Raisa tidak menyangka bahwa hidup akan membawanya ke keadaan bagaimana seorang perempuan yang menjalin pernikahan bukan atas dasar cinta. Dia tidak mengharapkan bahwa malam ulang tahun yang seharusnya dia habiskan dengan orang rumah itu menyeretnya ke masa depan jauh dari bayangannya. Belum selesai dengan hidup miliknya yang dia rasa seperti tidak mendapat bahagia, malah kini jiwa Raisa menempati tubuh perempuan yang ternyata menikah tanpa mendapatkan cinta dari sang suami. Jiwanya menempati raga Alya, seorang perempuan modis yang menikah dengan Ardan yang dikenal berparas tampan. Ternyata cantiknya itu tidak mampu membuat Ardan mencintainya.
Mendapati kenyataan itu Raisa berpikir untuk membantu tubuh dari orang yang dia tempati agar mendapatkan cinta dari suaminya. Setidaknya nanti hal itu akan menjadi bentuk terima kasih kepada Alya. Berharap itu tidak menjadi boomerang untuk dirinya. Melalui tubuh itu Raisa menjadi tahu bahwa ada rahasia lain yang dimiliki oleh Ardan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eloranaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Hancur
"Dengerin ibu dulu Ardan!!!"
Teriakan Santi menggema di sepanjang ruang pameran. Mengundang tatapan penasaran dari para penikmat karya yang dipajang. Raisa segera menarik kesadaran dari keterkejutan. Perempuan itu lantas mengikuti Santi dan Ardan yang berjalan keluar, sembari menyingkirkan orang-orang yang berkerumun penasaran.
Raisa terburu ikut keluar, mendahului gerombolan pengunjung lain yang juga ingin tahu. "Sha, itu beberapa ada yang mau lihat mereka. Tolong jangan dibolehin ya, privasi," ujar Raisa ketika berpapasan di pintu masuk.
"Hah?" Sempat bingung walau ujungnya Keisha mengangguk paham dan mengangkat dua jempolnya. "Siaapp," balasnya.
Raisa berdiri di antara Ardan dan Santi. Menatap anak dan ibu yang tengah bersitegang itu dengan sedikit takut. Sebetulnya belum sampai di hadapan mereka berdua tadi Raisa sudah kepalang panik saat dari kejauhan melihat dan mendengar sendiri suara tamparan kuat dari Santi ke pipi Ardan.
"BISA NURUT NGGAK JADI ANAK?! IBU UDAH DUKUNG KERJAAN KAMU YANG NGELUKIS-NGELUKIS NGGAK JELAS INI. UDAH BIARIN KAMU SELAMA INI BERPERILAKU SEENAKNYA SENDIRI. SEKARANG GILIRAN KAMU BALAS BUDI ARDAN. SEKARANG IBU CUMAN MINTA LAKUIN PERINTAH IBU DI KARIR KAMU. JADI ANAK YANG TAHU DIRI DIKIT."
Raisa kembali terpelonjat ketika Santi berteriak mencerca Ardan yang tengah balik menatap nyalang ibunya.
Dia langsung paham dengan konflik kedua orang tersebut, tanpa harus memperjelas bertanya baik kepada Ardan maupun Santi. Kini dia menyesal karena telah sok mau membantu memperbaiki hubungan ibu dan anak tersebut. Dia tidak menyangka bahwa Santi akan menuntut seperti itu, karena dia pikir dengan memberi ide untuk mendukung Ardan itu maksudnya didukung sepenuhnya, tetapi ternyata Santi tak mampu menangkap niat Raisa itu.
"Nyesel ibu udah besarin kamu kalau ujungnya kayak gini, Dan. Apa sih susahnya dengerin kata orang tua? Ibu juga bukan mau jerumusin kamu ke hal buruk, ibu lakuin hal ini tuh juga buat kamu. Bisa pahamin nggak posisi ibu?!"
Kekehan getir keluar dari Ardan, sudut bibirnya tersungging. "Ibu juga bisa pahamin posisi Ardan nggak? Ardan capek, Bu. Capek. Selalu nurutin apa mau ibu. Selama ini semuanya bukan atas dasar kehendak Ardan, tapi ibu. Sekarang giliran sekali aja Ardan pengen lakuin apa yang Ardan mau respons ibu nyakitin gini," ujar Ardan dengan nada jengkel. "Haha, lakuin hal ini buat aku? Bukannya buat ibu sendiri? Biar bisa pamer ke temen-temen ibu yang sok itu, pamer kalau semua anaknya jadi dokter?"
