NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Hutan

Hutan di sebelah barat desa berbeda dengan hutan di sekitar pabrik. Pepohonan di sini lebih jarang. Tanahnya lebih kering. Tidak ada lumut yang menutupi batang pohon. Cahaya matahari masih bisa menembus kanopi di beberapa tempat, membuat hutan ini tidak seterang yang di timur, tapi juga tidak segelap yang di belakang pabrik. Bambang tidak tahu apakah perbedaan ini pertanda baik atau buruk. Yang dia tahu, kakinya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.

"Ucok, aku berhenti dulu," kata Bambang sambil bersandar di sebuah pohon besar.

"Jangan lama-lama. Mereka mungkin sudah tahu kita ke barat."

"Tahu dari siapa? Polisi itu kan membiarkan kita pergi."

"Polisi itu membiarkan kita pergi, tapi siapa yang tahu dia tidak nelpon perusahaan setelah kita pergi. Atau orang-orang di desa itu. Atau mata-mata perusahaan yang kebetulan lewat."

Bambang menghela napas. Ucok selalu curiga pada semua orang. Mungkin itu yang membuatnya bertahan lima tahun di pabrik. Tapi sekarang, kecurigaan itu terasa melelahkan.

"Ucok, duduk dulu. Sebentar saja. Kakiku benar-benar tidak bisa."

Ucok menatap Bambang lama. Wajahnya yang keras itu melunak sedikit. Dia mengangguk dan duduk di akar pohon yang menjulang keluar dari tanah. Tas ransel pemberian kepala desa diletakkan di sampingnya.

Bambang duduk di tanah. Telapak kakinya yang telanjang kini penuh dengan luka. Beberapa luka sudah mengering, tapi beberapa masih basah dan terlihat merah. Dia membalutnya lagi dengan potongan kain baru yang dia robek dari ujung bajunya yang sudah compang-camping.

"Kita harus cari sepatu untukmu," kata Ucok. "Kaki seperti itu tidak bisa jalan jauh."

"Cari di mana? Di hutan ini? Ada pohon sepatu?"

Ucok tersenyum tipis. "Kamu masih bisa bercanda. Itu pertanda baik."

"Aku tidak bercanda. Aku serius. Kakiku sakit."

"Tahu. Tapi kita tidak bisa berhenti. Sebentar lagi matahari terbenam. Kita harus cari tempat berlindung sebelum malam."

Bambang menatap langit di sela-sela pepohonan. Matahari memang mulai condong ke barat. Langit berwarna oranye. Beberapa awan tipis bergulung di atas mereka. Mungkin dua atau tiga jam lagi malam akan tiba.

"Apa kita naik pohon lagi?" tanya Bambang.

"Tidak. Tidak ada pohon yang cukup tinggi di sini. Kita cari gua. Atau celah batu. Atau bangunan tua. Apa saja yang bisa melindungi kita dari pandangan langsung mereka."

Mereka berjalan lagi. Kaki Bambang terasa seperti berjalan di atas bara api. Setiap langkah menusuk. Tapi dia menggigit bibirnya dan terus melangkah. Ucok berjalan di depan, matanya waspada ke kiri dan kanan.

Setelah berjalan sekitar satu jam, mereka menemukan sebuah tebing batu. Tidak terlalu tinggi, mungkin hanya lima atau enam meter. Di kaki tebing itu, ada cekungan yang cukup dalam untuk menampung dua orang dewasa. Cekungan itu tertutup semak-semak dari depan, jadi tidak terlihat jelas dari kejauhan.

"Ini cukup," kata Ucok. "Kita masuk ke dalam sana. Tutup pintu dengan semak-semak. Jangan buat suara. Semoga mereka tidak menemukan kita."

Mereka merangkak masuk ke dalam cekungan itu. Tanahnya berbatu dan dingin. Bambang duduk bersandar pada dinding tebing. Ucok duduk di sampingnya, tubuh besarnya memenuhi sebagian besar ruang.

Ucok menarik semak-semak di depan pintu, menutup celah itu rapat-rapat. Kini mereka berada dalam kegelapan total. Tidak ada cahaya sedikit pun. Tidak ada suara dari luar kecuali desiran angin dan sesekali kicauan burung yang akan segera berhenti saat malam tiba.

"Ucok," bisik Bambang.

"Iya."

"Aku ingin bertanya sesuatu."

"Tanya."

"Kenapa kamu tidak kabur lebih awal? Lima tahun di pabrik itu. Lima tahun kamu lihat teman-temanmu berubah. Kenapa kamu tidak pergi?"

