Mariam Musa dan Medina.
Medina mengetahui bahwa jauh di dalam hati Musa masih tersimpan cinta yang besar untuk Mariam. Medina sangat mencintai Musa, dan walau bagaimanapun dia tetaplah seorang istri yang ikut menderita kala melihat suaminya berjuang melupakan cinta pertamanya.
Terlebih setelah takdir mempertemukan mereka dalam situasi yang sulit.
Keihlasan Medina yang harus jatuh bangun mengejar Mariam.
Hanya untuk sebuah pengabdian agar suaminya bahagia.
Medina bodoh, tidak!
Ridho suami dan ridho Allohlah yang dia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Betti Cahaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama pernikahan
Malam ini terasa sangat sunyi, ranjangku berubah menjadi lebih dingin. Satu persatu ketakutanku menjadi nyata, aku menghadapi semuanya atas nama pengorbanan.
Aku merasa, di ujung sana, Mas Musa dan Mba Mariam sedang menertawakan kebodohanku. Mereka mungkin sedang merayakan cinta mereka yang akhirnya telah menjadi satu. Mereka berdua sudah seperti bulatan utuh yang sempurna, menyisakan aku di sini sebagai ganjalannya.
Mampukah aku bertahan?
Kuhabiskan malam dengan bersimpuh di atas sajadah, mengadukan semua yang menjadi kelemahanku, mencoba mencari kedamaian dan ketenangan di tengah-tengah kebahagiaan suamiku dan istri barunya.
Pada akhirnya aku membagi suamiku, bayang-bayang Mas Musa dan Mba Mariam sedang bergumul mesra di malam pengantin selalu menyusup ke dalam lantunan dzikirku. Aku mencoba untuk tidak berpikir ke arah sana, tapi batinku muak jika harus kembali di bohongi. Tanganku gemetar menahan banyaknya halusinasi liar, membayangkan apa yang terjadi di kamar pengantin mereka.
Inilah kenyataannya, aku harus membagi semuanya agar Mas Musa membagi hatinya sedikit saja padaku. Meskipun hatiku seperti dicabik-cabik dan di sayat sampai tak berbentuk lagi. Tapi ini adalah pilihanku, aku harus menghadapinya.
Ya Alloh, berikan aku kesabaran seluas samudra, berikan aku ketegaran serupa karang, kalau ini adalah takdirmu bimbing aku agar terus di jalan yang benar.
...
Pagi telah menjelang, aku mulai sibuk dengan dapur. Masih ada orang tua Mas Musa, Mas Harun, dan Pak Iwan di sini, rencananya hari ini mereka baru akan pulang. Aku harus menyiapkan sarapan untuk mereka, walau badanku rasanya remuk redam, tapi aku tidak boleh terlihat lemah, atau pun kalah.
Aku sedang mencuci beras ketika seseorang datang menghampiriku.
"Hey Ukhti ... sudah biarkan saja saya dan Pak Iwan yang masak," ucap Mas Harun mengagetkanku.
"Jangan Mas, inikan tugas Medina."
"Sudah-sudah jangan memaksakan diri, aku tahu malammu buruk, lebih baik istirahat, soal masak-memasak saya dan Pak Iwan juga bisa." Mas Harun mencoba memaksa, dia mengambil panci dari tanganku dan meneruskan pekerjaanku.
"Istirahat saja Ukhty, liat wajahmu pucat jangan sampai orang yang liat lari ketakutan karena mengira ketemu hantu," lanjutnya, aku tidak menyangka Mas Harun punya sisi seperti ini.
"Terimakasih ...." Akhirnya aku beringsut kembali ke kamarku.
Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur, semalaman aku tidak tidur sama sekali, bayangan Mas Musa dan Mba Mariam selalu muncul saat kucoba memejamkan mata. Tapi, bukankah ini hanya awal? Di depan sana akan ada banyak hal yang lebih menguji keikhlasanku. Bukankah ikhlas tidak boleh diucapkan?
Kuraih ponsel dan kubuka beberapa chat yang sudah menumpuk di aplikasi hijau milikku. Banyak yang aku lewati, aku hanya memilih chat dari Ibuku.
[Nduk, hati ibu sakit sekali, ibu kecewa sama keluarga besan, kenapa anak ibu dipoligami?]
[Kamu yang sabar, Nduk]
[Pintu rumah selalu terbuka, kalau kamu nggak kuat dan pengen balik arah, Nduk]
[Nduk, bales pesan ibu, ibu khawatir, telephone ibu juga nggak pernah kamu angkat]
Ibuku tetap tidak percaya kalau semua ini berawal dari keputusanku sendiri.
[Assalamualaikum Buk, Medina baik-baik saja, jangan berpikir yang macam-macam apalagi suudzon sama keluarga Mas Musa, ini mutlak keputusanku] balasku.
