NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Cita-Cita dan Kenyataan

Jakarta memasuki tahun baru dengan cuaca yang tidak menentu. Kadang hujan deras, kadang panas menyengat. Tapi di rumah Menteng, semuanya tetap sama: hangat, ramai, dan penuh cinta. Tahun ini terasa istimewa karena Rara akan memasuki usia 12 tahun, usia yang menurutnya sudah "besar".

Pagi itu, Rara bangun lebih awal. Ia duduk di meja belajarnya, memandangi piala dan piagam dari lomba lukis di Bali. Prestasi itu membuatnya percaya diri, tapi juga memunculkan pertanyaan besar: "Apa aku bisa jadi pelukis terkenal?"

"Kak Rara!" teriak Asmara dari luar pintu. "Bangun! Main!"

Rara membuka pintu. Asmara—kini 4 tahun—berdiri dengan piyama bergambar dinosaurus, rambutnya berantakan, matanya masih mengantuk tapi semangatnya sudah menyala.

"Asmara, masih pagi. Ngapain?"

"Asmara mimpi dikejar T-Rex! Seram! Jadi nggak bisa tidur!"

Rara tertawa. "T-Rex di mana?"

"Di mimpi! Besar! Giginya banyak!"

"Ayo turun, cari Mama. Nanti Kakak nyusul."

Asmara berlari turun, meninggalkan Rara yang tersenyum. Adik bungsunya itu memang paling ekspresif.

Di ruang keluarga, suasana sudah ramai. Kiki—kini 3 tahun—sedang "membantu" Lastri membereskan meja makan. Bantuannya lebih banyak berantakan daripada rapi, tapi Lastri sabar.

"Kiki, letakkan piringnya pelan-pelan."

"Iya, Tante." Kiki meletakkan piring dengan hati-hati, lalu tersenyum bangga.

Melati—kini 8 tahun—duduk di sofa, menghafal gerakan tari untuk pentas bulan depan. Ia bergumam sambil menggerakkan tangan.

"Eyang, lihat!" panggilnya. "Ini gerakan baru!"

Eyang Kusuma—kini 83 tahun—tersenyum dari kursi malasnya. "Cantik, Nak. Kamu makin pintar."

Melati tersenyum bangga. Ia memang semakin serius menekuni tari. Gurunya bilang ia berbakat besar.

Sarapan berlangsung seperti biasa. Meja makan penuh dengan nasi goreng, telur, dan buah-buahan. Asmara paling lahap, makannya berantakan tapi senang. Kiki makan dengan tertib, diajari Lastri.

Rara diam saja, melamun. Kalara memperhatikan.

"Rara, kenapa? Kok diem aja?"

Rara mengangkat wajah. "Ma, Rara mau tanya."

"Apa, Nak?"

"Rara serius mau jadi pelukis. Tapi... apa bisa? Maksudnya, apa jadi pelukis itu pekerjaan yang beneran? Bisa cari uang?"

Semua diam. Pertanyaan Rara mengagetkan.

Raka meletakkan sendoknya. "Kenapa kamu tanya begitu, Nak?"

"Ya... Rara mikir. Teman-teman Rara banyak yang mau jadi dokter, insinyur, arsitek kayak Om Arsya. Tapi Rara cuma mau melukis. Apa itu cukup?"

Arsya tersenyum. "Rara, Om dulu juga punya mimpi jadi arsitek. Banyak orang bilang itu susah, persaingan ketat. Tapi Om tetap jalan. Sekarang Om buktikan."

"Iya, tapi Om kan arsitek. Itu... kelihatan lebih berguna."

Nadia meraih tangan Rara. "Sayang, seni itu juga berguna. Lukisan bisa membuat orang bahagia, bisa menginspirasi, bisa menjadi kenangan berharga. Itu tidak kalah penting dari profesi lain."

