NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:51.7k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Kesunyian malam di wilayah hulu Jawa Barat selalu datang bersama udara yang memutus napas. Di luar jendela besar bangunan kolonial itu, kabut merayap menyapu perkebunan teh, menyulap ribuan hektar tanaman hijau menjadi hamparan putih yang tak bertepi. Angin gunung berdesir rendah, mengetuk dinding batu villa mewah dengan irama yang lambat. Sisa-sisa ketegangan dari pernyataan cinta Arlan yang mendadak serta desakan pria itu akan masa lalu Gita Ivara perlahan menguap, meninggalkan riak-riak canggung yang menggantung di udara yang dingin.

Bianca berdiri di dapur bersih, merapikan letak mangkuk porselen berisi sup iga hangat yang baru saja dia selesaikan. Sweter rajut kremnya telah dilapisi kembali oleh celemek bersahaja seorang pelayan. Dia menarik napas dalam-dalam, menatap pendar kuning lampu dapur.

Pernyataan perasaan dari Arlan Dirgantara beberapa jam lalu adalah sesuatu yang di luar kalkulasinya. Pria itu melangkah terlalu jauh ke dalam ruang yang sengaja dia batasi.

Bianca memilih untuk tidak menanggapinya, menutup rapat pintu hatinya dengan kedewasaan seorang wanita yang telah kenyang oleh hantaman hidup. Bagi Bianca, dunianya dan dunia Arlan telah berbeda jalur.

Keangkuhan masa mudanya sebagai pewaris Adytama telah mati di dalam ruang sunyi penjara Surabaya, digantikan kerinduan mutlak akan kedamaian yang sederhana. Dia tidak pernah berniat masuk kembali ke dalam lingkaran kaum elite yang penuh intrik, bahkan jika itu bersama Arlan.

Andaikan sisa hidupnya harus dilewati tanpa seorang suami, dia sudah sangat siap dengan kesendirian tersebut. Menjadi mandiri tanpa bantuan harta dinasti keluarganya adalah bentuk penebusan dosa yang paling suci baginya.

Setelah memastikan seluruh hidangan tertata rapi di atas meja makan kayu jati yang panjang, Bianca melangkah menaiki tangga kayu menuju lantai dua. Dia berhenti di depan pintu ruang kerja Arlan, lalu mengetuknya tiga kali dengan ketukan yang teratur.

"Tuan Arlan, makan malam sudah siap," ujar Bianca, suaranya mengalun rendah, profesional, kembali mengenakan topeng pelayan yang kaku.

Pintu terbuka seketika. Arlan berdiri di ambang pintu, postur tubuhnya yang tegap dilingkupi aura maskulin yang pekat. Matanya yang tajam langsung mengunci wajah Bianca, mencari sisa-sisa getaran emosional dari percakapan intim mereka sebelumnya.

"Baik," jawab Arlan pendek, suaranya bariton dan berat.

Mereka berdua berjalan turun beriringan tanpa suara. Di ruang makan yang luas dengan pencahayaan temaram dari lampu gantung kristal, suasana terasa begitu elegan namun sarat akan jarak yang sengaja dibangun oleh Bianca. Arlan duduk di ujung meja, sementara Bianca berdiri di sisi kanan untuk menuangkan air putih, bersiap mundur ke area dapur belakang seperti aturan pelayan pada umumnya.

"Duduklah, Gita. Makan bersamaku," perintah Arlan, nadanya tidak menerima bantahan, mencerminkan sifat posesifnya yang mulai tumbuh subur sejak dia menyadari ada misteri yang berkelas di balik pembawaan wanita ini.

"Itu tidak sesuai dengan aturan vila, Tuan," tolak Bianca halus, kepalanya menunduk dengan anggun.

Arlan meletakkan sendoknya dengan ketukan pelan yang tegas. "Di rumah ini, aturannya adalah apa yang kuperintahkan. Duduk."

Bianca menarik napas perlahan, menyadari bahwa berdebat dengan Arlan saat pria itu sedang dalam mode protektif yang berlebihan hanya akan membuang waktu.

Dengan gerakan yang teratur dan halus, dia menarik kursi di sisi meja yang agak berjarak, lalu duduk dengan punggung yang tegak—sebuah gestur duduk kelas atas yang lagi-lagi membuat mata elang Arlan menyipit penuh selidik.

Apakah wanita ini benar-benar hanya seorang mantan narapidana miskin, atau dia sedang melakukan sebuah eksperimen sosial yang rumit di hadapannya? Rasa penasaran Arlan telah berubah menjadi obsesi yang berbahaya.

Makan malam berlangsung dalam keheningan yang disiplin sebelum Arlan akhirnya membuka suara, memecah kesunyian di antara denting sendok dan garpu.

