NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa yang Tak Seharusnya Ada

Hari demi hari silih berganti, dan rumah besar itu perlahan kembali menemukan ritmenya. Kondisi rumah memang tidak sepenuhnya kembali normal—penjagaan tetap diperketat, dengan wajah-wajah asing yang masih mondar-mandir di titik-titik tertentu—namun ketegangan yang sempat menggantung kini terasa mulai mereda. Kini, Liam sudah tidak lagi selalu menghabiskan hari-harinya di dalam kamar tidur atau di atas kursi roda. Beberapa kali, ia mulai terlihat belajar untuk berjalan sendiri, meski langkahnya tampak belum sepenuhnya ringan. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat dan bahunya kerap terlihat tegang, tetapi setidaknya kondisinya jauh lebih stabil.

Rachel memperhatikan semua perubahan itu dari jarak yang aman. Ia melihat Liam lebih sering keluar masuk ruang kerjanya, atau sesekali berbicara singkat dengan anak buahnya. Sementara itu, interaksi mereka sendiri nyaris tidak berubah—tetap terkesan formal, seperlunya, dan tanpa ruang kosong untuk percakapan lain yang bersifat personal.

Tapi anehnya, Rachel justru merasa lega sekaligus kosong—seolah rumah ini sedang menarik napas panjang sebelum sesuatu yang besar terjadi. Ada ketenangan yang tidak sepenuhnya menenangkan—lebih seperti jeda yang terlalu hening.

Siang itu, suasana berubah dalam hitungan detik. Maria sedang berada di ruang tengah ketika teleponnya berdering. Rachel tidak tahu dengan siapa Maria berbicara melalui panggilan telepon itu, tapi ia melihat perubahan di wajah Maria bahkan sebelum panggilan itu berakhir. Senyum tipis yang biasa ia pasang mendadak lenyap. Bahkan bahunya tampak menegang, dan nada suaranya turun drastis, nyaris berbisik, namun kata-katanya keluar dengan cepat dan padat.

“Papa… bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Maria, suaranya bergetar tipis. Ia terdiam sejenak, mendengarkan. “Rumah sakit mana?” Lalu, setelah jeda yang lebih panjang, ia hanya menjawab, “Aku mengerti.”

Tidak lama setelah itu, panggilan telepon pun berakhir. Maria berdiri kaku dan matanya berkaca-kaca. Rachel tidak bisa mendengar detail percakapannya, tetapi perubahan ekspresi itu sudah cukup menjelaskan bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk. Udara di ruangan pun mendadak terasa berubah—lebih berat dan lebih sempit. Tidak ada teriakan dan tangisan yang lolos dari bibir Maria, melainkan hanya ketegangan yang tiba-tiba hadir dan enggan pergi.

Kemudian, Liam muncul hampir bersamaan, seperti tertarik oleh sesuatu yang tidak kasatmata. Ia menghampiri Maria tanpa ragu dengan ekspresi yang penuh kekhawatiran.

“Ada apa?” tanyanya singkat.

Maria sontak menoleh, dan memberikan jawaban atas pertanyaan Liam. “Papa. Kondisinya drop lagi. Mereka membawanya ke rumah sakit pagi ini.” Suaranya pecah di akhir kalimat.

Liam pun tidak ingin membuang waktu. “Kau harus duduk.” Ia menarik kursi, lalu menuntun Maria dengan tangan mantap di lengannya. “Apa kata dokter?”

“Mereka bilang kondisinya kembali kritis,” jawab Maria pelan. “Aku harus secepatnya pulang.”

“Baiklah,” kata Liam tegas, seolah keputusan itu sudah final. “Aku akan urus semuanya, Maria.”

Dari kejauhan, Rachel menyaksikan kedekatan Liam dan Maria. Ada sesuatu dalam cara Liam bergerak, yang tidak tampak dibuat-buat. Itu bukan seperti kepedulian biasa, melainkan keterikatan yang Rachel sendiri tidak sepenuhnya bisa menafsirkan. Yang jelas, dari sikap Liam kepada Maria, Rachel sudah bisa menyimpulkan bahwa Maria adalah seseorang yang Liam anggap penting dalam hidupnya.

