Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kesepakatan Xinyao dan keluarga Lin
Begitu mereka keluar dari ruangan tersembunyi itu, udara segar langsung menyergap paru-paru.
Lorong panjang yang tadi terasa mencekam kini tampak biasa saja—sunyi, bersih, seolah tak pernah terjadi apa pun.
Xinyao berhenti melangkah di tengah lorong.
Ia memutar bahunya sekali lagi, lalu menghembuskan napas panjang.
Di belakangnya, langkah-langkah tergesa terdengar menyusul.
“Nona Yao Yao.”
Suara Tuan Lin terdengar mantap—tak lagi lemah, tak lagi bergetar.
Pria tua itu berdiri tegak, posturnya kini jauh lebih kokoh dibandingkan saat pertama mereka bertemu.
Xinyao menoleh perlahan.
“Hm?”
Tuan Lin melangkah maju satu langkah, lalu—
dengan gerakan yang mengejutkan semua orang—
ia membungkuk dalam-dalam.
Para bodyguard sontak menegang.
Luoli dan Mingyu membelalak.
“Ayah!” seru mereka hampir bersamaan.
Namun Tuan Lin tetap pada posisinya.
“Terima kasih,”
ujar pria tua itu dengan suara berat dan penuh ketulusan.
“Atas nama keluarga Lin… aku berutang nyawa padamu.”
Xinyao refleks menggeser tubuh ke samping.
“Eh—eh—jangan gitu dong, Tuan,”
katanya cepat.
“Saya ini masih muda, belum siap nerima hormat model gini.”
Ia menggaruk pipinya, lalu menambahkan santai—
“Lagi pula… saya nolong bukan gratis.”
Kalimat terakhir itu jatuh ringan, tapi efeknya…
langsung terasa.
Luoli menegakkan tubuhnya.
Sorot matanya berubah serius.
Tuan Lin mengangkat kepala, lalu tersenyum lebar—senyum seorang pebisnis tua yang sudah kenyang asam garam.
“Tentu saja.”
Ia mengangguk mantap.
“Keluarga Lin tidak pernah pelit pada penyelamatnya.”
Ia memberi isyarat kecil.
Salah satu bodyguard segera melangkah maju, membawa sebuah koper hitam.
Koper itu diletakkan di atas meja kecil di samping lorong.
Klik.
Koper dibuka.
Deretan rapi batangan emas, amplop tebal, dan sebuah map dokumen langsung menyambut mata.
Qinglan yang mengintip dari belakang refleks bersiul pelan.
“Wuih…”
Fengyun menegurnya lirih, tapi matanya sendiri tak lepas dari koper itu.
Xinyao hanya melirik sekilas.
“Itu… uang pengobatan standar,”
ujar Tuan Lin tenang.
“Selain itu, keluarga Lin juga akan memberikan satu permintaan. Apa pun—selama masih dalam batas kemampuan kami.”
Luoli melangkah maju, nadanya serius namun tulus.
“Mulai hari ini, Nona Yao Yao adalah tamu kehormatan keluarga Lin.”
Ruangan kembali hening.
Xinyao menatap koper itu…
lalu menatap wajah-wajah di hadapannya.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian—
“Kurang.”
Satu kata itu jatuh pelan.
Namun tegas.
Semua orang tersentak.
Luoli terdiam.
Bodyguard refleks menegang.
Bahkan Fengyun dan Qinglan saling pandang.
Tuan Lin justru tertawa kecil.
“Silakan.”
Ia menyilangkan tangan di belakang punggung.
“Katakan.”
Xinyao melangkah mendekat.
Matanya kini tajam, dingin, dan penuh perhitungan—tak ada lagi jejak gadis santai tadi.
“Yang saya hadapi hari ini,”
ucapnya pelan,
“bukan penyakit.”
Ia menatap lurus ke mata Tuan Lin.
“Tapi klan bayangan. Parasit spiritual. Dan satu guru Tao palsu yang sudah mencuri puluhan nyawa.”
Suasana langsung menegang.
“Kalau saya terlambat sedikit saja,”
lanjut Xinyao,
“kepala keluarga Lin sudah jadi wadah baru.”
Ia mengetuk meja pelan.
Tok. Tok.
“Uang dan emas itu… pantas.”
“Tapi bukan bayaran utama.”
Luoli menelan ludah.
“Lalu… apa yang Nona Yao Yao inginkan?”
Xinyao tersenyum.
Senyum kecil—manis tapi berbahaya.
“Satu hal.”
Ia mengangkat satu jari.
“Keluarga Lin… tidak akan pernah ikut campur dalam urusan spiritual apa pun yang melibatkan saya.”
Ia menoleh sebentar ke arah Fengyun, lalu kembali ke Tuan Lin.
“Dan satu lagi.”
Jarinya diturunkan perlahan.
“Jika suatu hari saya butuh bantuan—informasi, akses, atau perlindungan…”
Ia berhenti, membiarkan kata-katanya meresap.
“…keluarga Lin akan menutup mata dan membuka pintu.”
Hening.
Panjang.
Lalu—
Tuan Lin tertawa lepas.
“Hahahaha!”
Ia mengangguk puas.
“Gadis kecil…”
ujarnya penuh kekaguman.
“Kau jauh lebih mahal dari yang kupikirkan.”
Ia mengulurkan tangan.
“Kesepakatan diterima.”
Xinyao menyambut jabatan tangan itu.
Krek.
Jabatannya ringan…
tapi penuh makna.