"Doni mengirimkan laporan terbaru dari Jakarta sebelum aku turun tadi," ujar Arlan, matanya tetap tertuju pada Bianca. "Mahendra dan Stella sudah mendengar desas-desus tentang kegagalan manuver saham mereka. Investor asing yang kemarin mereka bangga-banggakan untuk menekan posisi CEO-ku di Dirgantara Group mulai menarik diri satu per satu siang ini."

Bianca meletakkan serbetnya di atas pangkuan, wajah dewasanya tampak sangat tenang. "Itu sudah bisa diprediksi, Tuan. Investor asing sangat sensitif terhadap kepastian hukum sengketa lahan. Begitu Adytama Properti merilis dokumen tandingan kemarin, Mahendra kehilangan legitimasi atas tuduhannya."

Arlan bersandar pada sandaran kursi kulitnya, melipat tangan di dada dengan raut wajah yang kembali mengeras.

"Masalahnya bukan di Jakarta lagi, Gita. Watak Mahendra itu licik, dan Stella sangat picik jika menyangkut harta. Mereka tahu posisi mereka terdesak. Cepat atau lambat, mereka pasti akan menyusul kita ke sini. Mereka akan membawa aparat hukum sewaan untuk menyerangmu menggunakan isu masa lalumu di Surabaya, menjadikannya senjata moral untuk menjatuhkan kredibilitas proyek resort hulu ini."

Arlan memajukan tubuhnya, menumpukan kedua lengannya di atas meja, menatap Bianca dengan kilat protektif yang teramat ekstrem.

"Aku tidak akan membiarkan mereka menginjakkan kaki di halaman vilaku. Malam ini juga, aku akan meminta Doni memperketat barisan pengawal bersenjata di gerbang bawah perkebunan teh. Kamu tidak boleh keluar dari gedung utama tanpa izin dariku, Gita. Kamu berada di bawah otoritas mutlak dariku selama badai ini belum mereda."

Mendengar instruksi yang terlalu mengekang itu, sisi otonomi dan kemandirian Bianca terusik. Dia menatap Arlan dengan sepasang mata jernih yang memancarkan kedewasaan yang matang. Dia menolak menjadi bidak lemah yang harus terus disembunyikan di balik punggung seorang pria.

"Tuan Arlan, perlindungan yang berlebihan justru akan membuat kita terlihat bersalah di mata publik," potong Bianca, suaranya mengalun stabil namun sarat akan penekanan taktis. Dia menggunakan kecerdasan lamanya sebagai pewaris yang mendalami hukum bisnis untuk memberikan pembelaan yang rasional.

"Jika Anda menutup total akses vila ini, Mahendra akan menggunakan narasi di media bahwa Anda sedang menyembunyikan pelaku kejahatan. Kita tidak boleh bertahan dengan cara mendirikan benteng fisik. Kita harus membiarkan mereka datang."

Arlan mengernyitkan dahi, bimbang antara logika bisnisnya yang biasanya dingin dan insting pelindungnya yang liar. "Membiarkan mereka datang? Kamu tahu apa yang bisa Stella lakukan pada reputasimu, Gita?"

"Saya tahu persis bagaimana wanita seperti Stella bergerak," jawab Bianca, tatapan matanya yang dewasa mengunci pandangan Arlan dengan ketenangan yang menghanyutkan, perlahan melunakkan kemarahan pria itu.

"Dia akan menyerang status saya sebagai mantan narapidana. Tapi, hukum ketenagakerjaan di Indonesia tidak melarang seorang mantan warga binaan untuk bekerja sebagai asisten profesional selama hak sipilnya tidak dicabut oleh pengadilan. Dokumen agraria yang dirilis Adytama kemarin adalah hak perwalian yang sah. Jika Mahendra membawa aparat sewaan, mereka tidak memiliki landasan hukum penangkapan yang valid di wilayah Jawa Barat ini. Anda hanya perlu berdiri sebagai CEO yang taat hukum, bukan sebagai pelindung yang emosional."

Arlan terpaku sejenak mendengar runtutan kalimat yang keluar dari mulut pelayannya. Analisis taktis yang begitu bersih, penggunaan istilah hukum yang presisi... bagaimana bisa seorang wanita kelas bawah memiliki ketenangan manajerial sebersih ini di bawah ancaman pengepungan?

Rasa penasaran di dada Arlan kian meruncing, berubah menjadi sebuah tanda tanya besar yang mencemaskan. Apakah ketulusan yang diperlihatkan Gita selama ini nyata, atau dia sedang berhadapan dengan seorang konseptor kelas kakap yang sengaja menempatkan dirinya di vila ini demi sebuah agenda tersembunyi yang belum terendus? Gejolak tarik-ulur di antara mereka kian menegangkan.

"Kamu selalu memiliki jawaban yang masuk akal, Gita," desis Arlan, suaranya merendah, matanya menatap lekat-lekat bibir Bianca. "Tapi aku tetap tidak suka melihatmu berada dalam bahaya."