Ucok diam cukup lama. Bambang hampir berpikir Ucok tidak akan menjawab. Tapi kemudian suara Ucok terdengar, pelan, berat, seperti orang yang sedang membuka luka lama.

"Aku takut," kata Ucok.

"Kamu? Takut?"

"Semua orang takut, Bambang. Aku takut denda. Aku takut perusahaan menagih ke keluargaku. Aku takut Laras jadi jaminan. Aku takut kalau aku kabur, mereka akan cari Laras. Dan Laras masih kecil. Laras tidak bisa melindungi dirinya sendiri."

"Tapi kenapa sekarang kamu berani kabur?"

"Karena Joni. Karena Dul. Karena Herman. Karena mereka sudah tidak ada yang tersisa. Kalau aku tetap di sana, aku akan jadi seperti mereka. Pelan-pelan. Sedikit demi sedikit. Dan kalau aku sudah berubah, siapa yang akan jaga Laras? Lebih baik aku mati sebagai manusia daripada hidup sebagai makhluk yang tidak punya ingatan."

Bambang merasakan dadanya sesak. Dia memikirkan Ibu dan Bapak. Memikirkan rumah kontrakan sempit di gang. Memikirkan Mamat yang suka menyindir. Semua itu terasa begitu jauh sekarang. Tapi juga terasa begitu dekat. Begitu hangat.

"Kita akan selamat, Ucok," kata Bambang. "Kita akan pulang."

"Kamu yakin?"

"Aku tidak yakin. Tapi aku berharap. Dan selama harapan itu masih ada, selama itu aku tidak akan menyerah."

Malam tiba. Di luar, suara-suara mulai terdengar. Jangkrik. Burung hantu. Dan sesekali, suara seperti karet diregangkan. Suara itu tidak sedekat malam-malam sebelumnya. Masih jauh. Mungkin di kejauhan. Tapi Bambang tahu, cepat atau lambat, suara itu akan mendekat.

"Ucok, aku dengar mereka."

"Aku juga. Tapi masih jauh. Mereka mungkin tidak tahu kita di sini."

"Kalau mereka tahu?"

"Kita lihat nanti. Sekarang istirahat. Kita butuh tenaga untuk besok."

Bambang memejamkan mata. Tidak mudah tidur di tempat seperti ini. Tanah berbatu. Dingin. Kegelapan. Dan suara-suara mengerikan di kejauhan. Tapi tubuhnya terlalu lelah untuk terus melawan. Perlahan, kegelapan di balik kelopak matanya berubah menjadi tidur.

Dia bermimpi.

Dalam mimpinya, dia berdiri di depan rumah kontrakannya. Pintu terbuka. Ibu sedang menjahit di ruang tamu. Bapak duduk di kursi bambu. Semua terlihat normal. Semua terlihat damai.

"Bu," panggil Bambang.

Ibu menoleh. Wajahnya tersenyum. "Nak, kamu pulang?"

"Iya, Bu. Aku pulang."

"Bapak kangen kamu," kata Bapak dari kursi bambu.

Bambang mendekati Bapak. Dia mencium tangan Bapak. Tangannya hangat. Tangannya lembut. Seperti dulu, sebelum stroke.

"Bapak, maafkan aku. Aku pergi lama. Aku tidak kabar-kabari."

"Tidak apa, Nak. Yang penting kamu pulang."

Bambang menangis. Dia memeluk Bapak. Memeluk Ibu. Air matanya jatuh membasahi bahu Ibu.

Tiba-tiba, semuanya berubah.

Ibu melepas pelukannya. Wajah Ibu tidak lagi tersenyum. Matanya hitam. Hitam pekat. Seperti lubang yang tidak berdasar.

"Nak," kata Ibu dengan suara yang berbeda. Suara yang tidak pernah Bambang dengar dari mulut Ibu. Suara kering. Suara seperti karet digosokkan ke karet.

"Kamu tidak akan pernah pulang, Nak. Kamu akan tinggal di sini. Bersama kami. Di hutan."

Bambang mundur. Bapak berdiri dari kursi bambu. Tubuh Bapak berubah. Tinggi. Lengan panjang. Kulit hitam. Seperti karet.

"Bambang," kata Bapak dengan suara yang sama. "Ikut kami. Di sini enak. Di sini tidak ada rasa takut. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada lapar."

"Tidak!" teriak Bambang.

