NovelToon NovelToon
TUNGGU ANAK MU SUKSES BUU

TUNGGU ANAK MU SUKSES BUU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: dell_dell

Di balik toga wisuda yang megah dan senyum yang terukir di wajah, tersimpan ribuan air mata, keringat, dan luka yang tak terlihat. Ini adalah kisah tentang sebuah janji dan janji seorang anak perempuan yang bertekad mengubah nasib demi melihat kedua orang tuanya bahagia.

Dari sebuah rumah sederhana, ia berjuang menembus kerasnya dunia pendidikan, Perjalanan itu tidak mudah, karena di setiap langkahnya selalu ada suara-suara sumbang. Keluarga sendiri yang seharusnya mendukung, justru sering meremehkan dan menghina. Tetangga pun tak kalah jahat, memandang mereka sebelah mata dan menyebarkan gunjingan bahwa ia tak akan pernah berhasil mengubah nasib keluarganya.

Rasa lelah, rasa ingin menyerah, dan pedihnya dihina seolah menjadi teman setia. Namun, setiap kali ia ingin berhenti, bayangan wajah ibunya yang selalu bekerja keras dan meneteskan air mata menjadi bahan bakar semangatnya.

"Tunggu aku sukses, Bu..." bisiknya dalam hati setiap malam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dell_dell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah besar menuju perubahan

Pagi itu, matahari bersinar terik, tapi tidak sepanas api yang membara di dada Adel. Peristiwa malam sebelumnya, saat melihat ibunya dipermalukan dan disuruh mencuci piring seperti pembantu upahan, menjadi titik balik yang tak terelakkan.

Adel tidak bisa lagi hanya mengandalkan beasiswa dan uang saku pas-pasan. Ia butuh uang yang banyak, dan ia butuh cepat. Ia harus bisa melindungi ibunya, ia harus bisa membawa ibunya keluar dari lingkungan neraka itu.

"Demi Ibu... Aku harus melakukan ini," bisiknya tegas.

 

Adel mulai mencari pekerjaan tambahan yang lebih menjanjikan. Berkat kecerdasannya dan kemampuan mengoperasikan komputer yang ia pelajari secara otodidak, akhirnya ia diterima bekerja paruh waktu sebagai Asisten Admin dan Data Entry di sebuah perusahaan swasta kecil namun lumayan bergengsi.

Jam kerjanya padat. Pagi hari kuliah sampai siang, sore langsung lanjut kerja sampai malam. Pulang seringkali sudah larut malam, badan pegal linu, otak lelah memikirkan tugas kuliah dan laporan kerja.

Teman-temannya sering heran dan khawatir.

"Del, lo gila apa sih? Kuliah berat, kerja pula. Nanti sakit lo gimana?" tanya Lina yang sesekali masih mengabari.

Adel hanya tersenyum lelah tapi mantap. "Aku harus cari modal, Lin. Aku harus bikin mereka menyesal. Aku harus buktikan bahwa tangan yang dulu mereka suruh cuci piring, suatu saat nanti akan bisa memberi rezeki yang jauh lebih besar dari yang mereka punya."

Di kantor, awalnya Adel juga diremehkan. Dia dianggap mahasiswa kampungan yang cuma butuh uang. Tapi lagi-lagi, ketelitian dan kerajinan Adel mengubah segalanya.

Ia bekerja cepat, rapi, jujur, dan tidak pernah mengeluh. Bahkan pekerjaan yang ditolak orang lain karena sulit, ia kerjakan dengan senang hati.

Bosnya, Pak Budi, seorang pengusaha yang tegas tapi adil, mulai melirik gadis ini.

"Adel... kamu anak yang luar biasa. Kerjamu rapi, pikiranmu juga cepat. Mulai bulan depan, gajimu aku naikkan. Dan aku percayakan proyek kecil-kecilan buat kamu tangani," kata Pak Budi suatu hari.

Mata Adel berbinar. "Benar Pak? Terima kasih banyak! Adel janji tidak akan mengecewakan!"

 

Meski Adel sudah mulai sibuk dan jarang di rumah, kejahatan keluarga dan tetangga tidak pernah surut. Justru karena jarang terlihat, fitnah mereka makin menjadi-jadi.

Suatu hari Minggu, saat Adel sedang pulang untuk menjenguk ibunya dan membawa uang belanja serta obat-obatan, Om Darmo dan Tante Sari sudah menunggu di depan rumah dengan wajah garang.

