Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.
Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.
Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.
Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Temu Partner
Di dapur kecil di suitenya, Gwen mengambil gelas dan menuangkan air dingin dari kulkas.
“Ini gila, Raymon.” Dia menggeleng, meneguk airnya, “Dunia kamu kacau banget.”
“Gak ada yang bisa aku lakuin soal itu, Gwen,” jawab Raymon.
Gwen hanya mengangguk pelan. Dia sebenarnya ingin kembali ke tempat tidur, tapi pikirannya terlalu kacau. Dia berjalan ke ruang depan dan berdiri di dekat jendela yang menghadap halaman.
Mobil-mobil sudah tidak ada. Seorang pengawal berdiri di seberang pintu utama, pistol di pinggangnya. Yang lain berpatroli menuju gerbang, membawa senapan di punggung.
Gwen mendengar Raymon mendekat dan berdiri di belakangnya.
Kruknya masuk ke dalam pandangan Gwen di kedua sisi saat pria itu sedikit membungkuk, meletakkan dagunya di atas kepala Gwen.
Tubuh Raymon yang besar menempel di punggungnya membuat Gwen merasa sangat kecil, tapi tidak ada lagi rasa panik. Mungkin semua adrenalin tadi sudah menghapusnya.
“Kita ini sekarang gimana, Raymon?” tanya Gwen pelan.
“Maksud kamu?”
“Kita tadi… tidur bareng.” Gwen menatap ke luar, memperhatikan pengawal yang sedang berpatroli. “Itu gak direncanakan. Jadi sekarang kita mau gimana?”
“Aku gak tahu, Babby. Kamu maunya gimana?”
“Aku juga gak tahu.”
Mereka terdiam, sama-sama menatap malam yang gelap, hanya diterangi lampu-lampu di halaman.
“Udah malam,” kata Raymon akhirnya, lalu mencium bahu Gwen. “Kita tidur.”
“Di mana?”
“Aku di kamar aku.” Dia mencium sisi leher Gwen. “Kamu bebas pilih. Kamar kamu… atau kamar aku.”
Raymon meninggalkannya di sana, memberi ruang untuk berpikir.
Gwen tahu apa yang seharusnya dia lakukan. Kembali ke kamarnya, dan melupakan apa yang terjadi di sofa. Itu pilihan paling masuk akal. Mungkin satu-satunya pilihan. Tapi sepertinya kata “masuk akal” bukan bagian dari dirinya.
Gwen berbalik dan berjalan menuju kamar Raymon.
...***...
Raymon memperhatikan Gwen yang masih tertidur, meringkuk di bawah selimut dengan rambut kusut menyebar di atas bantalnya. Pemandangan itu, melihat Gwen di tempat tidur miliknya, menimbulkan rasa hangat di dadanya.
“Orson udah di sini.” Ia mengecup ringan bahu Gwen. “Aku mau ke gym.”
“Have fun,” gumam Gwen ke bantal, lalu kembali terlelap.
Tersenyum, Raymon berpindah ke kursi rodanya dan keluar dari kamar. Gwen memang butuh tidur. Mereka bisa melanjutkan semuanya nanti.
Setelah sesi terapinya selesai, Gwen masih tidur. Raymon mandi lalu turun ke ruang kerja. Troy sudah menunggu, dan dari ekspresinya jelas dia tidak membawa kabar baik.
“Kamu harus undang orang Albania itu, Raymon. Dalam waktu dekat.”
“Gak akan!” Raymon berhenti di belakang meja, menyalakan laptop, lalu mulai memeriksa berkas.
“Menurut aku kamu harus pikirin lagi.”
“Aku lagi gak mood buat entertain orang Albania.”
“Kita butuh mereka sebagai partner. kamu tahu itu. kamu udah berbulan-bulan gak ketemu mereka.” Troy duduk di depan dan mencondongkan tubuh. “Mereka harus yakin semuanya masih aman.”
“Mereka dapet lebih banyak uang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jadi aku gak lihat kenapa mereka harus khawatir.”
“Kalau mereka ngerasa kita gak serius sebagai partner, mereka bisa pindah ke pihak lain, Raymon. Terakhir aku ketemu Wyatt, dia nyebut orang Italia. Dia bilangnya bercanda, tapi jelas dia lagi mikirin itu.”
