NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Jadi Ibu!

Tiba-tiba Jadi Ibu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Single Mom / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Susiajaaa

"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Tak ada yang tahu pasti bagaimana hari esok akan berjalan—begitu juga Melisa. Ia yang awalnya hanya bermimpi menyelesaikan kuliah di kota orang, justru dipertemukan dengan dua bayi mungil yang mengubah seluruh poros hidupnya. Kini, ia bukan hanya mahasiswi, tapi juga seorang “ibu” dadakan bagi Evan dan Ethan.

Anehnya, tak ada sesal di hati Melisa. Meski setiap hari harus jungkir balik membagi waktu antara kuliah, pekerjaan di rumah makan, dan mengurus dua bayi, ia justru merasa hidupnya menjadi lebih bermakna. Evan dan Ethan—dua malaikat kecil yang entah datang dari mana—telah mengisi ruang kosong dalam hidupnya. Bahkan kerepotan pun kini terasa manis.

Terlebih, ia tidak sendiri. Ada dua sahabat setianya, Diana dan Riki, yang selalu hadir dalam segala kekacauan hidupnya—entah sebagai penolong atau malah pembuat rusuh, keduanya tak tergantikan.

Karena terlalu larut dalam lamunan sambil mencuci piring di dapur rumah makan, Melisa bahkan tak menyadari waktu telah bergulir begitu cepat. Matahari sudah condong ke barat, menandakan jam kerjanya hampir usai.

"Melisa, lo dipanggil Bu Indah ke ruangannya," ucap salah satu karyawan senior, sambil melongokkan kepala dari balik dapur.

Melisa tersentak kecil. "Hah? Kenapa ya, Kak? Aku ada bikin salah?"

Si karyawan hanya mengangkat bahu dan tersenyum singkat. "Nggak tahu juga. Cuma disuruh nyampein."

Jantung Melisa berdetak sedikit lebih cepat. Ia menghapus tangan yang masih basah pada celemek, lalu segera menuju ruangan manajer. Kepalanya dipenuhi tanda tanya, takut jika ia melakukan kesalahan tanpa sadar.

Sesampainya di depan ruangan, ia mengetuk pelan. “Permisi, Bu.”

“Masuk, Mel,” suara Bu Indah terdengar ramah.

Melisa masuk dengan hati-hati. Bu Indah, manajer rumah makan tempatnya bekerja paruh waktu, sudah duduk dengan map catatan di hadapannya. Setelah beberapa basa-basi ringan, wanita paruh baya itu langsung masuk ke inti pembicaraan.

“Melisa, saya perhatikan kerja kamu selama sebulan ini luar biasa. Rajin, sigap, jujur, dan bisa diandalkan. Saya puas. Karena itu saya mau kasih kamu tawaran.”

Melisa menegakkan tubuhnya, menunggu penuh cemas dan penasaran.

“Saya ingin angkat kamu jadi karyawan tetap di sini.”

Sekujur tubuh Melisa membeku sejenak.

“Karyawan tetap, Bu?” ulangnya tak percaya.

“Iya. Tapi ini bukan tawaran sembarangan. Artinya kamu akan masuk sesuai jam operasional penuh. Tapi... saya juga tahu kamu masih kuliah.”

Melisa mengangguk pelan. “Iya Bu, saya masih kuliah. Kalau jadi karyawan tetap... saya mungkin nggak bisa lanjut kuliah lagi.”

Bu Indah tersenyum, seperti sudah menduga jawaban itu. “Dan itulah kenapa saya tawarkan opsi khusus buat kamu. Karena saya percaya kamu bisa. Kalau kamu mau, jam kerja kamu akan saya sesuaikan dengan jadwal kuliah kamu. Jadi kamu bisa tetap kerja dan tetap kuliah.”

Mata Melisa berkaca-kaca seketika. Ia tak menyangka, di tengah segala keterbatasannya, ada seseorang yang benar-benar mempercayai dan menghargai usahanya.

“Saya... saya mau Bu. Terima kasih. Terima kasih banyak,” ucapnya dengan suara yang bergetar, senyumnya merekah penuh rasa syukur.

“Kerja yang baik terus ya, Mel. Saya yakin kamu bisa lebih dari ini.”

