NovelToon NovelToon
Pewaris Tersembunyi

Pewaris Tersembunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: JAYDEN AHMAD

LIMA TAHUN IA DI INJAK-INJAK. SATU MALAM IA MEREBUT SEGALANYA.

Rizky Santoso adalah aib. sampah. suami tak berguna yang ditakdirkan untuk hidup di dapur, di bawah kaki istrinya yang kaya raya,
Adelia. selama 5 tahun, hinaan adalah sarapannya dan pengkhianatan adalah makan malamnya.

Ketika Adelia mencampakkannya demi seorang selingkuhan, ia pikir hidup Rizky telah berakhir.

DIA SALAH BESAR.

Di malam tergelapnya, takdir datang menjemput. Dua sosok misterius berjas hitam membawakan sebuah kebenaran yang mengguncang kota: pria yang ia buang adalah PUTRA MAHKOTA dari kerajaan bisnis yang paling berkuasa.

kini, Rizky kembali. Bukan lagi sebagai suami yang tunduk, tapi sebagai raja yang dingin dan tak tersentuh. ia akan duduk di singgasana kekuasaannya dan menyaksikan mereka yang pernah menghinanya...
bertekuk lutut.

Penyesalan Adelia tidak akan ada artinya. Karena dalam permainan takdir ini, sang pewaris telah kembali untuk mengambil apa yang jadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JAYDEN AHMAD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: TITIK BALIK DI TENGAH KEGELAPAN

Malam itu, Jakarta seolah menahan napas. Di lantai teratas gedung Hadiningrat Group, lampu-lampu masih menyala terang, memancarkan cahaya dingin ke langit yang kelam.

Rizky Hadiningrat berdiri di depan jendela besar, menatap kota yang tak pernah tidur, namun kini terasa begitu sunyi di tengah badai yang baru saja menerjang.

Layar komputernya memancarkan grafik merah yang menusuk mata, menunjukkan harga saham Hadiningrat Group yang terus anjlok, seperti batu yang dilempar ke jurang.

Telepon di mejanya tak henti-hentinya berdering, dering panik dari para investor yang melihat kekayaan mereka menguap dalam hitungan jam.

Ini bukan lagi sekadar intrik bisnis biasa. Ini adalah deklarasi perang total dari GlobalNet, sebuah upaya telanjang untuk melumpuhkan Hadiningrat Group dari dalam, memicu kepanikan massal, dan memaksa Rizky untuk menyerah. Namun, menyerah bukanlah kosakata dalam kamus Rizky.

"Haryo, kumpulkan tim inti sekarang," perintah Rizky, suaranya tenang, tanpa sedikit pun getaran panik.

"Semua kepala divisi keuangan, hukum, komunikasi, dan... Bramantyo. Saya ingin mereka di sini dalam tiga puluh menit.

Haryo, yang sudah berjaga-jaga, segera bergerak. Dalam waktu singkat, ruang rapat utama dipenuhi oleh wajah-wajah tegang. Pak Wijaya, direktur keuangan, tampak pucat pasi. Ibu Karina, kepala divisi hukum, mengernyitkan dahi, matanya memancarkan kekhawatiran. Dan Bramantyo, duduk di sudut, ekspresinya sulit dibaca—campuran kewaspadaan, ketegangan, dan mungkin, sedikit kepuasan tersembunyi.

Rizky masuk, aura kepemimpinannya langsung memenuhi ruangan. Ia tidak membuang waktu dengan basa-basi.

"GlobalNet telah melancarkan serangan paling berbahaya mereka. Manipulasi pasar saham. Mereka ingin kita panik, mereka ingin kita menyerah. Tapi kita tidak akan.

"Tuan Rizky, ini di luar kendali," Pak Wijaya memotong, suaranya bergetar. "Harga saham kita anjlok lebih dari 15% dalam dua jam terakhir. Jika ini terus berlanjut, kita bisa kehilangan miliaran dalam semalam. Investor akan menarik diri, bank akan meninjau ulang fasilitas kredit kita. Ini bisa menjadi akhir dari Hadiningrat Group!"

"Bukan jika kita bertindak cepat dan cerdas, balas Rizky, tatapannya tajam. "Ibu Karina, apa analisis hukum kita? Apakah ada indikasi manipulasi yang bisa kita buktikan?"

Ibu Karina menghela napas. "Ada pola yang mencurigakan, Tuan Rizky. Volume perdagangan saham kita melonjak drastis, didominasi oleh penjualan besar-besaran dari beberapa entitas anonim yang baru muncul.

Ini jelas upaya untuk menekan harga. Namun, membuktikan manipulasi pasar membutuhkan waktu dan bukti yang sangat kuat. Mereka pasti menggunakan lapis-lapis perusahaan cangkang."

"Waktu adalah kemewahan yang tidak kita miliki," kata Rizky. "Haryo, tim intelijen bisnis kita, apakah ada yang bisa melacak entitas-entitas ini?"

