NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Hal yang Hilang

Malam itu Shou Wei hampir tidak tidur.

Setelah melihat pecahan logam hitam dan marker kayu saling merespons dalam diam, ia duduk cukup lama di depan meja rendah ruang kerjanya, lampu batu memantulkan cahaya lembut di atas kedua benda itu. Di luar, Courtyard Seven tenang. Hanya sesekali angin menggoyang dahan pohon plum muda di halaman, lalu suara daun menyentuh dinding batu terdengar seperti bisikan singkat.

Bentuk.

Arah.

Fungsi.

Itulah tiga hal yang diminta Lan Xue.

Shou Wei sudah punya lebih dari tebakan biasa sekarang.

Bentuk: marker kayu adalah penunjuk utama, sementara fragmen logam hitam tampak seperti penguat atau penyesuai jalur.

Arah: keduanya sama-sama condong ke barat laut, menuju cabang sungai utara dan kemungkinan besar ke sekitar Broken Reed Bend.

Fungsi: bukan formasi serang. Bukan juga segel peti biasa. Lebih seperti sistem penanda atau pembuka jalur untuk sesuatu yang tersembunyi di bawah air atau di balik aliran.

Namun masih ada satu hal yang belum sepenuhnya ia pahami.

Kenapa jalurnya menurun?

Apakah itu berarti pintu masuk ada di bawah permukaan air?

Atau di rongga batu bawah tebing?

Atau mungkin di bawah lambung kapal yang karam?

Pikirannya berputar cukup lama sebelum akhirnya ia membungkus kedua benda itu lagi. Ia tidak akan memaksa lebih jauh malam ini. Pelajaran yang terus menyelamatkannya sejak keluar dari tambang tetap sama:

jangan serakah terlalu cepat.

Pagi berikutnya, ia datang ke paviliun timur lebih awal.

Qin Mo sudah ada di sana, berdiri di depan rak barang rusak sambil memeriksa daftar. Begitu melihat Shou Wei, lelaki itu hanya melirik sekali.

“Young Miss menunggumu di ruang dalam,” katanya.

Tidak ada pertanyaan tambahan.

Shou Wei mengangguk dan langsung pergi.

Ruang dalam tempat Lan Xue menunggunya kali ini bukan ruang teh sempit seperti sebelumnya, melainkan ruangan kerja yang lebih rapi. Di sana ada meja panjang, beberapa rak gulungan, peta wilayah utara tergantung di dinding, dan satu papan kayu tempat beberapa catatan kecil ditempel dengan paku perak. Semuanya tersusun bersih, tidak mewah berlebihan, tapi jelas dipakai oleh seseorang yang suka memegang banyak jalur sekaligus.

Lan Xue berdiri di depan jendela, membelakangi ruangan saat ia masuk.

“Duduk,” katanya tanpa menoleh.

Shou Wei duduk.

Beberapa detik hening berlalu, lalu Lan Xue berbalik. Hari ini jubahnya lebih gelap, biru tua hampir hitam, membuat wajahnya tampak makin pucat dan dingin.

“Tiga hal,” katanya.

Shou Wei langsung menjawab.

“Bentuk: marker kayu adalah penunjuk utama. Fragmen logam hitam adalah bagian pendukung, mungkin penyesuai arah atau kedalaman.”

Lan Xue tidak menyela.

“Arah: keduanya sama-sama menunjuk ke barat laut. Setelah fragmen didekatkan, arah itu tetap sama, tapi ada kecenderungan menurun.”

Lan Xue sedikit menyipitkan mata. “Menurun.”

“Ya.”

“Lanjut.”

“Fungsi: ini bukan jalur biasa untuk utility arrays. Kemungkinan besar ini bagian dari water-route system, mungkin pembuka, penanda, atau peta hidup untuk tempat tersembunyi di bawah air, bawah tebing, atau di rongga tertutup qi air.”

Setelah kalimat terakhir, ruangan kembali sunyi.

Lan Xue berjalan ke meja perlahan dan duduk. Jari-jarinya yang ramping mengetuk permukaan kayu sekali, lalu berhenti.

“Itu cukup dekat dengan dugaan kami,” katanya akhirnya.

“‘Kami’?”

Lan Xue tidak tersenyum. “Rumah lelang besar tidak hidup dari intuisi satu orang.”

