Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.
Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.
Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Kerja Sama
Dunia Shasha terasa akan runtuh seketika. Ia menoleh ke arah Jake dengan tatapan penuh kemarahan, kekecewaan, dan rasa sedih yang bercampur menjadi satu di matanya yang mulai berkaca-kaca. Jadi, inikah hal menyenangkan yang dijanjikan Jake? Menjadikannya barang barter untuk pria menjijikkan seperti Ronald?
Senyum Ronald mengembang lebar, memperlihatkan deretan gigi yang membuatnya tampak semakin mengerikan di mata Shasha, “Wah. Kau memang selalu mengerti apa mauku. Berapa usianya?”
Jake melirik Shasha yang kini menatapnya dengan mata memerah menahan tangis, “Usia tidak penting, bukan? Yang penting dia masih bersih, dan kau akan menikmatinya,” ucap Jake dengan nada yang begitu enteng, seolah sedang membicarakan kualitas sebotol wine mahal.
“Hahahahaha!” Tawa Ronald pecah, memenuhi ruangan perpustakaan itu dengan suara yang memuakkan.
Shasha menatap Ronald dengan tatapan jijik yang tidak lagi disembunyikan. Sementara itu, Aditya langsung mencodongkan tubuhnya ke depan, berusaha menyela situasi yang mulai tidak terkendali ini.
“Kurasa kami datang bukan untuk hal itu, Jake.”
Jake menatap Aditya dengan pandangan datar, “Aku hanya ingin Tuanmu bersenang-senang. Apakah itu salah?”
Aditya terbungkam, tidak mampu menjawab.
“Kau diamlah, Aditya. Aku sedang menikmati hadiah indah dari Jake,” potong Ronald kasar, sambil menaik-turunkan alisnya saat menatap Shasha, seolah sudah membayangkan gadis itu berada di bawah kuasanya.
“Benar sekali. Ayo, Shasha duduklah di samping Ronald,” ucap Jake dingin. Ia meremas bahu Shasha, sebuah peringatan fisik yang jelas agar gadis itu tidak membantah.
“LEPASKAN AKU, BRENGSEK!” Shasha akhirnya meledak. Ia memberontak dengan kekuatan penuh hingga rangkulan Jake terlepas. Sambil berdiri dengan tubuh gemetar dan tangis yang tertahan, ia menatap Jake dengan sorot mata penuh kebencian, “Kau membawaku ke tempat ini hanya untuk melecehkanku? Dasar bajingan! Aku bahkan hampir merasa senang saat kau bersikap baik beberapa menit yang lalu. Dasar pria jahat!” Dada Shasha naik-turun seiring amarah yang memuncak.
“Kau terlalu berlebihan, Shasha,” sahut Jake, masih mempertahankan senyum miring yang meremehkan.
“Tidak! Kau memang pria jahat!”
“Hei, hei, jangan marah, sayang,” potong Ronald. Dan dengan gerakan kilat, ia menarik lengan Shasha hingga gadis itu jatuh terduduk di sampingnya.
“Lepaskan aku! LEPASKAN!” Shasha meronta sejadi-jadinya saat Ronald mulai mendekatkan wajah, berusaha menghirup aroma tubuh di sela lehernya.
“Hmm, sangat harum. Aku sangat menyukaimu,” bisik Ronald dengan mata terpejam penuh kepuasan.
“Tahan dirimu, Ronald,” sela Jake, suaranya tiba-tiba berubah tajam, “Masih ada banyak waktu tersisa. Kurasa sebelum kau menikmati gadis itu, kau harus terlebih dahulu mengamankan nyawamu.”
Kalimat itu seketika mematikan gairah Ronald. Tawanya menciut dan cengkeramannya pada Shasha mengendur. Memanfaatkan celah itu, Shasha segera bangkit. Ia memberikan satu tatapan terakhir penuh kekecewaan mendalam pada Jake, lalu berlari keluar ruangan tanpa menoleh lagi.
“Dia pergi begitu saja. Dasar wanita tidak tahu diuntung,” gerutu Ronald emosi.