Dia berlari keluar rumah. Tapi di luar, yang ada bukan gang. Bukan rumah tetangga. Tapi hutan. Hutan yang gelap. Hutan yang lebat. Hutan yang sama dengan hutan di sekitar pabrik.

Dan di antara pepohonan, bayangan-bayangan mulai muncul. Satu. Dua. Tiga. Banyak. Semua tinggi. Semua hitam. Semua berlengan panjang.

Mereka berjalan mendekati Bambang. Perlahan. Pasti.

Bambang ingin lari, tapi kakinya tidak bisa bergerak. Terpaku di tanah. Seperti ada akar yang mengikatnya.

Bayangan-bayangan itu semakin dekat. Wajah-wajah mereka mulai terbentuk. Dul. Joni. Herman. Dan di belakang mereka, Ibu dan Bapak.

"Bambang... Bambang... ikut kami... ikut kami ke hutan..."

Bambang membuka mata.

Dia sadar. Masih di dalam cekungan batu. Masih di samping Ucok. Masih di hutan. Masih gelap.

Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Tangannya gemetar. Dadanya naik turun cepat.

"Bambang, kamu mimpi buruk?" bisik Ucok.

"Iya. Aku mimpi... aku mimpi mereka datang."

"Kita semua mimpi buruk setiap malam. Itu cara mereka masuk. Tapi kamu bangun. Itu yang penting."

"Ucok, aku takut tidur lagi."

"Jangan tidur. Kita akan jalan. Malam ini kita lanjutkan perjalanan. Lebih baik bergerak daripada diam dan mimpi buruk."

Mereka merangkak keluar dari cekungan batu. Bulan sudah terbit, memberikan cahaya tipis di sela-sela pepohonan. Tidak terang, tapi cukup untuk melihat bayangan-bayangan di sekitar.

Mereka berjalan. Tidak tahu arah. Hanya mengikuti kata hati. Hanya berusaha menjauh. Semakin jauh dari pabrik. Semakin jauh dari desa. Semakin jauh dari polisi yang tidak mau membantu.

Kaki Bambang sudah tidak terasa. Mati rasa. Yang dia rasakan hanya dorongan untuk terus melangkah. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Terus. Jangan berhenti.

Sekitar tengah malam, mereka sampai di sebuah sungai. Lebar. Airnya tenang. Di seberang sungai, ada cahaya. Bukan cahaya matahari. Bukan cahaya bulan. Tapi cahaya lampu. Lampu listrik. Lampu dari pemukiman.

"Ucok, lihat itu!" bisik Bambang.

"Aku lihat."

"Itu kota?"

"Mungkin. Atau desa yang lebih besar dari desa tadi. Tapi itu pemukiman. Itu manusia."

"Kita seberangi sungai."

"Kamu bisa berenang?"

"Aku tidak tahu. Tapi aku akan coba."

Mereka masuk ke sungai. Airnya dingin. Dingin sekali. Bambang menggigil hebat. Tapi dia terus melangkah. Air semakin dalam. Dari mata kaki, ke lutut, ke pinggang, ke dada.

"Bambang, kamu bisa?" tanya Ucok dari samping.

"Aku... aku bisa."

"Jangan lihat ke bawah. Jangan lihat ke air. Lihat ke seberang. Ke cahaya itu."

Bambang menatap ke seberang. Cahaya itu terlihat seperti bintang. Bintang di ujung terowongan. Bintang yang akan membawanya pulang.

Dia terus berenang. Tangannya bergerak di air. Kakinya menendang. Tubuhnya yang lelah terasa ringan di dalam air. Seperti ada sesuatu yang mengangkatnya. Seperti ada sesuatu yang membantunya.

Ketika mereka sampai di seberang, Bambang merangkak keluar dari air. Tubuhnya basah kuyup. Kedinginan. Tapi dia tersenyum.

"Ucok, kita sampai."

"Belum. Masih ada hutan di depan sana. Tapi setidaknya kita sudah dekat."

Mereka berjalan menuju cahaya itu. Kaki Bambang terasa lebih ringan. Mungkin karena air dingin membuat lukanya mati rasa. Atau mungkin karena harapan yang semakin dekat.

Setelah berjalan sekitar setengah jam, mereka sampai di pinggir hutan. Di depan mereka, terbentang sebuah kota kecil. Jalan aspal. Lampu penerangan. Rumah-rumah dengan listrik. Orang-orang yang lalu lalang meskipun sudah tengah malam.

Bambang berdiri di pinggir hutan, menatap kota itu dengan mata berkaca-kaca.

"Ucok, kita selamat," bisiknya.