"Woy! Si Putri Duyung akhirnya muncul juga!" teriak Om Darmo. "Kamu kemana aja hah? Sombong banget sekarang ya! Kerjaan pulang malam, bawa tas mulu, sok sibuk jadi orang penting!"

Tante Sari langsung menyambar, "Iya nih! Denger-denger lo kerja di kantor ya? Pasti kerjanya cuma manis-manis sama bos kan?! Mana ada anak miskin bisa dapat kerja enak gitu! Pasti lo jual diri ya Del?! Hahaha!"

"Benar! Pantesan sekarang jarang di rumah, pasti lagi nemenin om-om kaya! Dasar wanita tidak tahu malu! Bikin malu keluarga saja!" cerca Om Darmo sambil tertawa mengejek.

Di samping mereka, Bu Ratna dan tetangga lain ikut bersorak mendukung.

"Iya tuh! Lihat tuh mukanya sekarang makin modis! Pasti duit haram yang dipake beli bedak! Pergi kalian dari sini! Lingkungan kita jadi panas karena ada wanita cabul kayak kalian!"

Hati Adel terasa perih, tapi kali ini ia tidak menangis. Ia tidak marah. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan datar, dingin, dan penuh wibawa.

"Saya kerja halal, Om, Tante, Bu. Saya kerja pakai otak dan keringat. Tidak seperti beberapa orang yang cuma bisa numpang hidup dan menghina orang lain," jawab Adel pelan tapi tegas.

"APA?! BERANI KAMU MENGATAKAN KAMI BEGINI?!" Om Darmo marah besar dan siap memukul.

Tapi kali ini Adel tidak mundur. Ia maju selangkah.

"Om jangan main tangan. Kalau Om berani sentuh saya satu jari saja, saya akan lapor polisi. Saya sudah bukan anak kecil yang bisa kalian peras dan kalian hina seenaknya."

"Uang yang saya bawa ini hasil keringat saya. Bukan buat kalian minta-minta seenaknya. Kalian mau hina, silakan. Mulut kalian, tanggung jawab kalian. Tapi ingat, Tuhan itu Maha Adil."

Adel masuk ke rumah, meninggalkan Om Darmo dan yang lainnya yang terpaku kaget. Mereka tidak menyangka gadis penakut yang dulu mereka injak-injak kini berani melawan dan memiliki aura yang begitu kuat.

 

Di dalam rumah, Ibu Adel melihat perubahan pada anaknya. Wajahnya memang terlihat lelah dan kurus karena kurang tidur, tapi matanya bersinar penuh semangat.

"Nak... Ibu lihat kamu berubah jadi lebih tegar ya. Maafkan Ibu ya, jadi beban buat kamu," ujar Ibu pelan.

Adel langsung memeluk ibunya erat-erat. "Jangan bilang gitu Bu. Ibu adalah alasan terbesar Adel bertahan. Tanpa Ibu, Adel bukan siapa-siapa."

"Lihat nih Bu..." Adel mengeluarkan buku tabungan dan menunjukkan saldonya. "Alhamdulillah Bu, tabungan Adel sudah mulai ada isinya. Sebentar lagi cukup buat bayar uang muka rumah kecil yang lebih layak, atau minimal buat pindah kontrakan yang lebih tenang."

"Adel janji Bu, tahun depan kita pindah. Kita tinggal di tempat yang bersih, tenang, dan tidak ada lagi yang berani menghina kita. Kita akan hidup bahagia Bu."

Ibu Adel menangis haru. "Ya Allah... Terima kasih telah mengirim malaikat kecil untuk Ibu. Adel... kamu adalah keajaiban Ibu."

Malam itu, Adel belajar sampai larut malam. Di satu sisi ia harus mempertahankan nilai kuliahnya agar beasiswa tidak putus, di sisi lain ia harus bekerja maksimal agar karirnya cepat naik.

Badannya lelah, tapi hatinya kuat.

Ia tahu, perjalanan ini masih panjang. Masih ada rintangan, masih ada orang-orang jahat yang ingin menjatuhkannya. Tapi Adel sudah siap.

Setiap caci maki yang mereka lontarkan, adalah bensin yang membuat mesin impiannya berputar semakin kencang.

"Teruslah mencaci aku... Teruslah meremehkan aku... Karena saat aku benar-benar bangkit nanti, kalian tidak akan mampu menatap mataku lagi."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!