NovelToon NovelToon
BENANG PUTUS KARENA CINTA PERTAMA

BENANG PUTUS KARENA CINTA PERTAMA

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Pelakor / Tamat
Popularitas:126.5k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Dhita selalu percaya bahwa pernikahan yang ia bangun dengan Reza adalah rumah yang kokoh—tempat ia menaruh seluruh harapan, kasih sayang, dan kesetiaannya. Namun semua runtuh ketika cinta pertama Reza kembali muncul, menghadirkan bayang-bayang masa lalu yang tak pernah benar-benar padam.

Dalam hitungan hari, Dhita yang selama ini berjuang mempertahankan rumah tangga justru dipaksa menerima kenyataan pahit: Reza menceraikannya demi perempuan yang pernah ia cintai bertahun-tahun lalu. Luka itu dalam, merembes sampai ke bagian hati yang Dhita pikir sudah kebal.

Di tengah serpihan hidup yang berantakan, Dhita harus belajar berdiri lagi—menata hidup tanpa sosok yang selama ini ia sayangi, menghadapi pandangan orang, dan menerima bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan berakhir. Namun Tuhan tak pernah meninggalkan hati yang hancur. Dalam perjalanan menyembuhkan diri, Dhita menemukan kekuatan yang tak pernah ia sadari, serta harapan baru yang perlahan mengetuk pintu hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Tari Tidak Pulang

Siang itu, restoran sebuah hotel berbintang tampak tenang dan berkelas. Cahaya matahari menembus kaca-kaca besar, memantul lembut di atas meja panjang yang telah dipenuhi hidangan makan siang berpenampilan elegan. Alunan musik instrumental mengalir pelan, memberi suasana formal sekaligus hangat.

Bu Lastri duduk di tengah, punggungnya tegak, wajahnya tenang namun menyimpan kelelahan yang samar. Di hadapannya, map dokumen berwarna cokelat tua sudah tertutup rapi—tanda bahwa semua telah selesai. Tanda tangan telah dibubuhkan, kesepakatan telah disahkan. Aset perusahaan yang selama ini berada atas namanya, kini resmi beralih menjadi milik Reza dan Tari.

Reza duduk di sisi kanan Bu Lastri. Wajahnya tampak lega, meski sesekali dia menarik napas dalam, seolah masih mencerna besarnya tanggung jawab yang kini berpindah ke pundaknya. Jasnya tersampir rapi, namun sorot matanya lebih serius dari biasanya. Dia menyesap air mineral perlahan, lalu melirik map dokumen itu sekali lagi, memastikan semuanya benar-benar nyata.

Di sisi lain, Tari terlihat paling ekspresif di antara mereka. Senyum kecil terus bermain di bibirnya, bukan senyum berlebihan, melainkan senyum puas yang tertahan—campuran antara kemenangan, ambisi, dan keyakinan diri. Dia dengan santai memotong steak di piringnya, gerakannya mantap, seolah masa depan perusahaan kini berada tepat di genggamannya.

"Semoga kalian bisa menjaganya dengan baik.” ujar Bu Lastri akhirnya, suaranya datar namun sarat makna.

Reza mengangguk hormat. “Kami akan berusaha sebaik mungkin, Bu.”

Tari menambahkan dengan nada ringan tapi yakin, "Tenang saja, Bu. Perusahaan ini akan berkembang jauh lebih besar.”

"Saya percaya pada kalian,” ucapnya mantap. “Kalian punya ilmunya untuk mengembangkan perusahaan ini. Ingat, pertahankan pegawai yang sudah puluhan tahun mengabdi. Mereka bukan sekadar pekerja, mereka adalah orang-orang yang membesarkan perusahaan ini. Loyalitas seperti itu tidak bisa dibeli.”

Bu Lastri tersenyum tipis. Tak ada penyesalan di wajahnya, hanya penerimaan. Ia kembali menyuapkan makanannya, seolah menutup satu bab penting dalam hidupnya, sementara di hadapannya, Reza dan Tari tengah membuka lembaran baru—lembaran yang penuh peluang, juga konsekuensi.

Bu Lastri meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap Reza dan Tari bergantian. Tatapannya tajam, tapi penuh keyakinan—tatapan seseorang yang sudah lama kenyang pengalaman dan pahit-manis dunia usaha.

