NovelToon NovelToon
Gara-gara Cinta Yang Mendua

Gara-gara Cinta Yang Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.

Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.

Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.

Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

“Kamu sudah punya semuanya sekarang,” lanjut ibunya pelan. “Pekerjaan jelas. Penghasilan ada. Masa depan juga kelihatan.”

Sekar diam. Ia tahu arah pembicaraan ini mulai berubah.

Dan benar saja “Sekar…” suara ibunya sedikit lebih hati-hati, “pernah kepikiran… untuk menikah lagi? Sudah setahun, Sekar.”

Angin malam terasa tiba-tiba lebih dingin. Sekar tidak langsung menjawab. Jemarinya berhenti bergerak. Pandangannya lurus ke depan, tapi pikirannya seperti mundur jauh ke belakang ke masa di mana ia pernah percaya pada cinta, pernah membangun dunia hanya untuk satu orang… lalu menyaksikannya runtuh begitu saja.

“Aku…” suaranya pelan, hampir seperti mencari kata yang tepat, “…nggak tahu, Bu.”

Ibunya menatapnya lembut. “Ibu cuma nggak mau kamu sendirian terus.”

Sekar tersenyum tipis. Senyum yang tidak benar-benar sampai ke matanya. “Sendirian nggak selalu berarti kesepian, Bu.”

Ibunya terdiam, tapi tidak memotong.

Sekar menarik napas dalam. “Hati aku…” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan jujur, “…rasanya sudah nggak ada tempat buat itu lagi.” Sunyi. Ia tidak mengatakan itu dengan marah. Tidak juga dengan tangis. Justru dengan ketenangan yang membuat kalimat itu terasa lebih berat. “Aku pernah mencintai seseorang… dengan cara yang aku pikir nggak akan bisa habis,” lanjutnya pelan. “Tapi ternyata bisa. Dan waktu itu hilang… yang ikut hilang bukan cuma orangnya.”

Ibunya menggenggam tangannya pelan.

“Aku takut, Bu,” bisik Sekar akhirnya.

Ibunya mengelus tangannya. “Takut apa?”

Sekar menatap ibunya, matanya jujur, tanpa pertahanan.

“Takut kalau aku nggak bisa mencintai lagi… atau lebih buruk…” napasnya tertahan sebentar, “…aku mencintai lagi, tapi salah orang lagi.”

Angin malam kembali berhembus. Membawa keheningan yang kali ini terasa lebih dalam. Ibunya tidak langsung membantah. Tidak juga memaksa. “Tidak semua orang sama, Nak,” ujarnya lembut.

Sekar mengangguk kecil. “Aku tahu…”Ia benar-benar tahu. Secara logika, ia mengerti. Tapi hati… tidak selalu berjalan seiring dengan logika. “Untuk sekarang…” Sekar menarik tangannya pelan, lalu menggenggam cangkirnya lagi, “…aku cuma mau fokus ke satu hal.”

Ibunya menatapnya.

“Sea.” Nama itu keluar tanpa ragu. “Itu sudah cukup buat aku,” lanjut Sekar pelan. “Aku nggak butuh yang lain dulu.”

Ibunya menghela napas, tapi kali ini bukan karena kecewa, lebih seperti menerima. “Kalau itu yang kamu yakini… ibu dukung,” katanya akhirnya.

Sekar menoleh, sedikit terkejut.

“Tapi satu hal…” tambah ibunya, “jangan tutup hatimu selamanya. Bukan untuk sekarang… tapi suatu hari nanti. Setidaknya setelah Sea ada ditanganmu, ia juga butuh keluarga yang utuh. Apalagi setelah apa yang dialami Sea sekarang ini. Pasti nggak mudah."

Sekar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap langit malam, membiarkan kata-kata itu mengendap di dalam dirinya. Mungkin suatu hari. Tapi bukan sekarang. Sekarang hatinya memang belum siap untuk cinta. Tapi untuk berjuang ia lebih siap dari sebelumnya.

"Ibu akan selalu berdoa, Sekar. Agar Allah segera kirimkan jodoh kamu. Jodoh terbaik." ungkap ibunya. Sekar hanya tersenyum. Menyerahkan semuanya pada Allah sebab sekarang ia tak punya kekuatan untuk jatuh cinta.

***

Sore itu langit terlihat redup, seperti menahan hujan yang belum jadi turun. Sekar baru saja keluar dari dapur membawa dua cangkir teh ketika langkahnya terhenti di ambang ruang tamu. Seseorang sudah berdiri di sana.

Aji.

Tubuh Sekar langsung menegang. Jantungnya berdegup lebih cepat, tapi wajahnya… ia paksa tetap tenang. Ia tidak lagi perempuan yang dulu. Tidak lagi yang gemetar hanya karena kehadiran laki-laki itu. “Ngapain kamu ke sini?” tanyanya datar, tanpa basa-basi.

Aji menoleh, menatap Sekar dari atas sampai bawah. Tatapannya penuh penilaian seperti sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak ia duga. “Kamu berubah ya,” katanya pelan.

Sekar tidak menjawab. Ia meletakkan cangkir di meja dengan hati-hati, lalu berdiri tegak, menjaga jarak.

“Aku dengar kamu mau beli rumah baru,” lanjut Aji. “Besar lagi.” Nada suaranya tidak sepenuhnya kagum. Lebih ke… curiga.

Sekar menghela napas pendek. “Terus?”

Aji menyipitkan mata. “Kamu kerja apa sekarang?” Langsung. Menusuk. “Dari mana uang sebanyak itu?” lanjutnya tanpa jeda. “Setahuku kamu nggak kerja tetap. Orang tua kamu juga nggak mungkin segitu…” Ia melirik sekeliling rumah itu. “Cuma rumah ini yang berharga.”

