"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 Mengapa Hatiku Berdebar Kencang Seperti Ini?
Malam telah turun, menyelimuti hutan dengan selimut kegelapan yang tenang. Hanya cahaya bulan purnama yang menembus celah-celah daun, menorehkan pola perak di tanah yang berlumut. Di sebuah tempat terbuka yang jauh dari keramaian, Li Yao dan Ling Qingyu duduk bersandar pada batang pohon besar yang sudah berusia ratusan tahun.
Suasana sangat damai. Hanya terdengar suara jangkrik dan desiran angin malam yang sejuk. Namun, di dalam dada Li Yao, suasana sama sekali tidak tenang. Jantungnya berdegup kencang, sangat kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.
Ia melirik sekilas ke arah samping. Ling Qingyu sedang memejamkan mata, wajahnya tenang dan damai, diterpa cahaya bulan yang membuatnya terlihat semakin tidak nyata, seperti peri yang turun ke dunia fana. Bahunya yang halus hampir menyentuh bahu Li Yao.
Dug... dug... dug...
Suara detak jantungnya sendiri terdengar begitu keras di telinganya. Li Yao menelan ludah dengan susah payah. Tangannya yang biasanya kuat memegang cangkul, kini terasa gemetar dingin dan berkeringat.
'Apa yang terjadi padaku?' batin Li Yao bertanya-tanya. 'Apakah aku sakit? Badanku terasa panas, tapi juga dingin. Kepalaku pusing, tapi rasanya sangat enak. Dan saat dia dekat... rasanya aku tidak bisa bernapas!'
Ia mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan diri, tapi semakin ia mencoba, semakin kacau rasanya.
"Kau menghela napas panjang sekali, Yao. Apa kau lelah?"
Suara lembut itu tiba-tiba terdengar, membuat Li Yao tersentak kaget hingga hampir terjatuh dari tempat duduknya.
"Wah! Ah... ti-tidak! Aku tidak lelah sama sekali!" jawab Li Yao terbata-bata, wajahnya memerah padam, untunglah gelap sehingga tidak terlalu terlihat. "Aku hanya... hanya..."
"Hanya apa?" Ling Qingyu membuka matanya, menatap Li Yao dengan tatapan ingin tahu, ada sedikit senyum menggoda di sudut bibirnya. Ia menyadari perubahan pada pemuda itu.
"Hanya... hanya merasa aneh!" Li Yao akhirnya memberanikan diri mengatakannya. Ia menunjuk dadanya sendiri dengan jari yang gemetar. "Qingyu, katakan padaku. Apakah ini gejala penyakit berbahaya? Jantungku berdetak sangat kencang, seolah-olah ada kuda yang berlari kencang di dalam sana. Bahkan saat aku tidak berlari, bahkan saat aku diam saja!"
Ling Qingyu menatap wajah panik Li Yao, lalu tiba-tiba ia tertawa kecil. Tawa yang renyah dan manis.
"Dasar bodoh... Itu bukan penyakit, Yao," katanya lembut.
"Bukan penyakit? Tapi rasanya aneh sekali. Kadang aku jadi pusing, kadang aku jadi sangat bersemangat. Dan yang paling aneh... setiap kali kau menatapku seperti ini, atau saat tangan kita tidak sengaja bersentuhan... rasanya seluruh energiku habis terkuras, tapi aku juga merasa sangat kuat!" jelas Li Yao dengan logika desa yang polos.
Ia menatap Ling Qingyu dengan wajah serius dan bingung. "Mengapa... mengapa hatiku berdebar kencang seperti ini?"
Ling Qingyu tersenyum, senyum yang sangat indah dan memukau. Ia perlahan mendekatkan wajahnya, membuat jarak di antara mereka tinggal beberapa jengkal saja. Aroma harum tubuh wanita itu langsung memenuhi indra penciuman Li Yao, membuat kepalanya semakin pening namun bahagia.
"Itu namanya Cinta, Yao..." bisik Ling Qingyu, suaranya lembut seperti desiran angin. "Jantungmu berdebar karena ia senang. Ia senang karena kau bersamaku."
"Cinta...?" Li Yao mengulang kata itu pelan. Ia merasakan getaran aneh yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. "Jadi... ini rasanya cinta?"
"Ya," Ling Qingyu mengangguk pelan, pipinya juga memerah sedikit. "Aku juga merasakannya. Saat melihatmu bekerja keras, saat melihatmu tersenyum tulus, saat kau merawatku... jantungku juga berdebar sama sepertimu."
Li Yao terpaku. Dunia seakan berhenti berputar. Ia menatap mata jernih wanita itu, tenggelam di dalamnya. Kata-kata "Aku juga merasakannya" itu bagaikan mantra sakti yang menghancurkan tembok pertahanan terakhir di hatinya.
Tanpa sadar, tangan Li Yao terangkat, perlahan mendekati tangan Ling Qingyu yang tergeletak di atas rumput. Jari-jari mereka saling menyentuh, lalu perlahan saling menggenggam.
Tangan Li Yao yang kasar dan kapalan, bertaut erat dengan tangan Ling Qingyu yang halus dan putih. Sentuhan itu sederhana, namun listrik statis seakan menyambar tubuh keduanya.
"Qingyu..." panggil Li Yao, suaranya terdengar serak dan bergetar. "Jadi... aku mencintaimu? Aku sangat mencintaimu?"
Ling Qingyu mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca namun penuh kebahagiaan. "Ya, Li Yao. Kita saling mencinta."
"Astaga..." Li Yao menutup matanya, menarik napas dalam-dalam, menikmati momen ini. "Rasanya... luar biasa. Lebih hebat dari teknik kultivasi tingkat tinggi mana pun. Lebih memabukkan dari anggur terbaik."
Ia menatap kembali wanita itu dengan tatapan yang berubah. Tidak lagi tatapan kekaguman atau rasa hormat, tapi tatapan seorang pria kepada wanitanya. Penuh kasih, penuh kepemilikan, dan penuh janji.
"Qingyu, aku tidak tahu kata-kata indah seperti para penyair atau pendekar kota besar," kata Li Yao dengan suara tegas namun lembut. "Aku hanya anak desa yang bodoh. Tapi aku janji... debaran jantung ini, rasa cinta ini, akan aku jaga sampai akhir hayatku. Tidak akan pernah berhenti, tidak akan pernah melemah."
"Terima kasih, Yao..." bisik Ling Qingyu, lalu dengan keberanian yang jarang ia tunjukkan, ia menyandarkan seluruh kepalanya di dada bidang Li Yao. Mendengar detak jantung pria itu yang berirama kencang namun menenangkan.
"Jantungmu juga berdebar kencang," gumam Ling Qingyu.
"Itu karena kau ada di sini," jawab Li Yao sambil tersenyum lebar, senyum paling tulus dan bahagia yang pernah ia berikan seumur hidupnya.
Di bawah sinar bulan purnama, di antara desiran angin, dua hati itu kini menyadari arti keberadaan satu sama lain. Cinta mereka telah bersemi dengan indah, menciptakan ikatan yang seharusnya tak terputuskan... meski takdir kejam sedang menunggu di balik awan.