepuasan tersendiri bagi Denis. Ia menyukai kekuatan. Ia menyukai perlawanan. Dan melihat Calista menegakkan punggungnya menghadapi keluarga Satrya adalah sesuatu yang sangat ia hargai.

Ia mengetuk pintu perlahan, lalu melangkah masuk dan melihat Calista sedang duduk di tepi jendela. Calista bahkan tidak menoleh saat Denis masuk.

"Kau menampar adikku," ucap Denis. Nada suaranya tidak terdengar seperti tuduhan, melainkan seperti sebuah pernyataan yang diiringi rasa kagum yang tersembunyi.

Calista menarik napas panjang, akhirnya menoleh. Matanya berkilat tajam oleh sisa amarah. "Ya, aku melakukannya. Dan jika dia mengulanginya lagi, aku akan melakukannya sekali lagi. Kau boleh membatalkan biaya rumah sakit ibuku jika kau tidak terima, Mas Denis."

Denis tertegun, lalu tawa rendah keluar dari tenggorokannya. "Membatalkan biaya rumah sakit? Untuk apa?" Denis melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Calista.

"Aku justru senang kau melakukannya, Calista," bisik Denis. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap lekat mata wanita itu. "Di rumah ini, orang-orang hanya tahu cara menunduk atau menggonggong. Tapi kau menunjukkan taringmu tepat di saat yang benar. Jangan pernah biarkan siapapun, termasuk keluargaku, menginjak harga dirimu. Karena itu berarti mereka juga menghina pilihanku."

Denis menyentuh dagu Calista dengan jarinya. "Teruskan sikap perlawananmu itu. Aku jauh lebih menyukai istri yang berani bertarung daripada mawar pajangan yang hanya tahu cara menangis."

1
partini
ngeri ini laki laki macam pesikopat
Sastri Dalila
👍👍👍 seruu juga thor
Sastri Dalila
👍👍👍seru kyknya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!