Eyang Kusuma angkat bicara. "Nak, dulu Nenekmu Rarasati juga suka melukis. Ia tidak pernah jadi pelukis terkenal, tapi lukisannya selalu membuat orang di sekitarnya tersenyum. Itu sudah cukup."

Rara menatap Eyang. "Tapi Eyang, Rara ingin lebih. Rara ingin lukisan Rara dilihat banyak orang. Rara ingin jadi seperti pelukis-pelukis terkenal itu."

Eyang tersenyum. "Tidak ada yang salah dengan ambisi. Tapi ingat, Nak. Jadi terkenal itu bonus. Yang utama, lakukan dengan hati."

Rara diam, meresapi kata-kata Eyang.

Asmara yang tidak mengerti ikut nimbrung. "Kak, Asmara nanti mau jadi masinis! Bisa naik kereta tiap hari!"

Semua tertawa. Suasana mencair.

Hari-hari berikutnya, Rara terus memikirkan percakapan itu. Ia tetap melukis, tetap kursus, tapi ada kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan.

Suatu sore, saat ia melukis di kamar, Kalara masuk.

"Rara, Mama boleh ganggu?"

"Iya, Ma. Masuk."

Kalara duduk di sampingnya, menatap lukisan yang sedang dikerjakan—pemandangan rumah Menteng dengan pohon beringin.

"Ini bagus. Kamu makin pintar."

"Makasih, Ma."

Mereka diam sejenak. Lalu Kalara berkata, "Rara, Mama ingin cerita sesuatu."

"Apa, Ma?"

"Dulu, waktu Mama seusia kamu, Mama juga punya mimpi. Mama ingin jadi desainer interior. Tapi Mama takut. Takut tidak bisa, takut gagal. Mama simpan mimpi itu bertahun-tahun."

Rara menatap ibunya. "Terus?"

"Terus, Mama bertemu Ayah. Ayah yang pertama kali bilang, 'Kamu bisa. Coba aja.' Mama mulai belajar, mulai mencoba, dan sekarang Mama jadi desainer. Tidak terkenal, tapi cukup bahagia."

Rara meraih tangan Kalara. "Ma, Rara takut gagal."

"Semua orang takut gagal, Nak. Tapi kalau kamu tidak mencoba, kamu akan menyesal. Lebih baik gagal setelah mencoba, daripada tidak pernah mencoba sama sekali."

Rara menangis. Kalara memeluknya.

"Ma, Rara sayang Mama."

"Mama juga sayang Rara. Apa pun yang kamu pilih, Mama dukung."

Malam harinya, Rara tidak bisa tidur. Ia keluar ke balkon, duduk sendiri menatap bintang. Tak lama, Arsya muncul.

"Rara? Kok belum tidur?"

"Om? Om juga belum tidur?"

"Iya, Om lagi mikirin proyek." Arsya duduk di sampingnya. "Kamu kenapa?"

Rara menghela napas. "Om, Rara boleh curhat?"

"Tentu."

Rara bercerita tentang kegelisahannya. Tentang mimpinya jadi pelukis, tentang ketakutannya gagal, tentang pertanyaan-pertanyaan yang menghantuinya.

Arsya mendengarkan dengan saksama. Setelah Rara selesai, ia berkata, "Rara, Om mau cerita sesuatu."

"Apa, Om?"

"Dulu, waktu Om seusia kamu, Om juga punya mimpi. Tapi Om tidak punya siapa-siapa. Ibu Om pergi, Ayah Om tidak ada. Om sendiri. Om tidak punya orang yang bilang 'kamu bisa'."

Rara terharu. "Om..."

"Tapi Om tetap berusaha. Om sekolah keras, Om kerja keras. Dan sekarang, Om punya keluarga besar. Om punya kamu, punya Melati, Asmara, Kiki. Itu lebih dari apa pun."

Arsya meraih tangan Rara. "Kamu beruntung, Rara. Kamu punya keluarga yang mendukung. Jangan sia-siakan itu. Kejarlah mimpimu, tapi jangan lupa bersyukur."