Bianca menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna tersembunyi. "Bahaya adalah sesuatu yang sudah akrab dengan hidup saya, Tuan Arlan. Kita hanya perlu bersiap dengan cara yang cerdas."

Malam semakin larut ketika jam dinding di ruang makan berdentang sebanyak sebelas kali. Selesai merapikan meja makan, Bianca kembali ke kamarnya di sayap barat vila. Kamar mewah itu terasa teramat luas dan dingin, dilingkupi bayang-bayang lampu tidur yang bergoyang ditiup angin yang menerobos dari celah jendela.

Dia melangkah mendekati meja rias, mengeluarkan gawai rahasianya dari balik lipatan kain celemek yang sudah dia lepas. Jemarinya bergerak lincah di atas layar sentuh, memindai pesan terbaru dari Pak Haryo yang dikirimkan dari Surabaya beberapa menit lalu.

"Nona Bianca, tim intelijen kami mendeteksi pergerakan Mahendra dan Stella. Mereka telah meninggalkan Jakarta sejak dua jam lalu menggunakan jalur darat pribadi bersama dua pengacara korporat dan seorang oknum pejabat dinas agraria wilayah Barat yang telah mereka suap. Mereka membawa draf surat perintah penyegelan fisik atas area proyek resort hulu dengan tuduhan manipulasi data ketenagakerjaan atas nama Gita Ivara. Mereka diperkirakan akan tiba di gerbang perkebunan teh menjelang subuh."

Sepasang mata Bianca berkilat tajam di bawah temaramnya lampu kamar. Sisi baja dari darah Adytama yang mengalir di tubuhnya menolak untuk gentar.

Mahendra mengira dia bisa menggunakan nama "Gita Ivara" untuk menghancurkan Arlan, tanpa menyadari bahwa dengan melakukan hal itu, pria licik itu sedang menuntun dirinya sendiri menuju perangkap hukum terbesar yang sudah disiapkan oleh Adytama Properti.

Bianca mengetik balasan dengan ketukan yang mantap dan taktis.

"Pak Haryo, biarkan mereka masuk melewati gerbang bawah. Jangan lakukan penghadangan di jalan desa. Berikan salinan dokumen asli keputusan pengadilan Surabaya tahun 2016 yang sudah dilegalisasi oleh Mahkamah Agung kepada tim hukum Dirgantara Group secara senyap melalui Doni pukul tiga pagi nanti. Pastikan Arlan menerima berkas itu tepat saat Mahendra tiba di teras villa. Ini saatnya kita memotong tangan bisnis Mahendra di Jawa Barat."

Setelah menekan tombol kirim, Bianca menghapus seluruh jejak digital tersebut. Dia berjalan menuju jendela besar, menatap gulungan kabut tebal yang kini telah sepenuhnya menelan seluruh kompleks perkebunan teh, menyisakan kesunyian malam yang mencekam di tengah badai pegunungan yang mulai menderu.

***

1
ms. S
cemburu bilang aja Arlan . tidak perlu mbulet🤭
Del Vina
kata aura berkelas di ulang terus thor🙏🤭
✦͙͙͙*͙*ᴍs.ʀ͠ᴇɴᴀ✨: makasih, nanti aku cek lagi 🤭
total 1 replies
@Tie
ealah arlan
gita br keluar penjara kq km kurung lg dlm rmh
💟노르 아스마💟
beghhh...ngekang banget sih 😄😄😄
Mukeseh
🤣🤣🤣
@Tie
nasibnya mahendra gmn thor
apa dipenjara jg sama spt stell
Mundri Astuti
ngomong" napa jadi muter" y thor si Arlan dan Bianca, ga da kemajuan
Tangsah Jagad: pertanyaan yg sama
total 4 replies
💟노르 아스마💟
lahhh ...provokatornya gk di habisin itu
Mukeseh
setela salah lawan woe setela setela 🤣🤣
Anonim
😍😍
Anonim
Mantap
ryuka
duuhhh bianca gimana cara nya arlan biar kamu luluhhh 🫠🫠🫠🤭🤭🤭
merry yuliana
jd dejavu sm.kirana yak..
Anonim
😍😍😍😍
Del Vina
cerita bagus cuma alurnya lambat
Tangsah Jagad
gak mungkin Raditya gak ngasih tau kalo di tanya arlan
Mukeseh
hubhihi 🤣🤣🤣🤣 othor pintar bikin q deg deg pyor 😂
Mundri Astuti
Arlan kamu main ke rumah Raditya, sapa tau ada foto keluarga Kirana dan keluarganya
Anonim
😍😍😍😍
@Tie
bianca kabur aja yg jauh ke luar negeri sekalian, kl msh di indo gk aman
mkn maen rahasia arlan makin posesif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!