NovelToon NovelToon
Batas Pintu Jati

Batas Pintu Jati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Romansa Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: penavana

Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.

Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akar yang Berkarat

Jauh sebelum bertemu dengan Bapak Widjaya yang kaya raya, Lasmi adalah seorang wanita sederhana yang menikah dengan pria biasa. Dari pernikahan pertamanya yang penuh perjuangan itu, lahirlah Broto. Mereka hidup dalam kekurangan, di mana Broto kecil sering melihat ibunya menangis karena tagihan yang menumpuk. Masa kecil yang pahit ini menanamkan satu ambisi dalam diri Broto: Dia tidak boleh miskin lagi.

Setelah suami pertamanya tiada, Lasmi yang masih muda dan cantik menarik perhatian Bapak Widjaya, pemuda kaya yang mencari pendamping hidup. Lasmi membawa Broto masuk ke kediaman Widjaya.

Karena keluarga Widjaya masih berdarah biru, terlihat jelas bahwa mereka memandang Lasmi sebelah mata. Broto sering melihat ibunya diperlakukan tidak adil.

"Nggak apa-apa ya, Le. Sabar. Yang penting kita bisa tidur dan makan," kata Ibu Lasmi setiap malam menidurkan Broto.

Bapak Widjaya menyayangi Broto seperti anak kandungnya sendiri hingga menambahkan nama joyo di belakangnya menjadi Brotojoyo. Dari pernikahan Lasmi dengan Bapak Widjaya, lahirlah Suryo dan Tedjo. Ia mencintai ketiga anaknya, namun dia tidak berdaya melawan aturan "darah". Broto hanyalah anak bawaan. Meskipun Bapak Widjaya memberikan fasilitas yang sama, Broto selalu merasa seperti "tamu" yang tahu diri. Dia melihat bagaimana Bapak Widjaya lebih bangga memamerkan Suryo dan Tedjo di depan rekan bisnisnya.

Suryo dan Tedjo tumbuh dengan menyayangi Broto sebagai kakak tertua. Mereka sering berbagi mainan dan rahasia. Namun, bagi Broto, setiap pelukan dari adik-adiknya adalah pengingat akan ketidakadilan. Ketulusan mereka justru membuat Broto semakin muak; dia menganggap kebaikan mereka sebagai bentuk "kasihan".

​Dia merasa bahwa secara biologis, dia adalah yang tertua—yang pertama lahir dari rahim Lasmi—tapi secara status, dia adalah yang terbawah. Dia merasa lebih berhak atas kasih sayang ibunya dan lebih pantas memimpin keluarga, namun "darah Widjaya" yang mengalir di tubuh Suryo dan Tedjo menjadi penghalang abadi. Ketidakmampuan Lasmi untuk memberikan "hak" yang sama pada Broto membuat Broto merasa harus merebutnya sendiri.

⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️

Malam itu, kegelisahan Laras mencapai puncaknya. Sejak percakapan terakhir—Bara menghilang tanpa kabar. Tanpa pikir panjang, Laras menekan tombol video call.

Klik.

​Layar ponsel Laras berkedip. Laras disambut oleh pemandangan yang membuat oksigen di kamarnya mendadak habis. Kamera itu memperlihatkan Bara yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah acak-acakan, tetesan air mengalir di lehernya, dan yang paling parah: Bara tidak memakai baju. Ia sedang sibuk menggosok-gosokkan handuk kecil ke rambutnya, membuat otot bahunya bergerak-gerak dengan sangat... estetis.

​"Halo, Sayang." Suara Bara terdengar rendah.

Laras mematung. Mulutnya sedikit terbuka.

"Ba... Bara! Kamu... kenapa tidak pakai baju?!" teriak Laras, tapi matanya tetap menempel pada layar, bahkan sempat-sempatnya melakukan inspeksi visual kilat.

Bara berhenti mengeringkan rambut. Ia menunduk menatap layar ponselnya yang diletakkan di atas meja.

"Oh," jawabnya datar, tanpa ekspresi berdosa sedikit pun.

"Barusan selesai mandi, Sayang," lanjutnya.

​"Mataku masih suci, Bara!" Laras menutup matanya dengan satu tangan, tapi sengaja merenggangkan jari-jarinya agar tetap bisa melihat.

Bara terkekeh, menyadari tingkah Laras yang tidak konsisten. Ia justru mendekatkan wajahnya ke arah kamera, membuat Laras refleks menjauhkan ponselnya.

"Kalau nggak mau lihat, ya dimatikan. Kok jarinya dibuka gitu? Katanya suci?"

​"Ini...dih Bara! Cepet pakai baju!"

Bara tersenyum miring, senyum yang biasanya membuat orang kesal tapi kali ini justru membuat Laras berdebar. Dengan gerakan santai, ia menyampirkan handuknya ke bahu, membiarkan beberapa tetes air masih tertinggal di dadanya.

​"Aku ganteng ya? Badanku six-pack," ucap Bara dengan nada yang sangat percaya diri, nyaris tanpa beban.

Ia seolah sengaja memiringkan sudut ponselnya agar Laras bisa melihat tubuhnya. Laras mendengus keras, berusaha menutupi detak jantungnya yang sudah seperti genderang tawuran.

"Narsis! Itu bukan six-pack, Bara! Itu cuma karena kamu kurang makan jadi tulang rusukmu kelihatan menonjol!"

Bara tertawa, suaranya terdengar begitu renyah di telinga Laras.

