NovelToon NovelToon
(Batas Tipis) CINTA & PROFESI

(Batas Tipis) CINTA & PROFESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Cintapertama
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Penasigembul

Dorongan kuat yang diberikan sepupunya berhasil membuat Marvin, pria dengan luka yang terus berusaha di kuburnya melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang praktek seorang Psikolog muda. Kedatangannya ke dalam ruang praktek Bianca mampu membuat wanita muda itu mengingat sosok anak laki-laki yang pernah menolongnya belasan tahun lalu. Tanpa Bianca sadari kehadiran Marvin yang penuh luka dan kabut mendung itu berhasil menjadi kunci bagi banyak pintu yang sudah dengan susah payah berusaha ia tutup.
Sesi demi sesi konsultasi dilalui oleh keduanya hingga tanpa sadar rasa ketertarikan mulai muncul satu sama lain. Marvin menyadari bahwa Bianca adalah wanita yang berhasil menjadi penenang bagi dirinya. Cerita masa lalu Marvin mampu membawa Bianca pada pusaran arus yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara keluar dari sana.
Ditengah perasaan dilema dan masalahnya sendiri mampukah Bianca memilih antara profesi dan perasaannya? apakah Marvin mampu meluluhkan wanita yang sudah menjadi candu baginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penasigembul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Bianca melangkah memasuki gedung conseling, berjalan menuju ruangannya berada, sudah satu minggu berlalu sejak pengakuan Marvin mengenai perasaan pria itu terhadap dirinya, dan sudah satu minggu juga gosip tentang dirinya tidak juga mereda, malah semakin tidak terkendali seperti ada yang sengaja menyiramkan bensin pada api yang hampir padam.

Berita mengenai dirinya semakin membuatnya terpojok, profesionalitasnya diragukan, interpretasinya di pertanyakan, dan masih banyak hal yang semakin membuat Bianca merasa tertekan. Belum lagi perubahan pada Marvin yang sangat jelas menghindari dirinya. Pria itu bahkan tidak datang pada jadwal sesi konselingnya kemarin.

Setelah menyapa Jean dan masuk ke dalam ruangannya, Bianca menjatuhkan dirinya pada sofa yang selama ini memberikan kenyamanan pada semua kliennya, wanita itu memejamkan matanya, sesekali tangan kanannya memijat pelipisnya yang terasa pening. Situasi ini mulai membuatnya terpojok, disaat dia pikir gosip itu akan mereda dengan sendirinya tapi justru semakin hari gosip itu semakin tidak terkendali, tatapan dari banyak pasang mata penghuni gedung ini terus tertuju padanya, pendengarannya selalu menangkap bisik-bisik tentang dirinya. Belum lagi, Bianca mulai mempertanyakan dirinya sendiri, perasaannya pada Marvin dan apakah ia harus menghilang sejenak dari dunia yang berhasil memberi warna pada hidupnya?

Desakkan dari Bram juga tidak kalah hebat, membuat Bianca semakin tertekan dengan kondisinya sendiri, waktu dan semesta seolah mendukungnya untuk mengikuti kemauan Bram. Pria paruh baya itu terus mengingatkan bahwa waktu yang dia miliki semakin menipis untuk benar-benar terjun dalam dunia bisnis.

Tok.. tok.. tok..

Ketukkan dipintu membuat Bianca tersadar dari semua pikiran yang menggelayuti kepalanya, ia membuka matanya sejenak dan ia bisa melihat kalau Jean sudah berdiri diambang pintu.

“Ada apa?” tanya Bianca berusaha terlihat baik-baik saja.

“Ada satu klien baru yang minta di jadwalkan hari ini, apakah Mba Bianca bersedia?”

Bianca menarik nafasnya perlahan kemudian menghembuskannya, menimbang dan berpikir sejenak, jika ia mengikuti kemauan Bram ia tidak mungkin mengambil klien baru tapi hatinya masih menginginkan ini.

“Aku pikir untuk sementara aku tidak akan mengambil klien baru, Jean.” Putus Bianca akhirnya. “Kamu bisa merefernya pada Mbak Sonia atau Psikolog lainnya.” Lanjut Bianca lagi.

