Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.
Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Begitu melewati gerbang mansion, Thalia langsung melangkah cepat ke dalam rumah. Baru saja pintu dibuka oleh pelayan, suara langkah kecil berlari-lari terdengar dari arah ruang keluarga.
"Mamaaa!" Liam berteriak riang sambil mengangkat kedua tangannya.
Hati Thalia langsung meleleh. Ia merunduk dan meraih putranya ke dalam pelukan. Aroma khas anak kecil yang segar membuat senyum Thalia mengembang. "Mama kangen sekali sama Liam," ucapnya sambil menciumi pipi chubby itu.
Liam terkikik, tangannya yang mungil memegang wajah Thalia. "Liam juga kangen... Mama jangan lama-lama pergi lagi, ya."
Thalia mengusap rambut halus Liam. "Iya, sayang. Mama janji." Mereka duduk di karpet ruang keluarga, bermain dengan balok kayu warna-warni. Liam dengan semangat menyusun menara tinggi, sementara Thalia pura-pura kagum berlebihan setiap kali menara itu berdiri tegak.
"Wah, ini menara apa?" tanya Thalia.
"Menalaaaa... Mama sama Papa," jawab Liam polos, membuat Thalia tertawa kecil.
Menjelang sore, suara deru mobil terdengar dari luar. Thalia sempat melirik jam dinding. Tumben sekali. Biasanya Aiden baru pulang menjelang malam, tenggelam dalam pekerjaannya.
Tak lama kemudian, pria itu muncul di ambang pintu. Penampilannya tetap rapi dengan jas gelap meski dasinya sudah sedikit longgar. Tatapannya langsung tertuju pada Thalia dan Liam yang duduk di lantai.
"Papa!" Liam berlari ke arahnya. Aiden membungkuk, meraih putranya ke dalam pelukan hangat.
"Bagaimana hari ini?" suara Aiden terdengar lebih lembut dari biasanya ketika berbicara pada anaknya.
"Main cama Mama. Bangun menala tinggi banget!" Liam menjawab dengan semangat.
Aiden tersenyum tipis dan memeluk anaknya lebih erat. Thalia memperhatikan momen itu sambil membereskan balok-balok mainan. Hubungan ayah-anak itu selalu membuatnya sedikit hangat di hati, meskipun sikap Aiden padanya sering kali dingin.
Namun, momen manis itu terputus ketika ponsel Aiden berdering. Ia melihat layar, lalu mengangkatnya. "Lucas."
Thalia tak sengaja ikut mendengar percakapan itu.
"Ya... rencana investasi untuk pembangunan apartemen di Distrik Barat. Sudah ada kesepakatan awal dengan pihak Ghospal Company? Baik. Kirimkan semua dokumen dan jadwalkan pertemuan investor besok."
Thalia sontak membeku. Distrik Barat? Kata-kata itu memicu ingatan yang jelas dalam kepalanya -ingatan yang bukan milik tubuh ini, tapi dari cerita novel yang pernah ia baca di sela syuting di kehidupan pertamanya. Distrik Barat adalah lahan penuh sengketa. Satu bidang tanah bisa dimiliki tiga atau empat pihak sekaligus, semua dengan dokumen 'sah' versi mereka. Setiap upaya pembangunan di sana selalu berujung pada gugatan bertahun-tahun, menguras dana dan tenaga tanpa hasil. Fakta itu baru akan terkuak saat pemabangunan besar-besaran sedang berlangsung. Hingga akhirnya pembangunan pun akan mangkrak berkepanjangan.
Jika Aiden benar-benar masuk ke proyek ini... kerugiannya akan besar. Meski saat ini ia tidak jatuh cinta pada pria itu, Thalia juga tak ingin suaminya hancur finansial. Namun, bagaimana ia bisa memperingatkannya tanpa membuat Aiden curiga?
Mana mungkin ia tiba-tiba tahu semua ini tanpa sumber yang jelas?
Ia menatap Aiden yang masih sibuk berbicara dengan Lucas. Haruskah aku diam saja? Tapi diam berarti membiarkan bencana terjadi.
