NovelToon NovelToon
Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Jangan Cintai Aku, Tuan Muda!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Teen
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.

​Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Celotehan Iri dan Rasa Sakit di Kantin

Pagi itu, Jakarta tampak sedikit lebih mendung dari biasanya. Awan abu-abu menggantung rendah di atas gedung-gedung beton, seolah memberikan firasat akan badai yang tidak hanya berasal dari langit. Lana melangkah turun dari mobil mewah Arka dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ia masih membawa kehangatan dari bisikan Ezra semalam, namun di sisi lain, ada firasat tidak enak yang menggelitik tengkuknya.

Ia mengenakan kemeja katun berwarna biru langit yang rapi, dengan polesan bedak tipis dan lipbalm pemberian Bumi yang membuatnya tampak segar. Lana mencoba berjalan dengan kepala tegak, melewati lobi fakultas yang dipenuhi oleh mahasiswa yang sibuk dengan urusan masing-masing. Namun, ada yang berbeda hari ini. Suasana koridor terasa lebih dingin, dan setiap kali ia lewat, bisikan-bisikan halus seperti desis ular mulai terdengar di telinganya.

"Itu dia, kan? Gadis 'titipan' itu?"

"Denger-denger dia cuma anak asisten rumah tangga yang beruntung diajak tinggal di penthouse."

"Kasihan ya, mau dandan kayak apa pun, bau tanah desanya nggak bakal hilang."

Lana mempercepat langkahnya. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya dengan keras. Ia berusaha menulikan telinga, meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanyalah angin lalu. Ia masuk ke ruang kelas, mencoba fokus pada penjelasan dosen tentang teori ekonomi mikro, namun konsentrasinya buyar setiap kali ia merasakan tatapan tajam dari barisan kursi depan—tempat Sisca dan kelompoknya duduk.

Jam makan siang tiba, dan perut Lana terasa melilit. Bukan karena lapar, tapi karena stres yang menumpuk. Ia memutuskan untuk pergi ke kantin fakultas yang luas dan modern. Biasanya, ia akan makan di pojokan yang paling tersembunyi, namun hari ini semua meja tampak penuh, kecuali satu meja kecil di dekat jendela besar yang menghadap ke taman kampus.

Lana duduk sendirian. Di hadapannya hanya ada sepiring nasi goreng dan segelas air mineral yang bahkan tidak ia sentuh. Ia menunduk, mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan buku catatannya. Namun, kantin yang tadinya bising oleh tawa mahasiswa, mendadak berubah menjadi panggung teatrikal yang kejam bagi Lana.

Dari meja besar di tengah kantin, suara Sisca meninggi, sengaja agar seluruh penghuni kantin bisa mendengarnya.

"Kalian tahu nggak? Ada orang yang ngerasa dirinya udah jadi putri cuma karena dikasih barang bekas sama majikannya," ucap Sisca sambil tertawa renyah, melirik ke arah Lana dengan pandangan menghina.

"Eh, serius Sis? Barang bekas?" sahut salah satu temannya, seorang mahasiswi berambut pirang hasil bleaching yang selalu mengekor Sisca.

"Iyalah! Mana mungkin orang kayak dia mampu beli barang-barang bermerek itu kalau nggak dapet belas kasihan. Gue denger dari orang dalam, asalnya dari desa terpencil yang bahkan nggak ada di peta. Makan aja mungkin cuma pakai garam, eh tiba-tiba di sini belagu pake bedak mahal," lanjut Sisca.

Suara tawa meledak di seluruh kantin. Beberapa mahasiswa menoleh ke arah Lana, ada yang menatap kasihan, namun lebih banyak yang menatap dengan pandangan meremehkan—seolah-olah keberadaan Lana adalah sebuah anomali yang mengganggu pemandangan elit mereka.

Lana merasakan wajahnya memanas. Bukan lagi merah karena malu yang manis seperti saat dipuji Jeno, melainkan merah karena hinaan yang membakar harga dirinya. Tangannya yang memegang sendok gemetar hebat. Ia mencoba menyuapkan nasi ke mulutnya, namun rasanya seperti menelan kerikil tajam. Nafsu makannya hilang seketika, tergantikan oleh rasa perih yang menjalar dari dada hingga ke kerongkongan.

"Gue heran ya sama Arka dan saudara-saudaranya," Sisca belum berhenti. Ia berdiri dan berjalan perlahan menuju meja Lana, diikuti oleh pengikutnya. "Kok mereka mau-mauan ya mungut kotoran dari jalanan terus ditaruh di penthouse mewah mereka? Apa jangan-jangan dia punya 'servis' khusus yang nggak kita tahu?"

Deg.