Rara memeluk Arsya. "Makasih, Om."

"Sama-sama, Nak. Sekarang tidur. Besok sekolah."

Rara tersenyum, lalu masuk ke kamar.

Februari tiba. Rara mengikuti lomba lukis lagi—kali ini tingkat provinsi. Ia tidak menang, hanya masuk sepuluh besar. Banyak yang kecewa, tapi Rara tidak. Ia justru merasa lega.

"Ma, Rara senang," katanya pulang lomba.

"Senang? Padahal nggak menang?"

"Iya. Rara sadar, masih banyak yang harus dipelajari. Kalah itu nggak apa-apa. Yang penting Rara sudah coba."

Kalara memeluknya. "Kamu hebat, Nak. Mama bangga."

Di rumah, semua menyambut dengan hangat. Eyang Kusuma bilang, "Kalah menang itu biasa. Yang penting kamu belajar."

Asmara menghibur dengan caranya sendiri. "Kak, nanti Asmara kasih hadiah! Ini!"

Ia memberikan gambar T-Rex buatannya sendiri—coretan yang tidak berbentuk, tapi diberikan dengan tulus.

Rara tertawa. "Makasih, Dek. Ini bagus."

Kiki ikut memberi boneka. "Kiki juga kasih!"

Rara memeluk adik-adiknya. "Kalian adik terbaik."

Maret tiba. Melati sibuk latihan tari untuk pentas besar di Taman Ismail Marzuki. Ini pertama kalinya ia tampil di panggung profesional. Ia tegang setengah mati.

"Aduh, Ma, gimana kalau Melati salah langkah?" keluhnya setiap hari.

"Kamu sudah latihan keras, Nak. Percaya diri."

"Tapi banyak orang lihat!"

"Iya, justru itu kesempatan untuk menunjukkan bakatmu."

Eyang Kusuma memanggil Melati. "Sini, Nak."

Melati duduk di samping Eyang.

"Dulu, waktu Eyang muda, Eyang juga pernah naik panggung. Bukan nari, tapi nyanyi di acara kampung. Eyang gemeteran, hampir lupa lirik. Tapi setelah selesai, semua tepuk tangan. Dan Eyang sadar, penonton itu tidak melihat kesalahan kecil. Mereka melihat keberanian."

Melati menatap Eyang. "Beneran, Eyang?"

"Beneran. Jadi, jangan takut salah. Yang penting tampil dengan hati."

Melati mengangguk, sedikit lebih tenang.

Hari pentas tiba. Keluarga besar datang semua—Arsya, Nadia, Kalara, Raka, Rara, Asmara, Kiki, Eyang, Lastri, bahkan Pak Willem yang kesehatannya menurun tapi tetap ingin datang.

Mereka duduk di barisan depan. Melati di belakang panggung, berdoa dalam hati.

Saat gilirannya tiba, ia naik panggung dengan gaun tari berwarna biru keemasan. Lampu sorot menyinari. Musik mulai.

Melati menari. Gerakannya luwes, ekspresinya tepat. Tidak ada kesalahan berarti. Ia menari dengan sepenuh hati, mengikuti pesan Eyang.

Saat tarian usai, tepuk tangan bergemuruh. Melati membungkuk, tersenyum lebar. Ia mencari keluarganya di antara kerumunan. Mereka bertepuk tangan, menangis, tertawa.

Melati turun panggung, langsung berlari ke pelukan Kalara.

"Ma! Melati berhasil!"

"Kamu hebat, Nak! Hebat banget!"

Raka mencium pipinya. "Ayah bangga."

Eyang Kusuma memanggil. Melati mendekat. "Eyang, Melati ingat pesan Eyang. Melati nari dengan hati."

Eyang tersenyum. "Eyang lihat. Kamu luar biasa."

Malam harinya, mereka merayakan di restoran favorit Melati. Asmara dan Kiki paling senang karena boleh makan es krim sepuasnya. Rara memuji adiknya.