"Tulang rusuk mana yang bentuknya kotak-kotak begini, Sayang? Akui saja, kamu betah kan lihatnya? Makanya dari tadi nggak dimatikan panggilannya."

​"Bara, demi apa pun, pakai bajumu sekarang!" Laras berteriak kecil sambil menutup wajahnya dengan bantal, meski ia tahu wajahnya sudah semerah saus sambal.

"Aku mau bicara serius, bukan mau liat pameran roti sobek!"

​"Iya, iya, galak amat," sahut Bara.

Terdengar bunyi kain yang ditarik, dan beberapa detik kemudian, Bara kembali muncul di layar dengan kaos hitam polos yang masih agak lembap di bagian leher. Rambutnya yang berantakan justru membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih menarik daripada saat ia berseragam sekolah. Suasana mendadak berubah ketika Bara menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tatapan matanya yang tadi jenaka perlahan meredup, digantikan oleh sorot dalam yang sulit diartikan.

​"Sayang," panggil Bara pelan.

​"Hmm?" Laras menyahut, kini sudah berani menatap layar sepenuhnya.

"Aku bertemu Kakek Tedjo"

Laras tersentak. Ia menarik ponselnya lebih dekat ke wajah seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Kakek Tedjo? Maksudmu..."

Bara menghela napas panjang, jemarinya menyisir rambutnya yang masih basah.

"Iya, Kakek Tedjo Widjaya. Kakekmu."

Laras terdiam, matanya mengerjap bingung di balik layar ponsel yang mulai terasa panas di genggamannya.

​"Sebenarnya aku punya banyak rahasia ke kamu. Aku sudah tidak tahan lagi, Sayang. Aku mau kamu tahu semuanya," suara Bara terdengar begitu rendah, sarat akan beban yang selama ini ia kunci rapat di balik sikapnya.

​"Ya sudah, cerita sekarang! Kenapa harus ditunda?" tuntut Laras tidak sabar.

Rasa penasaran mulai membakar dadanya, memicu debar jantung yang lebih kencang daripada saat ia melihat Bara bertelanjang dada tadi. ​Bara menggeleng pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis, namun sorot matanya tetap tajam dan kelam, tak menyisakan ruang untuk candaan.

"Tidak lewat video call, Sayang. Ini bukan cerita yang pantas disampaikan lewat layar ponsel. Terlalu banyak luka dan rahasia yang butuh kontak mata langsung agar kamu bisa paham betapa gilanya semua ini."

​Laras menggigit bibir bawahnya, mencoba mencerna kegawatan dalam nada bicara kekasihnya.

"Di rooftop saja, seperti biasa, gimana?" usul Lara.

​Bara hanya diam menatap Laras, sebuah keheningan panjang yang menandakan ketidaksetujuan yang mutlak. Laras tertegun, ia cukup mengenal Bara untuk memahami bahwa diamnya cowok itu adalah sebuah penolakan halus namun tegas. ​Laras menghela napas panjang, pundaknya sedikit meluruh. Ia akhirnya mengangguk pelan, tanda bahwa ia menyerahkan kendali tempat dan waktu pada Bara. Bara pun membalas dengan anggukan singkat, sebuah kesepakatan bisu telah terjalin.

1
Wawan
Hadir
penavana: thingkiuuuu
total 1 replies
Carzenogenik
Hehehehehehehehehhe senyum2 sendiri dari tadi🌝
Carzenogenik
Bau2nya.... Tipuan yg gagal menipu😅
Carzenogenik
Jawab dengan singkat. "Gpp, sans"😶 Belom nyari buku juga, wkwk
Carzenogenik
Hmm... Segitunya kah? Bara lu baru aja guling2 di aspal?😭
Carzenogenik
CK. Iya2! Darah lo lebih kotor dari darah ayam! Cepet pakek dan jangan ngedumel!🙂
Carzenogenik
Hmm... Yahh, gw pun masih percaya sampe sekarang kalo bogem lebih manjur buat nunjukin berandalan dan sejenisnya. wkwk😌
Carzenogenik
Woooohh~😯
Carzenogenik
...Baru selangkah menuju kebebasan, tapi rasanya kebebasan itu makin jauh 🙂
Carzenogenik
Ugh... Tiba-tiba diriku cemas. Nggak akan ada apa-apa kan ini????😵‍💫
Carzenogenik
G-Gila... Apalah diriku yg suka bangun tengah malem dan bikin mie gegara keroncongan😅
Carzenogenik
Waah... Pasti nggak enak banget tuh bangun gragapan kek gini😅
Carzenogenik
Tiran... Eyangnya kayak TIRANN!! Ngeri banget! 😭😭
Carzenogenik
Se-Sebaiknya jangan gegabah 😵‍💫
Carzenogenik
Yah. Bagian ini mungkin dia juga salah. Kita nggak boleh ngediemin panggilan orang, apalagi ortu. Tapi... kalo tiap telpon isinya ngeselin, yaa...😶
Faeyza Al-Farizi
lah... bakul kunci kamu Den 🤣🤣🤣
Faeyza Al-Farizi
mana setuju pula, ketahuan gawat ini
Faeyza Al-Farizi
lah... bakul kunci 🤣🤣🤣
Faeyza Al-Farizi
tapi Laras kayaknya gak se...mirip itu sama kamu deh
Faeyza Al-Farizi
buseeeet ini modelan 2 orang dalam satu raga pula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!