NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:502
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31: [Volume 2] — Bayang-bayang Kota Mati

Pasir pantai yang basah terasa berat di sepatuku saat kami mulai meninggalkan garis pantai. Di belakang kami, sisa-sisa kapal cepat yang kami tumpangi perlahan mulai tenggelam ditelan pasang, menghapus jejak kedatangan kami dari pulau Nirvana.

"Zidan, pelan-pelan!" Kurumi berbisik sambil menahan pundakku.

Aku berhenti, mengatur napas. Efek samping mutasi tadi masih menyisakan rasa kebas di ujung jari-jariku. Aku menatap telapak tanganku; urat hitam itu sudah memudar, tapi aku bisa merasakan kekuatan laten yang siap meledak jika aku memaksanya lagi.

"Logika lingkungan: Kita butuh tempat tinggi untuk memetakan wilayah ini," kataku sambil menunjuk sebuah menara apartemen yang setengah hancur di pinggiran kota.

"Apartemen itu? Kelihatannya nggak aman, Dan. Banyak celah buat zombi nyergap kita," Kurumi mengerutkan kening, tangannya masih memegang erat P90.

"Justru karena banyak celah, kita punya banyak jalan keluar. Di tempat terbuka seperti ini, kita hanya jadi sasaran empuk mutan hutan tadi," balasku datar.

Kami mulai memasuki zona urban. Pemandangannya menyedihkan. Mobil-mobil berkarat bertumpuk di jalanan, kaca-kaca gedung pecah berserakan, dan bau busuk yang sangat familiar memenuhi udara. Bau kematian yang sudah mengendap lama.

Tiba-tiba, langkahku terhenti.

"Merunduk!" perintahku sambil menarik tangan Kurumi ke balik sebuah bus kota yang terbalik.

"Ada apa?!" Kurumi bertanya dengan nada panik yang diredam.

Aku tidak menjawab. Aku mengaktifkan indra pendengaranku yang sudah ditingkatkan. Di depan sana, di persimpangan jalan, ada sesuatu yang berbeda. Bukan suara langkah zombi yang menyeret kaki, tapi suara percakapan manusia.

"Cepat angkut barangnya! Sebelum gerombolan 'Screamer' datang!"

Aku mengintip sedikit dari balik kaca bus yang retak. Ada sekelompok orang—sekitar lima orang—menggunakan jaket taktis kumal dan masker gas. Mereka sedang menjarah sebuah minimarket dengan terburu-buru. Mereka punya senjata, tapi kelihatannya bukan tentara resmi.

"Penjarah?" Kurumi berbisik di samping telingaku.

"Bukan sekadar penjarah. Lihat cara mereka bergerak. Mereka punya formasi. Ini kelompok penyintas terorganisir," analisisku.

Logikaku mulai berputar. Bertemu manusia lain di dunia seperti ini bisa berarti dua hal: bantuan atau ancaman baru. Tapi melihat cara mereka membentak satu sama lain, aku tidak merasa mereka tipe yang suka berbagi makanan secara gratis.

"Kita abaikan mereka. Kita cari jalan memutar," kataku.

"Tapi Zidan, mereka punya radio! Mungkin mereka tahu di mana koloni manusia yang aman," Kurumi menatapku dengan mata yang penuh harapan. Sifat naif nya terkadang masih muncul.

"Atau mungkin mereka akan menembak kita saat melihat senapan bagus yang kamu pegang itu," balasku telak. "Logikanya, orang yang masih hidup di daratan utama selama ini pasti sudah kehilangan sisi kemanusiaannya. Kita tidak bisa ambil risiko."

Kami mencoba mundur perlahan, tapi sialnya, sebuah botol kaca di bawah kakiku pecah.

KRETEK!

Salah satu dari mereka yang memegang shotgun langsung menoleh ke arah bus. "Siapa di sana?! Keluar atau aku ledakkan bus ini!"

Aku menghela napas. Sial. Rencana sembunyi-sembunyi gagal total.

"Tetap di belakangku, Kurumi. Jangan lepas pengaman senjatamu," bisikku.

Aku berdiri perlahan, mengangkat tangan tinggi-tinggi. "Kami cuma pelancong yang tersesat. Kami tidak cari masalah."

Lima orang itu langsung mengarahkan moncong senjata mereka ke arahku. Pemimpin mereka, seorang pria besar dengan bekas luka di mata kirinya, berjalan mendekat. Dia menatapku dari atas sampai bawah, lalu matanya tertuju pada urat hitam samar di leherku.

"Pelancong? Dengan wajah pucat dan tato aneh begitu?" Dia tertawa sinis. "Kamu kelihatan lebih mirip eksperimen lab yang kabur daripada manusia, Nak."

Gila. Dia tahu soal eksperimen.

"Apa mau kalian?" tanyaku, suaraku kembali menjadi dingin dan berat.

"Simpel. Serahkan senjatamu, serahkan gadis di belakangmu, dan mungkin aku akan membiarkanmu mati dengan cepat sebelum virus itu memakan otakmu sepenuhnya."

Aku melirik Kurumi. Dia tampak ketakutan, tapi jarinya sudah siap di pelatuk. Aku kembali menatap pria itu.

"Logika sistem: Negosiasi gagal," gumamku pelan.

Dalam sekejap, pandanganku berubah menjadi thermal. Aku bisa melihat aliran darah di leher pria itu. Ini bukan lagi soal zombi. Ini soal siapa yang lebih predator di dunia yang sudah hancur ini.

Catatan Penulis:

Chapter 31 membawa konflik baru: Manusia vs Manusia. Zidan menyadari bahwa daratan utama bukan cuma soal zombi, tapi juga tentang faksi-faksi penyintas yang kejam. Akankah Zidan menggunakan kekuatan "Predator"-nya lagi untuk membantai mereka?

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!