Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angin yang Belajar Tenang
Pagi datang dengan cahaya ilahi. Tidak seperti biasanya—hari itu terasa berbeda.
Di halaman istana, Lein berdiri dengan tangan terlipat, menatap seseorang di depannya.
“Kamu serius?”
Reyd menghela napas panjang.
“Tidak.”
Jawabannya cepat.
Lein mengangkat alis.
“Lalu kenapa kamu masih di sini?”
Reyd memalingkan wajah. Ekspresinya sedikit kesal.
“Karena kamu tidak berhenti bicara sejak tadi.”
Lein tersenyum tipis.
“Berarti berhasil, dong?”
Reyd mendecak pelan. Namun tidak pergi.
Sunyi sejenak. Angin pagi berhembus ringan. Membawa suara kehidupan dari luar istana. Rakyat mulai beraktivitas. Pasar mulai ramai.
Untuk beberapa alasan… Reyd menatap ke arah itu.
“Aduh, mereka masih ingat, gak, ya?”
Ucapnya pelan.
Reyd melanjutkan.
“Aku dulu bukan pangeran yang baik, tahu.”
Nada suaranya datar. Namun jujur.
“Aku sering membuat masalah. Mengambil makanan tanpa bayar. Lalu…”
Ia berhenti sejenak.
“Menghancurkan banyak tempat.”
Lein menghela napas pelan.
“Ya, aku sudah mendengar ceritamu berkali-kali.”
Reyd melirik tajam.
“Kamu tidak perlu mengiyakannya.”
Lein hanya tersenyum kecil.
“Justru karena itu juga.”
Ia menatap Reyd.
“Ini kesempatanmu tobat.”
Sunyi.
Reyd menatap ke arah kota lagi. Seolah menimbang sesuatu di dalam dirinya.
“Arrgh, sungguh menyebalkan sekali.”
Gumamnya.
Tetapi… kali ini ia melangkah maju. Melewati Lein. Menuju gerbang istana.
Lein tidak menahannya. Hanya memperhatikan. Dengan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan.
---
Di luar istana, kehidupan berjalan seperti biasa. Orang-orang berlalu lalang. Pedagang berteriak menawarkan dagangan. Anak-anak berlarian di jalan.
Di tengah semua itu, Reyd berjalan.
Awalnya, beberapa orang menatapnya. Seolah mengenali tampang Pangeran bodoh di masa lampau.
Reyd menghela napas pelan.
“Ya, ini dia.”
Namun… tidak ada teriakan marah. Tidak ada protes. Tidak ada ketakutan. Hanya tatapan singkat, lalu mereka kembali ke aktivitas masing-masing.
Reyd sedikit mengernyit.
“Hah?”
Seorang pedagang tua bahkan mendekat.
“Pangeran Kedua, apa Anda ingin membeli sesuatu?”
Nada suaranya biasa saja. Tidak ada nada kesal. Tidak ada sindiran.
Reyd terdiam sejenak. Lalu merogoh kantongnya.
Untuk pertama kalinya… ia membayar.
“Yang itu, Pak Tua.”
Pedagang itu mengangguk dan mengambilnya.
“Baiklah.”
Waktu berlalu. Reyd mulai membantu. Hal-hal kecil. Membantu seorang wanita tua membawa barang. Memperbaiki gerobak yang rusak. Mengangkat beban berat untuk seorang pekerja.
Tidak ada yang spektakuler. Namun… cukup.
Di sudut jalan, seorang anak kecil menangis. Mainannya rusak.
Reyd berhenti. Lalu… ia berjongkok.
“Kenapa menangis?”
Anak itu terisak.
“Mananku wusak.”
Reyd mengambil mainan itu. Lalu memperbaikinya dengan sederhana. Tidak sempurna. Namun bisa digunakan kembali.
Ia menyerahkannya.
“Ini, ambillah.”
Anak itu terdiam. Lalu, tersenyum lebar.
“Tewima kahih, ya. Jawng banget bangsawan baik sama rakyat jelata.”
Reyd terdiam. Menatap ekspresi itu. Seolah sesuatu di dalam dirinya…
Kerja bagus.
Ia berdiri. Sebelum pergi, ia meletakkan beberapa koin di tangan anak itu.
“Beli yang baru nanti. Ingat, jangan dikorupsi koinnya.”
Anak itu mengangguk cepat. Matanya berbinar ceria.
---
Sore mulai turun.
Reyd berdiri di ujung jalan. Menatap kota.
Tidak ada bisikan masa lalu yang mengejarnya.
Ia menghela napas panjang.
“Sepertinya…”
Ia menatap tangannya sendiri.
“Mereka sudah melupakannya.”
Mungkin memaafkan.
Angin sore berhembus tenang. Tidak liar. Tidak kasar. Hanya ketenangan.
Seperti dirinya sekarang.
