Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Suara detak jantung dari monitor di ruang ICU menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi keheningan, sebelum akhirnya kelopak mata Liana bergerak perlahan.
Rasa sakit yang menusuk di kaki kanannya menyambut kesadarannya, namun ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan: rasa hampa yang dingin.
Liana mencoba menggerakkan jari-jari kakinya. Sekali, dua kali, namun tidak ada respons.
Ia mencoba mengangkat lututnya, tetapi bagian bawah tubuhnya terasa seolah-olah telah berubah menjadi batu yang tertanam di tempat tidur.
"Adrian... Erwin..." suara Liana parau, matanya mulai membelalak panik.
"Kakiku, kenapa kakiku tidak bisa digerakkan?"
Adrian dan Erwin segera menghambur ke sisi tempat tidur, wajah mereka pucat pasi melihat ketakutan yang nyata di mata Liana.
"Li, tenang dulu, kamu baru saja selesai operasi besar," Erwin mencoba menenangkan sambil memegang tangan Liana yang gemetar hebat.
"Tidak! Kakiku, Adrian! Erwin! Aku tidak merasakannya!" tangis Liana pecah.
Isak tangis yang semula pelan berubah menjadi teriakan histeris yang memilukan.
"Aku harus menari! Karierku baru saja dimulai! Kenapa aku tidak bisa merasakan kakiku?!"
Liana memukul-mukul paha kanannya dengan tangan kirinya yang bebas, mencoba memancing rasa sakit atau apa pun agar ia tahu kakinya masih di sana.
Adrian tidak sanggup melihat pemandangan itu. Dengan air mata yang membasahi pipinya, ia berlutut di lantai, tepat di samping tempat tidur Liana, menggenggam tangan wanita itu dengan erat.
"Li, dengarkan aku, kumohon, lihat aku," bisik Adrian dengan suara yang gemetar karena haru dan duka yang mendalam.
"Kita akan melakukan apa pun. Terapi, pengobatan terbaik di dunia, aku akan menemanimu setiap detik. Kakimu akan sembuh, aku berjanji."
Liana menggelengkan kepala, air matanya membanjiri bantal.
"Bagaimana bisa? Aku cacat, Adrian, aku tidak berguna lagi sebagai penari..."
Adrian menarik napas panjang, ia mencium punggung tangan Liana, lalu menatap matanya dengan tatapan yang sangat dalam dan tulus.
"Liana, ada alasan lain mengapa kamu harus bertahan. Ada alasan mengapa kamu harus kuat untuk sembuh."
Liana terdiam sejenak, isak tangisnya tertahan oleh nada bicara Adrian yang mendadak berubah sangat serius.
"Apa maksudmu?"
Adrian mengusap perut Liana dengan sangat lembut melalui selimut rumah sakit.
"Dokter bilang, kamu tidak sendirian di sini. Di dalam dirimu, ada kehidupan baru, Li. Kamu sedang hamil."
Seketika, dunia seolah berhenti berputar bagi Liana.
Tangis histerisnya lenyap, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan. Ia menatap perutnya, lalu menatap Adrian dengan pandangan kosong yang perlahan berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa.
"Hamil?" bisik Liana lirih. Suaranya hampir tak terdengar, seolah kata itu adalah sesuatu yang mustahil. "Anak... anak kita?"
Adrian mengangguk pelan, air matanya jatuh ke atas selimut.
"Iya. Dia kuat, Li. Dia bertahan meski besi itu menghantammu. Dia ingin kamu tetap berjuang."
Liana memejamkan matanya rapat-rapat, tangannya perlahan menyentuh perutnya sendiri.
Di tengah kehancuran mimpinya sebagai penari, sebuah anugerah yang tak pernah ia duga hadir, memaksanya untuk memilih antara meratapi kakinya yang lumpuh atau bangkit demi nyawa kecil yang kini bergantung sepenuhnya padanya.