“Bagus. Persis yang aku butuhin.” Raymon melempar pulpen ke atas meja.
Troy bersandar dan menyilangkan tangan. “Jadi, siapa yang diundang?”
“Wyatt sama istrinya. Kayaknya sekarang anaknya udah lima. Terus Hector sama istrinya. Itu aja.”
“Fabio?”
“Enggak. Dia lagi gak akur sama Hector. aku gak butuh pertumpahan darah.”
“Oke. Kapan?”
“Gwen ada pameran minggu depan, jadi harus Sabtu ini.”
“Aku kabarin Wyatt.” Troy tersenyum. “Carolina bakal seneng. Dia baru aja ganti karpet.”
“Aku bilang itu ide kamu. Apalagi kalau berakhir berdarah. Wyatt bisa agak agresif, jadi pastikan orang-orang siap.”
Troy mengangkat alis. “Kenapa? Kalian biasanya akur.”
“Dulu iya. Sebelum aku bilang aku gak berniat nikahin anaknya waktu dia nawarin beberapa bulan lalu.”
Troy menunduk sedikit, menatapnya di atas bingkai kacamata. “Dan kamu baru bilang sekarang?”
Kalau orang lain yang mempertanyakan keputusannya, hasilnya pasti tidak akan baik. Tapi Troy berbeda. Selain Carolina, dia satu-satunya orang yang Raymon percaya sepenuhnya. Sosok ayah yang tidak pernah ia miliki.
“Aku gak anggap itu penting waktu itu.”
“Dia sempat nanya soal Gwen.”
Raymon menatapnya. “Dia mau tahu apa?”
“Dia nanya apakah Gwen secantik rumor yang beredar.”
“Terus kamu jawab apa?”
“Aku bilang dia bisa nilai sendiri nanti kalau ketemu.”
“Bagus. Dalton gimana?”
“Kehilangan darah sedikit, tapi gak serius. Beberapa hari lagi udah bisa kerja lagi.”
“Jangan suruh dia kerja dulu minimal seminggu. Whitman bisa gantiin. Pastikan dokter datang cek dia tiap hari sampai Senin.”
“Ada lagi?”
“Enggak. kamu pulang aja. Istirahat. kamu semalaman jagain Dalton. Nanti Carolina yang lanjut.”
Begitu Troy pergi, Raymon langsung menelepon Gwen. “Kamu udah bangun?”
“Sekarang sih udah.” Gwen menguap.
“Siap-siap. Satu jam lagi ketemu aku di bawah. Kita mau belanja.”
“Oh?”
“Aku bakal nerima beberapa partner bisnis Sabtu ini buat makan malam. Kamu butuh dress.”
“Aku gak butuh dress lagi. Minggu lalu aku udah beli banyak banget. Vance aja hampir gak muat masukin semua ke mobil, dan lemari aku udah penuh. Ada sepuluh dress yang bahkan belum aku pakai.”
“Kamu bilang sendiri kamu paling ceroboh kalau belanja.”
“Itu beda, Raymon.”
“Kita tetap beli dress.”
“Kamu suka buang-buang duit ya? Ini semacam kebiasaan aneh gitu, Raymon?” Gwen tertawa.
Raymon tersenyum tipis. Tidak, dia tidak akan bilang kalau dia memang suka membelikan apa pun untuk Gwen.
“Jangan buat aku nunggu.”
“Eh, aku harus ajak Bilbo jalan-jalan dulu. Kalau egak, dia bakal pipis di lantai nanti.”
“Suruh Clarra yang momong binatang itu.”
“Nanti aku bilang ke Bilbo kamu muji dia.”
“Sekalian bilang juga, kalau aku lihat dia gigit charger laptop aku lagi, aku bakal bikin sandal dari kulitnya.”
“Ya ampun!” Gwen langsung tertawa. “Presiden nan jahat baru aja bercanda. Kamu sehat kan?”
Raymon tersenyum. “Satu jam, Gwen.”
Setelah menutup telepon, Raymon kembali fokus pada laporan dari Jamerson dan rencana pengiriman minggu depan. Tapi pikirannya terus terganggu oleh seorang wanita berambut hitam itu.