"Satu malam yang salah, satu rahasia yang terkunci rapat, dan satu pertemuan yang tak terelakkan."
Bagi Naira, malam di dalam mobil mewah lima tahun lalu adalah sebuah kutukan sekaligus anugerah yang tak sengaja. Terjebak dalam situasi yang tak terkendali bersama seorang pria asing yang dingin, Naira kehilangan mahkotanya. Ketakutan akan kehancuran nama baik keluarganya membuat Naira melarikan diri ke pelosok Jombang, membawa rahasia besar di dalam rahimnya.
Lima tahun ia berjuang sendirian menjadi ibu tunggal bagi Arkana, putra kecilnya yang cerdas namun terus menanyakan sosok ayah. Demi menyambung hidup, Naira terpaksa kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai Office Girl di sebuah perusahaan raksasa, Wiratama Group.
Namun, dunia Naira runtuh saat ia pertama kali mengantarkan kopi ke ruang CEO. Pria yang duduk di kursi kebesaran itu adalah Nevan Adhiguna Wiratama—pria yang sama dengan pria di mobil malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Rindu di Balik Kalung Perak
Sesampainya di apartemen, Nevan tidak langsung mandi. Ia berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan siluet gedung pencakar langit. Bayangan kejadian semalam terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia masih bisa merasakan kelembutan kulit gadis itu, aroma alaminya yang memabukkan, dan bagaimana gadis itu mendesah pasrah di bawah sentuhannya.
Ada rasa rindu yang aneh, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya pada wanita mana pun, termasuk Anastasia, mantan pacarnya yang elegan itu. Gadis semalam terasa begitu nyata, begitu jujur dalam setiap sentuhannya.
Nevan menatap kalung perak di telapak tangannya, lalu bermonolog dalam batin:
"Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu pergi tanpa meninggalkan nama? Kamu sudah masuk ke dalam hidupku lewat cara yang paling gila, dan sekarang kamu pikir bisa hilang begitu saja? Tidak, aku akan mencarimu. Meskipun aku harus membalikkan seluruh Jakarta, aku akan menemukanmu kembali."
Nevan mengepalkan tangannya, menggenggam kalung itu erat-erat. Ia segera mengambil ponselnya dan mendial sebuah nomor.
"Dimas? Bangun. Saya punya tugas penting buat kamu pagi ini. Cek semua CCTV di area parkir mal semalam. Saya mau data lengkap tentang seorang gadis yang masuk ke mobil saya jam sebelas malam tadi. Sekarang!"
Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah ikut merasakan kemelut di hati Naira. Dengan langkah yang masih sedikit kaku karena rasa nyeri yang belum sepenuhnya hilang, Naira memaksakan diri datang ke kafe tempatnya bekerja. Ia berharap bisa segera melupakan kejadian mengerikan, sekaligus memabukkan, di parkiran mal semalam.
Namun, baru saja ia melangkah masuk, seorang petugas keamanan sudah mencegatnya. "Naira, kamu dipanggil ke ruang HRD sekarang."
Di dalam ruangan ber-AC dingin itu, seorang pria paruh baya menatapnya dengan tatapan meremehkan. Tanpa basa-basi, ia menyodorkan selembar amplop cokelat di atas meja.
"Mulai hari ini, kamu diberhentikan. Kami tidak butuh pelayan yang bikin masalah dengan pelanggan VIP," ucap manajer HRD itu dingin.
Naira tertegun, matanya membelalak. "Masalah apa, Pak? Saya justru yang hampir dicelakai semalam! Teman saya, Yuni, dia..."
"Cukup! Saya tidak mau dengar alasanmu. Kafe ini milik keluarga Mahesa. Tuan Keanu sendiri yang meminta kamu dikeluarkan. Kamu sudah berani menolaknya, jadi terima saja konsekuensinya," potong pria itu kasar.
Naira terdiam. Dadanya sesak. Ternyata dunia Jakarta jauh lebih kejam dari dugaannya. Keanu yang berwajah tampan itu ternyata punya hati yang picik. Dengan tangan gemetar, Naira mengambil amplop pesangon yang isinya tak seberapa—bahkan mungkin hanya cukup untuk makan dan bayar kos satu bulan lagi.
"Terima kasih, Pak," bisik Naira lirih. Ia keluar dari kafe itu dengan kepala tertunduk, menahan tangis yang sudah di ujung mata.
Hari-hari berikutnya menjadi ujian fisik dan batin bagi Naira. Uang pesangonnya semakin menipis. Ia harus menghemat setiap rupiah, sering kali hanya makan nasi dengan garam atau mi instan sekali sehari. Berkali-kali ia ditolak perusahaan karena hanya lulusan SMA, sampai akhirnya ia melihat sebuah pengumuman di papan informasi digital sebuah gedung pencakar langit yang sangat megah.
Tanpa pikir panjang, Naira mendaftar. Baginya, pekerjaan apa pun halal asalkan ia bisa bertahan hidup dan mencicil utang Tuan Tommy di desa.
