Igrisia Devalona Bharata terlahir dari darah campuran dewa dan peri, hingga memiliki kekuatan dasyat dan di akui sebagai dewi alam. Namun kekuatan itu membuat para dewa merasa takut, hingga membuatnya jatuh ke dunia manusia dan kehilangan segalanya. Tekad dendam yang membara membuatnya bangkit mencari pecahan kristal jiwa, yang kini dimiliki oleh para pangeran di tiap kerajaan. Perjuangan panjang membuatnya berhasil mencapai tujuan. Namun perasaan yang terjalin dan kontak fisik yang terus terjadi membuatnya bimbang, haruskah dia membalas dendam atau tinggal di bumi dan hidup bahagia bersama pangeran yang dicintainya. Persaingan cinta pun tak terelakkan membuat igris harus mengambil keputusan di saat yang paling krusial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari penobatan
Apa yang membuat mu bisa berfikir begitu?" Tanya oden dengan nada keras.
"Setelah melihat keajaiban tadi, ayah pasti berfikir kekuatan Igris sangat penting di kerajaan dewa. Pikiranmu terlalu sempit," jelas oden.
"Sudahlah aku malas berdebat denganmu. Selama di pelarian pun kau selalu saja cemas dan gelisah yang tak perlu,"
Oden pun berlalu pergi meninggalkan ruang makan. Oden masuk ke ruangan untuk menyembuhkan lukanya tadi. Sementara Difty dan Igris hanya saling pandang.
"Ibu, apa ibu tak percaya pada kakek?" Tanya nya.
"Ya ..." Difty mengangguk pelan lalu duduk kembali di kursi dekat putrinya.
"Raja Zermit terkenal mempunyai siasat yang licik. Jika hatinya tak puas dia akan melakukan segala cara untuk memusnahkan orang yang membuatnya kecewa."
"Lalu, apa kakek akan membunuh kita?"
"Entahlah. Firasatku mengatakan kalau ini semua adalah jebakan. Ibu tidak bisa melihat masa depan, makanya ibu gelisah. Tapi ayahmu tak ingin mempercayainya,"
Difty menangis lirih. Ia menyeka air mata nya pelan sambil memakan makanan yang ada di atas meja. Igris yang melihat wajah ibunya bersedih ikut merasakan kesedihan itu. Namun Igrisia tak tau harus berkata apa.
Sementara di sisi lain, rapat rahasia yang di adakan di istana menjadi awal dari bencana.
"Ayah, kenapa kau melakukan ini?" Tanya Apolon sang dewa langit kepada Zarmit.
Apolon adalah kakak pertama dari Oden. Zarmit mempunyai empat anak laki-laki, dari ibu yang berbeda. Yang pertama adalah Apolon, memiliki kekuatan angin yang menguasi langit. Di sebut juga dewa langit. Dia terlahir dari dewi bulan.
Yang kedua adalah Adam, dewa pengendali kematian terlahir dari dewi alam bawah yang kejam.
Yang ketiga Napoleon, terlahir dari ibu yang sama seperti Oden. Ibunya seorang dewi bintang. Namun hanya Oden yang mewarisi darah Zermit dan memiliki kekuatan yang sama yaitu dewa matahari. Tentu saja Apolon tak puas dengan keputusan Zarmit. Sebagai kakak pertama dan di angkat sebagai dewa agung langit dia merasa keputusan itu sangat merugikan nya.
"Bahkan ayah mengangkat Igris sebagai pewaris sah, apa kami segitu tidak bergunanya menjadi dewa?" Tambah nya lagi.
"Ayah bahkan berjanji memberikan nya kedudukan yang lebih tinggi dari dewa yang lain."
"Benar raja dewa, kau membuat keputusan yang akan mengancam posisi mu. Para panatua pasti tidak akan setuju." Ucap salah seorang dewan dewa di sana menyela.
Hahahahhaha... Zarmit tertawa lepas sambil mengelus jenggot putih nya yang kian memanjang hingga ke dada. Raja dewa itu lalu berdiri menatap luar jendela. Tawanya masih mengiang memenuhi ruangan.
"Ayah, apa yang membuat mu bahagia?" Tanya Adam bingung.
"Lihat lah burung itu, jika dia lepas dan terbang di langit bebas maka akan mematuk semua buah-buahan. Dia akan semakin bebas hingga tak ada lagi yang bisa menghentikan nya," ujar Zermit sambil mengepalkan tangan.
Sang raja dewa berbalik badan melipat kedua tangan nya di dada. Sementara dewan dewa dan Apolon masih bingung. Mereka saling menoleh.
"Kekuatan itu, memang sangat dasyat. Tapi jika di biarkan dia akan mematuk kita nantinya. Dia bisa mengendalikan roh kematian, bisa mengendalikan roh spiritual, bahkan bisa berubah wujud menjadi hewan suci."