Ia menggeser satu peta kecil ke tengah meja. Itu peta sungai utara Lanhe City dan cabang-cabang rawanya. Tiga titik kecil sudah diberi tanda merah halus. Salah satunya jelas Broken Reed Bend.

“Kami punya kabar,” katanya. “Dua hari terakhir ada tiga pihak yang mencari informasi tentang kapal karam tua di cabang utara. Satu pemburu bangkai biasa. Satu kelompok sungai kecil. Dan satu lagi...” matanya terangkat ke wajah Shou Wei, “seseorang yang membayar peta lama terlalu mahal untuk sekadar memancing ikan.”

“Wei Kuan.”

“Ya.”

Jadi rumah lelang memang sudah mulai memasang mata.

Lan Xue melanjutkan, “Kalau dia hanya pembeli scraps rakus, aku tidak peduli. Tapi kalau dia memegang satu marker dan sekarang mulai mengejar jalur tua, maka dia bisa merusak sesuatu sebelum kita menilai nilainya dengan benar.”

‘Kita.’

Ia mengucapkannya begitu saja, seolah sudah jelas Shou Wei termasuk dalam lingkaran itu sekarang.

“Apa yang akan kaulakukan?” tanya Shou Wei.

Lan Xue menatap peta. “Aku tidak mengirim orang rumah lelang langsung ke rawa hanya karena satu fragmen dan satu tebakan. Itu terlalu kasar.” Ia mengangkat satu jari. “Tapi aku bisa melakukan tiga hal.”

Ia mulai menghitung dengan tenang.

“Pertama, orangku akan membeli atau menahan semua peta jalur tua cabang utara yang beredar di pasar kecil selama beberapa hari ke depan.”

Itu memotong mata dan kaki orang luar.

“Kedua, Qin Mo akan menyaring semua listing atau penawaran private yang menyebut water-route arrays, submerged seals, atau salvaged river markers.”

Itu memotong potongan petunjuk lain.

“Ketiga...” Lan Xue menatap lurus padanya. “Kalau Wei Kuan benar-benar bergerak ke Broken Reed Bend lagi, aku akan tahu.”

Shou Wei menangkap maksud di balik kalimat itu.

Tidak ada pasukan besar.

Tidak ada pengumuman.

Hanya jaring halus.

Itu jauh lebih cocok dengan rumah lelang besar.

Lan Xue lalu berkata, “Dan kau akan ikut jika aku mengirim orang melihat.”

Shou Wei tidak langsung menjawab. “Sebagai penilai?”

“Sebagai mata formasi.” Lan Xue berhenti sebentar. “Jangan terlalu tersanjung. Aku tidak akan menyerahkan jalur ini pada pengawal yang bahkan tak bisa membedakan segel pengunci dan jebakan penyebar air.”

Itu terdengar dingin, tapi bagi Shou Wei justru terasa seperti kepercayaan yang nyata.

Ia mengangguk. “Baik.”

Lan Xue tampak puas, tapi tidak mengendur.

“Sekarang pertanyaan lain.” Tatapannya menjadi sedikit lebih tajam. “Kalau marker dan fragmen itu memang bagian dari satu sistem, maka seharusnya ada lebih dari dua atau tiga potongan. Menurutmu apa yang hilang?”

Shou Wei menatap peta dan berpikir.

“Inti,” katanya. “Kalau marker kayu memberi arah dan fragmen logam mengoreksi jalur, maka harus ada satu bagian pusat yang menentukan kapan dan bagaimana sistem itu benar-benar terbuka.”

Lan Xue mengangguk.

“Dan?”

“Pemicu.” Shou Wei melanjutkan lebih pelan. “River pulse bead mungkin salah satunya. Tapi kalau sistem ini cukup tua, mungkin bukan satu-satunya.”

Lan Xue menunggu.

“Dan yang terakhir...” Shou Wei menatap simbol tebing di peta. “Posisi masuk yang benar. Jalur bisa ditunjuk, tapi tanpa tahu dari titik mana harus dibuka, orang bisa mengaktifkan resonansi di tempat salah. Itu yang mungkin membangunkan beast sungai di kapal karam.”

Untuk pertama kalinya, mata Lan Xue berubah lebih nyata.

Bukan kaget.

Bukan memuji.