Telepon berakhir. Aiden menurunkan ponselnya, lalu berbalik untuk duduk di sofa. Thalia menghela napas pelan, mencoba merangkai kata.
"Aiden..." panggilnya, nadanya tenang.
Pria itu menoleh, alisnya sedikit terangkat. "Apa?"
Thalia melangkah mendekat. "Tentang proyek di Distrik Barat tadi... sebelum melakukan investasi sebesar itu, sebaiknya lakukan evaluasi menyeluruh. Survei lokasi mendadak, gali informasi dari berbagai sumber tentang kepemilikan tanah di sana. Bandingkan hasilnya, lihat apakah semua sumber memberikan informasi yang sama... atau justru berbeda."
Aiden menatapnya lama, seolah mencoba membaca niat di balik kata-kata itu. "Kau terdengar seperti sedang memperingatkanku."
"Aku hanya berpikir... jumlah dana yang terlibat sangat besar. Akan lebih aman kalau semua fakta dicek ulang," jawab Thalia, berusaha terdengar netral.
Tatapan Aiden mengeras, namun ada kilatan rasa ingin tahu di matanya. Istrinya jarang, bahkan hampir tidak pernah, ikut campur urusan bisnisnya. "Kenapa tiba-tiba kau bicara seperti ini? Dari mana kau tahu Distrik Barat perlu diperiksa ulang?"
Thalia menahan napas sepersekian detik sebelum menjawab, "Aku... mendengar beberapa rumor tentang masalah kepemilikan lahan di sana. Rumor, bukan fakta. Jadi, kupikir lebih baik memastikan sebelum memutuskan."
Aiden masih menatapnya tajam, tapi tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk singkat.
"Baik. Aku akan memeriksanya."
Hanya itu, lalu ia berdiri dan berjalan ke ruang kerjanya.
Thalia menghembuskan napas lega. Ia tak tahu apakah Aiden benar-benar akan mempertimbangkan sarannya, tapi setidaknya ia sudah mencoba. Liam yang dari tadi memeluk boneka panda, menatapnya dengan mata bulat penasaran.
"Mama kenapa?" tanya Liam polos.
Thalia tersenyum tipis, mengusap kepala putranya. "Tidak apa-apa, sayang. Mama hanya ingin Papa berhati-hati."
**
Di ruang kerjanya, Aiden membuka ponsel dan langsung menghubungi Lucas.
"Besok pagi kau pergi ke Distrik Barat. Survei diam-diam, cari semua data tentang kepemilikan tanah di sana. Hubungi pengacara kita untuk menelusuri catatan hukum, termasuk semua gugatan yang pernah diajukan terkait wilayah itu."
"Baik, Tuan," jawab Lucas tegas.
Keesokan harinya, Lucas mengirim laporan setebal hampir seratus halaman. Semua temuan mengarah pada satu fakta: Distrik Barat adalah ladang sengketa. Beberapa bidang tanah yang akan digunakan untuk proyek apartemen ternyata dimiliki oleh lebih dari satu pihak dengan sertifikat yang sama-sama 'sah'. Ada kasus yang bahkan sudah berjalan di pengadilan selama lima tahun tanpa penyelesaian.
Aiden menutup berkas itu, rahangnya mengeras. Sama persis dengan yang dia katakan.
Ia duduk termenung beberapa menit, memikirkan bagaimana istrinya bisa mengetahui hal sebesar ini. Apakah benar hanya "mendengar rumor"? Atau ada sesuatu yang ia sembunyikan?
Tanpa menunda, Aiden menekan nomor Lucas.
"Kita batalkan kerja sama dengan Ghospal Company. Tarik semua dana investasi. Sampaikan bahwa alasan kita adalah ketidakpastian legalitas tanah. Pastikan keluar dari proyek ini sebelum kita ikut terseret masalah."
"Baik, Tuan."
Aiden memutuskan telepon, lalu bersandar di kursi. Ada rasa lega karena potensi kerugian besar bisa dihindari, tapi juga rasa penasaran yang mengusik. Istrinya... benar-benar misteri.