...
Kurasakan belaian lembut menyapu rambutku, dan ciuman hangat menyapa keningku. Begitu nyaman, sesuatu yang selalu membuatku candu. Mas musa?!
Aku membuka mata dan wajah Mas Musa berada tepat di depan wajahku. Mas Musa berlanjut mencium kedua pipiku. Mimpikah aku? Rasanya aku tidak mau bangun saja. Kurasakan Mas Musa ikut berbaring dan memelukku dengan hangat, benar, ini memang mimpi. Belum pernah kurasakan sentuhan setulus ini.
"Dek, kamu sakit?" Ini benar-benar Mas Musa, dan aku tidak sedang bermimpi.
Aku bangun karena terkejut, "Mas Musa!"
"Maaf Dek, mas ngganggu yah?"
"Enggak, jam berapa ini Mas? Sepertinya Medina ketiduran."
"Jam 10 Dek, nggak papa kata Mas Harun semalaman dia mendengar kamu nggak tidur."
"Oh ... iya, Mas kenapa ada di sini? Ibu sama Bapak apa udah sarapan? Tadi Mas Harun nyuruh istirahat, Medina hanya berniat rebahan sebentar malah ketiduran." Aku merasa bersalah karena tidak melayani mertuaku dan kakak iparku, aku baru saja hendak bangun namun Mas Musa menahanku.
"Sudah ... nggak papa, semua udah beres kok."
"Oh ... sukurlah, maaf ya Mas, Medina nggak melayani orang tua Mas dengan baik."
"Kamu udah sangat baik, Dek."
"Mas kenapa di sini? Mba Mariam di mana?"
"Mariam di rumahnya, ini kan rumah Mas, kenapa Mas nggak boleh ke sini?"
Kehadiran Mas Musa membuatku bertanya-tanya, apa malam pengantin mereka tidak berjalan baik?
"Kenapa ngeliatin Mas terus?" Tanpa sadar aku menatap Mas Musa tanpa berkedip.
"Mas baik-baik aja? Semalam kan, ehm ... maksudku kenapa Mas memilih kemari sementara Mas baru saja membuka lembaran baru bersama Mba Mariam?"
"Mariam yang nyuruh, Dek, kan Ibu sama Bapak mau pulang."
"Oh ...." Artinya kalau Mba Mariam nggak nyuruh Mas Musa tidak akan kemari.
Sekarang, giliran Mas Musa menatapku sampai aku salah tingkah.
"A-ada yang salah Mas, Medina bangun tidur jelek ya?"
"Enggak Dek, kamu cantik," jawab Mas Musa dengan terus menatap mataku.
"Mas Musa sama Mba Mariam baik-baik saja? Apa ada masalah? Kenapa Mas begini sama Medina?" tanyaku, merasa sikap Mas Musa terlalu aneh untuk seorang pengantin baru.
"Mas kagum sama kamu, Dek, terimakasih atas semua pengorbananmu yang begitu tulus, mas merasa bersalah. Mas janji akan berusaha adil pada kalian berdua, baik fisik maupun hati," ucap Mas Musa, kembali berjanji, entah sudah berapa puluh kali Mas Musa mengatakannya padaku, entah untuk meyakinkanku atau meyakinkan dirinya sendiri.
"Benarkah Mas? Mas akan mencintai Medina?" tanyaku sangsi.
"Iya, jangan menangis lagi Dek!" Mas Musa kembali membelai pipiku, aku hanya tersenyum, berharap aku tidak salah menilai seorang Musa Hamizan, yang akan selalu menepati janji.
"Bissmillahirohmanirohim ...!" Mas Musa mengucapkan doa, artinya ....
Mas Musa menginginkanku di hari pertamanya menikah dengan Mba maduku. Aku tidak percaya, ini terjadi.
Hatiku lelah karena menahan kesakitan sepanjang malam ini, malam dimana suamiku bersatu kembali dengan cinta pertamanya. Aku terbakar cemburu, bukankah itu manusiawi?
Namun, sentuhan-sentuhan Mas Musa kembali membuatku percaya, dimadu tidak akan membunuh hatiku. Semua lukaku sembuh, hatiku yang hancur seakan tumbuh kembali, jantungku yang mati seperti berdenyut lagi.
Aku bahagia, cintaku hanya padamu Mas, walaupun aku hanya menanti pembagian hati dari orang yang lebih dahulu menguasai hatimu.
...
"Pengantin baru keramasnya di sini!" seru Mas Harun begitu mendapati Mas Musa keluar dari kamar mandi, kebetulan aku sudah mandi duluan saat mereka asyik ngobrol di depan.
...
emang ada gitu hehehee