Maria akhirnya kehilangan kendali atas emosinya. Napasnya memburu dan air mata perlahan membasahi pipinya. Liam sontak menariknya ke dalam pelukannya tanpa berpikir dua kali. Tangan Liam menahan punggung Maria, dan telapak tangannya mengusap pelan puncak kepala, seperti mencoba menenangkan sesuatu dan memberikan perasaan yang nyaman.

“Tarik napas,” katanya dengan suara rendah, dekat dengan telinga Maria. “Tenang. Aku di sini.”

Maria pun tampak hanya menurut, dengan bersandar lebih dalam. Pelukan itu berlangsung cukup lama—cukup untuk membuat Rachel sadar bahwa ia sedang menyaksikan sesuatu yang bukan miliknya untuk ditafsirkan. Namun tubuhnya tetap bereaksi. Dada terasa menekan, dan pandangannya enggan berpaling.

“Aku akan segera menyusulmu,” lanjut Liam setelah Maria tampak sedikit lebih tenang. “Aku ingin melihat kondisi Rafael, dan juga menemanimu di sana.”

Maria mengangkat wajahnya. “Sungguh?”

Liam mengangguk. “Ya. Aku janji, Maria.”

Janji itu diucapkan tanpa dramatisasi, dan tanpa nada ragu. Bukan tindakan impulsif semata, tapi lebih seperti komitmen yang sudah lama tertanam. Maria tampak sedikit lebih tenang, meski matanya masih basah. Ia bersandar lagi, sejenak, seolah mencari sandaran untuk kembali kuat.

Rachel mendengar semuanya. Namun janji yang diucapkan Liam kepada Maria itu menetap di kepalanya, dan berputar tanpa henti. Janji itu tidak ada hubungannya sama sekali dengannya. Bahkan, tidak ada satu pun kata yang melibatkan dirinya. Tapi entah bagaimana, dampaknya menghantam Rachel begitu keras. Rachel masih berdiri di tempatnya dalam diam, dan mencoba menjaga wajahnya agar tetap netral, sementara sesuatu di dalam dirinya tengah bergeser perlahan.

Ada sejarah di antara Liam dan Maria yang tanpa perlu dijelaskan, sudah menunjukkan seberapa dekat hubungan mereka. Dan hari itu, Rachel menyadari bahwa ia tidak sedang berdiri di antara dua orang, melainkan di tepi sesuatu yang sudah ada jauh sebelum dirinya masuk ke dalam rumah ini.

Maria bergerak cepat setelah keputusan itu diambil. Ia masuk ke dalam kamar yang ia tempati dan mulai mengemas barang-barangnya ke dalam koper besar berwarna merah. Gerakannya tampak terlatih—melipat dan menyusun pakaian, juga memastikan dokumen-dokumen dan barang penting lainnya berada di tempat yang mudah dijangkau. Seolah ini bukan kali pertama ia harus pergi dalam kondisi darurat.

Sementara itu. Liam tengah mengatur segalanya di luar kamar, dengan memberikan instruksi yang singkat dan jelas. Dalam waktu singkat, sebuah mobil tampak sudah siap, supir sudah menunggu, dan dua orang anak buah Liam akan mengantar Maria hingga bandara dan memastikan Maria naik pesawat dengan aman. Keamanan di rumah itu tampak diperketat sampai detik terakhir keberangkatannya.

Rachel bersama para pelayan lainnya pun ikut membantu sebatas yang diminta. Semua berjalan profesional, rapi, dan efisien seperti biasanya. Namun di sela kesibukan itu, ada ketegangan halus yang tidak diucapkan oleh siapa pun.

Tatapan Maria sesekali tertuju padanya—singkat dan sulit dibaca. Sedangkan Liam hampir tidak menoleh. Jika pun matanya bertemu Rachel, itu hanya sepersekian detik, lalu kembali ke urusannya. Diam tampaknya sudah menjadi bahasa utama di antara mereka. Semua orang tampak sibuk, tapi Rachel merasa paling sendirian dan kesepian.

Perpisahan itu terjadi di area depan rumah, membuat Teras luas itu seolah terasa lebih sempit dari biasanya. Maria berdiri dengan koper besar di sampingnya. Sementara Liam menghadapnya, dengan tubuhnya yang tegak dan ekspresi yang terkendali.

“Aku akan menunggumu di sana,” kata Maria. Suaranya terdengar sedikit bergetar, tapi masih cukup tegar. “Aku benar-benar membutuhkanmu.”