Sepersekian detik setelahnya lelaki tersebut menunjuk ke arah Raisa tegas dengan netra melotot, yang lagi-lagi membuat perempuan itu terkejut. "Nikahin dia. Ibu yang maksa kan? Pake segala ngancem mati kalau nggak nikahin dia."
"Jangan bawa-bawa Alya!"
"Persetan. Biar dia tahu sekalian gimana Ardan akhirnya setuju nikah sama dia!" Ribuan belati seolah jatuh tertancap di dada Raisa mendengar serangkaian kalimat Ardan berikutnya. "Biar dia sadar, kalau Ardan nggak pernah cinta sama dia!"
Malang sekali nasib perempuan yang raganya dia tempati ini punya suami seperti Ardan, yang tak punya cinta yang sama untuknya.
Alya mencintai Ardan, Ardan tidak mencintai Alya. Hanya terikat oleh status suami istri, tanpa pondasi inti. Kasihan bukan?
Tapi setelah dilihat kembali, bukankah sosok Alya yang dia tempati ini justru menang?
Bisa hidup dengan orang yang dicintai.
Lihatlah lawannya. Jika dibandingkan pria di depannya itu, bukankah sudah kalah telak? Masih memperjuangkan hidup yang diinginkan oleh diri sendiri, yang selalu tak sejalan dengan ibunya. Disaat semua yang dilakukan telah lepas dari keinginan sendiri, dan padahal sekarang hanya ingin mengusahakan satu hal yang sesuai kehendaknya masih tak berhasil.
"Trauma ibu apa, sih, sampai segininya ke anak?" final Ardan.
"Emang ada perempuan yang kamu cintai?"
Mereka berucap bersamaan. "... Selama ini dari sebelum kenal aku sampai sekarang?" lanjut Raisa yang kian lama suaranya memelan saat tampak guratan wajah Ardan lebih emosi.
Tetapi Ardan tetaplah Ardan. Kalimat Raisa tak mendapat jawaban.
Jika mungkin, Raisa itu adalah Alya. Sudah pasti sedari awal dia tak mau melanjutkan hubungan semacam ini. Kalau bisa dibilang, isinya makan hati. Sakit.
Mungkin juga kalau dia tidak ingat hanya jiwanya saja yang berkelana Raisa sudah pasti akan meminta cerai dan pergi sejauh-jauhnya. Membuang ikatan tak masuk akal itu. Tapi tentu dia tidak akan berbuat begitu, karena jika dia melakukan itu, bila jiwa Alya kembali ke raga aslinya bukankah itu adalah hal buruk jika Raisa membuat perempuan itu kehilangan suaminya?
Gatal sekali dia ingin bicara: lebih baik cerai. Untuk mengakhiri salah satu konflik anak dan ibu itu. Dan melepaskan belenggu yang menjerat raga Alya. Karena mau dicoba sekalipun, lelaki itu memang tampak tak bisa membuka sedikit hatinya untuk Alya. Sejauh ini Raisa mencoba, entah kenapa dia tidak merasakan cinta yang berbalas.
Tetapi apa bisa? Yang ada nanti pasti akan terjadi perpisahan sungguhan, karena 'sosok Alya yang aslinya adalah Raisa' tidak ingin lagi dengan Ardan dan otomatis jika dicegah sedemikian rupa pun, Santi pasti tak bisa membantu agar hubungan Ardan dan Alya masih utuh. Karena jika sekali Raisa berucap: lebih baik cerai. Artinya keduanya tak mau bersama lagi. Dan itu pasti bukanlah hal yang dimau oleh raga yang dia tempati.
Sayang sekali, Ardan. Hidupmu harus terus berlanjut seperti ini.
Raisa hanya bisa bermonolog.
"Dan jangan lagi minta papa bujuk Ardan. Nggak pernah mempan." Ardan mendadak naik pitam lagi saat diam sejenak setelah Raisa berbicara tadi. "Kasihan banget pria sebaik ayah begitu punya istri tukang paksa kayak ibu."
"Jaga ucapan kamu, Ardan." Raisa sontak memprotes. Sedangkan yang diprotes hanya memutar bola mata jenuh dan kemudian berangsur pergi dengan mobilnya, meninggalkan Santi. Juga Raisa yang berselimut rasa bersalah akan kejadian hari ini antara dua orang tersebut.