Jake menatap punggung kecil yang menghilang ditelan lorong itu dengan pandangan dingin, “Kubilang masih ada waktu. Dia tidak akan bisa kabur dari jangkauanku.”
Ronald menyandarkan tubuhnya kembali, menatap Jake sangsi, “Kau begitu percaya diri. Kurasa hubungan kalian tidak sesederhana itu.”
Jake hanya tersenyum miring. Ia ikut menyandarkan tubuh dan menyilangkan kaki dengan gestur santai, “Dia hanyalah seorang tawanan. Dan sekarang, lebih baik kita membahas tawaran darimu.”
Aditya yang menangkap kode itu pun segera bangkit. Ia mengambil beberapa koper dari belakang sofa dan meletakkannya di hadapan Jake, lalu membukanya satu per satu, “Ini penawaran kami, Jake. Uang, sertifikat tanah, dan beberapa perhiasan mewah.”
Jake melirik isi koper itu sekilas sebelum akhirnya mendengus remeh, “Hanya itu? Kalian pikir aku pedagang pasar yang bisa kalian suap dengan barang rendahan seperti ini?”
Aditya melirik Ronald dengan cemas, namun pria itu hanya mengangkat bahu acuh.
“Aku rasa kalian tidak serius meminta bantuanku,” lanjut Jake.
“Bukan begitu, Jake,” sahut Aditya cepat, “Kalau begitu, katakan saja apa keinginanmu.”
“Keinginanku?” Jake menengadah, menatap langit-langit ruangan itu seolah sedang menimbang sesuatu yang besar, “Aku ingin setengah dari wilayah kekuasaan keluarga Asher.”
“TIDAK MUNGKIN!” teriak Ronald sambil menggebrak meja hingga berdentum keras. Matanya juga berkilat penuh amarah.
“Tuan Ronald, kendalikan dirimu,” bisik Aditya mencoba menenangkan.
“Apa maksudmu mengendalikan diri?! Dia ingin wilayahku! Jika aku kehilangan separuhnya, keluarga Asher hanya akan menjadi omong kosong!”
Jake tersenyum penuh kemenangan ketika melihat dua orang yang sedang berargumen di depannya, “Tapi Ronald... bukankah kau ingin melepaskan diri dari Alex?”
“Tentu saja! Tapi tidak dengan menjadi orang yang tidak punya apa-apa! Aku masih ingin menjadi seseorang yang ditakuti di negara ini.”
“Kau sudah tidak ditakuti lagi, Ronald,” potong Jake telak, “Dengan Alex yang sudah mengincarmu, itu tandanya kau bukan siapa-siapa lagi.”
Ronald memalingkan wajah dengan tangan terkepal erat hingga buku jarinya memutih.
“Jake... kumohon beri kami keringanan,” pinta Aditya dengan nada memohon.
“Keringanan?” Jake tertawa rendah, “Dulu keluargaku hampir jatuh karena tuduhannya. Sekarang aku meminta bayaran lebih, apakah itu salah?”
Aditya menghela napas kasar. Ia tahu betul reputasi Jake. Pria itu tidak akan pernah mengubah pikiran jika sudah menetapkan harga. Sementara di sisi lain, Ronald adalah pria keras kepala yang tidak akan menyerahkan mahkotanya begitu saja.
“Satu hal lagi. Aku sudah memegang bukti bahwa gadis yang mati di tanganmu sudah tidak sehat sejak berada di tangan Alex,” ucap Jake pada Ronald. Akhirnya ia menjatuhkan bom informasi yang membuat suasana seketika membeku.
“Bagaimana mungkin?” Ronald terbelalak, napasnya tertahan karena terkejut, “Dia terlihat sehat-sehat saja saat itu.”
Aditya pun tidak kalah kaget, “Sebenarnya kau sudah menyelidiki masalah ini sampai mana?”
Jake mendengus meremehkan, seolah pertanyaan itu adalah hinaan bagi kemampuannya, “Anak buah kalian memang tidak becus. Sedangkan mata-mataku sudah menyelidiki latar belakang gadis itu sampai ke akarnya. Dia memiliki penyakit bawaan dan sengaja dipamerkan di depanmu, Ronald, agar kau tertarik dan memutuskan untuk merebutnya dari Alex.”
