Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.
Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...
Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~24 Kabar bahagia di tengah duka
Setelah berbicara panjang lebar dengan Gustaf dan berjanji untuk saling menguatkan, hati Layla terasa sedikit lebih tenang. Namun, bayangan wajah Laras yang penuh amarah dan kesedihan tadi terus menghantui pikirannya. Ia tahu, kakak iparnya itu sedang menanggung beban yang sangat berat, dan rasa marah itu hanyalah cara Laras melindungi dirinya sendiri agar tidak hancur sepenuhnya.
"Kak Laras pasti sedang sangat gelisah dan kepanasan hatinya," batin Layla sambil berjalan menuju dapur kecil di sayap utara. Ia memerintahkan pelayan untuk menyeduh teh melati hangat dicampur sedikit madu dan irisan akar manis, ramuan yang biasa ibunya buat untuk menenangkan jiwa yang sedang gundah.
Dengan tangan sendiri, Layla membawa cangkir teh itu di atas nampan kayu. Ia berniat membawanya ke kamar Laras, berharap sedikit kehangatan dan ketenangan bisa sedikit mencairkan suasana dingin di antara mereka, setidaknya untuk hari ini.
Langkah kakinya ringan namun hati-hati saat tiba di depan pintu kamar Laras yang tidak tertutup rapat. Celah pintu itu terbuka sedikit, dan dari dalam tidak terdengar suara apapun. Sunyi sekali.
"Kak Laras... aku membawakan teh hangat," panggil Layla lembut dari luar, mengetuk pelan daun pintu. Tidak ada jawaban.
Layla mengerutkan keningnya bingung. Biasanya, jika Laras sedang ada di kamar, wanita itu akan mempersilakan masuk atau setidaknya bertanya siapa yang datang. Karena khawatir, Layla perlahan mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.
"Kak?"
Pandangan Layla langsung tertuju ke tengah ruangan, dan nampan di tangannya nyaris terlepas. Cangkir teh bergetar, sedikit isinya tumpah membasahi nampan, tapi Layla tidak peduli. Wajahnya seketika pucat pasi, jantungnya berdegup kencang karena ketakutan.
Di lantai kayu yang dingin, tergeletak tubuh Laras yang lemas tak berdaya. Di sekelilingnya berserakan pakaian-pakaian kebaya yang belum terlipat rapi, peti kayu besar yang terbuka lebar, dan kotak perhiasan yang terbalik isinya. Di sudut ruangan, terlihat bekas muntahan yang masih basah.
"Kak Laras!!"
Layla meletakkan nampan itu sembarangan di meja terdekat, lalu berlari kecil mendekati tubuh kakak iparnya. Ia berlutut, mengangkat kepala Laras dan menyandarkannya ke pangkuannya. Wajah Laras terlihat sangat pucat, keringat dingin membasahi dahinya, napasnya terasa lemah dan pendek. Kulit tubuhnya terasa dingin namun sedikit panas di kening.
"Kak, bangun... Kak Laras!" panggil Layla sambil mengusap pipi wanita itu dengan panik. Ia merasakan detak jantung Laras yang berpacu cepat namun lemah.
Melihat kondisi itu, serta tumpukan pakaian yang seolah sedang dikemas untuk pergi, Layla mengerti ada sesuatu yang tidak beres. Entah karena emosi yang meluap-luap atau penyakit yang datang tiba-tiba, Laras jatuh sakit parah.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Layla menoleh ke arah pintu dan berteriak sekeras tenaganya.
"Pelayan! Pengawal! Sini cepat! Panggilkan Tabib Kerajaan! Sekarang juga! Katakan Nyi Laras pingsan dan sakit parah!"
Suara Layla menggema ke seluruh lorong. Tak lama kemudian, hiruk-pikuk suara langkah kaki terdengar mendekat. Beberapa pelayan dan pengawal masuk dengan wajah cemas.
"Cepat siapkan tempat tidur! Bawa kain hangat dan air bersih! Jangan ada yang berisik!" perintah Layla dengan tegas, sambil tetap berusaha menenangkan diri agar bisa mengurus kakak iparnya. Bersama dua pelayan, mereka mengangkat tubuh Laras yang ringkih itu dan membaringkannya kembali di atas kasur empuk.