Ucok berdiri di sampingnya. Wajahnya yang keras itu basah. Bukan karena air sungai. Tapi karena air mata.

"Belum, Bambang. Kita belum selamat. Selama mereka masih ada, selama pabrik itu masih beroperasi, selama Pak Toni masih bebas, kita belum selamat."

"Tapi setidaknya kita sudah sampai di sini. Setidaknya kita sudah bisa minta bantuan."

"Kamu yakin mereka akan membantu? Setelah apa yang kita alami di kantor polisi kemarin?"

Bambang terdiam. Ucok benar. Tidak ada jaminan bahwa polisi di kota ini akan berbeda. Tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan menghubungi perusahaan. Tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan menyerahkan Bambang dan Ucok kembali ke pabrik.

"Tapi kita harus coba," kata Bambang. "Kita tidak punya pilihan lain."

Ucok mengangguk pelan. "Baik. Tapi kita tidak bisa datang ke kantor polisi seperti ini. Pakaian basah. Kaki luka. Wajah pucat. Mereka akan curiga. Mereka akan tanya banyak. Dan cerita kita akan terdengar gila."

"Jadi kita harus cari tempat untuk bersih-bersih dulu. Cari baju kering. Cari makanan. Cari informasi."

"Di mana? Kita tidak punya uang."

Bambang meraba sakunya. Kering. Tidak ada uang. Ponselnya mati. Tidak ada kartu identitas. Tidak ada apa pun.

Tapi dia ingat sesuatu. Tas ransel pemberian kepala desa. Mungkin ada sesuatu di dalamnya. Dia membuka tas itu. Kain kering. Sepatu boot yang tidak muat di kakinya. Dan di saku kecil di samping, dia menemukan dompet kulit tua. Dompet milik Slamet. Anak kepala desa yang sudah menjadi makhluk.

Bambang membuka dompet itu. Ada uang. Beberapa lembar puluhan ribu. Tidak banyak. Tapi cukup untuk makan. Cukup untuk membeli baju bekas di pasar.

"Ini uangnya Slamet," kata Bambang pelan. "Kita pinjam dulu. Nanti kita ganti kalau sudah punya uang."

"Slamet sudah tidak butuh uang," kata Ucok datar. "Dia sudah tidak butuh apa pun."

Bambang menutup dompet itu dan memasukkannya ke saku. "Ayo. Kita cari warung yang masih buka. Kita cari makan. Kita cari tempat untuk istirahat. Besok pagi kita cari kantor polisi."

Mereka berjalan memasuki kota. Jalan aspal terasa aneh di kaki Bambang yang telanjang. Setelah berhari-hari berjalan di tanah hutan, aspal terasa keras dan panas meskipun sudah tengah malam.

Mereka berdua berjalan di pinggir jalan, berusaha tidak menarik perhatian. Pakaian basah. Rambut acak-acakan. Wajah pucat. Mereka pasti terlihat seperti pengemis. Atau gelandangan. Atau pelarian.

"Bang, Bang!"

Bambang menoleh. Seorang pria muda mengendarai sepeda motor berhenti di sampingnya. Pria itu mengenakan jaket parka. Wajahnya ramah.

"Bang, kalian dari mana? Kok basah-basah?"

"Kami dari... dari hutan," jawab Bambang hati-hati.

"Hutan? Ada apa di hutan?"

Bambang ragu. Tidak bisa cerita panjang-panjang di tengah jalan. "Kami tersesat, Bang. Lagi cari tempat untuk istirahat. Ada penginapan murah di sini?"

Pria itu mengangguk. "Di ujung jalan sana ada losmen. Murah. Seratus ribu semalam. Tapi kalian tidak punya identitas, susah."

"Kami punya KTP, Bang. Tapi basah."

"Ya sudah, coba saja. Atau kalau mau, saya antar ke mushola. Di mushola biasanya ada tempat untuk istirahat. Gratis."

Bambang menatap Ucok. Ucok mengangguk.

"Terima kasih, Bang," kata Bambang. "Antarkan kami ke mushola saja."

Pria itu mengantar mereka ke mushola kecil di tepi jalan. Mushola itu tidak terlalu besar, tapi bersih. Ada karpet di lantai. Ada beberapa sajadah tergantung di dinding. Di samping mushola, ada tempat wudu dengan air mengalir.

"Silakan istirahat di sini," kata pria itu. "Kalau lapar, saya belikan nasi bungkus dulu. Kalian tunggu ya."