Suasana di dalam ruang ICU yang dingin itu mendadak membeku.
Kata "hamil" yang seharusnya menjadi pelipur lara, justru menjadi hantaman terakhir yang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan jiwa Liana.
Matanya yang sembab menatap langit-langit putih dengan pandangan kosong, seolah nyawanya telah terbang meninggalkan raga yang kini terasa asing baginya.
Liana menarik tangannya dari genggaman Adrian dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Ia menoleh, menatap Adrian dengan sorot mata yang kering, tanpa harapan, dan penuh keputusasaan yang dalam.
"Aku mau gugurkan kandungan ini, Adrian," bisik Liana.
Adrian tersentak seolah baru saja ditampar dengan keras.
Ia terpaku di posisinya yang masih berlutut, matanya membelalak tidak percaya.
"Li, apa yang kamu katakan? Ini anak kita. Dia bertahan demi kamu..."
"Anak siapa, Adrian? Anak dari seorang wanita cacat yang bahkan tidak bisa merasakan kakinya sendiri?" Liana mulai terisak lagi, namun kali ini isaknya penuh dengan kemarahan pada takdir.
"Aku tidak bisa jalan dan aku tidak mau anak ini lahir hanya untuk melihat ibunya yang malang, yang mimpinya hancur berkeping-keping di atas panggung!"
Erwin yang berdiri di seberang tempat tidur langsung mendekat, wajahnya tampak sangat terpukul.
"Liana, istighfar, Li. Jangan bicara seperti itu. Ada aku, ada kita semua yang akan menjagamu."
"Menjagaku sampai kapan, Win?!" teriak Liana histeris, air matanya kembali membanjiri bantal.
"Aku seorang penari! Hidupku ada di kakiku! Sekarang aku lumpuh, dan kamu ingin aku membesarkan nyawa lain di saat aku sendiri merasa sudah mati? Aku tidak sanggup, Adrian! Aku tidak mau bayi ini menanggung beban penderitaanku!"
Adrian bangkit, ia mencoba meraih bahu Liana agar wanita itu tenang, namun Liana terus memberontak hingga kabel monitor di tangannya nyaris terlepas.
"Lepaskan aku! Biarkan aku sendiri! Aku tidak mau bayi ini!" raung Liana di tengah tangisnya yang pecah.
"Aku kehilangan segalanya malam ini, Adrian. Jangan paksa aku untuk kehilangan kewarasanku juga dengan menjaga janin ini!"
Adrian memeluk tubuh Liana yang bergetar hebat, mengabaikan rontaan dan pukulan lemah Liana pada dadanya.
Ia membenamkan wajahnya di leher Liana, menangis sejadi-jadinya bersama wanita yang sangat ia cintai itu.
"Maafkan aku, Liana. Maafkan aku yang sudah menghancurkanmu," isak Adrian parau.
"Tapi kumohon, jangan hukum anak ini atas kesalahanku. Berikan aku kesempatan untuk menjadi kakimu. Aku akan menjadi penyanggamu seumur hidupku, asalkan kamu tetap bertahan bersama bayi kita."
Erwin hanya bisa mematung di sudut ruangan, menyaksikan pemandangan memilukan itu dengan hati yang hancur.
Ia tahu, perjuangan Liana untuk menerima kenyataan baru ini akan jauh lebih berat daripada operasi mana pun yang pernah ada.
Di dalam ruangan itu, masa depan yang tadinya cerah kini tertutup kabut hitam yang sangat pekat.
Lampu neon lorong rumah sakit yang dingin dan kaku seolah menghangat ketika langkah terburu-buru terdengar mendekat.
Pintu lift terbuka, menampakkan sosok wanita paruh baya dengan wajah cemas yang luar biasa.
Mama Liana, yang baru saja tiba dari Jogja setelah dijemput paksa oleh asisten pribadi Adrian, berlari kecil dengan sisa tenaganya menuju ruang perawatan.