Sementara itu, salah satu pengawal berlari memanggil Tabib Kerajaan yang kebetulan sedang bertugas di bagian pengobatan istana.
Tak sampai seperempat jam, seorang lelaki tua berjubah cokelat dengan kotak obat dari kulit bengkok bergegas masuk ke dalam kamar itu. Beliau adalah Tabib Semadi, orang yang sudah mengurus kesehatan keluarga kerajaan Candra sejak puluhan tahun lalu.
"Menyingkir sedikit, Nak. Biar aku periksa," ujar Tabib Semadi pelan, duduk di tepi ranjang.
Layla mundur selangkah, berdiri di sisi tempat tidur dengan tangan saling menggenggam erat karena cemas. Matanya tak lepas dari wajah Laras yang masih pucat dan belum sadar.
Tabib Semadi mengusap telapak tangannya sendiri agar hangat, lalu dengan lembut ia meraba pergelangan tangan kiri Laras, merasakan irama denyut nadinya. Matanya terpejam, berkonsentrasi penuh. Kemudian ia mengangkat kelopak mata Laras satu per satu, mengamati warna bola matanya, lalu mencium bau napas dan melihat sisa muntahan di lantai yang dibersihkan pelayan.
Hening yang mencekam menyelimuti ruangan itu selama beberapa menit. Hanya suara napas berat Laras dan detak jantung Layla yang terdengar.
Pintu kamar kembali terbuka lebar. Raja Batara, Ratu Saraswati, dan di belakang mereka Raja Gustaf masuk dengan wajah penuh kekhawatiran. Kabar tentang Laras yang pingsan sudah sampai ke telinga mereka.
"Apa yang terjadi, Tabib? Bagaimana keadaan menantu kami?" tanya Raja Batara dengan suara bergetar, mendekat ke tepi ranjang.
Tabib Semadi perlahan melepaskan pergelangan tangan Laras, lalu menarik selimut hingga menutupi dada wanita itu. Wajah lelaki tua itu tidak lagi kerut cemas, malah kini tampak sedikit terkejut bercampur senyum tak percaya. Ia menoleh ke arah Raja Batara dan Ratu Saraswati, lalu beralih menatap Layla dan Gustaf yang berdiri di belakang.
Tabib itu menarik napas panjang, lalu berbicara dengan suara lantang namun lembut.
"Yang Mulia... Ibu Ratu... dan kalian semua. Tenanglah. Nyi Laras tidak sedang terserang penyakit berbahaya, juga tidak mendekati kematian."
Semua orang di ruangan itu menghela napas lega, namun kebingungan masih terlihat di wajah mereka.
"Lalu apa yang menyebabkan dia jatuh pingsan sehebat ini, Pak Tabib?" tanya Ratu Saraswati, tangannya mengusap kening Laras yang masih basah keringat. "Dia memang sering murung dan sedih, tapi tidak pernah sampai muntah-muntah dan pingsan begini."
Tabib Semadi tersenyum tipis, lalu menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang penuh makna.
"Yang membuatnya lemas, muntah-muntah, dan pusing berputar... bukan karena sakit, bukan karena emosi, dan bukan karena kelelahan semata."
Beliau menjeda sejenak, lalu mengucapkan kata-kata yang membuat seisi ruangan serentak tertegun tak percaya.
"Nyi Laras... sedang mengandung. Dan usia kandungannya kini sudah menginjak hampir satu bulan. Itulah sebabnya tubuhnya bereaksi keras, terutama saat hatinya sedang gundah atau marah besar. Rasa mual, pusing, dan lemas itu adalah tanda-tanda kuat dari seorang ibu yang sedang mengandung."
Suasana seketika menjadi hening total.
Layla menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak kaget namun seketika dipenuhi air mata bahagia. Raja Batara mundur selangkah, bersandar pada tiang tempat tidur, tak mampu berkata-kata. Ratu Saraswati langsung menangis terharu, memegangi dadanya yang sesak oleh rasa syukur.
Mengandung...