Tapi seperti seseorang yang baru menempatkan batu terakhir pada susunan awal.

“Exactly,” katanya pelan.

Tiga hal yang hilang:

inti,

pemicu,

titik masuk.

Lan Xue berdiri lalu berjalan ke papan kayu di dinding. Ia menempelkan tiga kertas kosong di sana dan menulis cepat dengan kuas tipis:

Core

Key

Entry Point

Lalu ia menoleh pada Shou Wei. “Mulai hari ini, kau tidak lagi hanya memecahkan kitab kuno. Kau juga memikirkan tiga hal ini.”

“Itu banyak.”

“Karena nilainya mungkin juga banyak.”

Ia mengembalikan kuas ke meja, lalu menambahkan dengan nada sama datarnya, “Dan karena racun dalam darahmu tidak peduli apakah kesulitanmu masuk akal.”

Pisau itu selalu ada. Ia hanya memilih kapan untuk berkilat.

Shou Wei menerima itu tanpa banyak reaksi.

Setelah beberapa napas, Lan Xue berkata lagi, kali ini lebih rendah, “Aku akan mengirim satu orang untuk berbicara dengan Han Lu. Tidak untuk mengambil semua barangnya. Hanya untuk memastikan dia tidak menjual kebodohan pada pihak lain lebih dulu.”

“Dia tidak bodoh.”

“Aku tahu. Itu sebabnya aku hanya bicara, bukan menekan.”

Kalimat itu menunjukkan dengan jelas bagaimana Lan Xue melihat papan:

setiap orang punya nilai,

setiap nilai bisa dirawat,

atau dipatahkan jika perlu.

Sebelum Shou Wei pergi, Lan Xue memanggil lagi, “Wei Shou.”

Ia berhenti di pintu.

“Kalau Wei Kuan mendekatimu langsung lagi, kau lapor. Jangan bermain cerdas sendirian di kota ini hanya karena kau menang satu scrap kecil.”

Tidak ada kelembutan di sana.

Tapi ada sesuatu yang dekat dengan kepedulian, jika diterjemahkan ke bahasa Lan Xue.

“Aku mengerti.”

Wei Kuan sendiri bergerak siang itu.

Di sebuah rumah teh sempit dekat distrik peta dan jasa pengawalan, ia duduk di lantai dua menghadap jalan sambil membuka salinan jalur sungai utara. Di depannya duduk seorang pria berkulit gelap dengan telinga kiri sobek—salah satu pengantar rawa yang tahu jalur-jalur kecil di luar peta umum.

“Aku tidak peduli apa itu kapal biasa atau kuburan sungai,” kata Wei Kuan datar. “Aku hanya mau tahu apakah ada rongga batu, pintu bawah air, atau aliran yang tidak masuk akal di sekitar Broken Reed Bend.”

Pria itu menggaruk dagu. “Ada cerita lama.”

Wei Kuan tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan satu koin perak lagi di meja.

Pria itu langsung melanjutkan. “Di bawah dua tebing miring itu, ada cekungan air yang aneh. Saat musim hujan besar, air berputar ke bawah seolah ada mulut di sana. Tapi begitu kemarau, tak ada apa-apa. Orang tua sungai bilang itu ‘sumur yang tidur’. Orang waras tidak mendekat.”

Wei Kuan menatap salinan petanya.

Cekungan.

Pusaran.

Titik masuk.

Jadi tebakannya tidak salah.

“Kalau aku mau ke sana lagi besok pagi?”

Pria itu menatapnya seolah sedang menilai harga nyawanya sendiri. “Aku bisa tunjuk jalur sampai dekat. Tapi aku tidak turun ke titik sumur.”

Wei Kuan mengangguk. “Cukup.”

Ia tak tahu bahwa di sisi kota yang lain, rumah lelang juga sudah mulai mengencangkan jaring.

Dan di salah satu atap pengawas yang biasa dipakai pembawa pesan internal, seorang pria muda berpakaian biasa baru saja mencatat bahwa Wei Kuan membeli peta kedua dan menyewa penunjuk rawa.

Nama itu akan sampai ke Lan Xue sebelum malam.

Menjelang petang, Shou Wei kembali ke Courtyard Seven dengan kepala penuh hal baru.

Ia belum sampai di halaman ketika pelayan perempuan kepercayaan Lan Xue mendatanginya.