"Kami sedang berusaha, Tuan Rizky," jawab Haryo, "tapi mereka sangat rapi. Sepertinya ini adalah operasi yang sudah direncanakan dengan matang.

Rizky mengalihkan pandangannya ke Bramantyo. "Bramantyo, Anda pernah berada di 'sisi lain'. Bagaimana GlobalNet biasanya melakukan operasi semacam ini? Apa kelemahan mereka?"

Bramantyo menegakkan duduknya. "GlobalNet selalu mengandalkan kecepatan dan anonimitas. Mereka akan menggunakan jaringan broker kecil di berbagai negara untuk menyamarkan jejak. Tujuannya bukan hanya menjatuhkan harga, tapi juga menciptakan narasi negatif di media keuangan, memicu efek domino. Mereka akan menyebarkan rumor tentang masalah internal Hadiningrat, tentang kegagalan proyek Nusantara Connect, untuk mempercepat kepanikan.

"Itu sudah terjadi," kata kepala divisi komunikasi. "Beberapa media keuangan sudah mulai memberitakan tentang 'ketidakstabilan' Hadiningrat Group.

"Tepat," Bramantyo melanjutkan. "Kelemahan mereka adalah ketergantungan pada narasi dan kecepatan. Jika kita bisa membalikkan narasi itu, dan jika kita bisa mengidentifikasi salah satu broker kunci mereka, kita bisa memukul balik.

Rizky mendengarkan dengan seksama. Wawasan Bramantyo sangat berharga.

"Bagaimana kita membalikkan narasi dalam semalam?"

"Kita harus menunjukkan kekuatan, Tuan Rizky," Bramantyo menyarankan. "Bukan kepanikan. Kita harus menunjukkan bahwa Hadiningrat Group memiliki dukungan yang kuat, bahwa kita tidak akan goyah. Dan kita harus menyerang balik di titik yang tidak mereka duga.

"Serangan balik?" Pak Wijaya tampak terkejut. "Dengan kondisi kita seperti ini?"

"Justru karena kondisi kita seperti ini," Rizky membalas, matanya berkilat. "GlobalNet mengira kita akan bertahan. Kita akan menyerang.

Rizky memutar otak, mengingat semua yang ia pelajari dari Suryo, dari perjalanannya sendiri. Ia teringat nasihat ayahnya: "Dalam krisis, kepemimpinan sejati bukan hanya tentang bertahan, tapi tentang melihat peluang di tengah kekacauan.

"Pak Wijaya," Rizky memulai, "siapkan dana darurat. Kita akan melakukan pembelian kembali saham besar-besaran di pembukaan pasar besok pagi. Kita akan menunjukkan bahwa kita percaya pada nilai perusahaan kita sendiri.

Pak Wijaya terkesima.

"Pembelian kembali? Tapi itu akan menguras cadangan kas kita, Tuan Rizky! Dan jika harga terus anjlok, kita hanya akan membakar uang!"

"Itu adalah risiko yang harus kita ambil," Rizky tegas. "Ini bukan hanya tentang harga saham, ini tentang kepercayaan. Kita harus mengirimkan sinyal kuat kepada pasar bahwa Hadiningrat Group tidak akan runtuh. Dan kita akan melakukannya dengan kekuatan penuh.

"Ibu Karina," Rizky melanjutkan, "siapkan gugatan hukum terhadap GlobalNet atas manipulasi pasar. Kumpulkan semua bukti yang kita miliki, sekecil apa pun. Kita akan mengajukan gugatan itu besok pagi, bersamaan dengan pengumuman pembelian kembali saham.

"Tapi buktinya belum kuat, Tuan Rizky," Ibu Karina mengingatkan.

"Gugatan itu bukan hanya untuk menang di pengadilan, Ibu Karina," Rizky menjelaskan. "Ini untuk mengirimkan pesan. Untuk menunjukkan bahwa kita tidak takut, dan bahwa kita akan melawan setiap serangan mereka.

Kemudian, Rizky menatap Bramantyo.

"Bramantyo, Anda mengatakan kelemahan mereka adalah ketergantungan pada broker kecil. Bisakah Anda mengidentifikasi salah satu broker yang paling mungkin mereka gunakan untuk operasi ini? Yang paling rentan?"

Bramantyo berpikir keras. "Ada satu, Tuan Rizky. Sebuah firma investasi kecil di Singapura, 'Phoenix Capital'. Mereka punya reputasi abu-abu, sering terlibat dalam transaksi volume tinggi yang mencurigakan. Saya pernah berinteraksi dengan mereka saat masih di Maheswari. Mereka sangat bergantung pada komisi besar dari klien seperti GlobalNet.

"Haryo," Rizky beralih ke tangan kanannya, "fokuskan tim intelijen kita pada Phoenix Capital. Cari setiap celah, setiap kelemahan. Kita butuh sesuatu yang bisa kita gunakan untuk menekan mereka.