Aaaarrrhhhgggg teriaknya geram. suasana menjadi hening sesaat. Zermit melangkah dan menepuk pundak Apolon lalu memberikan kode bibir yang menyungging licik.
"Ayah, apa kau... ?" Tanya Apolon ragu tak berani melanjutkan. Apolon paham benar apa yang di maksud ayahnya si raja dewa.
"Atur acara penobatan besok dewan dewa. Buat acara besok meriah dan megah. Undang bangsa peri juga. Akan ada hal menarik yang patut kita tonton," ucap raja Zarmit penuh siasat.
Dewan dewa mengangguk paham. Apolon tertawa tipis. Ia sangat memahami siasat yang di rencanakan ayahnya. Mereka semua tertawa tipis dan saling pandang.
Keesokan harinya.
Di depan cermin besar para dayang peri menata rambut perak Igrisia dan memakaikannya pakaian. Dia di dandani secantik mungkin. Bak bidadari dari firdaus, penampilan Igris kian memukau. Pakaian emas kemerahan yang menutupi tiap lekuk tubuhnya sangat cocok di kenakan. Dadanya terbuka sexi, hingga setiap kristal delapan jiwa yang terukir di atas tulang dadanya nampak jelas berjejer rapi. Tiap kristal itu melambangkan kekuatan alam dan roh spiritual yang ia kuasai. Tiap kristal memancarkan cahaya berbeda tergantung unsur alamnya.
Rambut peraknya menjuntai panjang. Dengan hiasan mahkota matahari di atas kepalanya, dia melangkah pelan keluar dari kamar rias. Belahan gaun slim sepanjang pahanya membuat tampilan nya menjadi gadis dewasa. Siapa sangka dia baru berusia lima belas tahun saat ini.
Igris berjalan di atas karpet merah sendirian, ia hanya di temani dua orang dayang, dengan syal bulu-bulu yang menyelempang di leher nya dia menjadi pusat perhatian semua tamu yang hadir.
"Mana ibu?" Tanya Igris kepada pelayan di sebelah nya.
"Masih bersiap-siap nona,"
"Lalu ayah?" Tanya nya lagi.
"Emm... anu ... dewa Oden sedang mengambil pusaka dewa yang akan menjadi simbol penobatan," kata pelayan itu gugup.
Igris mengerucutkan mata dan bibirnya, ia sedikit kesal, acara sepenting ini orangtuanya malah terlambat. Suasana meriah di ruang istana hari itu perlahan terasa. Igris duduk di sebelah kakeknya, raja Zermit. Ia melihat kesana kemari tapi masih tak ada tanda-tanda kedua orangtua nya datang. Dewan dewa yang hadir pun hanya beberapa orang. Saudara-saudara Oden hanya Adam yang hadir.
"Kakek, kenapa paman Apolon tidak hadir?"
"Ouh Apolon,? Dia tiba-tiba saja pergi melihat alam spiritual, katanya retakan disana tambah besar,"
"Benarkah?" Kata Igris heran. "Terakhir kami meninggalkan alam spiritual retakan nya sudah ku perbaiki," timpal igris.
"Tenang lah, sebentar lagi Apolon akan kembali bersama ayahmu," jawab Zarmit meyakinkan.
"Mulai acaranya!!" Perintah Zarmit kepada dewan dewa.
Bangsa peri dari kayangan mulai memasuki ruang istana. Mereka memainkan musik seperti kecapi, seruling, dan gitar besar. Sebagian dari mereka menari, melayang-layang di udara rendah dengan di diiringi taburan kelopak bunga merah memenuhi ruangan istana.
Perasaan Igris mulai gelisah, dia mengingat ucapan ibunya kemarin. Dalam hatinya cemas, kenapa ayah dan ibunya belum juga datang. Padahal acara penobatan akan di adakan sebentar lagi. Seketika dia ingin bangkit dari duduknya hendak mencari orangtua nya. Tapi tangannya di tahan oleh Zermit. Tatapan tajam memancar.
"Jangan beranjak dari sini, sebentar lagi akan ada ritual perjamuan."
"Baik," ia langsung patuh dan menunduk.
"Tenang lah, ayah ibumu akan datang sebentar lagi." Sambung Zemit.
Igris mengangguk. Setelah tarian dan nyanyian selesai. Rombongan peri kembali ke barisan tempat duduk di samping para dewa. Lalu tak lama datang seorang peri dengan aura putih memancar memasuki istana. Peri itu bernama Zanji. Dia adalah peri tertua dan terkuat di kayangan. Zanji menjadi kepala peri di negeri kayangan. Walaupun wajah dan tubuhnya mulai menua, tapi tak bisa menutupi kecantikan sang peri. Dia datang membawa hadiah yang banyak untuk Igris.