“Tapi orangnya sangat ingin bertemu dengan Mba Bianca, dia bilang mungkin hanya sesi singkat.” Ucapan Jean membuat Bianca menoleh, Jean memberikan profil dari klien baru yang ia maksud.

Bianca membaca sejenak profil wanita yang baru saja Jean berikan, kemudian ia mengangguk.

“Baiklah, tapi jangan hari ini, coba kamu atur jadwalnya di minggu ini.”

*

Di dalam ruangannya Marvin masih sibuk dengan beberapa berkas yang harus ia selesaikan segera, Leo baru saja keluar dari ruangannya setelah melaporkan progress tiga proyek yang sempat bermasalah karena kecurangan Angga.

Tak,, tak,, tak

suara langkah dari sepatu heels berhasil membuat Marvin mengangkat pandangannya dari berkas yang sedang ia pelajari, wajah pria itu seketika mengeras, tatapannya menjadi lebih dingin begitu mengetahui siapa yang sudah ada di hadapannya.

“sudah lupa sopan santun?” tanya Marvin dingin pada sosok Nadira yang sudah berdiri di hadapannya.

“Kenapa sekarang kamu begitu dingin sih?” ketus Nadira sambil kembali melanjutkan langkahnya menghamPiri Marvin yang masih duduk di kursinya.

Wanita itu dengan manja memberikan kecupan singkat pada pipi Marvin kemudian memutar kursi pria itu agar bisa menghadapnya. “Jangan terus dingin kepadaku, Vin. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu seperti dulu, makan siang bersama terdengar tidak burukkan?”

Marvin menatap tajam wanita yang saat ini berada tepat di hadapannya, wajahnya sangat dekat karena Nadira menundukkan kepalanya agar wajah mereka sejajar. Marvin bangkit dari kursinya membuat Nadira ikut menegakkan tubuhnya, pria itu berjalan ke arah jendela besar yang ada di belakang mejanya, menatap jalanan kota yang ramai.

“Aku tidak berminat makan bersamamu.” Sahut Marvin sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Sebenarnya apa tujuanmu kembali?” tanya Marvin sambil terus memandang keluar jendela.

Aku sudah mengatakannya, aku merindukanmu dan aku kembali hanya untuk kamu.” Nadira melangkah menghampiri Marvin dan melingkarkan lengannya pada perut Marvin, memeluk pria itu dari belakang. “Kamu sendiri yang mengatakan akan terus menungguku, kenapa sekarang kamu terus menolakku?” lirih Nadira dengan suara lembut sambil menyandarkan kepalanya pada punggung tegap Marvin.

Marvin tersenyum sinis mendengar penuturan wanita itu. Ia dengan perlahan melepaskan lengan Nadira yang masih melingkar di perutnya, kemudian berbalik dan duduk di sofa yang ada di ruangannya.

“aku tidak menyukai barang bekas, Nad.” Ungkapan Marvin berhasil membuat wajah Nadira berubah seketika.

“Maksudmu?” tanya Nadira ketus, seolah tidak terima dengan pernyataan Marvin yang secara tersirat mengatakan bahwa dirinya adalah barang bekas.

“Apa ladang uangmu sudah tidak sanggup membiayaimu, Nad?” bukan menjawab pertanyaan Nadira yang meminta penjelasan Marvin malah menanyakan hal yang kembali membuat Nadira melotot ke arahnya. “Atau pria itu sudah bosan dengan tubuhmu?” imbuh Marvin lagi.

“Sebenarnya apa yang kamu bicarakan?” Nadira melangkah dan ikut duduk di samping Marvin, masih berusaha untuk mengikis jarak dengan pria itu.

“Hari dimana kamu memutuskan untuk meninggalkanku, aku sudah melepaskanmu untuk apapun dan kepada siapapun kamu akan menjual tubuhmu.” Dengan tatapan tajam Marvin mengatakan hal itu. “Aku tahu semua yang kamu lakukan untuk karirmu, Nad.”