Atas perintah tegas Adrian, Liana tidak lagi berada di ruang ICU yang menyesakkan.
Puluhan perawat dan petugas keamanan baru saja selesai memindahkan Liana ke ruang perawatan VVIP yang lebih mirip kamar hotel mewah—lengkap dengan sofa empuk, jendela besar yang menghadap langit Jakarta, dan fasilitas medis tercanggih.
"Liana, anakku..." Mama langsung menghambur ke sisi tempat tidur, memeluk kepala Liana yang masih terbalut perban tipis.
Liana yang tadinya menatap kosong ke arah jendela, seketika pecah pertahanannya.
Ia menangis tersedu-sedu di pelukan ibunya, menyembunyikan wajahnya yang pucat.
"Mama, kakiku, Ma. Liana tidak bisa menari lagi. Liana lumpuh..."
Mama mengusap punggung Liana dengan lembut, air matanya sendiri jatuh menetes, namun suaranya tetap tegar.
"Ssh... diam, Nak. Jangan bicara begitu. Kamu selamat saja Mama sudah bersyukur luar biasa. Masalah kaki, Gusti Allah tidak tidur. Kita cari jalan bareng-bareng."
Adrian berdiri di sudut ruangan, memperhatikan pemandangan memilukan itu dengan rasa bersalah yang menggunung. Ia melangkah maju, lalu berlutut di sisi tempat tidur, menatap Mama dan Liana bergantian.
"Ma, Liana. Aku tidak akan membiarkan Liana seperti ini," ucap Adrian dengan nada bicara yang sangat tenang namun penuh tekad.
"Aku sudah menghubungi spesialis saraf terbaik di Seoul. Minggu depan, setelah kondisi fisiknya stabil, aku akan membawa Liana ke Korea Selatan. Di sana ada pusat rehabilitasi robotik yang bisa membantu saraf kaki Liana kembali pulih. Aku akan menanggung semuanya."
Liana terdiam, matanya yang sembab menatap Adrian dengan ragu.
"Korea? Itu jauh sekali, Adrian. Dan biayanya..."
"Jangan pikirkan biaya. Pikirkan saja kesembuhanmu dan bayi kita," potong Adrian lembut, tangannya secara refleks mengusap jemari Liana.
Tiba-tiba, suara deheman keras terdengar dari arah pintu.
Erwin, yang sedari tadi bersandar di tembok sambil bersedekap, melangkah masuk ke tengah ruangan.
Wajahnya yang kaku kini menampakkan seringai tipis yang menantang.
"Aku ikut," ucap Erwin singkat dan padat.
Adrian menoleh dengan dahi berkerut. "Maksudmu? Ini perjalanan medis, Erwin. Bukan tur wisata."
Erwin mengangkat bahu dengan santai, meski matanya tetap waspada.
"Aku managernya. Dan lebih penting lagi, aku 'pagarnya' Liana. Kamu pikir aku akan membiarkanmu membawanya ke negeri orang sendirian? Tidak akan. Aku ikut ke Korea. Aku yang akan menggendongnya kalau dia capek, dan aku yang akan memastikan kamu tidak macam-macam di sana."
Mendengar perdebatan kecil yang mendadak mencairkan suasana tegang itu, Liana tiba-tiba mengeluarkan suara tawa kecil yang serak. Itu adalah tawa pertamanya sejak kecelakaan maut itu terjadi.
"Kalian ini..." bisik Liana sambil menyeka air matanya, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.
"Lagi di rumah sakit pun masih saja mau ribut."
Melihat Liana tersenyum, meski hanya sebentar, Adrian dan Erwin terdiam.
Mereka saling lirik dengan penuh gengsi, namun dalam hati, keduanya merasa lega.
Perjalanan panjang menuju kesembuhan—dan penebusan dosa—baru saja dimulai.
ditunggu crazy upnya