Laras mengandung anak mendiang Pangeran Laksamana. Benih dari cinta mereka, yang ternyata masih hidup dan tumbuh di dalam rahim wanita itu, tersembunyi di balik kesedihan dan duka yang mendalam selama beberapa hari ini.
Di sudut ruangan, Raja Gustaf terdiam mematung. Jantungnya berdebar kencang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Di satu sisi, ini adalah kabar paling bahagia bagi keluarga Candra. Tapi di sisi lain... ini adalah bukti nyata, hidup dan berdenyut, dari nyawa yang telah ia renggut. Di dalam perut wanita yang paling membencinya itu, ada satu-satunya peninggalan nyawa Laksamana yang tersisa di dunia ini.
Layla segera berlutut di samping tempat tidur, menggenggam tangan dingin Laras dengan lembut.
"Anak Kak Laksamana... masih ada," bisik Layla parau, air matanya jatuh membasahi punggung tangan kakak iparnya. "Ternyata... Tuhan belum mengambil segalanya dari Kak Laras. Dia masih punya harapan. Dia masih punya alasan untuk hidup."
Ratu Saraswati mendekat, mencium kening menantunya dengan penuh kasih sayang. "Anakku... kau tidak sendirian. Kau tidak kehilangan segalanya. Darah Laksamana masih ada di sini."
Perlahan, di tengah keributan dan kabar besar ini, kelopak mata Laras bergerak pelan. Ia mulai membuka matanya yang kabur, berusaha menyesuaikan pandangan dengan cahaya di ruangan itu.
Ia melihat wajah ayah mertuanya, ibu mertuanya, Layla... dan di belakang sana, sosok Raja Gustaf yang berdiri diam dengan ekspresi yang sulit diartikan, campuran antara rasa bersalah yang makin dalam dan rasa hormat yang tinggi.
Laras berusaha mengangkat kepalanya lemah, suaranya terdengar serak dan pelan.
"Apa... apa yang terjadi? Kenapa... semuanya ada di sini?"
Raja Batara mendekat, mencium punggung tangan menantunya dengan mata berkaca-kaca.
"Kau hebat, Nak. Kau hebat sekali... Kau membawa secercah cahaya kembali ke istana ini. Kau sedang mengandung anak Laksamana. Cucu kami."
Mata Laras membelalak lebar. Wajahnya yang pucat berubah menjadi merah padam karena kaget yang luar biasa. Ia menatap perutnya sendiri, lalu menatap wajah-wajah di sekelilingnya. Ingatannya kembali pada rasa mual itu, pada rasa lemas yang sering ia rasakan tapi ia abaikan karena ia pikir itu hanya efek dari kesedihan.
Air mata mulai mengalir deras dari mata Laras, tapi kali ini bukan air mata dendam atau kesedihan. Air mata itu jatuh dengan rasa tak percaya, rasa haru, dan rasa syukur yang mendalam.
"Laksamana..." bisiknya parau, tangannya gemetar menyentuh perutnya sendiri. "Masih ada... kamu masih ada..."
Namun, di tengah kebahagiaan yang meluap itu, mata Laras kembali menatap ke arah Raja Gustaf. Tatapannya berubah lagi. Tidak lagi sekadar benci, tapi kini ada beban yang lebih berat.
Di dalam rahimnya ada anak dari pria yang dibunuh oleh pria yang berdiri di sana.
Gustaf mengangguk pelan kepadanya, satu gerakan hormat yang sangat dalam. Ia sadar sepenuhnya. Nyawa Laksamana memang hilang oleh tangannya, tapi warisan Laksamana kini tumbuh di dalam rahim wanita yang paling ia sakiti. Dan anak itulah yang akan menjadi penebus segalanya, atau menjadi pengingat abadi akan dosa terbesarnya.
Layla menggenggam tangan kakak iparnya lebih erat. "Kak... sekarang Kak Laras tidak boleh pergi ke mana-mana. Kakak harus menjaga titipan ini. Ini adalah anugerah terbesar yang Tuhan berikan pada kita semua."
Niat Laras untuk pergi ke Kerajaan Kencana Sari tadi pagi... kini hancur sepenuhnya, digantikan oleh satu tujuan baru: menjaga nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya.