Diana seorang gadis pintar dan cantik. Ia dipertemukan dengan seorang bos yang ternyata adalah teman masa kecilnya. Ya teman kecil yang sangat usil padanya.
Selama menjadi salah satu karyawannya, hal-hal konyol selalu terjadi dan membuat si bos dingin itu menjadi bobrok. Adu mulut dan pertengkaran kecil pun tak terhindarkan.
Hingga suatu hari mereka harus menyetujui pernikahan yang tak berlandaskan cinta satu sama lain.
Bagaimana kelanjutannya?
Yuk kita kepoin cerita sama-sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sripujiayu620, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 31
Bulan yang menyinari di sepanjang malam telah berganti dengan sinar matahari. Semua orang kembali dalam rutinitas mereka masing-masing.
Waktu telah menunjukkan pukul 08:00 tetapi Diana masih saja tidur di dampingi selimut kesayangan nya.
"Diana." Nenek Jumanti berusaha membangunkan Diana. Ia tahu kalau hari ini Diana akan bekerja.
"Hmmm" Jawab Diana tetapi masih dalam keadaan setengah sadar.
"Ayo bangun nak, ini udah jam berapa. " Nenek Jumanti berusaha membangunkan cucunya dengan menggoyang-goyangkan tubuh Diana. Bukannya bangun, Diana makin nyenyak tertidur.
"Bangun! " Nenek Jumanti mencubit-cubit pipi sang cucu dengan harapan Diana bisa bangun.
"Hmmm lima menit lagi nek. " Ucap Diana yang masih memejamkan matanya.
Nenek Jumanti bingung dengan cara apa lagi harus membangun kan sang cucu. Tidak pernah ia melihat cucunya ini masih tertidur pulas jam segini.
Nenek Jumanti pun keluar dari kamar Diana. " Mungkin kantor libur, makanya dia molor. " Guman Nenek Jumanti.
Waktu telah menunjukan pukul 10:00. Diana telah bangun dari tidurnya. "Nyenyak banget sih tidur hari ini. " Ucap Diana sambil meregangkan tubuhnya.
Diana membuka jendela kamarnya untuk menghirup udara segar. " Loh ko udah siang sih? " Ucap Diana bingung.
Diana langsung melihat waktu yang tertera pada jam dindingnya.
"Aaaaaaaaaaa! " Betapa terkejutnya saat Diana mengetahui kalau ia kesiangan.
Diana pun langsung mandi dengan secepat kilatnya.
"Nenek ko gak bangunin aku sih. " Ucap Diana sambil menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
"Emangnya hari ini kamu ngantor? " Tanya balik Nenek Jumanti.
"Ya iyalah nek. " Ucap Diana cepat sambil melahap roti yang ada di meja makan.
"Tapi nenek udah bangunin kamu ko, tapi kamu yang susah di bangunin. " Ucap Nenek Jumanti.
"Ya udah nek, aku pergi dulu ya. " Ucap Diana terburu-buru.
"Hei tunggu apa kau tidak salah..." Belum sempat nenek Jumanti menyelesaikan kalimat nya namun Diana telah melaju menggunakan motornya.
Diana langsung melaju dengan kencang menuju kantor. " Sial banget sih!! " Gerutu Diana dalam hati.
Diana telah tiba di kantor. Banyak para karyawan yang melihat Diana.Semua mata tertuju pada Diana.
"Orang aneh. " Ucap salah seorang karyawan pada karyawan yang lainnya.
Ia langsung menuju ruangannya. Diana langsung bekerja seperti biasanya di depan laptop.
Tok, tok, tok
"Masuk." Perintah Diana dari dalam ruangan.
" Anda di suruh Tuan Rifki untuk menemuinya. " Ucap OB.
"Oh ya sudah saya akan segera akan menemuinya. " Ucap Diana kematian laptopnya.
"Ini pasti bencana! " Batin Diana yang sudah memprediksi apa yang akan terjadi.
Diana menuju ruangan bosnya. Tok, tok, tok.
"Masuk! " Perintah yang punya ruangan.
Diana membuka pintu dengan perlahan. Terlihat Rifki yang sedang duduk di kursi kebesaran nya. Diana berdiri mematung di hadapan Rifki. Ingin rasanya Rifki tertawa melihat Diana, namun ia tetap mempertahankan muka datarnya.
"Silahkan duduk. " Ucap Rifki datar padahal dalam hati ingin sekali tertawa.
Diana pun langsung duduk berhadapan dengan Rifki.
"Tadi aku melaksanakan meeting. Tapi aku tidak melihat keberadaan mu. " Ucap Rifki mengangkat alis bagian kanannya.
"Tadi aku terlambat. " Ucap Diana cepat.
" Terlambat? memangnya kau ngapain aja di rumah sampai-sampai terlambat heh? " Ucap Rifki mengintimidasi.
"Tidur." Jawab Diana cepat.
"Kalau bicara itu tatap mataku!" Perintah Rifki.
Diana langsung menuruti perintah Rifki.
" Jadi kau tidur ya? kau itu tidur jam berapa sih ? " Tanya Rifki menatap tajam Diana.
"Jam 9." Jawab Diana singkat.
"Kalau kau tidur jam segitu harusnya bangunnya pagi dong? " Rifki terus-menerus mengintimidasi Diana.
"Ya seharusnya, tapi ini juga salah mu. " Ucap Diana menatap tajam Rifki.
Diana baru mengingat yang menyebabkan ia bangun kesiangan adalah Rifki. Ia yang menemani Rifki mengobrol sepanjang malam.
"Salah ku? memangnya apa yang kulakukan? apa tadi malam aku masuk dalam mimpi mu? "Tanya Rifki.
" Apa kau pikun? aku semaleman nemenin kamu ngobrol tau." Jawab Diana. Ia tidak takut lagi menatap tajam Rifki.
"Nemenin aku ngobrol? nemenin aku mendengkur kali. Mana ada kamu nemenin aku ngobrol" Jawab Rifki mengelak.
"Terus tadi malam yang bicara itu siapa heh? hantu? atau kutu? " Diana melototi Rifki.
" Sudah salah memutar balik fakta lagi. " Ucap Diana sambil memutar bola matanya.
Rifki tersenyum tipis kala ia mengingat kejadian tadi malam.
"Kalau tidak ada yang di bicarakan lebih baik aku lanjut kerja dulu. " Diana beranjak dari kursi nya dan melangkah kan kaki nya menuju pintu.
"Eh tunggu. " Sontak Diana membalikkan badannya menatap Rifki yang masih cekikikan.
"Kenapa? apa kau sudah ingat yang tadi malam? " Tanya Diana.
" Ahh sudah lupakan dulu hal itu. Aku itu bingung dengan mu." Ucap Rifki melihat dengan seksama Diana.
"Bingung kenapa? " Tanya Diana.
"Memangnya ada yah tern ke kantor itu pakai baju olahraga bertuliskan SMPN 1 NUSA? " Rifki tertawa melihat pakaian Diana.
"Aaaaaaa! " Diana kaget dengan kecerobohan nya dalam berpakaian.
Tak sanggup lagi Rifki menahan tawanya, akhirnya ia tertawa dengan sejadi-jadinya.
kata Khan peta ,,,
😅😂🤣 ithu Khan kata Dora ,,,
smga kedepan'a lebih seru dan menghibur,,,😅