---
Langkah Reyd akhirnya berhenti kembali di halaman istana. Lein sudah menunggunya.
Tanpa banyak bicara.
“Kamu lama sekali.”
Ucap Lein singkat.
Reyd mengangkat bahu.
“Banyak yang harus diperbaiki tadi.”
Lein menatapnya beberapa detik. Lalu, sedikit mengangguk. Seolah mengerti, tanpa perlu penjelasan lebih.
Di kejauhan, sepasang mata mengamati.
Iselle.
Ia berdiri di balik pilar batu, menjaga jarak. Tatapannya tidak lepas dari Reyd. Mengamati setiap gerak, setiap ekspresi.
“Sudah dekat.”
Bisiknya pelan.
Namun langkahnya terhenti. Ia tidak bisa mendekat. Di tempat seperti ini… satu langkah salah saja bisa menghancurkan segalanya.
Iselle sedikit mengernyit.
“Ini menyulitkanku.”
Namun sebelum ia berpikir lebih jauh…
DUM!
Suara berat menggema. Langkah kaki keras mendekat. Tanah seakan bergetar ringan.
Seseorang datang membawa palu besar di pundaknya. Kegiant.
“Oi!”
Suaranya lantang, tanpa ragu.
Di belakangnya, Nessa berjalan dengan wajah enggan.
“Kau tidak perlu ikut.”
Keluhnya pelan.
Kegiant hanya tertawa.
“Tidak mungkin aku membiarkanmu pergi sendirian.”
Nessa memalingkan wajah.
“Itu bukan urusanmu.”
Langkahnya tetap mengikuti.
Di kejauhan, Iselle langsung mundur sedikit. Tatapannya berubah.
“Orang itu…”
Aura Kegiant terasa berbeda. Kasar. Besar. Berurat. Namun tajam. Seseorang yang tidak bisa diremehkan.
Iselle memilih tetap di bayangan. Tidak mendekat ke sana.
Di halaman, Nessa akhirnya melihat Reyd. Matanya sedikit berbinar.
“Pangeran Reyd.”
Ia melangkah maju.
Namun… tap.
Kegiant menahan pundaknya.
“Hei, berhenti.”
Nessa menatapnya kesal.
“Apa lagi sekarang?”
Kegiant menyeringai.
“Tidak lihat situasinya, Dasar gadis gatal.”
Ia menunjuk ke arah Reyd yang berdiri bersama Lein.
“Kalau kau ganggu sekarang…”
Kegiant menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya.
“Aku yang akan menghentikanmu.”
Nessa menyipitkan mata.
“Sejak kapan kau peduli dengan mereka?”
Kegiant tertawa pelan.
“Sejak aku tahu kamu keras kepala.”
Ia melirik Reyd lagi.
“Dan juga… aku tidak akan membiarkanmu merusak sesuatu yang sudah jelas.”
Nessa terdiam sejenak.
“Apa maksudmu?”
Kegiant menjawab santai.
“Pangeran bodoh dan Nona Lein.”
Ia mengangkat bahu.
“Mereka akan menikah beberapa bulan lagi.”
Sunyi.
Kalimat itu menggantung.
Nessa membeku. Matanya sedikit melebar. Namun cepat kembali seperti semula.
“Hah?”
Ia mengalihkan pandangan.
“Tidak lucu candaanmu.”
Kegiant tersenyum tipis.
“Siapa bilang aku bercanda?”
Nessa tidak menjawab. Namun langkahnya berhenti. Tidak maju lagi.
Di kejauhan, Iselle menyaksikan semuanya.
“Menikah?”
Bisiknya sangat pelan.
Senyumnya perlahan memudar. Bukan karena cemburu, melainkan karena… perhitungan.
“Ini tidak ada dalam rencana.”
Ia menunduk sedikit. Berpikir.
Sementara itu—Kegiant masih menggoda Nessa tanpa henti. Mendorong suasana menjadi sedikit kacau.
Tanpa disadari, itu memberi celah.
Namun Iselle tidak memanfaatkannya.
Ia mundur perlahan. Menjauh dari pilar. Menghilang ke dalam bayangan lorong.
“Pendekatan langsung tidak akan berhasil.”
Langkahnya ringan. Namun pikirannya bergerak cepat.
“Kalau begitu…”
Ia menatap ke depan. Matanya kembali dingin.
“Aku akan mencari cara lain.”
Nama itu kembali muncul di benaknya.
Seyron Acrivers.
Bayangan ancaman yang tidak terlihat. Jika ia gagal, konsekuensinya jelas.
Iselle mengepalkan tangan pelan.
“Tidak ada pilihan lagi.”
Langkahnya berhenti sejenak. Lalu ia melanjutkan.
“Reyd…”
Bisiknya pelan.
“Kamu hanya tinggal menunggu waktu.”
Di halaman istana, angin kembali berhembus.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?