“Bajingan kau, Alex!” Ronald menggebrak meja untuk kesekian kalinya.
“Tapi kenapa, Jake? Kenapa Alex begitu memedulikan gadis penyakitan itu sampai harus bersandiwara sejauh ini?” tanya Aditya, mencoba mencari logika di balik kegilaan ini.
“Alasannya hanya satu,” pandangan Jake menajam, memancarkan aura predator yang membuat ruangan itu terasa semakin sempit, “Dia ingin mempermainkanku.”
Ronald dan Aditya terdiam, terpaku menatap Jake yang tampak sudah memetakan seluruh papan catur di kepalanya.
“Kita semua sudah menjadi pionnya tanpa sadar. Alex sudah mempertimbangkan dengan matang bahwa kalian akan berakhir merangkak datang padaku. Rupanya, dia memang berniat melawanku secara terbuka,” Jake menghentikan ucapannya sejenak. Ia mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang tadi dilewati Shasha dengan tatapan penuh perhitungan, “Kita sudah bertindak secara aman beberapa tahun ke belakang. Tapi kurasa, dia memang sangat ingin bertemu denganku...” Jake menjeda kalimatnya, memberikan penekanan yang mencekam sebelum melanjutkan, “... Lagi.”
......................
Sementara itu, suasana di lantai bawah juga tidak kalah mencekam. Shasha berlari menuruni tangga dengan napas memburu. Pikirannya hanya satu. Ia harus keluar dari bangunan ini, dari Jake, dan dari nasib mengerikan yang baru saja dijatuhkan padanya.
Namun harapannya pupus seketika saat matanya menangkap beberapa anak buah Jake sudah berdiri tegak seperti tembok yang tidak tertembus. Mereka mencegat jalannya dengan wajah datar tanpa emosi. Di tengah barisan itu, Kevin muncul kembali dengan tatapan dinginnya yang khas.
“Ikutlah denganku dengan patuh. Atau mereka akan menyeretmu secara paksa,” ucap Kevin, memberikan pilihan yang sebenarnya bukan pilihan.
“Tidak!” Shasha mundur perlahan, kakinya terasa lemas, “Aku tidak ingin kalian melemparkanku pada pria menjijikkan itu!”
Kevin tersenyum miring, “Siapa yang kau maksud menjijikkan? Maksudmu tamu Tuan Jake? Dengarkan dulu, gadis bodoh. Dengan kau ikut Tuan Ronald, maka hidupmu akan terjamin sebagai gundiknya. Di sisi lain, kau bisa bebas dari Tuan Jake. Bukankah itu harapanmu selama ini?”
“Omong kosong! Itu sama saja aku keluar dari kandang singa dan masuk ke kandang harimau. Kalian memang bukan manusia!” teriak Shasha, suaranya parau karena amarah dan rasa takut yang bergejolak.
Kevin tertawa rendah, suara yang terdengar sangat kejam di telinga Shasha. Pria itu akhirnya tidak lagi membuang kata-kata. Dengan kode mata yang singkat, ia melirik anak buah di sampingnya untuk segera bertindak.
“Apa yang akan kalian lakukan?!” Shasha berdiri gelisah, mencoba mencari celah untuk lari. Namun terlambat, kedua tangannya langsung dicengkeram dengan sangat kuat hingga ia tidak bisa bergerak.
“Lepas—“
Kalimatnya terputus. Tanpa ia sadari, seorang anak buah lain sudah bersiaga tepat di belakangnya. Dengan satu gerakan cepat, sebuah pukulan keras menghantam tengkuknya. Pandangan Shasha menggelap seketika, dan tubuhnya terkulai lemas.
“Bawa dia,” perintah Kevin.
Tubuh Shasha yang tidak berdaya segera digotong oleh para anak buah itu. Ia dibawa pergi tanpa tahu bahwa di balik kesadarannya yang hilang, ia sedang diseret menuju pusaran bahaya yang lebih besar.