“Young Miss meminta kau tetap di dalam komplek malam ini,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena satu nama yang kau kenal baru saja bergerak ke arah yang seharusnya.”

Itu sudah cukup.

Wei Kuan.

Shou Wei tidak bertanya lebih lanjut. Ia masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu, tapi pikirannya tidak tenang seperti malam-malam sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Lanhe City, jalur sungai tua itu mulai terasa bergerak bukan sebagai misteri yang pasif, melainkan sebagai sesuatu yang sedang diburu banyak tangan sekaligus.

Ia membuka kitab kuno, berniat memaksa dirinya fokus pada simbol-simbol asing.

Namun baru satu halaman dibaca, ketukan terdengar di pintu.

Bukan halus.

Bukan ragu.

Tiga ketukan cepat.

Lan Xue sendiri masuk sebelum ia benar-benar menjawab.

Hari sudah gelap, dan untuk pertama kalinya ia tampak sedikit berbeda dari biasanya. Bukan berantakan—itu mustahil baginya. Tapi gerakannya lebih cepat, pandangannya lebih tajam, seolah satu keputusan baru saja diambil.

“Wei Kuan bergerak besok subuh,” katanya langsung.

Shou Wei berdiri.

“Ke Broken Reed Bend?”

“Ya. Dengan penunjuk rawa dan dua orang bayaran.” Lan Xue menutup pintu di belakangnya. “Aku tidak akan mengirim banyak orang. Terlalu mencolok. Tapi aku juga tidak akan membiarkannya menyentuh jalur itu sendirian.”

Jantung Shou Wei berdetak lebih keras.

Lan Xue berjalan mendekat ke meja. “Han Lu setuju bekerja sama untuk sekali jalan. Satu perahu, dua orang sungai, dua pengawal pilihanku, dan kau.”

“Besok?”

“Before dawn.”

Semua bergerak cepat.

Namun memang begitulah jalur seperti ini.

Begitu salah satu pihak berani melangkah, semua yang lain harus memutuskan:

ikut sekarang,

atau biarkan orang lain memegang inti lebih dulu.

Shou Wei mengangguk. “Aku siap.”

Lan Xue menatapnya beberapa detik. “Jangan mati.”

“Kalimat itu mulai sering kau pakai.”

“Karena orang yang berguna memang menjengkelkan kalau mati terlalu awal.”

Sekilas, sangat sekilas, sudut bibirnya seperti hampir bergerak.

Bukan senyum.

Hampir.

Lalu ia kembali dingin seperti biasa.

“Simpan semua yang tidak perlu. Bawa marker, fragmen, dan apa pun yang bisa membantumu membaca aliran.” Ia berbalik hendak pergi, lalu berhenti di ambang pintu. “Dan Wei Shou...”

Shou Wei menatapnya.

“Besok bukan urusan utility business lagi.”

“Aku tahu.”

“Bagus.”

Setelah ia pergi, ruang kerja kembali sunyi.

Namun kali ini, sunyi itu terasa seperti tali busur yang ditarik sampai hampir putus.

Shou Wei duduk perlahan lalu membuka laci kecil, mengambil marker kayu dan fragmen logam hitam, lalu meletakkannya di meja berdampingan.

Core.

Key.

Entry Point.

Wei Kuan sedang bergerak ke titik yang mungkin salah satunya.

Lan Xue mengirim jaring halusnya.

Han Lu ikut karena barang itu sebagian juga miliknya.

Dan dirinya, bocah yang dulu menggali batu roh di tambang gelap, kini berdiri tepat di tengah rahasia yang bahkan para penjual formasi dewasa mulai saling gigit untuk mendapatkannya.

Ia menarik napas.

Tarik.

Tahan.

Turunkan.

Putar.

Lepaskan.

Kabut malam dari luar jendela bergerak tipis.

Darah naga di dalam dirinya mengalir lebih dalam.

Dan ulat racun di dalam darahnya tetap diam, seolah ikut menunggu apa yang akan dibuka fajar nanti.

Besok, mereka kembali ke Broken Reed Bend.

Bukan sebagai pemburu bangkai lagi.

Tapi sebagai orang-orang yang mulai tahu bahwa di bawah sungai tua itu, ada sesuatu yang belum selesai tidur.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!