Liam pun langsung mengangguk tanpa ragu. “Aku akan menyusul secepatnya.”

Tidak ada janji berlebihan yang ia ucapkan, atau kata manis yang ia tunjukkan. Namun cara menatap satu sama lain, bagi Rachel sudah cukup berbicara. Maria melangkah maju, lalu memeluk Liam sekali lagi. Pelukan itu lebih singkat dari sebelumnya, tapi penuh makna.

Sebelum melepaskan diri, Maria mencium pipi Liam singkat. Rachel menyaksikannya dari jarak beberapa langkah. Tubuhnya tetap diam, dan wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia berdiri sebagaimana seharusnya seorang pelayan berdiri, dengan netral, tenang, dan tidak mencuri perhatian.

Seharusnya tidak ada yang salah dalam adegan itu. Tidak satu pun melanggar batas yang nyata. Namun entah mengapa, bagi Rachel, semuanya terasa salah.

Kemudian, Maria masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya sejak tadi. Dan dalam waktu singkat, mobil itu langsung bergerak perlahan meninggalkan halaman, dengan pengawalan ketat mengikuti kepergian Maria dari belakang. Maria duduk di kursi belakang, wajahnya menoleh ke jendela sampai gerbang tertutup dan rumah itu kembali sunyi.

Liam masih berdiri di tempatnya, menatap mobil hingga benar-benar menghilang dari pandangan. Bahunya tampak kaku, seolah ada sesuatu yang tertinggal bersama kendaraan itu.

Dari jarak aman itu, Rachel melihat punggungnya. Kini, jarak di antara mereka terasa lebih nyata dari sebelumnya—bukan karena Maria pergi, melainkan karena kepergiannya justru menegaskan sesuatu yang selama ini berusaha diabaikan Rachel. Kehangatan yang baru saja ia saksikan tidak ikut pergi. Ia menetap dan menggantung di udara.

Kemudian malam pun datang tanpa banyak suara. Di kamarnya, Rachel duduk di tepi tempat tidur, masih mengenakan pakaian kerjanya. Lampu menyala redup, dan jam dinding berdetak pelan, teratur, seperti menghitung sesuatu yang tidak bisa ia hentikan.

Ia mengingat kembali potongan-potongan adegan pagi ini—pelukan Liam dan Maria, tatapan Liam pada Maria yang begitu dalam dan hangat, belaian yang menenangkan di punggung, janji yang diucapkan tanpa ragu, juga ciuman di pipi yang tampak begitu wajar. Semua itu berputar di benak Rachel tanpa urutan yang jelas.

Entah kenapa, dadanya mendadak terasa tidak nyaman. Bukan rasa sakit, bukan juga sesak. Tapi lebih seperti tekanan yang tidak punya nama.

Apakah ini yang dinamakan cemburu?

Pertanyaan itu muncul tanpa izin di benak Rachel. Namun, dengan cepat ia segera menepisnya. Tidak. Pertanyaan itu jelas tidak masuk akal bagi Rachel. Ia tidak punya hak untuk memiliki perasaan semacam itu. Liam adalah majikannya, dan pria yang menolongnya—tempat ia berhutang lebih dari sekadar pekerjaan. Jadi, perasaan seperti itu tidak boleh ada.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menata kembali pikirannya. Ia mungkin hanya kelelahan, atau hanya efek dari hari yang panjang dan penuh ketegangan, hingga terlintas pemikiran konyol seperti itu. Besok semuanya pasti akan kembali normal. Maria sudah pergi, dan Liam akan segera menyusulnya. Itu artinya, jarak akan kembali aman pada tempatnya.

Namun meski ia berusaha meyakinkan diri, tubuhnya tidak sepenuhnya patuh. Ada sesuatu yang sudah bergeser, dengan halus tapi pasti.

Ia tidak menyebutnya cinta. Ia bahkan tidak berani menyebutnya rasa. Tapi malam itu, di dalam kamarnya, Rachel menyadari satu hal yang membuatnya takut, bahwa batas yang selama ini ia jaga dengan rapi mulai retak. Dan kepergian Maria bukan akhir dari apa pun. Itu mungkin adalah awal dari kehampaan yang jauh lebih berbahaya.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!