Tiga hari kemudian, keajaiban terjadi. Karena wajahnya yang rajin dan sikapnya yang sangat sopan saat wawancara dengan pengawas lapangan, Naira diterima.
"Selamat ya, Naira. Mulai besok kamu mulai kerja. Tugas kamu jaga kebersihan di lantai eksekutif, lantai 20 sampai 25. Ingat, di sana tempat para bos besar. Jangan berisik, jangan banyak tanya, dan yang paling penting... jangan pernah mengganggu privasi Pak CEO," pesan koordinator OG padanya.
Naira mengangguk mantap. "Siap, Pak. Saya janji akan kerja keras."
Naira mengenakan seragam barunya—celana panjang hitam dan kemeja biru muda yang rapi. Meski hanya seorang OG, ia merasa sedikit lega. Ia tidak tahu bahwa gedung tempatnya berpijak sekarang adalah milik keluarga pria yang malam itu "menyelamatkannya".
Suasana di ruang kerja Nevan yang luas dan mewah itu terasa tegang. Nevan duduk di balik meja eksekutifnya dengan rahang mengeras, sementara Dimas (Asisten Pribadi Nevan) berdiri di depannya sambil memegang tablet yang menampilkan rekaman CCTV dari area parkir mal malam itu.
"Gimana, Dim? Kamu sudah telusuri?" tanya Nevan dengan suara rendah namun tajam.
Dimas menghela napas pendek. "Sesuai info yang saya dapat dari orang lapangan dan manajer kafe itu, Pak, gadis itu memang bekerja di sana sebagai pelayan. Namanya Naira. Tapi..."
"Tapi apa?" sergah Nevan cepat.
"Dia sudah dipecat kemarin pagi, Pak. Instruksi langsung dari Tuan Keanu. Sepertinya ada masalah pribadi di antara mereka. Setelah keluar dari kafe, keberadaan Naira tidak terlacak lagi. Dia tidak punya kerabat di Jakarta, dan alamat kosnya pun tidak terdaftar resmi di data karyawan," jelas Dimas panjang lebar.
Nevan memukul meja dengan kepalan tangannya. Brak!
"Brengsek si Keanu! Bisa-bisanya dia main pecat orang sembarangan cuma karena egonya terluka!" gerutu Nevan kesal. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, matanya menatap langit-langit ruangan dengan gusar.
Rasa frustrasi merayapi batinnya. Jakarta itu sangat luas. Mencari satu orang tanpa alamat yang jelas seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Bayangan wajah Naira yang memohon bantuan di dalam mobilnya kembali melintas, membuat dadanya terasa sesak oleh kerinduan yang tak masuk akal.
"Sudah, Dim. Kamu keluar sekarang. Cari lagi! Cek semua tempat yang mungkin dia datangi buat cari kerja. Saya nggak mau tahu, pokoknya temukan dia!" perintah Nevan tegas.
Dimas mengangguk patuh, namun ia sempat tertegun melihat raut wajah bosnya. "Baik, Pak. Segera saya tindak lanjuti."
Setelah Dimas keluar dan menutup pintu ruangan dengan rapat, ia bergumam pelan di koridor. Dimas merasa ada yang sangat aneh dengan atasannya kali ini. Selama bertahun-tahun bekerja dengan Nevan, ia belum pernah melihat Nevan se-obsesif ini pada seorang wanita, apalagi hanya seorang pelayan kafe.
"Gila... Pak Nevan sepertinya benar-benar jatuh cinta sama gadis itu. Padahal baru sekali ketemu dan situasinya sesingkat itu. Kayaknya primadona Jakarta ini akhirnya kena batunya," batin Dimas sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara itu, di dalam ruangan, Nevan kembali mengeluarkan kalung perak melati dari laci mejanya. Ia memandanginya dengan tatapan nanar.
"Naira... nama yang cantik. Kamu di mana? Jangan buat aku gila karena terus-terusan memikirkanmu," gumam Nevan pelan.
Tanpa Nevan sadari, hanya beberapa lantai di bawah ruangannya, seorang gadis dengan seragam biru muda sedang sibuk membawa ember dan alat pel. Naira sedang membersihkan koridor lantai 20, berjuang untuk tetap tegar meski hatinya masih menyimpan trauma malam itu.
Keesokan paginya, tepat pukul enam, koridor lantai eksekutif masih sangat sunyi. Naira melangkah pelan membawa peralatan kebersihan. Ia sedikit gugup karena hari ini harus menggantikan Mbak Tina yang mulai cuti melahirkan. Ini pertama kalinya Naira masuk ke ruangan sang CEO yang tersohor itu.
Dengan telaten, Naira mengelap meja kerja yang luas itu hingga mengkilap tanpa noda. Ia juga menyempatkan diri membuatkan secangkir kopi susu hangat dan sepiring kecil camilan roti sobek yang lembut. Semuanya ia tata rapi di meja, persis seperti instruksi yang ditinggalkan Tina.
"Semoga Bapak CEO suka," gumam Naira pelan sebelum beranjak ke ruang pantri kecil di sudut ruangan untuk membereskan sisa peralatan.