Setelah keluar dari ruangan itu, langkah Melisa terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Dunia di luar tampak lebih hangat, dan langit sore yang mulai merona seakan ikut merayakan kabar baik yang baru saja ia terima. Hatinya penuh rasa syukur dan semangat baru—ia merasa seolah diberi kesempatan kedua, bukan hanya untuk bertahan, tapi juga untuk hidup lebih layak bersama dua bayi kecil yang kini menjadi pusat semestanya.

Sesampainya di kos, ia langsung disambut pemandangan manis di depan pintu kamarnya, Riki dan Diana berdiri sambil menggendong Evan dan Ethan. Seperti yang dijanjikan, sore ini adalah waktunya kedua bayi itu kembali ke pelukan Melisa setelah dititipkan.

“Tumben banget pulang telat, Mel?” tanya Diana sambil menepuk-nepuk punggung Evan dengan lembut.

Melisa tersenyum, sedikit tersengal karena terburu-buru naik tangga. “Tadi sempat dipanggil Bu Indah ke ruangannya, makanya agak lama. Maaf ya, kalian udah lama nungguin?”

“Baru aja kalau gue,” jawab Riki sambil menyender santai ke dinding, masih mengayun Ethan pelan.

“Nih anak lo dari tadi udah ngelirik-lirik terus. Tangan kecilnya udah kayak radar, langsung ngarah ke Lo,” ucap Diana sambil menyodorkan Evan, yang langsung mengulurkan tangan kecilnya dan merengek manja saat melihat ibunya.

Melisa langsung meraih bayi itu ke dalam pelukannya. “Aduh, Evan sayang... Kakak juga kangen banget. Maafin Kakak ya, hari ini agak telat pulangnya.” Ia menciumi pipi Evan yang gembil dan harum, tak peduli kalau wajahnya belepotan air liur bayi.

“Dia ngerepotin nggak, Na?” tanyanya pada Diana dengan nada khawatir.

Diana menggeleng sambil tersenyum. “Enggak sama sekali. Malah gue yang seneng main sama dia. Dia tuh ekspresif banget, bikin gemes.”

Melisa terkekeh lalu menoleh ke arah Riki. “Kalau Ethan gimana, Ki? Rewel nggak?”

Riki mengangkat bahu, masih dengan gaya cueknya. “Sempat rewel sebentar. Tapi kata kakak gue sih itu wajar, paling karena ngantuk atau pengen ganti popok. Sisanya mah dia anteng. Lo tenang aja.”

Melisa mengangguk penuh rasa syukur. “Makasih banget ya kalian. Aku nggak tahu deh gimana jadinya kalau nggak ada kalian.”

Diana tersenyum dan menepuk bahunya. “Tenang aja. Kita tim, kan?”

1
Evi Lusiana
knp melisa gk lgsg tlp diana dn riki bwt njlasin k ortuny
Lisa
Wah berarti 2 baby itu diculik seseorang yg mungkin punya dendam pada 2 keluarga itu
Lisa
Sekarang Ethan & Evan aman di daycare..utk Melisa semangat kuliah lg y Mel 😊👍
Lisa
👍👍 persahabatan yg indah..rukun selalu y kalian bertiga
Lisa
😊 duo heboh dtg nih..
Lisa
Kasihan Meli jadi dituduh dia yg membuang anak itu..
Lisa
Bersyukur Melisa diangkat jadi karyawan tetap yg diperhatikan oleh managernya juga..semangat y Melisa,kerja lbh rajin lg y 😊👍
Lisa
Siap² y ortunya Melisa utk surprise dr Melisa😊
Lisa
Melisa udh menganggap Evan & Ethan anaknya..semangat terus y Melisa..moga aj ortu kandung mereka g bisa menemukan mereka.
Lisa
Gimana nih kelanjutannya..siap² y Melisa utk mengatakan pd ortumu.
Evi Lusiana
jd ethan dn evan anak² dr dua kluarga berpengaruh y thor
Susiajaaa: bisa jadi sih🤔🤭
total 1 replies
Anto D Cotto
gak sabar nungguin kelanjutan ceritanya
Lisa
Semangat y Meli
Lisa
Awal yg bagus nih
Lisa
Aku mampir Kak
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: mantap 👍
total 2 replies
Evi Lusiana
bagus thor,pling suka crita tntang wanita cerdas dan mandiri,tegas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!