Kalimat itu menggantung sejenak di udara, lebih berat dari sekadar nasihat. Reza mengangguk pelan, rahangnya mengeras, seolah kata-kata itu langsung mengikat nuraninya. Sementara Tari menghentikan gerakan tangannya, senyum di bibirnya memudar menjadi ekspresi serius—dia tahu, ini bukan pesan simbolis, melainkan amanah.

"Iya, siap, Bu.” Jawab mereka kompak.

Bu Lastri tersenyum kecil, kali ini lebih tulus. Dia kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi, napasnya terdengar lebih ringan. Di balik kemewahan restoran hotel itu, sebuah tongkat estafet telah berpindah tangan. Dan di meja makan siang itu pula, terselip harapan agar perusahaan yang dia bangun dengan darah dan air mata, tak kehilangan jiwanya di tangan generasi berikutnya.

Reza mengusap sudut bibirnya dengan tisu, lalu sedikit memajukan tubuhnya. Nada bicaranya terdengar profesional, seolah dia sudah benar-benar masuk ke peran barunya.

"O ya, Bu. Habis ini saya mau bertemu dengan Pak Welliam. Ada kerja sama yang akan kita sepakati.” Katanya tenang.

Bu Lastri mengangguk singkat. “Oke.”

Tari ikut menimpali, matanya berbinar penuh antusias. “Kalau saya juga mau ketemu rekan dari Afrika, Bu. Mau menjajaki peluang kerja sama ke depan.”

Kali ini Bu Lastri tersenyum lebih lebar. Ada rasa bangga yang tak dapat dia sembunyikan. “Bagus. Kerjakan apa yang kalian anggap baik untuk perusahaan ini. Selama tujuannya untuk kemajuan bersama, ibu mendukung.”

Reza dan Tari saling pandang sekilas. Tak ada kata-kata lagi, tapi keduanya paham: kepercayaan telah diberikan sepenuhnya. Di balik jamuan makan siang yang hampir usai, roda bisnis sudah mulai berputar lebih cepat—menuju arah baru yang mereka tentukan sendiri.

Usai makan siang itu, mereka berpisah di lobi hotel dengan agenda masing-masing.

Reza melangkah keluar lebih dulu, wajahnya kembali serius. Dia benar-benar menuju pertemuan bisnis. Di sebuah lounge privat tak jauh dari hotel, Pak Welliam sudah menunggunya. Percakapan mereka dipenuhi angka, proyeksi, dan rencana jangka panjang. Reza fokus, teliti, berusaha membuktikan bahwa kepercayaan Bu Lastri tidak salah alamat. Baginya, hari itu adalah awal tanggung jawab besar—bukan waktu untuk euforia berlebihan.

Namun langkah Tari berbelok ke arah yang sama sekali berbeda.

Dia tidak menuju ruang rapat atau kantor perwakilan mana pun. Sebuah mobil hitam menjemputnya dari pintu samping hotel. Di dalam mobil itu, Jackson sudah menunggu—senyum lebarnya penuh kemenangan. Tangannya terulur, dan Tari menyambutnya tanpa ragu.

Mereka menuju sebuah hotel butik yang lebih privat. Begitu pintu kamar tertutup, tawa Tari pecah lepas, tanpa beban, tanpa topeng profesional yang tadi dia kenakan di depan Bu Lastri. Jackson menuangkan wine ke dua gelas kristal.

"Untuk kita,” Ucapnya.

"Untuk keberhasilan kita.” Balas Tari, mengangkat gelasnya.

Mereka bersulang, lalu larut dalam suasana yang riuh oleh kebahagiaan semu. Musik diputar keras, tawa bersahutan, sentuhan-sentuhan penuh gairah menyusul. Di momen itu, Tari tidak memikirkan perusahaan, pegawai lama, atau amanah yang baru saja disematkan padanya. Yang ada hanya perasaan menang—dan Jackson, yang selalu menjadi tempat pelariannya.

Di satu sisi kota, Reza menutup kesepakatan demi kesepakatan dengan kepala dingin.

Di sisi lain, Tari merayakan kemenangan dengan cara yang jauh lebih gelap—penuh rahasia, penuh risiko.

Dan tanpa mereka sadari, pilihan berbeda di hari yang sama itu perlahan menggambar garis nasib yang tak akan pernah benar-benar sejajar.

***

Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul delapan malam ketika Reza akhirnya memutar kunci pintu rumah. Baginya, itu sudah sangat malam. Biasanya, di jam seperti ini Tari sudah menutup hari dengan rebahan di kamar, ponsel di tangan, atau sekadar menunggu sambil pura-pura tertidur.

Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu menyala, tapi tak ada suara televisi, tak ada langkah kaki tergesa, tak ada sapaan kecil yang sering kali justru membuatnya ingin cepat masuk kamar.

Tanpa banyak pikir, Reza langsung melangkah ke kamar. Jas dia gantung sembarang, dasi dilonggarkan. Pikirannya hanya satu: mandi, lalu tidur.

Namun begitu pintu kamar dibuka, langkahnya terhenti.

Kamar itu kosong.

Ranjang rapi. Lampu mati. Tak ada tas, tak ada suara napas, bahkan aroma parfum Tari pun nyaris tak tersisa. Reza berdiri beberapa detik, menatap ruangan dengan dahi mengernyit. Perasaan aneh menyusup pelan—tidak nyaman, tidak juga jelas bentuknya.

Dia melangkah keluar kamar dan memanggil pelan,

"Tari?”

Tak ada jawaban.

Akhirnya dia menuju dapur, mendapati pembantu rumah sedang membereskan piring. Reza bertanya, nadanya berusaha terdengar biasa.

"Tari ke mana?”

Pembantu itu berhenti sejenak, lalu menjawab, "Non Tari belum pulang, Pak.”

Reza mengangkat alis. “Ibu?”

"Kalau ibu ke Bandung. Katanya nenek sedang sakit, jadi Ibu yang pulang menjenguk.”

Reza terdiam. Informasi itu datang begitu saja, tanpa pemberitahuan, tanpa pesan sebelumnya. Dadanya terasa agak mengganjal, entah kenapa. Bukan karena neneknya sakit—itu hal yang wajar—melainkan karena malam itu, rumah yang seharusnya berisi terasa terlalu kosong.

Dia mengangguk singkat, lalu kembali melangkah ke kamar. Tapi kali ini, rasa lelah yang tadi dibawanya pulang tidak lagi sama. Ada sesuatu yang tertinggal di udara, menggantung, seolah malam ini tidak sesederhana yang dia kira.

1
Tutik Sekawan
Luar biasa
shesil
Bab 84 pengulangan dr bab 83. Bab 85 tau² Reza nyari RS
Barra Ayazzio: Kak, terimakasih sudah komen, jadi ketahuan deh. Sy coba posting ulang yg bab 84-nya. 😍😍🙏
total 1 replies
Maria Magdalena
Bene2 cewek sableng si tari.
Maria Magdalena
keluarga kacau nih tari jg cewek jalang yg jd pertanyaan anak siapa nih yg ada dirahim tari?
Rosita Tumbelaka
Bagus yang penting pegang peranan hrs happy end...
Punkpunk 234
Reza atau Rezky thoorr..?!? hmm.. typo ya..!?!
Barra Ayazzio: Maaf, betul typo. Di novel lain nama tokohnya Rezky, masih ke bawa ke novel ini. Skr sdh diperbaiki. Terimakasih koreksinya. 🙏😍
total 1 replies
Punkpunk 234
iyyaa Buk.. aku yg baca aja bukan cm gemes.. sebbelll mah bangeett..😡🤭
Endang Sulistia
keren
Punkpunk 234
mampir thoorr..🙏
Patricia Paulus
Adakah karma hanya wujud dalam novel? Aku dikecewa, dibohongi dan dikhianati, malah sang pelaku mungkin makin bahagian.
Patricia Paulus: #bahagia
total 1 replies
Sari Nilam
nah kan....jadinya senua sia sia
Sari Nilam
gercepin mas semangat
Sari Nilam
🤣🤣🤣🤣 ketawain aja deh ...
Sari Nilam
biarin aja mmg reza lg dibutain matanya ntar juga nyesel.
Sari Nilam
satu kata buat Rosa...ngarep . com..🤣🤣🤣
Sari Nilam
hancur sudah ksmu reza...kebodohanmu karena mencintai wanita licik dan ambisius
Sari Nilam
🤣🤣🤣
Sari Nilam
bohong gak ada yang sempurna...sekali bohonh , pasti bohong lagi seperti candu
Arieee
bagus menguras emosi👍👍👍👍👍👍👍👍
Lee Mba Young
Syukur in Reza. laki bejat ternyata Dr awal. karma tak semanis kurma kn Reza 🤣.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!