Nadira membulatkan matanya, “itu tuduhan yang tidak berdasar, Vin. Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu.” elak wanita itu, “Kau tahu dari dulu aku hanya mencintaimu. Kamu sendiri yang mengatakan hanya aku yang bisa memahamimu, hanya aku yang tidak meninggalkanmu disaat kamu tidak memiliki siapapun, aku memang pergi waktu itu tapi aku kembali sekarang.”

“Itulah kebodohanku, mencintaimu dan percaya pada cinta palsumu.” Tukas Marvin dingin, “aku sungguh muak melihatmu, jadi pergilah dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku.”

Marvin berdiri dan melangkah menuju kursinya, kembali memfokuskan dirinya dengan berkas-berkas yang tadi sempat ia tinggalkan karena harus meladeni Nadira. Marvin melirik sekilas pada wanita yang masih belum beranjak dari sana dan masih menatapnya dengan tatapan sedih yang tidak sedikitpun menggoyahkan hati Marvin.

Waktu terus berjalan, Nadira masih menatap sendu kepada pria yang dulu memujanya itu, ia masih ingin menunggu dan membuat Marvin kembali padanya. Namun perkataan Marvin begitu menohok baginya, sikap acuh dan dingin pria itu juga menyadarkannya bahwa saat ini lebih baik ia pergi.

Dengan langkah kesal akhirnya Nadira melangkah meninggalkan ruangan Marvin, sesekali ia menghentakkan kakinya untuk mengekspresikan kekesalan yang menyelimutinya.

‘Aku harus bisa menjauhkan wanita itu dari Marvin.’ Batin Nadira sambil terus melangkah menuju mobilnya terparkir.

Marvin yang menyadari Nadira sudah tidak berada di ruangannya, mengecek ponselnya dan berharap seseorang mencarinya, tapi nihil semua notifikasi ponselnya tidak ada nama yang ia harapkan. Marvin menghela nafas kasar. Sejak kejadian malam itu ia berusaha berhenti untuk menghubungi Bianca, memutuskan untuk tidak lagi mendatangi wanita itu untuk konsultasi, dan memilih menunggu wanita itu yang mencarinya, meski semua harapannya terasa kosong.

“Lu gak punya kerjaan ya, Vin?” suara Saka membuat Marvin tersadar bahwa sepupunya sudah duduk di sofa ruangannya.

“Apa sekarang semua orang lupa cara mengetuk pintu?” Marvin menatap tajam kearah Saka yang dengan santai menyandarkan tubuhnya disana.

“Udah gue ketuk seribu kali tapi lu Cuma liatin layar hp doang.” Sahut Saka santai sambil menyilangkan kakinya.

Marvin berdiri dan berpindah duduk di sebelah sepupunya setelah meminta seorang office girl membawakan dua cangkir kopi ke ruangannya.

“Lu kenapa?”

Marvin menaikan sebelah alisnya seolah menanyakan maksud dari pertanyaan Saka barusan.

“Masih betah tidur di kantor dan mengamuk pada semua orang hanya karena kesalahan kecil?” pertanyaan Saka berhasil membuat wajah Marvin mengeras. Penolakkan Bianca malam itu memang membuat Marvin menjadi lebih mudah marah, sikapnya semakin dingin dan entah mengapa menjadi sangat sulit mentolerir apapun.

Beberapa hari ini Sabrina selalu cemas kalau-kalau ada karyawan yang melakukan kesalahan atau bahkan dirinya sendiri, itu benar-benar memicu amarah Marvin. Padahal beberapa bulan belakangan Marvin jauh lebih santai dan lebih manusiawi.

Saka tahu ada sesuatu yang terjadi, Leo sempat menceritakan padanya kejadian malam dimana Marvin minum sampai mabuk. Saka juga menyadari Marvin pernah menjadi dirinya yang seperti ini ketika Nadira meninggalkannya dan mengetahui orang yang membuatnya merasa dicintai memiliki hubungan dengan pria lain.

“Apa ini ada hubungannya sama Caca?”

1
Tít láo
Aku udah baca beberapa cerita disini, tapi ini yang paling bikin saya excited!
Michael
aku mendukung karya penulis baru, semangat kakak 👍
Gbi Clavijo🌙
Bagus banget! Aku jadi kangen sama tokoh-tokohnya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!