Di balik senyum santainya, batin Xinyao bergetar puas.
‘Mantap. Modal aman. Jalur belakang ada. Dan dompet…’
‘Hehehe… aman.’
______🥂
Setelah kesepakatan benar-benar rampung dan semua urusan dengan keluarga Lin ditutup rapi, Xinyao akhirnya diantar kembali ke apartemennya.
Saat mobil meninggalkan gerbang kediaman Lin, langit sudah benar-benar gelap, lampu jalan memantul di kaca jendela mobil seperti garis-garis cahaya yang kabur.
Di perjalanan, mereka sempat berhenti di sebuah restoran yang masih buka hingga larut malam.
Xinyao makan seadanya—lebih banyak meneguk air daripada menyentuh nasi. Namun sebelum pergi, ia membungkus beberapa porsi makanan, menata kotak-kotak itu rapi ke dalam tas kertas.
Untuk jaga-jaga, pikirnya.
Kalau lapar tengah malam.
Begitu tiba di apartemen, Xinyao bahkan tidak sempat menyalakan lampu ruang tamu.
Ia langsung masuk kamar mandi.
Air hangat mengalir membasahi tubuhnya, membawa turun sisa-sisa aura dingin, debu ritual, dan rasa lengket yang menempel sejak siang.
Ia menggosok lengan, bahu, leher—bahkan rambutnya—lebih lama dari biasanya, seolah ingin memastikan tidak ada jejak dunia spiritual yang ikut pulang.
Beberapa menit kemudian.
Bruk.
Tubuh kecilnya terhempas ke atas kasur.
Xinyao menatap langit-langit dengan napas panjang, dada naik turun pelan.
“Akhhh…”
Ia memejamkan mata… lalu membukanya lagi.
Ada sesuatu.
Sesuatu yang mengganjal.
Alisnya perlahan bertaut.
Jari telunjuknya terangkat, mengetuk dagu pelan, berulang kali.
“Kenapa rasanya kayak ada yang kelupaan ya…”
gumamnya pelan.
Otaknya berputar cepat.
Restoran—sudah.
Giok—aman.
Meiren—sudah.
Keluarga Lin—selesai.
Detik berikutnya—
“ASTAGA.”
Xinyao langsung duduk tegak.
“Chen.”
Matanya membelalak.
Ia melompat turun dari kasur, nyaris tersandung selimut sendiri.
Dengan gerakan panik, ia menyambar blezer tipis, mengenakannya asal-asalan, lalu langsung berlari keluar apartemen.
Langkahnya cepat, napasnya sedikit tersengal.
Di depan pintu apartemen Chen, ia berhenti.
Dadanya naik turun lebih cepat dari sebelumnya.
“Semoga aja dia nggak marah…”
gumamnya lirih.
“Astaga… aku bener-bener melupakannya.”
Tangannya terangkat.
Ting—nung.
Bel berbunyi.
Beberapa detik terasa panjang…
hingga akhirnya—
Klek.
Pintu terbuka.
Chen berdiri di sana.
Wajahnya datar.
Sorot matanya dingin.
“Hai…”
Xinyao tersenyum kecil, canggung.
“Hehe… aku—”
Ia menunduk sedikit, rasa bersalah langsung menekan dadanya.
Chen tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengangkat tangan, melirik jam di pergelangan tangannya.
“Jam sepuluh.”
Nada suaranya datar dan Dingin.
Xinyao mengangkat kepala cepat.
“Maaf… aku lagi banyak kerjaan.”
senyum canggung kembali muncul.
“Aku—”
“Belum makan?”
potong Xinyao cepat sebelum Chen sempat bicara lebih jauh.
“Aku bawain makanan. Ayo makan bareng.”
Chen terdiam sesaat.
Lalu—
Huh.
Ia menghela napas panjang, jelas menahan emosi.
“Ini sudah jam sepuluh.”
ujarnya dingin.
“Makanannya pasti sudah dingin.”
Rahangnya mengeras, giginya menggertak pelan.
“Aku benar-benar banyak kerjaan,”
Xinyao mencoba menjelaskan, suaranya melembut.
“Baru balik jam sembilan tadi.”
Chen hanya mengangguk singkat.
“Hm.”
Satu huruf.
Datar.
Menusuk.
Xinyao mengerutkan kening.
“Eh… kok jawabannya gitu sih…”
rengeknya pelan.
Chen menarik napas lagi—lebih panjang kali ini.
Tatapannya berpaling sesaat, lalu kembali menatap Xinyao.
“Mulai besok…”
katanya pelan tapi tegas,
“urus saja makananmu sendiri.”
Xinyao terdiam.
“Nggak usah belanja buat aku lagi.”
lanjut Chen.
“Aku juga capek. Harus kuliah.”
Ia membuka pintu lebih lebar—
gestur yang jelas-jelas sebuah penolakan.
“Sudah. Pulang saja.”
Tidak ada teriakan.
Tidak ada amarah meledak.
Justru itu yang paling menyakitkan.
Xinyao berdiri terpaku di depan pintu.
Kantong makanan di tangannya terasa lebih berat dari seharusnya.
Tanpa sempat berkata apa pun lagi,
pintu itu perlahan tertutup di hadapannya.
Klek.
Sunyi.
Xinyao menunduk.
Jari-jarinya mengeratkan pegangan kantong plastik.
‘Aku… bener-bener keterlaluan ya.’
Bersambung 🥂
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
selamany aja deh kek gitu...
lbh kasihan hauron, uangnya sia2 😜