"Ti, kamu keren banget. Rara aja nggak berani naik panggung."

"Ah, Kakak bisa kok. Kakak kan pelukis hebat."

"Pelukis hebat yang kalah lomba."

"Kalah itu biasa. Yang penting Kakak tetap melukis."

Rara tersenyum. Adiknya ternyata bijak.

April tiba. Asmara mulai sekolah PAUD. Ia sangat antusias, sudah seminggu sebelumnya tidak bisa tidur karena excited.

"Hari ini Asmara sekolah!" teriaknya pagi-pagi.

"Iya, Nak. Sekarang mandi dulu."

Asmara mandi dengan semangat, lalu memilih baju sendiri—kaus bergambar dinosaurus, tentu saja.

Di sekolah, ia sempat menangis ditinggal Raka. Tapi begitu melihat teman-teman dan mainan, tangisnya berhenti.

Saat dijemput, ia bercerita dengan heboh. "Pa! Asmara main ayunan! Ada teman baru! Namanya Bima! Dia suka dinosaurus juga!"

Raka tersenyum. "Wah, seru, ya."

"Iya! Besok Asmara mau sekolah lagi!"

Kiki yang ikut menjemput protes. "Kiki mau sekolah!"

"Nanti, Nak. Kalau sudah 3 tahun."

"Kiki sudah 3 tahun!"

"Belum, masih 2 setengah."

Kiki cemberut, tapi cepat lupa saat melihat es krim di rumah.

Eyang Kusuma semakin hari semakin lemah. Usia 83 tahun membuatnya tidak sekuat dulu. Tapi semangatnya tetap tinggi. Ia masih suka bercerita, masih suka melihat anak-anak bermain, masih suka minum teh di beranda.

Suatu sore, saat duduk berdua dengan Lastri, Eyang berkata, "Lastri, aku mau titip sesuatu."

"Titip apa, Tante?"

Eyang mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam lemarinya. "Ini perhiasan peninggalan ibuku. Aku simpan selama ini. Untuk anak-anak."

Lastri membuka kotak itu. Di dalamnya, sepasang anting emas dan sebuah kalung dengan liontin bunga melati.

"Ini untuk Rara dan Melati. Mereka sudah besar. Untuk Asmara dan Kiki, nanti menyusul."

Lastri menangis. "Tante, Tante masih kuat. Tante bisa kasih sendiri."

"Lastri, aku sudah tua. Aku tidak tahu kapan waktunya. Aku hanya ingin memastikan mereka dapat warisan ini."

Lastri memeluk Eyang. "Tante... jangan bicara begitu."

Eyang tersenyum. "Ini hidup, Lastri. Tapi lihat, kita sudah dikelilingi cinta. Itu lebih dari cukup."

Malam harinya, Eyang mengumpulkan semua cucu dan cicit. Ia membagikan perhiasan itu dengan cerita di baliknya.

"Ini anting dari ibuku. Dulu, waktu aku menikah, ia berikan padaku. Katanya, untuk anak-anakku nanti. Tapi aku hanya punya Asmara, dan ia laki-laki. Jadi, aku simpan untuk cucu perempuanku."

Rara dan Melati menerima anting itu dengan haru.

"Ini kalung dengan bunga melati. Melati bunga kesukaan Rarasati. Jadi, untuk kalian berdua juga."

Rara memakainya. "Cantik, Eyang. Makasih."

Melati juga memakainya. "Melati sayang Eyang."

Asmara protes. "Asmara dapat apa?"

Eyang tertawa. "Kamu nanti, kalau sudah besar. Eyang masih punya sesuatu untukmu."

Kiki ikut protes. "Kiki juga!"

"Kiki juga. Semua dapat. Tapi sekarang, Eyang mau kalian janji."

"Janji apa, Eyang?" tanya Rara.

"Jaga keluarga ini. Jangan sampai cerai-berai. Rumah ini harus terus bernyanyi."

Mereka mengangguk, berjanji dalam hati.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!