Kini Aiden sudah berada di kantor lebih awal dari biasanya. Ia memandangi laporan singkat yang semalam diminta kepada Lucas, lalu menginstruksikan:
"Selidiki Distrik Barat dari jalur tidak resmi. Jangan hanya mengandalkan tim survei kita yang sudah dijadwalkan oleh pihak Ghospal."
Lucas mengangguk, paham maksud tuannya.
"Baik, Tuan. Saya akan kirim orang-orang yang tidak dikenal di lapangan. Kita buat rutenya acak, dan tanpa pemberitahuan."
Hari itu juga, Lucas mengerahkan dua tim. Satu tim berpura-pura sebagai calon pembeli properti, tim lain masuk ke kantor pemerintah daerah untuk mengecek catatan tanah. Butuh waktu dua hari penuh sampai semua informasi terkumpul.
Sore hari di hari kedua, Lucas memasuki ruang kerja Aiden dengan wajah serius. "Tuan... Anda harus lihat ini." Ia menyerahkan sebuah map tebal.
Aiden membuka halaman pertama-foto-foto lahan kosong yang tampak biasa, lalu beralih ke foto berikutnya yang menunjukkan tanda pagar "Sengketa Tanah" di beberapa titik. Semakin ia membaca, wajahnya semakin mengeras.
"Semua survei yang pernah kita lakukan... tidak pernah melewati area ini," gumam Aiden.
Lucas mengangguk. "Benar, Tuan. Ghospal Company selalu mengatur rute survei. Mereka membawa tim kita hanya ke titik-titik yang legal. Wilayah yang bermasalah sengaja dihindari. Bahkan dokumen yang mereka berikan adalah versi 'aman' yang sudah dipangkas."
Aiden membalik halaman berikutnya-laporan hukum yang mencatat ada empat klaim kepemilikan berbeda untuk satu blok tanah di tengah Distrik Barat. Beberapa kasus sengketa sudah berjalan selama lima tahun tanpa putusan.
Lucas menambahkan, "Berdasarkan informasi orang dalam, Ghospal tahu semua ini sejak awal. Rencana mereka adalah memancing Anda menaruh dana besar sebagai mitra pembangunan, lalu proyek pasti mandek karena sengketa. Sementara itu, dana awal-uang muka kontrak, biaya perizinan, dan biaya konsultasi-akan mereka 'amankan' di kantong mereka."
Suasana ruangan langsung menegang. Aiden
menutup map itu dengan hentakan keras di meja. "Jadi... mereka bukan cuma ingin proyek ini gagal.
Mereka ingin mencuri uang dariku."
Lucas menunduk. "Tepat sekali, Tuan."
Aiden berdiri, berjalan ke arah jendela kantornya. Suasana kota terlihat ramai di bawah sana, tapi pikirannya penuh amarah. "Batalkan semua kesepakatan dengan Ghospal. Bekukan seluruh pembayaran yang belum keluar. Dan... hubungi tim hukum. Aku ingin opsi tuntutan balik."
"Segera, Tuan," jawab Lucas cepat.
Beberapa menit setelah Lucas keluar, Aiden masih berdiri di depan jendela. Ia teringat kata-kata istrinya tentang melakukan survei mendadak dan mencari sumber informasi yang berbeda. Itu bukan saran yang datang dari sembarang orang.
Aku tidak pernah membicarakan Distrik Barat di rumah sebelumnya, pikir Aiden. Bagaimana dia bisa tahu?
Wajah Thalia terlintas di benaknya. Sejak menikah, wanita itu selalu terlihat pemalu, bahkan cenderung pasif. Namun belakangan ini... ia mulai menunjukkan sisi lain yang membuat Aiden terus-menerus bertanya.
Jika bukan karena ucapannya, Aiden mungkin sudah terjebak dan kehilangan jutaan dolar, bersama reputasi bisnis yang hancur.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, tapi cepat hilang berganti dengan tatapan tajam. "Siapa sebenarnya kau, Thalia?" gumamnya pelan.
lanjuttttt/Kiss/