Kalimat itu bagaikan sembilu yang menyayat hati Lana. Tuduhan itu begitu keji, begitu kotor, dan sangat merusak martabatnya sebagai seorang wanita. Lana mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca menatap Sisca.

"Sisca... tolong berhenti. Aku nggak pernah ganggu kamu," ucap Lana dengan suara yang bergetar hebat.

"Ganggu gue? Kehadiran lo di sini aja udah ganggu pemandangan gue, Lana!" Sisca menggebrak meja Lana, membuat air mineral di gelasnya tumpah sedikit. "Lo itu cuma parasit. Lo pake barang-barang mewah itu cuma buat nutupin bau miskin lo. Tapi asal lo tahu, semua orang di sini tahu siapa lo sebenernya. Lo nggak pantes ada di sini. Lo nggak pantes duduk di kursi yang sama dengan kita."

Lana tidak bisa lagi menahan air matanya. Setetes air mata jatuh ke atas piring nasi gorengnya. Ia merasa sangat kecil, sangat rapuh, dan sangat sendirian. Di mana perlindungan Arka? Di mana bisikan Ezra? Di mana tangan hangat Bumi? Di kantin yang ramai ini, ia hanyalah seorang gadis desa yang sedang ditelanjangi oleh kebencian sosial.

"Kenapa diem? Bener kan?" Sisca tertawa puas melihat air mata Lana. "Pulang aja deh lo ke desa. Mending lo macul di sawah daripada sok-sokan kuliah di sini. Di sini tempatnya orang-orang yang punya kelas, bukan orang yang dapet 'beasiswa' belas kasihan majikan."

Beberapa mahasiswa di sekitar mereka mulai berbisik-bisik, namun tak ada satu pun yang berani membela Lana. Kekuasaan Sisca dan pengaruh keluarganya di kampus ini terlalu besar untuk dilawan demi seorang gadis yang tak dikenal.

Lana berdiri dengan kaki yang terasa lemas seperti jeli. Ia membereskan bukunya dengan gerakan yang serabutan. Ia tidak tahan lagi. Ruangan kantin itu terasa seperti sedang menghimpitnya, mencuri oksigen dari paru-parunya. Suara tawa dan bisikan kejam itu menggema di kepalanya, tumpang tindih dengan kenangan manis di penthouse semalam, menciptakan disonansi yang menyakitkan.

"Permisi..." bisik Lana sambil mencoba melewati Sisca.

"Eits, mau ke mana? Belum selesai dengerin kebenaran, kan?" Sisca sengaja menghalangi jalan Lana.

Lana tidak menjawab. Ia hanya menunduk sedalam mungkin, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Dengan sisa kekuatan yang ada, ia menyelinap di antara kerumunan mahasiswa dan berlari keluar dari kantin.

Ia terus berlari menuju taman belakang yang sepi, tempat di mana pohon-pohon besar bisa menyembunyikannya dari dunia. Sesampainya di bawah sebuah pohon beringin tua, Lana ambruk. Ia duduk bersandar pada batang pohon yang kasar, memeluk lututnya, dan menangis tersedu-sedu.

Rasa sakit itu bukan hanya karena kata-kata Sisca, tapi karena kesadaran pahit bahwa setinggi apa pun ia mencoba terbang dengan sayap yang dipinjamkan oleh Arka dan saudara-saudaranya, ia akan selalu ditarik jatuh oleh asal-usulnya. Ia merasa seperti sebuah barang palsu yang sedang dipamerkan di toko barang antik.

"Kenapa... kenapa harus begini?" isaknya.

Ia meraba bibirnya yang masih terasa sedikit lembap oleh pelembap pemberian Bumi. Tiba-tiba, benda itu terasa seperti beban. Bedak tipis di wajahnya terasa seperti topeng yang menyesakkan. Lana merasa semua perhatian dan kemewahan yang ia terima di rumah hanyalah sebuah gelembung sabun yang sangat mudah pecah saat bersentuhan dengan kenyataan di luar sana.

Hatinya benar-benar perih. Ia merindukan desanya, ia merindukan Ayahnya yang tidak pernah menghinanya, ia merindukan kesederhanaan yang tidak menuntutnya untuk menjadi orang lain. Di bawah bayangan pohon itu, Lana merasa dunia yang baru saja mulai ia cintai, kini berbalik mengkhianatinya dengan cara yang paling kejam.

Ia menutup matanya, membiarkan air mata terus mengalir, sementara di kantin sana, celotehan iri dan tawa kemenangan Sisca masih terus berlanjut, meracuni udara kampus yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu. Pagi yang indah tadi kini telah berubah menjadi siang yang kelabu, dan Lana menyadari bahwa transformasinya baru saja menemui rintangan pertamanya yang paling berdarah.

1
Bri Anto
sunting mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!