Demi menghindari perjodohan gila dengan rentenir tua pilihan ibu tirinya, Alana nekat menyewa seorang pria asing di pinggir jalan untuk menjadi suami pura-puranya dengan bayaran 5 juta sebulan. Pria itu tampak seperti pengangguran tampan yang sedang butuh tempat sembunyi.
Alana bekerja keras siang malam untuk menghidupi "suami miskinnya" itu. Ia bahkan rela membelikan pria itu kemeja obralan agar terlihat rapi saat menemaninya.
Namun, Alana tidak pernah tahu bahwa pria yang setiap malam tidur di sofa sempit apartemennya adalah Xander, pemimpin kartel mafia paling ditakuti sekaligus CEO triliuner yang kekayaannya tak berseri. Saat keluarga tiri Alana mencoba menginjak-injak hidup gadis itu, mereka tidak sadar bahwa mereka telah membangunkan iblis kejam yang sedang menyamar.
"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, bersiaplah kehilangan nyawa." — Xander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Menembus Badai Kematian
Sembilan puluh detik.
Di dunia mafia dan peperangan militer, waktu kurang dari dua menit sudah cukup untuk membalikkan takdir antara kehidupan dan kematian.
Mendengar jeritan sang kopilot, Xander langsung melepaskan cengkeramannya dari leher Marko. Ia melempar tubuh pengkhianat itu ke lantai baja dengan kasar.
"Dante! Patahkan kedua kakinya dan ikat bajingan itu di kursi! Jangan sampai dia mati, aku sendiri yang akan mengulitinya nanti!" teriak Xander dengan suara menggelegar, membungkam seluruh alarm di dalam kepalanya.
Tanpa ragu, terdengar bunyi KRAK yang mengerikan dari arah lantai, disusul jeritan melengking Marko saat Dante menghancurkan lututnya tanpa ampun. Namun Xander tidak menoleh sedikit pun. Pria itu sudah berlari melesat menyusuri lorong pesawat menuju ruang kokpit.
Begitu Xander masuk, layar radar navigasi di panel utama berkedip merah dengan kecepatan gila. Sebuah titik merah menyala melaju dari bawah perairan gelap, membelah udara mengejar sinyal panas pesawat mereka.
"Delapan puluh detik menuju benturan! Target mengunci pada mesin sebelah kanan!" lapor kapten pilot dengan peluh membanjiri dahi, tangannya mencengkeram tuas kemudi sekuat tenaga.
"Aktifkan sistem pengecoh misil! Lepaskan seluruh flare penangkal panas sekarang!" perintah Xander dingin. "Lalu matikan mesin jet dan jatuhkan pesawat ini dalam posisi menukik curam! Kita harus keluar dari radius ledakan!"
Pilot itu memucat. "Tuan Besar, ini pesawat jet komersial modifikasi, bukan jet tempur militer! Jika kita menukik seratus derajat dan mematikan mesin secara mendadak, tekanan G-force bisa merobek sayap pesawat ini!"
Xander mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap pilot itu dengan mata obsidian yang menyala layaknya dewa kematian. "Lakukan, atau kita semua menjadi abu di udara. Sekarang!"
Pilot itu menelan ludah dan langsung menarik tuas darurat.
SYUUUT! SYUUUT! SYUUUT!
Puluhan bola api pengecoh atau flare ditembakkan dari perut Aegis One, menyebar di udara malam bagaikan kembang api yang mematikan. Detik berikutnya, suara menderu dari mesin jet pesawat itu mati sepenuhnya. Hening sesaat, sebelum gravitasi menarik burung besi raksasa itu jatuh menukik ke bawah layaknya batu yang dilempar dari langit.
WUUUSSHH!
Guncangan ekstrem langsung menghantam bagian dalam kabin. Di dalam suite utama, Alana terlempar dari mimpinya. Tubuhnya nyaris melayang dari atas ranjang jika saja Xander tidak menerjang masuk pada detik itu juga.
"Xander! Apa yang terjadi?!" jerit Alana histeris. Kepalanya pusing hebat akibat hilangnya gaya gravitasi secara mendadak.
Xander melompat ke atas ranjang, langsung menindih tubuh istrinya dan menarik sabuk pengaman silang taktis yang tersembunyi di balik kasur, menguncinya di dada Alana dan dirinya sendiri.
"Pegang erat tubuhku, Alana! Pejamkan matamu!" teriak Xander mengalahkan suara gemuruh angin yang menghantam badan pesawat. Xander memeluk kepala Alana, membenamkannya ke dada bidangnya untuk melindunginya dari benturan.
Di luar sana, rudal hipersonik milik Volkov melesat menembus kegelapan. Sensor panas misil itu kebingungan melihat puluhan bola api flare yang disebarkan pesawat. Misil itu melenceng sedikit dari target utamanya, namun masih melesat terlalu dekat.
Lima detik... tiga detik...
DHUAAARRR!!!
Ledakan dahsyat merobek langit malam di atas Samudra Hindia. Meskipun misil itu tidak menghantam badan utama Aegis One, gelombang kejut yang dihasilkan luar biasa brutal. Serpihan baja tajam yang terbakar melesat dan menghantam sayap kanan pesawat.
Pesawat terguncang hebat hingga berputar seratus delapan puluh derajat. Kaca jendela retak. Lampu kabin langsung mati total, digantikan oleh lampu darurat berwarna merah yang menyeramkan. Masker oksigen berjatuhan dari kompartemen atas.
"Mesin kanan terbakar! Hidrolik gagal berfungsi!" jerit pilot melalui interkom kabin darurat. Suaranya terdengar putus asa. "Ketinggian menurun drastis! Tuan Besar, kita tidak bisa mengangkat pesawat ini! Kita akan jatuh!"
Di dalam kamar yang berguncang brutal bak wahana neraka, Alana menangis tersedu-sedu sambil mencengkeram kemeja Xander. Sang raja bawah tanah itu memejamkan mata, mempererat pelukannya pada wanita yang paling berharga di hidupnya, siap menjadi perisai daging untuk sang istri.
"Bersiaplah untuk benturan!" suara sang pilot kembali menggema keras.
Dalam hitungan detik, Aegis One meluncur menghantam permukaan laut yang gelap gulita.
(Bersambung...)