Sekar tersenyum tipis. Bukan senyum hangat—lebih seperti batas yang sengaja ia pasang. “Aku kerja,” jawabnya singkat.

“Kerja apa?” desak Aji.

“Freelance. Apa saja yang bisa aku kerjakan. Yang penting menghasilkan. Meskipun dipandang sebelah mata, tapi lumayanlah. Buktinya bisa kekumpul untuk beli rumah." Jawaban itu sengaja dibuat ringan. Tidak memberi celah. Tidak membuka apa pun.

Aji menatapnya lama, seperti mencoba membaca apakah Sekar berbohong. Tapi Sekar tidak menghindar. Tatapannya lurus. Tenang. Dan itu justru membuat Aji sedikit tidak nyaman. Beberapa detik hening… sampai akhirnya Aji berdeham pelan. Nada suaranya berubah. Tidak setajam tadi. “Kalau gitu…” katanya pelan, “kamu punya kerjaan buat Mila?”

Sekar mengernyit.

“Atau… lowongan apa gitu,” lanjut Aji. “Dia bisa bantu-bantu. Kamu kan sekarang… lumayan.”

Kalimat itu menggantung. Ada sesuatu yang tidak pernah Sekar bayangkan akan ia dengar dari Aji, permintaan.

Sekar menatapnya, mencoba memastikan ia tidak salah dengar. “Mila?” ulangnya pelan.

Aji mengangguk. Kali ini tidak ada gengsi di wajahnya. Hanya kelelahan yang samar terlihat. “Kondisi lagi nggak bagus,” katanya akhirnya. “Aku lagi susah…”

Sekar diam.

“Aku udah coba cari kerja ke mana-mana… tapi belum ada yang nyangkut,” lanjut Aji, suaranya lebih rendah. “Sementara… kebutuhan jalan terus.”

Jeda sebentar.

“Dan…” Aji menarik napas dalam, seolah bagian ini lebih berat untuk diucapkan. “Mila lagi hamil.”

Dunia Sekar seolah berhenti sesaat. Bukan karena cemburu. Tidak. Perasaan itu sudah lama mati. Tapi karena ironi. Perempuan yang dulu menjadi alasan runtuhnya hidupnya… kini membawa kehidupan baru. Sekar menatap Aji, lama. Lalu perlahan, ia bertanya—tenang, tapi tajam. “Kenapa Mila yang harus kerja?”

Aji terdiam.

Sekar melanjutkan, kali ini lebih jelas. “Kenapa bukan kamu yang cari cara?” Kalimat itu tidak keras. Tapi cukup untuk membuat Aji mengalihkan pandangan.

“Aku udah bilang… aku lagi usaha,” jawabnya, sedikit defensif. “Cuma belum dapat aja.”

Sekar mengangguk kecil. Tidak menyindir. Tidak juga menghakimi. Tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang berbeda sekarang, bukan lagi perempuan yang dulu memandang Aji sebagai pusat dunianya. Kini… ia melihatnya apa adanya. Seorang laki-laki yang pernah ia cintai dan kini hanya seseorang yang berdiri di depannya, dengan segala konsekuensi pilihannya sendiri. “Aku nggak punya lowongan buat Mila,” jawab Sekar akhirnya.

Aji menatapnya lagi. Ada sedikit harapan yang langsung meredup.

“Tapi…” Sekar menambahkan pelan, “kalau dia memang butuh kerja, dia bisa cari sendiri. Sama seperti aku dulu. Atau freelance seperti aku. Apa saja dikerjakan yang penting jadi duit."

1
Uthie
Duhhhhh...susah banget sihhh buat mereka bersatu nya 😭😭😭
Uthie
masih konflik soal Anak 😌
Uthie
Duhhhhh... konflik nya masih aja terus di urusan "Sea" melulu dehhhh.....
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤

Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦‍♀️🤣
Uthie
si Sekar emang nyeyel sihhh di kasih Tauin sama ibunya berulang kali selalu gak ada mau dengar nya 😤😡😡😡
Uthie
Sekar terlalu lembek.. gak bisa tegas 😤😡
Uthie
mantan kurang ajar itu 😡
Uthie
Ahhhhh.... Sekar-Sekar... kalau mahhhh kau akan masuk dalam lubang kehidupan di keluarga Toxic itu lagiii 😤😡
Uthie
Yaaa... Damar malah menjauh ☹️
Uthie
Yeayyyy

.Damar 🤩🤗
Uthie
Cieee😁
Uthie
cinta yg sejati kadang hadir bukan dr cover yg terlihat bagus di awal 👍😁
Uthie
semoga jodoh 👍😁🤗
Uthie
Bagusssss 👍👍👍👍
Uthie
Bagussss Sekar 👍😡
THAILAND GAERI
maaf Thor...aq nyesel baca novel,,Sekar bodoh ga ketulungan,,ga ada greget nya sedikit pun terlalu monoton..maaf ,,tp ini ide othor sendiri..selamat menulis novelnya
THAILAND GAERI
ni Sekar JD org kok goblok banget ya...lawan kek maki kek,,mana ada org diinjak diam aja..
Uthie
semoga si Aji nyesel dibuat nyesel melepas istri sebaik Sekar👍😡
Uthie
Langsung sukkkaa cerita genre Pengkhianatan yg selalu menarik disimak 👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
kasian nya 😢
Uthie
dasar laki-laki yg bisa nya cuma mencari kebenaran untuk dirinya aja 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!