"Dan tim komunikasi," Rizky menatap kepala divisi komunikasi, "siapkan rilis pers yang mengumumkan pembelian kembali saham dan gugatan hukum kita.

Tekankan komitmen Hadiningrat Group terhadap Nusantara Connect, dan bagaimana kita akan melawan setiap upaya untuk merusak proyek ini.

Kita akan membalikkan narasi. Kita akan menunjukkan bahwa GlobalNet adalah pihak yang panik, bukan kita.

Rizky tahu, ini adalah pertaruhan besar. Keputusan-keputusan ini bisa menyelamatkan Hadiningrat Group, atau justru mempercepat kehancurannya. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Ia harus memimpin.

Di tengah rapat yang tegang itu, ponsel Rizky bergetar. Sebuah pesan dari Suryo.

"Ingat, Rizky. Akar yang kuat tidak akan tumbang oleh badai. Tunjukkan pada mereka siapa Hadiningrat.

Pesan itu memberinya kekuatan baru. Suryo tidak hanya mengamati, ia percaya padanya.

Rapat berlanjut hingga dini hari. Setiap orang diberi tugas spesifik, setiap langkah direncanakan dengan cermat. Bramantyo, dengan pengetahuannya yang mendalam tentang GlobalNet, menjadi aset yang tak ternilai. Ia memberikan detail-detail kecil tentang struktur internal GlobalNet, kebiasaan para eksekutif kuncinya, dan bahkan potensi konflik kepentingan di antara mereka. Rizky melihat kilatan ambisi di mata Bramantyo, tetapi kali ini, ambisi itu selaras dengan tujuan mereka.

Saat fajar menyingsing, tim Rizky telah siap. Mereka telah bekerja sepanjang malam, kelelahan namun penuh tekad.

Pembukaan pasar saham pagi itu adalah momen yang menegangkan. Harga saham Hadiningrat Group terus merosot di menit-menit awal. Namun, tepat saat pengumuman pembelian kembali saham besar-besaran dan gugatan hukum terhadap GlobalNet dirilis, pasar bereaksi.

Pembelian saham oleh Hadiningrat Group sendiri, ditambah dengan sinyal kuat dari gugatan hukum, mengirimkan gelombang kejutan. Investor yang panik mulai melihat adanya perlawanan. Beberapa investor institusional besar, yang sebelumnya ragu, mulai menahan penjualan mereka. Perlahan tapi pasti, penurunan harga saham melambat, dan kemudian, mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.

Pada saat yang sama, Haryo berhasil menemukan celah di Phoenix Capital. Sebuah transaksi mencurigakan yang melibatkan dana dari GlobalNet, yang melanggar regulasi pasar Singapura. Informasi itu segera diteruskan ke otoritas keuangan Singapura.

Berita tentang gugatan hukum Hadiningrat Group dan penyelidikan terhadap Phoenix Capital menyebar cepat. Pasar mulai mempertanyakan integritas GlobalNet. Narasi mulai berbalik.

Rizky mengamati layar, melihat grafik merah mulai berubah menjadi hijau. Harga saham Hadiningrat Group memang belum pulih sepenuhnya, tetapi penurunannya telah dihentikan. Kepanikan telah mereda.

Ia telah melewati titik balik.

Namun, Rizky tahu, ini hanyalah pertempuran pertama dalam perang yang panjang. GlobalNet tidak akan menyerah begitu saja. Mereka akan mencari cara lain untuk menyerang. Dan Bramantyo, meskipun telah membuktikan nilainya, tetaplah pedang bermata dua yang harus selalu diwaspadai.

Ia menatap Haryo, yang mengangguk penuh hormat. Ia menatap Bramantyo, yang kini tersenyum tipis, senyum yang penuh makna.

Badai ini memang menguji akarnya, tetapi Rizky Hadiningrat, sang raja yang membangun, kini memiliki tim yang lebih solid, strategi yang lebih tajam, dan sekutu tak terduga

yang siap bertaruh dengannya.

Pertempuran ini belum usai, justru baru dimulai, dan Rizky siap menghadapi apa pun yang datang. Ia telah membuktikan bahwa ia bukan hanya pewaris tersembunyi, tetapi juga pemimpin yang mampu mengubah takdir.

1
AHMAD SAEPUDIN
Mohon dukungannya yah warga NOVELTOON 🥰
"jangan lupa share, like, dan komen, maaf kalo ada alur yang berantakan komen aja di kolom komentar ini yahh☺️🙏♥️
Gio Raraawi
suka cerita nya
AHMAD SAEPUDIN: Makasih banyak kak 🙏 seneng banget kakak suka ceritanya, ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Ngeju Aroma
joss
Ngeju Aroma
💪💪
Ngeju Aroma
semangat kak💪💪
AHMAD SAEPUDIN: Makasih banyak kak 🙌 sering-sering mampir ya, biar makin rame 😁☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!