Pria itu pergi dengan sepeda motornya. Bambang dan Ucok masuk ke mushola. Mereka duduk di karpet. Tubuh mereka basah, tapi setidaknya mereka sudah tidak di hutan. Setidaknya mereka sudah aman. Untuk sementara.

"Ucok, kita harus percaya pada orang itu?" tanya Bambang.

"Kita tidak punya pilihan."

Pria itu kembali setelah sekitar lima belas menit. Dia membawa dua bungkus nasi dan dua botol air mineral. Dia juga membawa dua helai sarung dan dua handuk bekas.

"Ini. Makan dulu. Sarung dan handuk buat kalian ganti. Pakaian kalian yang basah jemur saja di belakang. Nanti pagi mungkin sudah kering."

"Terima kasih, Bang. Kami tidak tahu harus membalas apa."

"Tidak usah balas. Saya hanya membantu. Tapi saya ingin tahu satu hal. Kalian sungguhan dari hutan? Hutan sebelah timur?"

"Iya, Bang."

"Kalian dari pabrik karet?"

Bambang terkejut. "Kamu tahu tentang pabrik itu?"

Pria itu duduk di samping mereka. Wajahnya yang ramah kini berubah serius. "Siapa yang tidak tahu di sini? Pabrik itu sudah beroperasi puluhan tahun. Banyak orang dari desa-desa sekitar yang bekerja di sana. Tapi tidak ada yang pernah kembali. Atau kalau kembali, mereka sudah... berubah."

"Kamu kenal Slamet?" tanya Ucok tiba-tiba.

Pria itu terkejut. "Slamet? Dia tetangga saya dulu. Dia kerja di pabrik itu lima tahun lalu. Keluarganya bilang dia kecelakaan. Tapi saya tidak percaya. Slamet orang hati-hati. Tidak mungkin kecelakaan."

"Slamet sudah berubah," kata Ucok pelan. "Dia sekarang jadi makhluk. Berdiri di tepi hutan. Bersama yang lain."

Pria itu terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Saya tahu. Saya sudah duga. Tapi tidak pernah ada yang bisa buktikan. Semua orang takut. Perusahaan besar. Polisi takut. Pemerintah takut."

"Kami mau lapor ke polisi," kata Bambang. "Kami mau bawa bukti. Kami mau hentikan pabrik itu."

Pria itu menggeleng. "Polisi di sini sama saja. Mereka sudah dibeli. Saran saya, jangan buang waktu. Langsung cari wartawan. Atau LSM. Atau pergi ke ibu kota provinsi. Laporkan ke sana."

"Ibu kota provinsi? Jauh?"

"Seharian naik mobil. Tapi kalian bisa naik bus dari terminal."

Bambang dan Ucok saling bertatapan. Perjalanan masih panjang. Tapi setidaknya mereka punya arah. Setidaknya mereka tahu ke mana harus pergi.

"Terima kasih, Bang," kata Bambang. "Kami tidak akan lupa bantuanmu."

Pria itu berdiri. "Saya yang harus berterima kasih. Karena kalian berani melakukan apa yang tidak berani saya lakukan. Selamat jalan. Semoga kalian berhasil."

Pria itu pergi. Bambang dan Ucok makan nasi bungkus itu dengan lahap. Setelah berhari-hari hanya makan kerupuk dan air sungai, nasi hangat terasa seperti makanan para dewa.

Mereka berganti pakaian. Sarung dan handuk bekas itu tidak mewah, tapi kering dan hangat. Bambang menggulung celana basahnya dan membawanya ke belakang mushola untuk dijemur.

Saat kembali ke dalam mushola, dia melihat Ucok sudah berbaring di karpet. Matanya tertutup. Dadanya naik turun pelan. Ucok tidur. Untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, Ucok tidur dengan tenang.

Bambang duduk di samping Ucok. Dia tidak bisa tidur. Pikirannya masih kacau. Tapi dia tidak ingin membangunkan Ucok. Ucok butuh istirahat. Mereka berdua butuh istirahat.

Dia memejamkan mata. Mendengarkan suara di luar. Suara angin. Suara sepeda motor lewat. Suara kehidupan normal. Suara yang sudah lama tidak dia dengar.

Bambang tersenyum. Mereka selamat. Mereka berhasil keluar. Mereka berhasil sampai di sini.

Perjuangan belum selesai. Masih banyak yang harus dilakukan. Tapi untuk malam ini, mereka aman.

Untuk malam ini, mereka bisa tidur tanpa mimpi buruk.

Untuk malam ini, mereka bisa menjadi manusia.

1
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!