"Dewi Igrisia, ini adalah hadiah penobatan kami dari bangsa peri. Ini tidaklah seberapa, hanya berupa perhiasan dan senjata di alam peri. Karena ibumu telah berjasa besar dengan melahirkan anak yang luar biasa. Dewi Igris telah menjadi keturunan pertama bangsa peri yang memiliki darah emas dari dewa matahari. Kami sangat mengharapkan kelak di bawah kepemimpinan mu, bangsa peri lebih di pandang setara dan tak hanya jadi pelayan bagi bangsa dewa. Terimalah hadiah kami," ujar nya sembari menunjukan tangan kepada para pelayan agar membawa hadiah itu masuk ke ruang penyimpanan.
"Tunggu!" Kata Igris berdiri. Dia melangkah cepat mendatangi hadiah itu. Dia mengambil kipas yang terbuat dari bulu burung merak di atas nampan.
"Apa ini? Cantik sekali. Aku ingin menyimpan ini," ucap nya sambil membolak balik kipas itu.
"Dewi, itu adalah kipas merak lambang kehormatan alam peri. Kipas ini memiliki kekuatan angin yang dasyat. Sekali saja kau mengibaskan nya lautan bisa terbelah, daratan bisa terbagi dua. Simpan ini sebagai senjata rahasia dari bangsa peri," jawab Zanji menjelaskan.
"Ouh pantas saja aku bisa berubah wujud menjadi merak kemarin, ternyata merak itu hewan suci para peri," ucap nya dalam hati.
Igris kembali duduk di dekat kakeknya. Lalu menyimpan kipas itu di ruang hampa. Kipas bulu itu menjadi cahaya yang tersimpan di telapak tangan nya. Sementara Zermit menahan geram melihat cucunya dan melirik sinis.
Tak lama kemudian rombongan dewa masuk memulai acara penobatan. Cangkir - cangkir yang terbuat dari emas penuh berisi minuman. Rombongan dewa itu memberi hormat dan membungkuk. Lalu mengajak minum air yang ada di gelas tersebut.
Tiba-tiba Apolon datang dan langsung memberikan segelas air itu kepada Igris dan juga Zermit secara pribadi.
"Selamat dewi yang agung Igrisia Devalona Bharata, mulai hari ini kau resmi di nobatkan sebagai pewaris sah kerajaan dewa. "
Semua dewa berdiri dan menunggu Igris meminum air di gelas itu. Wajahnya manis menatap air di dalam gelas. Ia pun berdiri lalu meneguk habis minuman nya. Di ikuti Zermit, Apolon dan semua dewan dewa meneguk air mereka.
"Paman, apa kau melihat ayahku? Dari tadi ayah dan ibu belum juga datang,"
"Mereka sedang dalam perjalanan kemari,"
"Tapi perjamuan sudah di mulai, seharusnya yang menyerahkan senjata pusaka dewa adalah ayah," ucap Igris gusar.
Saat ini Igris benar-benar polos, dia tidak tau kalau ibunya sedang bertarung mati matian di luar sana. Ibunya bertarung melawan Napoleon kakak dari Oden dan di penjara oleh Dewa air. Difty disiksa dan di potong sayap nya. Sementara Oden tak tau nasibnya. Keberadaan nya lenyap seketika.
Tak lama acara pun berlanjut. Kemudian saat yang di tunggu telah tiba. Zermit meletakkan mahkota ke agungan kerajaan dewanya di atas kepala Igris. Senjata dewa berupa cambuk emas dan anak panah emas adalah benda pusaka dewa milik Zermit. Ia memberikan itu secara langsung kepada cucunya.
Tangan Igrisia menegandah meneripa nampan emas berisi harta. Namun hanya singgah sebentar saja di atas tangannya nampan itu langsung di ambil kembali oleh Apolon.
"Ini akan di simpan dulu dewi Igris, sampai ayah mu tiba baru dia sendiri yang akan memberikan pusaka ini padamu,"
"Baik paman,"Ia menurut.
Setelah semua acara penobatan selesai, Apolon yang masih berdiri di samping Igris memanggil para dayang.
"Dewi yang agung, aku ada hadiah untuk mu," ucap Apolon lembut.
"Dayang, bawa kemari kotak hartanya!" Perintah Apolon dengan senyum lebarnya.
Igris dengan penasaran menantikan hadiah dari paman nya itu.
Perlahan dayang itu membawa kotak harta pusaka yang misterius. Kotaknya berkilau cahaya biru. Igris semakin menantikan hadiah apa yang ada di dalamnya. Rasa penasaran nya kian bertambah seiring kotak itu mendekat.
Setelah dayang itu mendekat. Igris menatap ragu kotak itu. Perasaan nya tiba-tiba gusar tak tentu.
"Bukalah!" Perintah Zermit.
Dengan tangan lembut Igris mulai membuka kunci kotak itu, dan sontak saja ketika kotak nya terbuka. Igrisia langsung berteriak kencang dan langsung tersungkur.
Aaaaaarrrhhhgggg .... ayaaaaaghh .... tidaaaaaakkkk